LUKISAN TERINDAH DI DUNIA

Misalnya ada sebuah lukisan pemandangan yang sangat indah. Bahkan bisa dikatakan sebagai lukisan terindah di dunia. Lukisan ini dibuat oleh pakar melukis paling pandai sedunia. Dan kepandaiannya diakui oleh para pakar melukis sedunia. (Silakan bayangkan sendiri, betapa indahnya lukisan itu).

Nah, misalnya si pelukis itu datang menemui Anda kemudian berkata, “Ini lukisan terindah di dunia. Ini lukisan sudah diakui keindahannya oleh para pakar melukis di dunia. Ini lukisan yang sempurna. Tolong jaga baik-baik. Jangan ada seorang pun yang mengubah-ubahnya, siapapun orangnya”.

Anda pun kemudian menerima lukisan itu dan memajangnya di ruang tamu.

Suatu ketika, tiga anak anda yang masing-masing sekolah di SD, SMP, dan SMA melihat lukisan yang Anda pajang.

Anak Anda yang SD berkata, “Wah, kayaknya kalo ditambah warna biru lebih keren deh”.

Anak Anda yang SMP berkata, “Wah, kayaknya kalo ditambah gambar pohon lebih bagus deh”.

Anak Anda yang SMA berkata, “Wah, kayaknya kalo dihilangin gambar rumputnya lebih cantik deh”.

Mereka bertiga pun kemudian datang menemui Anda dan menyatakan keinginan mereka untuk merubah lukisan yang Anda pajang itu. Kira-kira apa yang akan Anda katakan kepada mereka.

Kalau saya sangat yakin Anda akan melarang mereka. Iya, kan?!

Lalu bagaimana kalau mereka beralasan:

“Tapi kan yah, lukisan ini akan lebih bagus kalo ditambah……”

“Apa salahnya kalo kami kasih tambahan…..”

“Gak apa-apa kan kalo kami beri sedikit tambahan…..”

“Niat kami kan baik…”

Anda tentu akan menjawab dengan tegas:

“Emangnya kalian tahu apa tentang lukisan! Lukisan ini sudah diakui keindahannya oleh para pakar lukisan sedunia. Pokoknya jangan ada yang berani-berani mengubahnya!!!”.

Nah, sekarang begini kawan…

Syari’at Islam adalah syari’at terindah di dunia. Sebab syari’at Islam ini dibuat oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat Maha Indah. Sebagaimana Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah haditsnya:

“Sesungguhnya Alloh itu Maha Indah dan menyukai keindahan.”

Kemudian, Alloh telah menyatakan bahwa syari’at Islam ini telah sempurnya, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan Aku telah ridho Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Kemudian Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang kita membikin-bikin syariat sendiri dalam agama.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh?” (QS. Asy-Syuro: 42)

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jika demikian keadaannya, masihkah kita berani menambah-nambah syari’at agama Islam ini? Tidak cukupkah bagi kita mengikuti apa yang telah Alloh Subhanahu wa Ta’ala syari’atkan untuk kita? Tidak cukupkah bagi kita mengikuti syari’at yang dicontohkan oleh Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kepada kita?

Masihkah kita mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari Rosululloh dengan alasan:

“Ini kan baik….”

“Apa salahnya…”

“Niat saya kan baik…”

 

Kawan…

Jika Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan agama ini, masih beranikah kita:

Melakukan perayaan-perayaan yang tidak ada contohnya dari Rosululloh….

Melakukan zikir-zikir yang tidak diamalkan oleh Rosululloh….

Mengucapkan shalawat-shalawat yang tidak diajarkan oleh Rosululloh….

…..

 

Kawan….

Tidakkah kita merasa cukup dengan syari’at dari Alloh ???

Apakah kita merasa lebih pintar dari Alloh ???

 

Kawan….

Semoga hal ini menjadi bahan renungan kita bersama…

About these ads

25 Responses to LUKISAN TERINDAH DI DUNIA

  1. abdul jabbar says:

    bagus mang, analoginya mudah dipahami..

  2. mujianto2011 says:

    Sekedar info: Yang ngasih komen bukan aku ya, ini Abdul Jabbar yang laen…

  3. Fajar says:

    masya Alloh… bagus banget. izin share y akh….
    jazakallohu khoir.

  4. abdul ghofur says:

    ana suka cara antum

  5. La ode says:

    :: Analog yang tergesa-gesa dan dangkal. Maaf..

  6. Luthfia says:

    baguss skali , mantabb la org yg buat tu

  7. Amirul Mu'minin says:

    tidak semua yang baru itu jelek, analogi anda tidak mengena, karena setiap prkmbangan perlu di adopsi selama tidak merubah inti, cntoh nabi membangun masjid nabawi (yang untuk ibadah) hnya dri tanah apa dari smen tdk boleh, kalau dzikir, doa, atau praaktik ritual selama tidak syirik sah-sah aza, pertimbangkan juga syi’ar dong, contoh lagi, maulid nabi, isra’ mi’raj, shalawat , tdk boleeh???? kalau anda brpikir spt itu sungguh tidk baik, sekarang anda pilih mana generasi muda ngeband lagu gak karu2an, atau bershalawat yg baik tidk syirik walaupun tidk ada dlm hadits nabi????? anda aliran mana sichhh?

  8. Amirul Mu'minin says:

    banyak, shalawat hadrah burdah, imam bushiri, tidak ada haditsnya, tpi, apakah hal itu perlu d berangus, ?? bgi sya tidak!! karena hal itu mempunyai efek baik, intinya selama hal itu tidak merusak aqidah (syirik) malah harus di kembangkan. ada ayat yg mengatakan …….innallaha wa malaikatahu yushallunna……menurut saya ayat ini menganjurkan kita bershalawat, walaupun mungkin shalawat yng bedasar hadits cuma sedikit, mengenai wirid atau dzikir, yang saya fahami adalah mengingat allah, mengenai lafadz atau isinya adalah harus berisi tentang ingat pada allah. sedang bentuknya terserah karena kosa kata bahasa arab itu banyak dan dinamis, lagi pula setiap wirid atau dzikir pasti mempunyai guru yang mengajari, dan seorang guru sudah tentu tdk smbarang mengajarkan wirid, anda mengenal thariqah…..? kalau iya anda pasti tahu. kalau belum anda silahkan membuka lagi pustaka tentang thariqah!!!!

    • mujianto2011 says:

      Berarti antum belum faham tentang syarat diterimanya ibadah, bahwa ibadah itu baru bisa diterima dan bernilai baik jika dijalankan dengan ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasulullah. Dan Rasulullah telah menjelaskan semua kebaikan yang bisa mendekatkan manusia ke surga dan menjauhkan diri dari neraka, tiada yang tersisa sedikitpun.

      Kalau antum membuat ibadah baru (shalawat, dll.) yang tidak pernah dikerjakan RAsulullah dan para Sahabatnya, maka sama saja antum mengatakan bahwa:Islam belum sempurna, ada ibadah yang belum disampaikan oleh Rasulullah, Rasulullah menglhianati Risalah….dll.

      Wallahu a’lam.

      • Amirul Mu'minin says:

        tdk ada yang menyangkal kesempurnaan islam, dan bukan saya yang membuat shalawat itu, tpi pertanyaan sy terdahulu belum terjawab, sekarang anda pilih mana generasi muda ngeband lagu gak karu2an, atau bershalawat yg baik tidk syirik walaupun tidk ada dlm hadits nabi????? atau generasi yang berdisko di night club dengan hura2 dengan orang2 dan generasi datang ke majlis dzikir2, dan saya yakin haqqul yakin apa yang mereka baca tidak semuanya tanpa dasar hadits,??? silahkan dipilih, agar diskusi kita jelass, perlu diingat islam itu dinamis (tanpa merubah aqidah) contoh jelas adanya ayat naskh mnskh, kita berhrp adny rasa bersatu, jngn ada yng saling menghujat, toh tjuannya li ‘ila’i kalimatillah! semua ajaran mesti berdasar, dan akan dipertangungjawabkan dihadapanNya

      • mujianto2011 says:

        Jawaban saya:

        1. Lagi-lagi antum belum faham tentang bagaimana memahami Islam….Saya sangat menyarankan antum pelajari dahulu tentang metode memahami Islam agar semuanya jelas. Silakan baca di: http://muhammadmujianto.wordpress.com/2008/05/13/agar-ibadah-diterima-allah/

        2. Mana yang lebih keras siksanya, pelaku maksiat atau ahli bid’ah?

        Jawab:
        Ahli bid’ah lebih keras siksanya, karena perbuatan bid’ah lebih besar dari sekedar maksiat. Bid’ah lebih disenangi oleh syaithan daripada maksiat karena pelaku maksiat mudah untuk bertaubat.[14] Adapun ahli bid’ah maka jarang sekali yang bertaubat karena ia menyangka berada di atas kebenaran berbeda dengan pelaku maksiat, ia mengetahui bahwa ia seorang yang bermaksiat Adapun ahli bid’ah maka ia meyakini sebagai seorang yang taat dan sedang melakukan ketaatan. Maka dari itu perbuatan bid’ah -wal’iyadzubillah-lebih jelek dari maksiat. Oleh karenanya ulama salaf selalu memperingatkan (agar menjauh) dari bermajlis bersama ahli bid’ah,[15] karena mereka akan mempengaruhi orang yang duduk bersamanya, sementara bahaya mereka sangatlah besar.

        Tidak diragukan, bahwa bid’ah itu lebih jelek dari maksiat dan bahaya yang ditimbulkan ahli bid’ah kepada manusia lebih besar daripada bahaya seorang pelaku maksiat[16] sehingga ulama salaf mengatakan: “Sederhana dalam (melakukan) sunnah lebih baik daripada sungguh-sungguh dalam (berbuat) bid’ah.[17]_________________________

        14) Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata: “Bid’ah lebih disenangi oleh iblis daripada maksiat karena pelaku maksiat akan bertaubat darinya sedangkan pelaku bid’ah tidak akan bertaubat darinya.” Musnad Ibnul Ja’ad (1885), Majmu’ Fatawa (11/472)
        Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah.” Ash Shahihah (1620)

        15) Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: “Jangan kamu duduk dengan pelaku bid’ah karena ia akan membuat sakit hatimu.”Al I’tisham (1/172), Al Bida’ wan Nahyu ‘anha (hal.54).

        Asy Syathibi rahimahullah berkata (1/158): “Sesungguhnya golongan yang selamat -dan mereka itu adalah ahlussunnah- diperintahkan untuk memusuhi ahli bid’ah, mengusir mereka dan menghukum orang yang berusaha mendekati mereka dengan hukuman mati atau yang kurang dari itu. Sungguh para ulama telah memperingatkan agar tidak berteman serta bermajlis bersama mereka.”

        Saya katakan: Semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmati para ulama salaf. Mereka tidaklah meninggalkan satu pelaku bid’ahpun kecuali mereka menumpasnya dan peringatkan umat darinya.

        16) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang bahaya ahli bid’ah: “Seandainya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menjadikan adanya orang-orang yang mencegah bahaya mereka -yaitu ahli bid’ah- benar-benar agama ini akan rusak dan kerusakannya akan lebih besar dari berkuasanya musuh yang memerangi. Karena musuh jika berkuasa tidak akan merusak hati dan agama kecuall hanya mengikut saja. Adapun ahli bid’ah, mereka akan merusak hati sejak pertama kalinya.” Majmu’ Fatawa (28/232)

        Beliau juga mengatakan: “Ahli bid’ah lebih jelek dari ahli maksiat karena syahwat, berdasarkan sunnah dan ijma’.” (20/103)

        17) Ini merupakan perkataan Ibnu Mas’ud. Silahkan melihat Al Lalika’i (114), Al Ibanah (161) dan As Sunnah karya Ibnu Nashr (30)

        [Dari: Al Ajwibah Al Mufidah ’an As’ilatil Manahij Al Jadidah; Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan; Penyusun: Jamal bin Furaihan al Haritsi; Edisi Indonesia: Jawab Tuntas Masalah Manhaj; Hal: 38-39; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya dan Abu Luqman; Muroja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib; Penerbit: Pustaka Al Haura’]

        sumber : http://fatwaulama-online.blogspot.com

        3. Tentang pilihan antum, maka: Saya akan pilih generasi sekarang mengamalkan Islam sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya.

        4. Saya sarankan antum membaca tulisan tentang “Bahanya membuat ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya” terlebih dahulu. Setelah itu silakan berkomentar. Silakan baca di sini: http://ummusalma.wordpress.com/2007/07/13/bahaya-bidah/

      • mujianto2011 says:

        Silkan baca juga ini:

        Dosa Bid’ah Dibanding Maksiat

        Assalamu’alaiku wr wb
        Ustadz mau Tanya, apakah ada hadits yang menyatakan bahwa derajat orang yang suka tahlilan lebih rendah dari pada seorang pelacur?
        Jawab:
        Wa’alikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

        Sampai saat ini kami belum menjumpai hadits Nabi yang isinya sebagaimana yang ditanyakan. Namun mungkin yang dimaksudkan adalah perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri.

        قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها

        Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22).

        Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertaubat ketika dia tidak merasa salah bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan.
        Mungkin berdasarkan perkataan Sufyan ats Tsauri ini ada orang yang berkesimpulan bahwa orang yang melakukan bid’ah semisal tahlilan itu lebih rendah derajatnya dibandingkan yang melakukan maksiat semisal melacurkan diri.

        Muhammad bin Husain al Jizani ketika menjelaskan poin-poin perbedaan antara maksiat dan bid’ah mengatakan, “Oleh karena itu maksiat memiliki kekhasan berupa ada perasaan menginginkan bertaubat dalam diri pelaku maksiat. Ini berbeda dengan pelaku bid’ah. Pelaku bid’ah hanya semakin mantap dengan terus menerus melakukan kebid’ahan karena dia beranggapan bahwa amalnya itu mendekatkan dirinya kepada Allah, terlebih para pemimpin kebid’ahan besar. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah,

        أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا

        “Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ?” (QS Fathir:8).
        Sufyan ats Tsauri mengatakan, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat”.
        Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) Iblis berkata, “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah. Setelah kuketahui hal tersebut maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca:bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa namun tidak mau bertaubat karena mereka merasa sedang berbuat baik” [lihat al Jawab al Kafi 58, 149-150 dan al I’tisham 2/62].

        Oleh karena itu secara umum bid’ah itu lebih berbahaya dibandingkan maksiat. Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah itu merusak agama. Sedangkan pelaku maksiat sumber kesalahannya adalah karena mengikuti keinginan yang terlarang [al Jawab al Kafi hal 58 dan lihat Majmu Fatawa 20/103].

        Ketentuan ini hanya bernilai benar dan berlaku jika tidak ada indikator dan kondisi yang menyebabkan berubahnya status sebuah maksiat atau bid’ah.

        Di antara contoh untuk indikator dan kondisi yang dimaksudkan adalah sebagai berikut. Sebuah penyimpangan baik berbentuk maksiat atau bid’ah akan besar dosanya jika dilakukan secara terus menerus, diiringi sikap meremehkan, anggapan kalau hal itu dibolehkan, dilakukan secara terang terangan atau sambil mengajak orang lain untuk melakukannya. Demikian pula sebuah maksiat atau bid’ah itu nilai dosanya berkurang jika dilakukan sambil sembunyi-sembunyi, tidak terus menerus atau penyesalan dan taubat.
        Contoh lain untuk indikator adalah sebuah penyimpangan itu semakin besar dosanya jika bahaya yang ditimbulkannya semakin besar. Penyimpangan yang merusak prinsip-prinsip pokok agama itu dosanya lebih besar dari pada yang merusak hal-hal parsial dalam agama. Demikian pula, sebuah penyimpangan yang merusak agama itu lebih besar dosanya dibandingkan penyimpangan yang sekedar merusak jiwa.

        Ringkasnya, ketika kita akan membandingkan bid’ah dengan maksiat maka kita harus memperhatikan situasi dan keadaan, menimbang manfaat dan bahaya dari komparasi tersebut dan memikirkan efek yang mungkin terjadi di kemudian hari dari pembandingan tersebut.
        Penjelasan mengenai bahaya bid’ah dan ungkapan hiperbola untuk menunjukkan betapa ngerinya bid’ah sepatutnya tidaklah menyebabkan-pada saat ini atau di kemudian hari-sikap meremehkan dan menyepelekan maksiat.
        Sebaliknya, penjelasan mengenai bahaya maksiat dan ungkapan hiperbola untuk menunjukkan betapa ngerinya maksiat sepatutnya tidaklah menyebabkan-pada saat ini atau di kemudian hari-sikap meremehkan dan menyepelekan bid’ah”. (Qawaid Ma’rifah al Bida’ hal 31-33, cetakan Dar Ibnul Jauzi Saudi Arabia).
        Penjelasan di atas sangat perlu dilakukan oleh setiap orang yang ingin mengingatkan orang lain akan bahaya bid’ah supaya kita menjadi sebab terbukanya pintu-pintu keburukan tanpa kita sadari.

        Sumber: http://ustadzaris.com/dosa-bidah-dibanding-maksiat

  9. Amirul Mu'minin says:

    sy tidak habis pikir, anda klaim bhwa jutaan orang di dunia yang mengikuti dzikir, diharamkan hnya krena tidak erdasar hadits, mereka libih hina dari org yang bermaksiyat, karena bid’ah sempit pandangan anda, sungguh jika mmg itu benar, semoga anda mndapat kkuatan untuk membasmi mereka (bid’ah sempit menurut pandangan anda itu) namun jika anda yang keliru, sadarrlah, bahwa islam itu luas, ilmu itu luas, dan bahwa kebersamaan menuju hal yang baik adalah hal yang perlu dikedepankan, sungguh kehadiran islam adalah untuk rahmatan lil ‘alamin, ingat mencari kesalahan orang lain itu hal yang mudah, dibanding meneliti kesalahan sendiri, dan saya sangat setuju dengan dasar2 anda diatas, tapi dalam satu segi.

    • mujianto2011 says:

      Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Setiap perkataan bisa diterima dan bisa ditolak kecuali perkataan penghuni kubur ini”, sambil beliau menunjuk ke kuburan Rasulullah.

      Jadi, barometer kebenaran Islam seseorang adalah apa yang sesuai dengan yang difahami oleh Rasulullah dan apra Sahabat beliau.

      Sekarang, kalau ada orang yang ingin melakukan suatu amalan yang dia itu ingin mendapatkan pahala darinya, maka kita harus tanya: Apakah amalan itu dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya ? Jika tidak, maka itu sama sekali bukan bagian dari Islam. Karena Islam telah sempurna dan telah mencukupi. Tidak perlu kita datangkan amalan ibadah baru dalam Islam.

      Hudzaifah bin Al Yamaan رضي الله عنه, salah seorang Sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata:

      “Setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai ibadah, maka janganlah kalian lakukan ! Karena generasi pertama itu tidak memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk berpendapat (dalam perkara dien). Bertaqwalah kepada Allah سبحانه وتعالى wahai para qurro’ (ahlul qiro’ah) dan ambillah jalan orang-orang sebelum kalian !” (dinukil dari kitab Imaam Ibnu Baththah رحمه الله yang berjudul “Al Ibaanah”)

      Dari Ibnu Majisyuun, dia berkata, “Aku mendengar Imaam Maalik رحمه الله berkata, ‘Barangsiapa berbuat suatu Bid’ah dalam Islam lalu ia menganggapnya sebagai suatu kebaikan, berarti ia telah menyangka bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم telah berkhianat terhadap risaalah. Karena Allah سبحانه وتعالى telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu dien-mu…” Maka apa-apa yang saat itu tidak merupakan dien, maka pada saat ini juga tidak merupakan dien.” (dinukil dari kitab Imaam Asy-Syaathiby رحمه الله yang berjudul “Al I’tishoom”)

      Selengkapnya baca….

      http://pustakalaka.wordpress.com/category/cara-beragama/page/3/

      Semoga kita diberi kekuatan untuk banyak belajar dan membaca kitab ulama agar kita bisa mencocokkan amal ibadah kita dengan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabtnya….

      Wallahu a’lam.

  10. Amirul Mu'minin says:

    semua dasar anda tidak salah, namun tidak bisa di terapkan mentah-mentah sebuah contoh, Alqur’an dahulu bukan berbentuk mushap utuh, melainkan lembaran yang bermacam-macam, namun karena pada waktu zaman abubakar banyak hafidz yang syahid, umar pun usul agar alqur’an itu di satukan, sehingga tidak ada bagian yang hilang, karena tiadanya hafidz alqur’an, namun abu bakar menolak, karena hal itu tidak d perintahkan nabi, dan nabi tidak melakukan, namun dengan diplomasi umar akhirnya mengumpulkan alqur’an dalam satu mushaf pun dilakukan, dari contoh ini kesimpulan saya hal baru dalam agama tidak selamanya tertolak, karena agama itu terus hidup berdampingan dengan waktu, saya tanya, apakah alqur’an untuk tunanetra itu bid’ah tertolak, kemudian mikrophone adzan itu bid’ah tertolak, kemudian dakwah anda di bolg ini bid’ah tertolak (rasul n sahabat, tabi’in, ……etc, tidak pernah buat blog) kemudian baju kemeja serta sarung bid’ah tertolak (nabi sahabat slalu pakai gamis), naik sepeda motor untuk sholat itu bid’ah tertolak? intinya, rasulullhah bersabda
    (إنما الأعمال بالنية، وإنما لامرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها، أو امرأة يتزوجها، فهجرته إلى ما هاجر إليه).

    “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap perkara, tergantung pada apa yang diniatkannya. Apabila hijrahnya (sahabat) bertujuan untuk Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya, dan apabila hijrahnya untuk dunia, maka ia akan mendapatkan apa yang ditujunya, dan apabila hijrahnya karena wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya untuk apa yang dituju.”

    hadits ini adalah dasar kuat umat islam di seluruh dunia

  11. Amirul Mu'minin says:

    mohon di analisa ini dari situs (http://ummatipress.com/2012/02/28/tahlilan-maulid-nabi-dzikir-berjamaah-yasinan-adalah-amal-amal-shalih/)
    Waspadai Dirimu, Siapa Tahu Anda Termasuk Penjahat Terbesar Bagi Kaum Muslimin

    Sebagai seorang Muslim, maukah anda menjadi Penjahat Besar bagi kaum Muslimin? Pastinya anda tidak mau kan? Tapi secara tidak sadar selama ini mungkin anda sudah termasuk bagian dari Penjahat-penjahat Besar terhadap kaum muslimin. Cobalah teliti apakah anda hobby mempermasalahkan amal-amal shalih kaum muslimin? Misalnya, apakah anda gemar meneriaki muslimin yang sedang baca surat Yasin (Yasinan) di malam jum’at sebagai Ahli Bid’ah sesat dan masuk neraka? Banyak isu-isu bid’ah yang disebarkan di tengah ummat Islam yang kesemuanya menimbulkan fitnah terhadap Islam. Akibat dari tersebarnya isu-isu bid’ah mampu merubah persepsi yang Mubah jadi haram bahkan yang halal pun jadi haram, inilah fitnah kepada Islam dan sekaligus menjadi kejahatan terbesar. Pernyataan ini bukan ngawur lho, sebab yang mengatakan demikian adalah Rasulullah Saw. Mari kita simak dan hayati perkataan Rasul Saw berikut ini….

    قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ
    الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ
    مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

    (صحيح البخاري)

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang
    mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram
    sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

    Berdasar pada hadits Shahih di atas sangat jelas, bahwa mempermasalahkan amalan muslimin yang tidak haram dikatakan haram (bid’ah terlarang) itu adalah kejahatan terbesar. Itu Nabi Saw yang mengatakannya. Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan, sesungguhnya adalah amal-amal shalih kaum muslimin, tetapi karena dipermasalahkan membuatnya menjadi haram karena dianggap bid’ah terlarang (dosa bagi pengamalnya).

    Kaitannya dengan itu, dalam melancarkan missi dakwahnya Kaum Wahabi di Indonesia sangat gemar mempermasalahkan Tahlilan yang tidak haram dikatakan haram (pengertian bid’ah menurut Wahabi adalah: berdosa jika melakukan hal bid’ah. Ini artinya tidak lain adalah haram). Maulid Nabi tidak haram dikatakan haram, Tawassul dengan Nabi Saw tidak haram dikatakan haram bahkan pelaku Tawassul dikatakan Musyrik oleh kaum Wahabi. Kenapa Kaum Wahabi hobby berbuat demikian, tidak sadarkah mereka telah melakukan kejahatan terbesar kepada Ummat Islam menurut pandangan Nabi saw?

    Bagi yang merasa pengikut Wahabi mari kita simak kembali dan renungkan sedalam-dalamnya hadits yang mulia ini agar sembuh dari Maksiat Kejahatan Terbesar kepada Kaum Muslimin:
    قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ
    أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
    (صحيح البخاري)
    Sabda Rasulullah saw :
    “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

    Dari penjelasan analisa singkat di atas dapat kita katakan bahwa setiap yang haram itu dosa akan tetapi bid’ah itu tidak selalu haram. Semoga kita selamat dari pengaruh fitnah Wahabisme, dan yang selama ini sudah terlanjur jadi Tukang Fitnah kepada ajaran Islam semoga sadar dan tidak enggan bertaubat. Wallohu a’lam….

    • mujianto2011 says:

      Cukup saya bawakan sebuah firman Allah untuk kita renungi bersama agar kita takut untuk membuat-buat ibadah baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya….

      Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

      أَمْ لَهُمْ شُرَكَاؤُاْ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ

      “Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan bagi mereka suatu perkara dalam agama ini tanpa izin dari Allah?” (Asy-Syuura: 21)

  12. Amirul Mu'minin says:

    oke, dakwah adalah ibadah silahkan tutup blognya, karena dakwah spt ini tidak dicontohkan nabi serta sahabat, karena mnurut pnjlasan anda ini bid’ah. tul nggak?

  13. Refika Nadha TiaRani says:

    bagus tp aku tdk bisa memahami

  14. jamal skalli says:

    thanks for ths info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers

%d bloggers like this: