PUISIKU

Secangkir Kopi dan Sebilah Pena

 

Secangkir kopi dan sebilah pena, bercumbu

menyeruak harum aroma inspirasi

bersayap terbang ke angkasa

menurunkan butiran kata-kata

ada darah di sana

ada peluh yang membeku

ada genangan air mata

dan cinta yang terpendam

Secangkir kopi dan sebilah pena

biarkan mereka terus bercumbu

agar pelangi tetap menghias hati

Bogor, 15 September 2011

Ba’da zhuhur yang ….

Optimis

Aku BISA !

Aku pasti BISA !

Yakin aku BISA!

dan aku harus BISA !

BISA !

Orang lain saja BISA !

Aku pun harus BISA !

BISA !

Aku BISA !

Wooi….!!

Aku BISAAAAAA…..!!!

ALLOOOHU AKBAR !!!

Bogor, 15 September 2011

Pagi yang apa adanya

Serial “Catatan Perjalanan Sang Pengembara” (Senandung Mukadimah)

kaki ini akan terus melangkah

dan akan terus melangkah

hingga dia lelah

hingga dia tak bisa berkata-kata

kepada gunung-gunung

kepada ombak samudera

kepada belukar

kepada bukit terjal

kepada angkasa

salamku untuk kalian

kaki ini akan terus melangkah

dan akan terus melangkah

hingga dia lelah

hingga dia tak bisa berkata-kata

Bogor, 14 September 2011

Saat aku menatap senja

Serial “Puisi Cinta untuk Istriku” (Lembar-3)

Katakan Saja

Jika engkau benar cinta kepadaku

katakan saja

jangan ragu

jangan engkau malu-malu

Jika engkau benar cinta kepadaku

katakan saja

dan aku

akan mengatakannya juga kepadamu

Bogor, 14 September 2011

Waktu Dhuha

Serial “Puisi Cinta untuk Istriku” (Lembar-2)

Untukmu yang Mencintaiku

Aku ingin memetik bunga

di saat fajar mulai merekah

dan burung-burung

bernyanyi riang menyambut pagi

Aku ingin memetik bunga

di saat embun masih bergantung

dan hawa dingin

perlahan sirna berganti hangat

Aku ingin memetik bunga

sebanyak-banyaknya

untukmu yang mencintaiku

Bogor, 14 September 2011

ba’da subuh yang….

Serial “Puisi Cinta untuk Istriku” (lembar-1)

Ketika cinta bicara

bunga-bunga bermekaran

burung-burung riang berkejaran

dan kabut pun menyingkir perlahan

Ketika cinta bicara

pepohonan tersenyum

bebatuan tersenyum

dan semuanya menebarkan tersenyum

Ketika cinta bicara

segalanya menjadi indah

segalanya jadi berwarna

Ketika cinta bicara

matahari melembutkan sinarnya

dan salju pun turun

Bogor, 13 September 2011

Masih di senja yang sendu merayu

Dakwah bil Kitabah

Bismillah

dengan menyebut nama-Mu ya Allah

ku gerakkan tangan

coba berdakwah lewat tulisan

berbekal firman dan sabda

ku ayunkan pena

ke kiri dan ke kanan

agar terbuka sebuah jalan

dakwah bil kitabah

tahukah kamu, apakah dakwah bil kitabah itu?

yaitu berdakwah lewat tulisan

berdakwah dengan pena di tangan

Bogor, 13 September 2011

saat senja datang menyapa

Jangan Kau Tanya Kenapa

Aku sangat menyukai bunga

suka sungguh

namun jangan kau tanya kenapa

karena aku sendiri belum mengerti

kenapa aku sangat menyukai bunga

apakah karena bunga itu indah?

apakah karena bunga itu berwarna?

entahlah…

bisa ya

bisa juga tidak

namun jangan kau tanya kenapa

Bogor, 13 September 2011

Siang hari yang hareudang

Sekuntum Bunga Cinta

Saat ini

aku berdiri di tepi jurang yang terjal

menganga curam

demi mencari sekuntum bunga cinta

entah berapa banyak, aku tak tahu

keringat

darah

air mata

yang tertumpah satu-satu

kadang aku terjatuh

terjerembab

tersaruk-saruk

dan terkapar

badanku hancur

oleh angin dingin yang menampar-nampar

jiwaku letih

oleh terik mentari yang membakar

namun, aku masih akan terus berdiri

Saat ini

aku masih berdiri di tepi jurang yang terjal

memandangi sekuntum bunga cinta

yang tumbuh jauh di dasar sana

Bogor, 13 September 2011

di pagi hari yang entahlah….

Terperangkap Sepi

Saat aku menatap senja

hanya kesunyian yang ada

dia diam

dan aku pun hanya bisa terdiam

Perlahan kabut turun

dan malam

dan sunyi

dan kita pun terperangkap dalam sepi

Bogor, 12 September 2011

Senja yang sendu

Terbang Bersama Cinta

Hari masih pagi

Namun pena ini sudah mengajakku terbang bersama cinta

Melewati pucuk kata-kata

Menyelam dalam lautan makna

Sungguh bahagia terbang bersama cinta

Segalanya menjadi indah

Segalanya menjadi ada

Duhai cinta

Aku ingin terus mengangkasa

Terus mengangkasa

Dan terus mengangkasa

Duhai cinta

Bawalah aku terus terbang bersamamu

Kemanapun engkau mau

Selamanya

 

 

Bogor, 12 September 2011

Pagi hari yang penuh cinta

 

Maukah Dirimu

Maukah dirimu

Menemani diriku

Seperti dingin yang setia menemani pagi

Maukah dirimu

Menemani diriku

Seperti terang yang setia menemani siang

Maukah dirimu

Menemani diriku

Seperti kelam yang setia menemani malam

Maukah dirimu

Menemani diriku

Untuk selamanya

Bogor, 11 September 2011

Ba’da dzuhur yang agak menyejuk

Jangan Kau Hapus Senyummu

Ku tahu engkau kecewa kepadaku

Ku tahu engkau marah kepadaku

Tapi pintaku satu

Jangan kau hapus senyum dari teduh wajahmu

Sungguh aku tak sanggup

Meski hanya sekejap

Kehilangan senyummu yang membawa damai

Bogor, 11 September 2011

Saat Pagi Menyapa Siang

Cintailah Diriku Apa Adanya…

Setiap aku melihat bunga

ingatanku selalu tertuju padanya

dia yang pernah berkata di suatu ketika

“Cintailah diriku apa adanya…”

Bogor, September 2011

kala malam berselimut lelah

Aku Ingin Mengatakan Cinta

Aku ingin mengatakan cinta

kepada gelap malam

yang telah memberiku sajadah kesunyian

hingga ku bisa bersimpuh dengan Ya Robbi..Ya Robbi…

Aku ingin mengatakan cinta

kepada waktu subuh

yang telah memberiku ruang untuk bersimpuh

hingga ku bisa berkhusyuk dalam dekapan astaghfirulloh…

Aku ingin mengatakan cinta

kepada Sang Pencipta malam

kepada Sang Pemelihara subuh

yang telah memberiku hidayah tuk terus menghamba kepada-Nya

Bogor, 10 September 2011

Saat badan terasa remuk redam sepulang dari harco mangga dua

Mengatakan Cinta

Aku pernah mengatakan cinta

tapi itu dulu

saat bunga-bunga masih merekah

dan kupu-kupu masih bergelayut mesra di atasnya

Aku pernah mengatakan cinta

tapi itu dulu

saat pelangi masih menghias mega

dan rerumputan masih membasah dicumbu hujan

Aku pernah mengatakan cinta

tapi itu dulu

saat rembulan masih menghias malam

dan suara jengkrik masih menderik-derik

Aku pernah mengatakan cinta

tapi itu dulu

dan aku ingin mengatakannya sekali lagi

saat ini juga

Sungguh aku mencintaimu dinda!

Bogor, 9 September 2011

di sore hari yang penuh makna

Malam

Kenapa aku menyukai malam

entahlah

aku sendiri tidak mengerti

apakah karena malam identik dengan kesunyian

yang jelas

aku sangat menyukai malam

teramat sungguh

Sayangnya

hingga kini aku belum tahu

apakah malam juga menyukaiku

Bogor, 9 September 2011

di pagi hari yang menjanjikan mimpi

Di Mana Cinta Bersemayam

Bunda,

di manakah cinta bersemayam

aku ingin bertemu cinta

aku ingin tidur di pangkuannya

Bunda,

apakah cinta juga bermata

jika ya

kenapa cinta tak pernah mau melihat kita

Bunda,

apakah cinta itu indah

seperti warna kembang api di langit sana

saat gema takbir berkumandang di mana-mana

Bunda,

aku lelah

aku ingin istirahat

Bunda,

jika cinta datang

sampaikan salamku kepadanya

Bogor, Syawal 1432 H

Akan Kuberikan Bunga Ini Kepadamu

Akankah kuberikan bunga ini kepadamu

saat kesunyian mendekap senja

dan burung-burung pulang ke sarangnya

Akankah kuberikan bunga ini kepadamu

saat kelam menyelimut malam

dan orang-orang sunyi terdiam

Akankah kuberikan bunga ini kepadamu

saat fajar menyingkap gelap

dan kata hatiku semakin mantap

Bogor, Syawwal 1432 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.