JANGAN TAKLID!

Orang yang terkena virus taklid ibarat hewan yang diikat lehernya, kemudian dibawa dan hewan itu tidak tahu mau dibawa ke mana. Sering kali hewan itu dibawa ke tempat penjagalan kemudian disembelih!

“Seluruh kaum Muslimin telah sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu hadits dari Rasulullah, tidak halal baginya untuk meninggalkan hadits itu guna mengikuti pendapat seseorang.” (Imam Asy-Syafi’i rahimahullah)

Kawan, banyak virus berbahaya yang bisa menjangkiti seorang penuntut ilmu. Namun, virus yang satu ini sangat berbahaya. Bahkan bisa dikatakan bahayanya melebihi virus flu burung. Kalau virus flu burung, paling-paling menyerang tubuh manusia saja. Tapi, kalau virus ini menyerang bagian terpenting dari manusia, yaitu agamanya. Virus ini bernama taklid atau lebih tepatnya ”taklid buta”.

Taklid artinya adalah mengikuti pendapat atau perkataan seseorang tanpa diketahui dalilnya. Orang yang terjangkit virus taklid ini akan mudah untuk terjerumus pada jurang kebinasaan. Ada yang memberikan permisalan, bahwa orang yang terkena virus taklid ini ibarat hewan yang diikat lehernya, kemudian dibawa dan hewan itu tidak tahu mau dibawa ke mana. Sering kali hewan itu dibawa ke tempat penjagalan kemudian disembelih!

Virus taklid telah terbukti memakan banyak korban. Di jaman Rasulullah dulu, khususnya di awal-awal munculnya Islam, ratusan bahkan ribuan orang masuk neraka gara-gara taklid. Orang-orang kafir Quraisy pada waktu itu banyak yang enggan menerima Islam gara-gara terjangkit virus taklid. Mereka taklid kepada nenek moyang mereka.

Islam sangat melarang taklid. Dalam Al-Qur`an, banyak sekali ayat-ayat yang memberi peringatan untuk menjauhi taklid. Di antaranya Allah berfirman:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab:”(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk”. (Q.s. al-Baqarah [2]:170)

Bahkan, para ulama zaman dulu–seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal—sudah mewanti-wanti para muridnya untuk waspada dari sikap taklid.

Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak halal bagi seseorang untuk mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.”

Imam Malik berkata: “Saya hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur`an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur`an dan Sunnah, tinggalkanlah.”

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah, peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu.”

Imam Ahmad berkata: “Janganlah kamu taklid kepada siapa pun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil.”

Oleh karena itu kita harus hati-hati. Jangan sampai kita terkena virus yang satu ini. Terutama sebagai seorang penuntut ilmu. Dia harus membentengi dirinya sekuat tenaga dari virus taklid ini. Caranya?

Untuk membentengi diri dari virus taklid, seorang penuntut ilmu harus kritis dalam beragama. Tidak asal menerima pendapat setiap orang. Ketika ada seseorang yang mengeluarkan pendapat, entah itu ustadznya, kiyainya, gurunya, syaikhnya, atau siapa pun hendaknya diteliti terlebih dulu. Sesuai tidak pendapatnya itu dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah? Benar tidak pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah yang disampaikan? Ada tidak contoh pengamalannya dari Rasulullah?

Allah pun memerintahkan kita untuk besikap kritis. Mari kita renungi firman Allah berikut ini…

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa [4]:59)

Perhatikan baik-baik ayat ini. Dalam ayat ini, ketika terjadi perbedaan pendapat, Allah menyuruh kita untuk melakukan studi kritis. Kita tidak disuruh untuk mengembalikan pendapat kepada diri masing-masing atau ustadz/kiyai masing-masing. Akan tetapi Allah menyuruh kita untuk mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika cocok dengan keduanya, itulah yang diambil, meskipun menyalahi pendapat yang kita yakini selama ini atau pendapat yang diyakini oleh ustadz kita dan kiyai kita di pengajian.

Seorang penuntut ilmu yang kritis, otaknya akan berkembang. Tidak jumud (beku). Sebab, otaknya akan terlatih melakukan penelitian yang mendalam. Dia akan rajin membuka-buka referensi, membaca, menelaah, membandingkan, menganalisa, untuk kemudian mengambil pendapat yang paling kuat. Yaitu yang paling sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Seorang penuntut ilmu yang kritis akan senantiasa menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu menyalahi pendapat dirinya dan gurunya selama ini. Bagi dirinya, kebenaran lebih berhak untuk diterima dan diikuti, dari siapa pun datangnya.

Terkait hal ini, ada nasihat bagus dari Abdullah bin Mas’ud. ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Mas’ud rahimahullah berkata,”Ada seseorang yang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud seraya berkata,”Wahai Abu ‘Abdirrahman, beritahukanlah kepadaku kalimat yang simpel namun banyak mengandung manfaat!” ‘Abdullah menjawab,”Jangan sekali-kali engkau menyekutukan Allah. Berjalanlah bersama Al-Qur’an ke mana saja engkau pergi. Jika ada kebenaran yang datang kepadamu, janganlah segan-segan untuk menerimanya sekalipun kebenaran itu jauh letaknya dan tidak menyenangkan. Dan jika ada kebatilan yang datang kepadamu, tolaklah ia jauh-jauh sekalipun kebatilan itu dekat letaknya dan sangat kau sukai.”

***

Penuntut ilmu yang kritis berbeda dengan penuntut ilmu yang taklid. Kalau penuntut ilmu yang terjangkit virus taklid, otaknya akan beku, keras,  tumpul, dan tidak akan berkembang.  Sebab, otaknya jarang diasah. Kebiasaannya adalah  menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh ustadznya saja. Akibatnya, otaknya tidak terlatih untuk melakukan analisis ilmiah terhadap suatu permasalahan.

Bagi seorang muqollid, apa yang dikatakan ustadznya, itulah satu-satunya yang dia anggap benar. Dia pun berusaha membela pendapat itu mati-matian. Dia enggan mempertimbangkan pendapat orang lain, meskipun itu suatu kebenaran karena berdasarkan dalil yang kuat. Seolah-olah perkataan gurunya adalah wahyu dari Tuhan yang tidak boleh diganggu gugat. Maka, keadaannya tidak jauh beda dengan orang-orang jaman jahiliyyah dulu.

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (Q.s. at-Taubah [9]:31)

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari virus berbahaya ini. Amien.

Terakhir, camkanlah selalu perkataan Imam Malik berikut ini. ”Setiap orang perkataannya bisa diambil dan bisa dibuang, kecuali perkataan penghuni kubur ini,”sambil tangan beliau menunjuk ke kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: