ADA APA DENGAN NYONTEK ?

Oke sobat….

Sekarang kita akan ngebahas sebuah kebiasan buruk yang kayaknya sering dilakukan oleh beberapa temen kita sesama pelajar. Apa itu? Yup, bener sekali! Kebiasaan menyontek pas ujian.

Sekarang kami mau tanya ke kamu-kamu semua. Siapa yang kalo ujian suka nyontek? Ayo, ngaku aja deh nggak usah malu-malu…he..he…

Bagi kamu-kamu yang punya kebiasaan nyontek, mulai sekarang tinggalin deh kebiasaanmu itu. Soalnya buka apa-apa, fren. Kamu sendiri ntar yang rugi.

Kamu tau nggak, fren. Nyotek itu banyak dampak negatifnya, lho. Diantaranya nih kalo kamu mau tau.

  • Nyontek itu bisa bikin otakmu nanti jadi nggak berkembang.
  • Nyontek bisa bikin kamu jadi orang yang nggak percaya diri.
  • Nyontek bisa bikin kamu jadi orang yang lemah
  • Nyontek bisa bikin kamu jadi males belajar
  • Nyontek bisa bikin mmm…mmm….bikin apa lagi ya….Mmm…pokoknya banyak deh dampak negatif dari menyontek (saking banyaknya sampe lupa nih…..he..he….).

Trus, yang kudu kamu tau juga fren, kalo dari sudut pandang agama, nyontek merupakan perbuatan dosa. Sebab, orang yang mencontek adalah orang yang curang. Dan tentu saja “berbuat curang” itu sangat dilarang dalam agama.

Oke deh, buat bahan renungan, coba kamu simak kisah berikut ini.

Sebut saja namanya Bayu. Sewaktu SD dia tergolong anak yang cerdas. Dia sering mendapat ranking satu di sekolah.

Sewaktu masih SD dia belum kenal yang namanya nyontek. Semua ujian di sekolah dia kerjakan dengan jujur. Sebelum ujian, dia senantiasa rajin belajar. Dia baca berulang-ulang materi yang hendak diujikan hingga benar-benar hafal. Diapun kemudian diterima di SMP Negeri di kotanya.

Saat masih duduk di kelas satu SMP dia pun belum mengenal istilah nyontek. Pokoknya semua ujian dikerjakan dengan jujur. Kalo besoknya ujian hafalan, maka malamnya atau beberapa hari sebelumnya dia baca buku berulang-ulang. Dia hafalkan apa yang memang harus dihafal. Maka wajarlah jika dia dapet peringkat cukup bagus di kelasnya. Dia dapet ranking dua pada semester pertama.

Namun begitu masuk kelas dua, diapun mulai kenal dengan menyontek. Terutama pelajaran hafalan, seperti biologi. Caranya menyontek yaitu dengan membuat catatan sekecil-kecilnya di dalam lembaran kertas kecil.

Memang, dengan mencontek, dia sering mendapat nilai bagus. Tapi, hal ini justru berdampak buruk bagi dirinya. Dia jadi malas menghafal. Daya hafalannya kemudian jadi menurun. Padahal sewaktu SD hafalannya cukup bagus. Kira-kira kelas tiga atau empat SD dia sudah hafal al-Qur’an juz 30. Prestasinya pun kini jadi menurun.

Parahnya lagi, kebiasaannya mencontek ini terus berlanjut hingga dia duduk di bangku SMA.

Ketika SMA cara menconteknya bervariasi. Kadang bertanya kepada temen sebelah atau depannya. Kadang buka-buka catatan secara sembunyi-sembunyi. Kadang membuat coret-coretan di meja dan tembok sebelum ujian dimulai. Untuk cara yang terakhir ini, dia punya pengalaman yang cukup berkesan. Ceritanya begini.

Suatu ketika guru bahasa Indonesianya mengumumkan bahwa pada pertemuan berikutnya akan diadakan ujian. Maka, sebelum  ujian dimulai, Bayu pun sibuk membuat coret-coretan di mejanya. Dia tulis apa saja yang kemungkinan bakalan keluar dalam ujian.

Kemudian, pada waktu yang telah ditentukan, ujian pun dimulai. Pak guru memasuki ruang kelas. Sambil berdiri di depan kelas, pak guru pun berkata, “Ya, sekarang kita ujian”.

Para siswa sudah tidak kaget lagi karena memang sudak diumumkan sebelumnya. Mereka pun bersiap-siap untuk menjalani ujian hari itu.

“Sekarang ujiannya lisan”, kata pak guru kemudian. “Saya akan panggil empat orang-empat orang untuk maju ke depan kelas. Yang pertama, Bayu…….”

Bayu pun kaget bukan main. Dia nggak menyangka kalo ujian kali ini bukan ujian tertulis. Sebab, nggak pernah sekalipun guru-guru di sekolahnya melakukan ujian langsung atau lisan. Padahal dia belum menghafal materi yang akan diujikan. Tapi bagaimana lagi. Tidak ada waktu lagi bagi dirinya untuk membuka-buka buku. Dengan terpaksa dia maju ke depan kelas untuk mengikuti ujian. Karena dia belum belajar, maka hampir semua pertanyaan guru dia jawab dengan kalimat, ”Nggak tau pak”. Diapun akhirnya harus mengulang ujian karena cuma dapet nilai dua.

Kini, setelah sekian tahun berlalu, Bayu baru merasa menyesal. Sebab akibat kebiasaan menconteknya sewaktu sekolah dulu membuat  kemampuan menghafalnya menjadi berkurang. Sehingga ketika dia harus menghafal sesuatu yang penting dalam jumlah banyak, dia harus berjuang ekstra keras.

Demikianlah kawan. Inilah diantara contoh dampak buruk dari mencontek. Otak kita jadi nggak terasah dengan baik. Padahal kalo sejak kecil otak kita dibiasakan untuk belajar, belajar, dan belajar; membaca, membaca, dan membaca; menghafal, menghafal, dan menghafal; maka otak kita akan tajam. Dengan begitu kita akan mudah untuk menangkap ilmu pada tingkat-tingkat selanjutnya.

Ada pepatah mengatakan: Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.

Pepatah ini benar adanya. Buktinya si Bayu. Sewaktu SD dia rajin membaca dan menghafal. Diapun mendapat prestasi yang gemilang. Namun ketika dia sudah mulai menyontek dan nggak terbiasa lagi menghafal pelajaran, akhirnya daya hafalnya menjadi lemah. Prestasinya pun jadi menurun.

Makanya sobat, kalo mau daya hafalmu kuat, biasain deh sejak dini untuk rajin menghafal.

Kemudian kawan….

Sebagaimana yang udah kami sebutin di atas, mencontek juga bikin kamu jadi orang yang lemah. Kenapa? Sebab kamu selalu bergantung kepada contekan. Kamu nggak berani menggunakan kemampuan dirimu sendiri. Dan hal ini sangat berbahaya? Sebab, kalo kamu kehilangan tempat kamu bergantung, kamu bakalan kebingungan nantinya. Gimana kalo temen yang biasa kamu contek tiba-tiba nggak masuk sekolah pas ujian? Gimana kalo guru mengawasi ujianmu dengan sangat ketat sehingga kamu nggak bisa ngeluarin kertas contekan? Gimana kalo tiba-tiba ujiannya lisan? Gimana kalo tukang somay di kantin nggak jualan (lho, apa hubungannya coba…he..he…).

Padahal kawan, kalo kamu mau, sebenarnya kamu ini mampu. Kamu bisa kok berprestasi tanpa nyontek. Yang penting kamu tumbuhkan keinginan untuk maju dan berjanji untuk nggak menyontek. Kamu buat komitmen dalam dirimu untuk mengandalkan kemampuan diri sendiri. Dan kalo kamu bersungguh-sungguh, maka kamu akan bisa mencapai hasil yang memuaskan. Coba kamu simak dua kisah berikut ini….

Ada seorang pelajar yang kita sebut saja namanya Budi. Sewaktu SD Budi sudah terbiasa menyontek. Kebiasaannya ini terus berlangsung hingga kelas 5 SD.

Budi merasa nggak percaya diri dengan kemampuan dirinya. Sehingga setiap kali ujian di kelas, Budi selalu menyontek teman sebangkunya. Teman sebangkunya merupakan anak terpandai di kelas.

Namun kemudian, saat kelas 5 SD, terjadi masalah antara Budi dengan teman sebangkunya. Hubungan mereka pun menjadi renggang. Mereka kemudian pisah ranjang –eh salah- pisah tempat duduk maksudnya he..he…. Hal ini tentu saja membuat Budi kebingungan. Sebab dia kehilangan tempat untuk menyontek.

Akhirnya dia pun kemudian memutuskan untuk mulai belajar sendiri. Tapi awalnya dia bingung. Seperti apa sih belajar itu sebenarnya? Pernah dia melihat di TV ada seorang anak belajar sambil duduk di meja belajar. Dia lihat anak itu sedang menulis. Tapi Budi masih bingung, emangnya apa yang mau ditulis?

Setelah mencari tau kesana-kemari, Budi pun mencoba belajar dengan cara merangkum pelajaran yang sudah dia dapat disekolah. Sepulang sekolah, pelajaran yang sudah dia dapat dia tulis kembali rangkumannya di buku. Karena kesungguhan dan keseriusannya dalam belajar, Budi pun berhasil meraih prestasi yang cukup bagus. Hal ini tentu saja membuatnya sangat senang. Dan yang lebih membuatnya senang, dia bisa meraih prestasi bagus tanpa mencontek. Diapun kemudian diterima di SMP yang cukup favorit di kotanya.

Berikutnya, ada seorang anak SMA yang kita sebut saja namanya Iwan. Di sekolah, dia meraih prestasi yang cukup lumayan. Sayangnya, prestasinya ini diraih dari hasil mencontek. Hampir setiap ujian dia mencontek. Bagaimana cara dia mencontek?

Kebetulan Iwan jago komputer. Nah, keahliannya inilah yang kemudian dia gunakan untuk mencontek. Sebelum ujian, dia ketik di komputer apa saja yang kemungkinan bakalan keluar pas ujian. Kemudian hasil ketikannya itu dia cetak di atas kertas dengan huruf sekecil-kecilnya. Nah, begitulah cara dia mencontek (Awas!!! Jangan ada yang niru ya……he..he….)

Tri, teman satu sekolah Iwan tau kebiasaan Iwan. Diapun berusaha untuk mengingatkannya. Dijelaskan kepada Iwan bahwa ini perbuatan yang nggak baik. Ini adalah perbuatan curang. Namun, Iwan tetap dengan kebiasaannya ini. Sulit baginya untuk menghilangkan kebiasaan menconteknya. Walaupun sebenarnya dalam hati dia merasa bersalah dan sangat ingin meninggalkan kebiasaan buruknya ini.

Ujian Nasional pun tiba. Seperti biasa, Iwan sudah siap dengan contekannya. Sebelum ujian, dia berjumpa dengan Tri.

“Sorry Tri, gue nggak bisa. Pokoknya sekali ini aja gue nyontek. Abis ini gue nggak bakalan nyontek lagi deh, gue janji….”

Tri nggak bisa ngomong apa-apa. Merekapun kemudian masuk ke ruang ujian masing-masing.

Selesai ujian, Iwan menemui Tri. Raut wajahnya tampak sedih.

“Demi Alloh Tri, gue tadi ujian nggak nyontek. Gue nggak tau deh bakalan lulus apa nggak…..”

Ternyata Iwan nggak jadi nyontek. Dia lebih memilih menuruti kata hati kecilnya ketimbang hawa nafsunya. Namun, dia jadi merasa nggak percaya diri karena selama ini sudah terbiasa bergantung dengan contekan. Dan memang, sebagaimana yang udah kami sebutin di atas, nyontek bikin kita jadi orang yang nggak percaya diri.

Lalu, bagaimana dengan hasil ujian Iwan? Apakah dia nggak lulus?

Ternyata, walaupun nggak mencontek, Iwan berhasil mendapat nilai cukup bagus. Diapun lulus Ujian Nasional. Dan kemudian, dia berhasil diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Nah sobat…..

Kisah Budi dan Iwan di atas memberi kita beberapa pelajaran, diantaranya: Pertama, mencontek membuat kita menjadi seorang yang nggak percaya diri. Kedua, sebenarnya kita semua punya potensi untuk menjadi orang yang cerdas. Sebenarnya kita bisa kalau kita mau. Tinggal kembali ke kitanya, mau berusaha apa nggak. Kalo kita mau berusaha sungguh-sungguh, insya Alloh, kita bakalan berhasil meraih impian kita. Masih inget kan dengan pepatah Arab yang mengatakan “Man jadda wajada”?!

Oke deh sobat….

Gimana sekarang, masih mau coba nyontek kalo ujian ??? Udah nggak lagi kan! Mudah-mudahan uraian di atas bisa menyadarkan  temen-temen kita yang masih terbiasa nyontek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: