ADA APA DENGAN KHILAFAH

Seorang muslim wajib melaksanakan semua syari’at Islam secara kaffah (menyeluruh). Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan…”. (QS. Al-Baqarah [2]: 208]

Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa syari’at Islam yang tidak akan mungkin dilaksanakan kecuali dengan adanya sebuah negara. Seperti hukum rajam bagi pelaku zina dan potong tangan bagi pencuri. Oleh karena itu, mewujudkan negara yang berdasarkan syari’at Islam hukumnya wajib. Berdasarkan kaidah fikih: Maa laa yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib (Sebuah kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan adanya “sesuatu”, maka “sesuatu” itu menjadi wajib). .

 

Namun, yang jadi pertanyaan kita sekarang adalah: bagaimana cara kita menegakkan khilafah?

 

Jika pertanyaan ini diajukan kepada para aktivis dakwah, jawaban yang muncul ternyata beragam. Ada yang memperjuangkannya lewat parlemen, lewat opini publik, pembersihan aqidah ummat dari kesyirikan… dll. Masing-masing mengajukan teori dan argumentasi yang menguatkan pendapatnya.

 

Akibat perbedaan pandangan ini, lahirlah masalah baru. Yaitu, perpecahan dikalangan ummat Islam. Ummat Islam menjadi terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok kecil yang banyak. Masing-masing mereka menganggap bahwa cara yang mereka tawarkan adalah yang terbaik dan paling tepat untuk mewujudkan kembali Khilafah Islamiyah. Keadaan mereka persis dengan yang difirmankan Allah:

 

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Rum [30]:32)

 

Terkadang ada yang berkata begini: Sudahlah, tidak usah dipermasalahkan. Biarkan saja setiap kelompok pakai cara masing-masing. Yang penting kan tujuannya sama. Jadi, kita bagi-bagi tugas saja. Ada yang dakwah lewat parlemen, lewat opini publik, lewat pemurnian aqidah dll. Sesama orang Islam jangan cakar-cakaran!”

 

Saya katakan: Sepintas, secara akal, perkataan ini terdengar manis dan indah. Tapi, kita jangan lupa. Setiap yang kita anggap baik menurut akal dan perasaan kita, belum tentu baik bagi Allah. Boleh jadi kita menganggap sesuatu itu baik dan benar, tapi ternyata buruk dan keliru di mata Allah. Dan, boleh jadi kita menganggap sesuatu itu obat, tapi ternyata penyakit menurut penilaian Allah.

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]:216)

 

Oleh karena itu, kita harus melihat dan menilai sesuatu dari kaca mata syari’at, bukan berlandaskan akal dan perasaan semata. Sebab, akal manusia sifatnya sangat terbatas.

 

Allah berfirman:

 

“Katakanlah: Tunjukkanlah bukti (dalil) kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 111)

 

Dalam ayat ini, Allah menjadikan parameter kebenaran adalah “dalil”. Jadi, untuk mengetahui sesuatu itu baik dan benar, kita harus mengukurnya dengan dalil. Dalam Islam, yang dimaksud dengan dalil adalah Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ Sahabat.

 

Lalu, berdasarkan dalil, langkah apa yang seharusnya kita tempuh dalam menegakkan Khilafah Islamiyyah?

 

Pertanyaan ini mungkin terasa aneh jika diajukan oleh seorang Muslim, apalagi jika pertanyaan tersebut muncul dari seorang aktivis dakwah. Sebab, mereka tentu tahu persis bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang sempurna, sebagaimana yang diberitahukan oleh Allah dengan firman-Nya:

 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

 

Jadi, Islam sudah sempurna. Segala sesuatu telah dijelaskan dalam Islam. Bahkan sampai yang sekecil-kecilnya, seperti cara buang air besar. Jika cara buang air besar saja telah dijelaskan, apalagi cara menegakkan Khilafah !

 

Seandainya mereka (para aktivis dakwah) mau untuk berhenti sejenak, merenungkan, meluruskan, membetulkan dan menyatukan pemikiran mereka, niscaya mereka semua akan melihat bahwa cara dari menegakkan khilafah ini terlihat jelas dihadapan mereka. Akan tetapi, banyaknya kesibukan mereka dengan berbagai macam teori, permisalan-permisalan, serta pemikiran-pemikiran yang ada pada kelompok mereka masing-masing, membuat mereka terhalang dari mengetahui cara ini.

 

Padahal, dalam Al-Qur’an jelas-jelas dikatakan:

 

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

 

Inilah jawabannya. Kita ikuti cara Rasulullah dalam menegakkan Khilafah. Apakah Rasulullah menegakkan Khilafah lewat parlemen? Apakah Rasulullah menegakkan Khilafah lewat opini publik? Apakah …

 

Kalau kita baca perjalanan hidup nabi, ketika Islam pertama kali muncul keadaannya tidak jauh beda dengan keadaan kita sekarang ini. Hukum Islam tidak diterapkan, para penguasa berbuat zalim, moral masyarakat bobrok, zina di mana-mana, para wanita keluar rumah dengan mengumbar aurat, minum minuman keras menjadi hal yang biasa, riba menggila, perpecahan antar kelompok (suku) tiada henti-hentinya.

 

Kemudian juga, ummat Islam pada waktu itu dalam kondisi yang sangat lemah. Mereka tertindas, teraniaya dan terusir dari tanah airnya. Kita tentu masih ingat bagaimana Bilal, ketika panas terik di padang pasir, ditindih dengan batu besar. Begitupun halnya dengan Khabbab bin Al-‘Art manakala majikannya memanaskan besi hingga memerah kemudian diletakkannya dipunggung Khabbab yang terbuka. Maka panas besi tersebut tidaklah berkurang dan padam kecuali karena lemak yang meleleh dari tubuh Khabab. Dan, tidak hanya Sahabat yang mengalami penganiyaan, Rasulullah pun sama. Bahkan berkali-kali mendapat percobaan pembunuhan.

 

Kaum Muslimin pada waktu itu juga pernah mengalami tahun-tahun penuh kesulitan. Sekian lamanya mereka memperoleh embargo ekonomi dari orang-orang kafir. Sehingga mereka mengalami kelaparan yang dahsyat. Mereka sampai memakan daun-daunan dan apa saja yang bisa dimakan untuk menyambung hidup.

 

Akan tetapi, menghadapi seabrek problema ini, dari mana Rasulullah memulai dakwahnya? Apakah dengan cara masuk parlemen? Apakah dengan opini publik tentang pentingnya Khilafah? Apakah dengan membagi-bagi tugas kepada para Sahabatnya dalam berdakwah? Ataukah…

 

Tidak! Bukan dengan itu beliau memulai dakwahnya. Akan tetapi, beliau memulai dari merubah individu-individu masyarakatnya terlebih dahulu. Yaitu, dengan membersihkan aqidah masyarakat dari noda-noda kesyirikan. Beliau mulai dari diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat. Hal ini beliau lakukan terus menerus selama 13 tahun di Mekah. Dan ternyata, hasilnya sungguh menakjubkan. Tegaklah Khilafah Islamiyyah di Madinah!

 

Dan, tidak hanya Rasulullah yang cara dakwahnya seperti ini. Para Nabi dan Rasul sebelum beliau pun menempuh cara yang sama. Misalnya saja Nabi Musa dan Harun. Pada waktu itu mereka hidup di bawah pemerintahan yang zalim. Bahkan zalimnya tidak ketulungan. Tidak ada manusia di dunia ini yang mengalahkan kezaliman Fir’aun yang mengaku bahwa dirinya adalah tuhan.

 

Walaupun begitu, Nabi Musa dan Harun tidak memulai dakwahnya dari merubah sistem pemerintahan yang ada. Melainkan beliau ubah individu-individu masyarakatnya. Mereka mendakwahkan masyarakat untuk memurnikan tauhid dan tidak berbuat syirik. Bahkan, mereka berdua mendatangi langsung Fir’aun untuk mendakwahinya. Merekapun tidak bagi-bagi tugas. Misalnya, Nabi Musa membuat opini publik tentang pentingnya khilafah dan Nabi Harun lewat parlemen. Tidak. Akan tetapi dakwah mereka satu, yaitu tauhid.

 

Maka, jika kita ingin Khilafah tegak, ikuti contoh Rasulullah. Jangan ikuti yang selain beliau. Coba Anda renungkan baik-baik hadits berikut. Rasulullah bersabda:

 

”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Rasulullah menyuruh kita shalat dengan cara yang sesuai dengan yang beliau contohkan. Begitupun dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti puasa, zakat, haji dll. Kita tidak boleh membuat-buat cara tersendiri dalam beribadah.

 

Nah, menegakkan khilafah adalah ibadah. Bahkan termasuk ibadah yang sangat mulia di sisi Allah. Maka, jika kita mau mengambil faidah dari hadits tentang shalat ini, maka:

 

Tegakkanlah Khilafah sebagaimana kalian melihat “aku” menegakkan Khilafah!

 

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: