MENGEMBALIKAN KEJAYAAN UMMAT

Musibah demi musibah tidak henti-hentinya menerpa umat Islam. Di belahan bumi manapun mereka berada selalu saja menjadi umat yang tertindas. Seolah-olah antara musibah dan umat Islam memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

Kita tentu masih ingat, bagaimana musuh-musuh Islam (Amerika, Inggris dan konco-konconya) bersekongkol untuk mengobok-obok Irak yang notabene adalah negara kaum muslimin. Sedangkan umat Islam di belahan bumi lainnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu saudaranya di Irak, melainkan hanya doa dari kejauhan. Mereka (musuh-musuh Islam) sudah tidak ada rasa segan dan takut lagi terhadap umat Islam. Keadaan ini tentu mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang sekaligus merupakan bukti kebenaran risalah yang beliau bawa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:”Nyaris sudah umat-umat (selain Islam) mengepung kalian dari segala penjuru seperti berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya. Dikatakan:”Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu jumlah kita sedikit?”, Nabi berkata:”Tidak, bahkan kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian laksana buih banjir. Dijadikan penyakit wahn pada hati-hati kalian dan dicabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, karena kecintaan kalian terhadap dunia dan kebencian kalian terhadap kematian.” (Hadits shohih riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud)

Melihat keadaan yang menyedihkan ini, muncullah orang-orang yang di dalam dirinya masih ada ghirah untuk mengembalikan kejayaan umat seperti pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabatnya. Mereka mencoba untuk mengadakan perbaikan dari keterpurukan yang menimpa umat Islam. Namun sayang, masing-masing mereka berbeda pandangan tentang cara/metode yang lebih utama yang merupakan jalan keluar dari kenyataan buruk yang terjadi di dalam kehidupan umat. Akibat perbedaan pandangan mereka, maka cara-cara yang mereka tempuh pun saling berlainan, yang justru membawa kepada kenyataan buruk yang baru yang merupakan buah dari perbedaan pemikiran di antara orang-orang yang melakukan perbaikan ini.

Kenyataan membuktikan bahwa umat Islam kini terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok kecil yang banyak. Masing-masing mereka menganggap bahwa solusi yang mereka tawarkan adalah yang terbaik dan paling tepat untuk mengembalikan kejayaan umat.

Memang ada anggapan sebagian orang bahwa hal ini tidaklah mengapa. Cara boleh beda, tapi tujuan tetap sama. Namun akibat yang terjadi justru tragis. Masing-masing kelompok merasa bangga dengan kelompoknya masing-masing. Bahkan, tidak jarang terjadi pertikaian diantara kaum muslimin. Mereka bukannya menjadi batu-bata yang mestinya saling merekatkan satu sama lain untuk membangun Islam yang kuat dan kokoh. Namun, mereka justru laksana kucing dan anjing yang selalu ”ribut” dan sulit untuk disatukan.

Menyatukan Visi

Seandainya orang-orang yang melakukan perbaikan ini mau untuk meluruskan, membetulkan dan menyatukan pemikiran serta pandangan mereka, niscaya mereka semua akan melihat bahwa kaidah/dasar dari metode yang lebih utama ini nampak terlihat jelas di hadapan mereka. Akan tetapi, banyaknya kesibukan mereka dengan berbagai macam teori, permisalan-permisalan serta pemikiran-pemikiran yang ada pada kelompok mereka masing-masing, membuat mereka terhalang dari mengetahui hakikat penyakit sehingga berikutnya mereka kehilangan pandangan yang lurus untuk mengenal obatnya yang merupakan solusi dan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.

Solusi

Lalu langkah apa yang sebaiknya mereka lakukan untuk menanggulangi berbagai problematika yang ada?

Pertanyaan tersebut mungkin terasa aneh kalau diajukan oleh seorang muslim, terlebih kalau pertanyaan naif tersebut muncul dari diri seorang ulama’. Sebab, dia telah tahu persis bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang sempurna, sebagaimana yang diberitahukan oleh Allah dengan firman-Nya:”Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah ku ridhai Islam menjadi agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Jadi, tidak boleh terjadi sampai terlintas rasa pesimis dan putus asa dalam dirinya. Janggal rasanya jika sampai muncul pertanyaan darinya, ”Kalau kaum muslimin dihadapkan dengan berbagai macam problema, lantas apa yang akan mereka lakukan? Dan bagaimana mereka hidup?”

Sesungguhnya Al-Qur’an dan As-Sunnah secara luas telah menjelaskan sistem kehidupan yang komplek, yang memuat segala sesuatu yang kecil dan besar, yang bisa menimpakan bahaya dan yang bisa mendatangkan manfaat. Semuanya itu terangkum dalam sebuah uslub (metode) yang jelas dan tegas.

Tampaknya Islam tidak cukup dengan hanya meletakkan sistem dan membuat metode saja. Bahkan, secara nyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mendirikan sebuah masyarakat percontohan yang mengamalkan semua ajaran-ajaran Islam dalam praktek kehidupan nyata. Karena itu benar adanya kalau dikatakan, bahwa kejayaan agama itu tergantung pada sejauh mana kita mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Penyakit dan Obatnya

Kalau kita mau perhatikan lebih jauh dan teliti hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kita akan dapati bahwa Rasulullah telah menjelaskan kepada kita dalam banyak haditsnya dan sunnah-sunnahnya tentang hakikat dari perkara-perkara yang akan ditimpakan kepada umat ini, dan dari apa-apa yang kelak akan terjadi pada mereka.

Rasulullah telah menjelaskan secara rinci dalam haditsnya tentang sebab-sebab dan penyakit yang menimpa umat sekarang ini, sebagaimana telah dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ahmad dari Ibnu Umar secara marfu’:”Apabila kalin berjual beli dengan ’inah, kemudian kalian mengambil ekor-ekor sapi, kalian ridho/rela dengan pertanian kemudian kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan dan tidak akan dicabut kehinaan itu dari kalian sehingga kalian kembali kepada agama kalian.”(Hadits shahih, dikeluarkan dalam As-Silsilah Ash-Shohihah (11) oleh Syaikh Albani)

Hadits Rasul yang mulia ini memberikan gambaran tentang penyakit yang akan menjangkiti umat Islam. Kita tentu melihat bagaimana  kehidupan kaum muslimin sekarang jauh dari nilai-nilai keislaman. Mereka berhukum bukan dengan hukum yang Allah turunkan. Kalaupun ada yang menerapkan hukum Islam, itupun hanya sebagian kecil saja, dan belum secara keseluruhan. Ekonomi ummat ”morat-marit”, banyak dari mereka yang  terjerat dalam belenggu riba yang membawa kepada kesengsaraan. Mereka berpolitik dengan cara-cara yang kotor dan jauh dari adab-adab Islami. Sikut menyikut jadi hal yang biasa dalam pemerintahan. Hilang sudah persaudaraan sesama Muslim. Akhlak masyarakatnya pun sudah sedemikian parah. Mereka lebih senang berdesak-desakkan di depan panggung hiburan  daripada harus datang ke majelis ilmu.

Umat Islam sekarang ini banyak yang disilaukan dan terlena oleh gemerlapnya kehidupan dunia. Kemudian mereka lupa dan menelantarkan akhiratnya. Mereka bersenang-senang mengumpulkan harta walaupun dari jalan yang haram. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, hingga akhirnya lupa akhirat dan takut akan kematian di jalan Allah (jihad). Inilah gambaran nyata tentang keadaan kaum muslimin yang ada di hadapan kita. Jadi, wajar saja kalau mereka mendapatkan kehinaan dan kerendahan akibat dosa-dosa dan maksiat yang mereka perbuat. Sebagaimana RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam katakan dalam hadits di atas,”Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan.”

Lalu, apa obat dari penyakit-penyakit ini?

Sebagai salah satu bukti betapa kasih sayang dan cintanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada umatnya, bahwa beliau bukan hanya memberitahukan kepada mereka akan penyakit yang akan mereka derita. Akan tetapi beliau juga memberitahukan obat dari penyakit itu agar mereka bisa sembuh dari penyakitnya. Obatnya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ,”hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Ya, obatnya adalah kembali kepada Islam secara kaffah. Islam yang murni sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sampaikan pertama kali, kemudian diterapkan oleh para shahabatnya di bawah bimbingan beliau. Obatnya adalah berpegang teguh kepada agama dan kembali kepada pemahaman generasi yang pertama tentangnya, serta berhias dengan akhlak mereka, kemudian melaksanakan amalan seperti yang mereka lakukan.

Obatnya adalah kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus sholih, kemudian berdakwah kepadanya dan mendidik di atas keduanya. Obatnya adalah kembali kepada urusan yang pertama di bawah bayang-bayang ittiba’ dan jauh dari kesesatan bid’ah. Obatnya adalah keimanan dan pemikiran yang murni yang mengeluarkan umat dari sampah-sampah pemikiran yang masuk ke dalam Islam. Kemudian menaikkan mereka ke atas sampan kemuliaan salafush sholih untuk selanjutnya menempuh jalan mereka dan mengikuti jejaknya. Hingga akhirnya, kaum muslimin berkuasa atas luka-luka yang menjangkiti mereka secara keseluruhan, dan akhirnya derajat mereka bisa naik, kemudian mereka akan berbahagia dan menempati puncak tertinggi dalam kemuliaan.

(Sumber: Majalah Ar-Risalah/ No. 28/ Th. 3 Sya’ban – Ramadhan 1424 H/ Oktober 2003 dengan sedikit perbaikan dan perubahan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: