HARUSKAH KITA BERDEMO ? (bag-1)

PERHATIAN!!!

Artikel ini sebagai pelengkap artikel saya beberapa waktu lalu tentang KRITIS DALAM BERAGAMA. Di sini saya cuma ingin memberi contoh bagaimana seharusnya kita bersikap kritis. Teman-teman boleh setuju boleh juga tidak dengan tulisan berikut ini. Yang penting kita semua punya argumentasi yang kuat ketika dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh kelak terhadap apa yang telah kita perbuat di dunia ini. Selamat menyimak…

Sudah menjadi ciri khas seorang Muslim –apalagi dia seorang intelektual (baca:Mahasiswa) – memiliki sifat kritis dan berfikir ilmiyyah. Ketika menyikapi sebuah pendapat tidak serta merta diterima ataupun ditolak. Terlebih dahulu dilakukan analisis. Bila perlu diteliti dan dikaji secara mendalam. Jika pendapat itu benar, dia pun tidak segan-segan menerimanya, meskipun terkadang pendapat itu bertentangan dengan keyakinannya selama ini. Namun, jika menurutnya keliru, diapun akan memberikan tanggapan dan sanggahan. Tentunya dengan argumentasi ilmiyyah dan disertai dalil-dalil pendukung yang valid, bukan asal menolak.

Tulisan ini akan membahas sebuah permasalahan yang sudah menjadi hal biasa di tengah-tengah masyarakat –khususnya di kalangan mahasiswa-, yaitu tentang menasihati (mengkritik) pemerintah di depan umum, atau biasa dikenal dengan istilah demonstrasi. Bolehkah hal ini dilakukan oleh seorang Muslim?

Mari kita kaji bersama-sama. Dan kami harap pembaca yang terhormat tidak berkomentar dulu sebelum tuntas membaca tulisan ini.

Landasan Kita

Sebelumnya perlu dijelaskan bahwa pembahasan kita berlandaskan pada:

  1. Al-Quran dan Hadits yang sah [Bukan emosi dan perasaan]
  2. Niat ikhlas untuk mencari kebenaran [Bukan untuk menang-menangan apalagi mencari permusuhan]
  3. Perkataan Ulama [Bukan orang awam]
  4. Rasa kasih sayang terhadap sesama muslim [Bukan rasa kebencian]

Urgensi Seorang Pemimpin (Penguasa/Pemerintah)

Tidak diragukan lagi bahwa keberadaan seorang pemimpin sangatlah dibutuhkan. Tanpa pemimpin masyarakat akan kacau balau. Sampai-sampai ada yang berkata,”Enam puluh tahun di bawah kekuasaan pemimpin yang zalim lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin.” Sebab nantinya orang yang kuat akan mengintimidasi/memangsa yang lemah dan orang yang jahat akan berbuat seenaknya. Tentang hal ini –saya rasa- tidak perlu didiskusikan lagi.

Wajibnya Mentaati Pemerintah

Kewajiban ini langsung diperintahkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Alloh dan ta’atilah Rosul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.”[QS. An-nisa:59]

Rosululloh bersabda,”Seorang Muslim wajib mendengar dan ta’at terhadap perintah yang disukainya maupun yang tidak disukainya. Kecuali jika ia diperintah untuk mengerjakan maksiat, maka ia tidak boleh mendengar dan ta’at.”[HR. Bukhori dan Muslim].

Jadi, ketaatan kepada pemerintah terbatas pada perkara yang bukan maksiat.

Kala Pemimpin Berbuat Salah

Bagaimanapun juga pemimpin adalah manusia biasa, kadang bisa berbuat salah (dosa). Sebab, manusia di dunia ini tiada yang sempurna. Rosululloh bersabda,”Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertobat.”[HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim].

Nah, disaat pemimpin kita berbuat salah –misalnya dengan berbuat dosa, kezaliman atau maksiat- kewajiban kita sebagai seorang Muslim adalah menasihatinya. Mudah-mudahan (setelah dinasihati) dia menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Namun, yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah ”Bagaimana cara menasihati pemimpin?. Inilah inti dari tulisan ini.

Cara Menasihati Pemimpin

Islam agama yang sempurna. Segala sesuatu –dari hal yang paling kecil (seperti misalnya buang air)- telah dijelaskan tata caranya oleh Islam. Jadi tidak masuk akal jika Islam tidak menjelaskan tentang tata cara menasihati pemimpin/pemerintah/penguasa!!!

Adapun cara menasihati pemimpin/penguasa dalam Islam adalah sebagai berikut:

1. Dengan lemah lembut, bijaksana, dan cara yang baik

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”Serulah manusia ke jalan Robbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang baik.” [QS. An-Nahl:125]. Sebab,”Jika sekiranya engkau bersikap kasar dan keras hati terhadap mereka, sungguh mereka pasti akan meninggalkanmu.”[QS. Ali-Imron:159].

2. Tidak di Depan Umum (secara sembunyi-sembunyi/empat mata)

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,”Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah ia tampakkan nasihatnya itu secara terang-terangan (di depan umum). Akan tetapi, hendaklah ia pegang tangannya (secara empat mata). Maka kalau dia menerima nasihatnya, itulah (yang dikehendaki). Namun kalau tidak, maka ia telah menunaikan kewajibannya (menasihati penguasa).”[Hadits shahih. Telah dikeluarkan oleh Imam Ahmad (3/403-404, no. 15.408) dan Ibnu Abi Syaibah di kitabnya As-Sunnah (No. 1096, 1698, dan 1699) dll. Imam ahli hadits]

Hadits ini amat sangat jelas sekali menunjukkan bahwa nasihat kepada penguasa (pemerintah) harus dilakukan secara rahasia, tidak terang-terangan. Tidak boleh disiarkan di atas mimbar-mimbar, di tengah kumpulan manusia, di masjid-masjid, di koran-koran, di majalah-majalah dll.

Inilah cara menasihati pemerintah sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah (Islam). Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,”Sebenar-benar perkataan adalah Kitabulloh (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rosululloh (As-Sunnah).” [HR. Muslim].

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”[QS. Al-Ahzab:36].

Bagaimana Kalau Menasihati Pemerintah Dilakukan Secara Terang-Terangan?

Adapun orang yang menasihati (mengkritik) pemerintah secara terang-terangan –apalagi diiringi dengan hujatan, cacian, teriak-teriak- maka pelakunya telah terjerumus pada perbuatan:

1. Menyelisihi Al-Quran dan Hadits (dalilnya telah disebutkan di atas)

2. Tidak mengikuti jejak sahabat Rosul

– Umar bin Khottob berkata (di atas mimbar),”Wahai rakyatku, kami mempunyai hak yang wajib kalian tunaikan, yaitu menasihati kami secara sembunyi-sembunyi (empat mata) dan saling membantu dalam kebaikan.”[Diriwayatkan oleh Hannad bin Sari dalam Kitab Az-Zuhud: 2/602]

– Ketika Ibnu Abbas ditanya tentang cara amar ma’ruf dan nahi munkar kepada penguasa, dia berkata,”Jika engkau memang harus melakukannya, maka lakukanlah secara empat mata.”[Imam Ibnu Rojab menyebutkan riwayat (atsar) ini dalam kitabnya Jami’ul Ulum wal Hikam (1/225), kemudian beliau berkata,”Para generasi terdahulu (salafus sholih), jika ingin menasihati seseorang, maka mereka menasihatinya secara sembunyi-sembunyi.”

Padahal salah satu syarat untuk mendapatkan keridhoan Alloh dan surga adalah dengan mengikuti jejak sahabat Rosul (lihat surat At-Taubah ayat 100).

3. Menyelisihi Para Ulama

– Imam Fudhail bin Iyadh berkata,”Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia, dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan maki-maki.”

– Imam Syafi’i berkata,”Barangsiapa yang menasihati temannya dengan rahasia maka ia telah menasihati dan menghiasinya. Dan barangsiapa yang menasihati secara terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan merusaknya.” (Dua perkataan ini terdapat dalam buku Fikih Nasihat karya Fariq Gasim Anuz)

4. Menyelisihi Akal Sehat

Secara akal sehat, tabiat manusia (umumnya) tidak akan senang jika dinasihati di depan umum. Apalagi dinasihatinya sambil teriak-teriak, bawa-bawa poster, dan hujatan. Dan Islam adalah agama yang sejalan dengan akal sehat, sehingga Islam memerintahkan untuk saling menasihati secara rahasia (empat mata).

5.  Menyelisihi Jejak Para Nabi dan Rosul (dalam memberi nasihat)

Mari kita belajar dari kisah Nabi Musa dan Nabi Harun berikut ini. Simaklah baik-baik pelajaran yang sangat berharga ini, mudah-mudahan kita mendapat petunjuk.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”Pergilah kalian berdua menemui Fir’aun, karena sesungguhnya ia adalah orang yang melampaui batas, dan ucapkanlah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut semoga ia mau menerima peringatan atau takut.”[QS. Thoha:43 – 44].

Saudaraku…

– Anda tentu tahu siapa Musa dan Harun?

Mereka adalah Nabi yang mulia yang diutus oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

– Dan, Anda tentu juga tahu siapa Fir’aun?

Ya, dialah manusia yang berani berkata,”Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”[QS. An-Naazi’at:24]. Dan dia juga,”Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”[QS. Al-Qoshos: 4]

Walaupun kezoliman dan kerusakan Fir’aun telah amat sangat melampaui batas, namun Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun:

– ”Pergilah kalian berdua menemui Fir’aun ….”.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak perintahkan,”Bawalah masa sebanyak-banyaknya (laki-laki dan wanita) sambil bawa poster dan pengeras suara ke depan istana Fir’aun!”.

– ”…dan ucapkanlah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut”.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak perintahkan ”Kritiklah Fir’aun habis-habisan dan bongkarlah aib-aibnya di atas mimbar sambil berteriak-teriak!”.

Saudaraku…

Mari kita tanyakan hati nurani kita masing-masing:

– Apakah pemimpin kita lebih buruk/jahat/zalim dari Fir’aun?

– Apakah kita merasa lebih mulia dari Nabi Musa dan Harun?

Kenapa kita mengkritik pemimpin kita terang-terangan di muka umum? !

Sungguh beruntunglah orang-orang yang bisa mengambil pelajaran.

Sebagai Bahan Renungan

Pembaca yang saya hormati….

Tidak ingatkah kita bahwa di akhirat kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa-apa yang telah kita perbuat di dunia ini. Maka, janganlah kita menjadi orang-orang yang disebutkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,”Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”[QS. Al-Kahfi:103-104]

”Ya Alloh, tunjukilah kami bahwa yang benar adalah benar, dan berilah kekuatan kepada kami untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang salah adalah salah, dan berilah kepada kami kekuatan untuk menjauhinya. Dan Jauhilah kami dari memiliki sifat seperti Fir’aun, yakni sifat sombong dan enggan menerima kebenaran.” Allohu ’alam bisshowab.

Sumber: Bulletin Islam Tasfiyah, Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: