BILA UMMAHAT BELAJAR BAHASA ARAB

Sudah beberapa kali aku mengikuti pelajaran bahasa Arab di radio rodja setiap ahad malam. Yang dibahas buku durus lughoh jilid 2. Pelajarannya masih diperuntukkan untuk pemula, khususnya yang sudah menyelesaikan kitab durus lughoh jilid satu.

Dari beberapa kali mendengarkan pelajaran, ada satu hal yang paling menarik perhatianku. Apa itu? Yang paling sering menelpon untuk menjawab soal kok kebanyakan para ummahat ya? Bahkan pernah disuatu hari hampir penelponnya semua berasal dari akhwat (kebanyakan ibu-ibu). Baru terakhir yang menelponnya ikhwan. Si ikhwan yang menelpon ini bilang ke ustadznya, “Aduh susah masuknya…”.

Si ustadz pun menjawab sambil bercanda, “Susah? Belajar sama ummahat biar gampang masuknya….”.

Dalam hati, seneng juga melihat para ummahat semangat dalam belajar bahasa Arab. Mudah-mudahan mereka dimudahkan Alloh dalam mempelajari bahasa Arab sehingga bisa mereka ajarkan kepada anak-anak mereka. Bukankah mereka ibarat sekolah bagi anak-anak mereka. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah sya’ir:

“Ibu adalah madrasah bagi anak2, bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat”
“Ibu laksana taman, bila engkau pelihara tanamannya dengan siraman yang cukup maka akan tumbuh dengan subur dan rindang”

Namun sayangnya, mereka hanya mendapatkan pelajaran seminggu sekali. Sehingga menurutku sangat tidak efektif. Berdasarkan pengalamanku mengajar bahasa Arab, minimal kalau mau mendapatkan hasil bagus, dalam seminggu belajarnya kalau bisa 3 kali.

Nah, melihat hal ini, aku jadi tergerak untuk menyusun sebuah buku panduan belajar bahasa Arab yang bisa dipelajari sendiri di rumah masing-masing. Buku panduan ini aku susun untuk dipelajari oleh orang-orang seperti mereka. Dan aku pun menyusun materinya sedemikian rupa agar bisa dikuasai dalam waktu sekitar 6 bulan. Targetnya, setelah 6 bulan mereka bisa menguasai kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal memahami al-Qur’an dan bacaan sholat. Maka lahirlah kitab fahimna. Aku sangat berharap para ummahat -khususnya- bisa mempelajarinya.

Harapanku, para ibu-ibu kaum muslimin bisa menjadi muslimah cerdas dalam agama sehingga bisa mendidik anak-anak mereka menjadi para pejuang Islam yang akan mengembalikan kejayaan Islam kembali di atas permukaan bumi ini. DAn menurutku, bahasa Arab bisa dijadikan sebagai batu pijakan untuk mengantarkan mereka (para ummahat) untuk menjadi muslimah yang cerdas. Sebab seorang Muslimah cerdas tentu saja adalah mereka  yang mengerti dengan arti dari bacaan al-Qur’an yang mereka baca sehingga mereka bisa merenungi maknanya serta mengamalkannya. Wallohu a’lam. (abdul Jabbar al-Batawie)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: