HARUSKAH KITA BERDEMO ? (bag-2)

PERHATIAN!!!Artikel ini sebagai pelengkap artikel saya beberapa waktu lalu tentang KRITIS DALAM BERAGAMA. Di sini saya cuma ingin memberi contoh bagaimana seharusnya kita bersikap kritis. Teman-teman boleh setuju boleh juga tidak dengan tulisan berikut ini. Yang penting kita semua punya argumentasi yang kuat ketika dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh kelak terhadap apa yang telah kita perbuat di dunia ini. Selamat menyimak…

Meskipun Islam telah memberikan petunjuk yang jelas –sejelas matahari di siang hari- tentang cara menasihati pemerintah, namun masih saja ada sebagian saudara kita (kaum Muslimin) yang mengingkarinya dengan berbagai argumentasi. Berikut ini sebagian argumentasi yang biasa dilontarkan untuk membolehkan perbuatan menasihati pemimpin/penguasa/pemerintah di depan umum. Mohon disimak baik-baik!

Argumentasi Pertama

”Bukankah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,”Seutama-utama jihad adalah perkataan yang hak (benar) di hadapan penguasa yang zolim.”[HR. Nasai]

Tanggapan:

  1. Rosululloh bersabda,”….di hadapan …”. Dan beliau tidak mengatakan,”Engkau berada di Tugu Kujang sedangkan pemerintah ada di Gedung DPR!!!”. Jika engkau memang ingin berjihad, pergilah menemuinya secara langsung!
  2. Hadits di atas adalah hadits yang sah. Lalu, bagaimana penerapannya? Apakah dengan mengumpulkan masa sebanyak-banyaknya kemudian melakukan orasi di atas mimbar? Ataukah dengan mengikuti petunjuk Alloh dan Rosul-Nya, yaitu dengan perkataan yang lemah lembut dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi (tidak di muka umum)?!

Argumentasi Kedua

”Ulama berbeda pendapat tentang hukum menasihati pemerintah di depan umum (demo)”.

Tanggapan:

  1. Benarkah ulama beda pendapat? Bukankah telah jelas dalilnya dari Al-Quran dan Hadits ?!
  2. Perkataan ulama bukan dalil. Jika perkataan mereka sesuai dengan Al-Quran dan Hadits, maka kita terima. Jika tidak, maka kita tolak.
  3. Kalau memang benar ulama beda pendapat –dan ini kemungkinannya sangat kecil sekali- Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita,”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Alloh (Al-Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Alloh dan hari kemudian.”[QS. An-Nisa:59].

Dalam menghadapi perbedaan pendapat, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mengembalikan kepada Al-Quran dan As-Sunnah! Bukan mengembalikannya kepada pribadi masing masing, atau bukan pula sebagaimana yang di katakan sebagian orang ”Saya kan punya harokah…kamu juga punya harokah…jadi kita masing-masing sajalah…!!!”.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kita mencari pendapat yang paling mendekati kebenaran, yaitu yang paling sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Argumentasi Ketiga

Tapi kan pemimpin kita hanya mementingkan diri sendiri…”

Tanggapan:

Ketika Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya tentang (bagaimana) cara menyikapi pemerintah yang tidak menunaikan hak-hak rakyatnya, beliau menjawab:

”Tunaikanlah kewajiban kalian, dan mintalah hak kalian kepada Alloh!” [HR. Bukhari (7054) dan Muslim (1843)]

Dalam riwayat lain Rosululloh bersabda,”Mendengar dan taatlah, sesungguhnya mereka memikul kewajiban yang telah dibebankan kepada mereka, dan kalian memikul kewajiban yang telah dibebankan kepada kalian.”[HR. Muslim]

Cukuplah sabda Rosululloh ini sebagai jawaban bagi mereka yang masih ingin mengambil sunnah Rosululloh sebagai petunjuk.

Argumentasi Keempat

”Pemimpin kita telah berbuat jahat dan tidak berhukum dengan hukum Alloh…!”

Tanggapan:

  1. Lebih jahat mana pemimpin kita dengan Fir’aun?!
  2. Renungilah sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berikut:

Dari Hudzaifah (ia berkata), ”Rosululloh bersabda: ”Akan datang sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dari petunjukku dan tidak mengambil sunnah dari sunnahku. Dan di tengah-tengah mereka terdapat manusia-manusia berhati setan.” Aku pun bertanya,”Wahai Rosululloh, apa yang harus aku lakukan jika mendapati yang demikian?” Beliau menjawab:”Dengar dan taatlah kepada pemimpin sekalipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.”[HR. Muslim].

Argumentasi Kelima

”Niat kami baik, untuk menasihati pemerintah dalam rangka memperbaiki bangsa…”

Tanggapan:

  1. Niat baik tidak lantas menjadikan suatu amal menjadi benar dan diterima oleh Alloh. Suatu amal baru bisa diterima jika terpenuhi dua syarat: (1) Ikhlas karena Alloh (niat baik) dan (2) mengikuti contoh Rosululloh (sesuai syariat).

Apakah menasihati pemerintah di depan umum sesuai syariat?

  1. Bisakah dibenarkan, jika ada seorang anak berniat (baik) untuk membahagiakan orang tuanya dengan cara membelikan minuman keras?!

Argumentasi Keenam

”Demonstrasi hanyalah sekedar sarana, tujuannya adalah untuk menasihati pemerintah. Sebagai contoh: Seorang mahasiswa pergi kuliah dengan tujuan menuntut ilmu. Sarana tentu banyak sekali; bisa dengan naik angkot, sepeda, dll.” Bukankah ada kaidah fikih ”Sarana hukumnya sama dengan hukum tujuan?! Jika tujuannya baik, maka sarananya pun menjadi baik (boleh)”

Tanggapan:

  1. Tujuan yang baik harus menggunakan sarana yang baik pula, bukan sarana yang dilarang syariat.
  2. Telah dijelaskan di atas bahwa menasihati pemerintah di depan umum dilarang oleh syariat.
  3. Memang benar ada kaidah fikih ”Sarana hukumnya sama dengan tujuan”. Tapi perlu diingat! Kaidah ini memiliki batasan-batasan, diantaranya: Sarana yang digunakan bukanlah sesuatu yang dilarang (diharamkan).
  4. Apakah dibenarkan seorang mahasiswa pergi ke kampus dengan tujuan menuntut ilmu tapi dengan sarana sepeda motor hasil merampas/mencuri??? Apakah lantas merampas/mencuri sepeda motor hukumnya boleh dengan alasan untuk menuntut ilmu???

Argumentasi Ketujuh

”Bukankah Rosululloh pernah demo?! Buktinya ketika Umar masuk Islam, kemudian para sahabat turun ke jalan untuk unjuk kekuatan di hadapan orang-orang musyrik?!”

Tanggapan:

Sebelum saya menanggapi, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada pembaca: ”Samakah antara orang yang ”keluar rumah” untuk pergi haji dengan orang yang ”keluar rumah” untuk pergi ke diskotik? Orang yang berakal tentu akan menjawab ”beda”. Sebab yang satu keluar rumah untuk beribadah sedangkan yang satu keluar rumah untuk maksiat. Padahal kedua orang itu sama-sama ”keluar rumah”!

Nah inilah inti dari tanggapan saya terhadap argumentasi di atas. Tanggapan saya secara lengkap adalah sebagai berikut:

  1. Apakah riwayat ini shohih?
  2. Seandainya riwayat ini shohih, samakah ”kisah dalam riwayat ini” dengan ”menasihati penguasa di hadapan umum (demo)”?

Mereka menyamakan kisah di atas dengan demo yang mereka lakukan dengan alasan sama-sama ”turun ke jalan”. Maka kita tanyakan kepada mereka: Apakah dalam kisah di atas para sahabat turun ke jalan untuk menasihati pemerintah??? Apakah para wanita ikut-ikutan turun ke jalan??? Apakah …

  1. Kisah di atas –jika memang shohih- tepat jika digunakan sebagai dalil bolehnya menunjukkan kekuatan kaum Muslimin dihadapan orang-orang kafir. Misalnya dengan:

– Menunjukkan kekuatan fisik dan persenjataan (Lihat Quran surat Al-Anfal:60)

– Menunujukkan kekuatan iman, berupa pelaksanaan perintah-perintah Alloh dan sunnah-sunnah Rosulnya. Bukannya dengan melakukan perbuatan yang dilarang Alloh dan Rosulnya!!

Fahamilah hal ini untuk memahami dalil-dalil yang lain!

Argumentasi Kedelapan

Ada saudara kita yang berkata:

”Disamping itu, mengoreksi penguasa itu wajib hukumnya. Karena tidak mungkin kita membiarkan kezaliman terhadap umat. Saya teringat saat Umar bin Khatab ditegur langsung sebelum berbicara di depan umum oleh para sahabat yang lain, saat mereka melihat Umar menggunakan pakaian mewah yang tidak mungkin beliau beli dari gajinya sebagai khalifah. Kemudian Umar menjelaskan pakaian tersebut, diberikan oleh anaknya. Jadi mengoreksi penguasa itu seharusnya terjadi agar mereka tidak melenceng dari aturan Alloh. Asalkan tidak menghina secara pribadi, misalnya sifat fisiknya, keluarganya. Tetapi kalau dilakukan memberitahukan kesalahan itu harus dilakukan dengan tidak merusak fasilitas umum.”(Dikutip dari Quiz Buletin Tashfiyah)

Tanggapan:

  1. Perkataan ”…mengoreksi penguasa hukumnya wajib..”.

Mungkin lebih tepat kalau kata ”mengoreksi” diganti dengan kata ”menasihati”. Sehingga sesuai dengan sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :”Agama itu nasihat”. Kami (sahabat) pun bertanya,”Hak siapa (nasihat itu)?” Beliau menjawab,”Nasihat itu hak Alloh, kitab-Nya, Rosul-Nya, pemerintah kaum Muslimin, dan rakyatnya (manusia secara umum)”.[HR. Muslim]

  1. Perkataan ”Karena tidak mungkin kita membiarkan kezaliman terhadap umat.”

Setuju! Kita memang tidak boleh membiarkan kezaliman terjadi. Kita harus bertindak untuk mengubah kezaliman yang ada. Tapi sekali lagi perlu diingat. Tindakan kita harus didasari oleh aturan agama, bukan emosi dan perasaan. Jika kita masih ingin menggunakan syariat sebagai aturan hidup, berikut ini prosedur yang dibenarkan syariat dalam menghadapi kezaliman pemerintah:

  1. Kita nasihati pemerintah dengan cara lemah-lembut dan secara empat mata. Jika diterima alhamdulillah, jika tidak diterima kita bersyukur kepada Alloh karena telah menunaikan kewajiban.
  2. Kita minta bantuan orang-orang yang dekat dengan pemerintah dan yang suaranya kemungkinan akan didengar (misalnya: keluarganya, saudaranya, penasihatnya, dll.). Jika tidak berhasil….
  3. Kita tulis surat kepada pemerintah. Jika tidak berhasil …
  4. Kita serahkan urusan ini kepada Alloh. Sebab Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”Alloh tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya.”[QS. Al-Baqarah:286].
  5. Kita mengamalkan saran Rosululloh, yakni bersabar. Dan sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan bersama orang-orang yang bersabar (lihat Al-Baqarah:153)

”Barangsiapa melihat sesuatu yang ia benci dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar. Barangsiapa keluar dari jama’ah kaum Muslimin walaupun sejengkal, lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyyah.”[HR. Bukhori dan Muslim]

  1. Kita minta hak-hak kita kepada Alloh. Mudah-mudahan Alloh mengganti dengan yang lebih baik di akhirat kelak.

Ketika Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya tentang (bagaimana) cara menyikapi pemerintah yang tidak menunaikan hak-hak rakyatnya, beliau menjawab:

”Tunaikanlah kewajiban kalian, dan mintalah hak kalian kepada Alloh!” [HR. Bukhari (7054) dan Muslim (1843)]

  1. Kita doakan kebaikan untuk pemerintah. Semoga pemerintah kita mau bertobat dan berbuat baik kepada rakyatnya. Fudhoil bin Iyadh rohimahulloh berkata:

”Jika sekiranya saya memiliki doa yang mustajab (pasti diterima), maka sungguh saya akan mendoakan kebaikan bagi pemerintah.”

Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh berkata:

”Sungguh saya akan mendoakan kebaikan, taufiq dan pertolongan bagi pemerintah setiap pagi dan malam. Dan saya menganggap bahwa mendoakannya adalah kewajiban atasku.”[Lihat Kitab As-Sunnah (1/83) karya Al-Khollal]

Nah, sudahkah kita mendoakan kebaikan untuk pemerintah di setiap sujud kita dalam sholat?!

  1. Tentang kisah Umar:

Benarkah kisah ini? Dari mana sumbernya? Sahih atau tidak? Benarkah dalam kisah itu disebutkan ”para” sahabat menegur Umar?

Sayangnya penulis opini di atas tidak menyebutkan sumber kisah ini serta derajat kesahihannya. Barangkali yang dimaksud adalah kisah berikut:

”Pada suatu hari Umar bin Khathab berkhutbah dengan mengenakan dua kain di pundaknya. Ia berkata:”Wahai manusia! Tidakkah kalian mendengar?” Salman berkata:”Kami tidak akan mendengarkan!” Umar bertanya:”Mengapa wahai Abu Abdillah?” Salman berkata:”Kamu membagikan kepada kami masing-masing satu lembar kain, sedangkan kamu mengenakan dua lembar kain” Umar berkata,”Jangan terburu-buru. Abdullah…Abdullah!!” Tetapi tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya. Maka ia berkata:”Abdullah bin Umar!!” Abdullah menjawab:”Ya, Amirul Mu’minin!”. Umar berkata,”Aku menyumpahmu dengan nama Alloh, apakah baju yang ku pakai ini milikmu?” Abdullah menjawab:”Ya, Demi Alloh, ya!”. Maka Salman berkata:”Adapun sekarang, silakan bicara, kami akan mendengarnya!”

(Dikutip dari kitab Min Washoya Salaf, karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali. Edisi terjemahan ”Wasiat Para Salaf” terbitan pustaka At-Tibyan).

Kalau memang kisah ini yang dimaksud, maka:

– Sayangnya kita tidak mendapati penjelasan derajat kesahihan riwayat ini. Barangkali kalau penulis opini di atas berkenan untuk memberitahukannya, kami sangat senang hati.

– Dalam kisah di atas tidak disebutkan ”para sahabat” (sebagaimana dikatakan penulis opini). Melainkan hanya satu sahabat, yaitu Salman.

Kalaulah derajat kisah ini sahih, maka:

A. Kisah ini tidak bisa dijadikan sebagai dalil bolehnya menasihati pemerintah di depan umum karena bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits yang memerintahkan untuk menasihati pemerintah secara sembunyi-sembunyi (tidak di depan umum). Pilih mana, Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau perkataan manusia?

B. Riwayat ini tidak bisa dijadikan sebagai dalil bolehnya menasihati pemerintah di depan umum karena bertentangan dengan riwayat dari sahabat yang lain, yakni (diantaranya) riwayat dari Umar bin Khatthab (yang beliau kedudukannya lebih tinggi daripada Salman), yang mana beliau pernah berkata:

”Wahai rakyatku, kami mempunyai hak yang wajib kalian tunaikan, yaitu menasihati kami secara sembunyi-sembunyi (empat mata) dan saling membantu dalam kebaikan.” [Diriwayatkan oleh Hannad bin Sari dalam Kitab Az-Zuhud: 2/602].

Sedangkan perkataan sahabat Rosul baru bisa dijadikan dalil/hujjah jika tidak bertentangan dengan Al-Quran, hadits, dan perkataan sahabat yang lain. Dan, jika sahabat ada yang keliru dalam ijtihadnya (karena beberapa faktor, seperti misalnya dalil belum sampai kepadanya dll.) maka mereka di maafkan. Sebab mereka ulama, yang jika berijtihad kemudian benar maka dapat dua pahala. Namun jika salah, maka dapat satu pahala. Adapun kita, kita tidak boleh mengikuti ijtihad seorang ulama yang telah jelas-jelas keliru dan menyalahi al-Quran dan As-Sunnah. Maka perhatikanlah!

C. Jika riwayat ini masih mau dipaksakan juga untuk dijadikan dalil tentang bolehnya menasihati pemerintah di depan umum, maka:

– Hendaknya dilakukan langsung di hadapan pemerintah, karena Salman melakukannya langsung. Bukan di mimbar-mimbar.

– Hendaknya dilakukan sendiri, bukan dengan membawa masa, spanduk, dan pengeras suara.

– Hendaknya sebelum menasihati harus tabayyun dulu, benar tidak pemerintah kita melakukan itu? Sebagaimana perkataan Umar kepada Salman di atas: ” Umar berkata,”Jangan terburu-buru”.

– Yang melakukan nasihat seorang yang berilmu (ulama), bukan sembarangan orang. Sebab sahabat adalah orang yang alim.

Argumentasi Kesembilan:

”Habis gimana lagi…Tidak mungkin kalau kita datangi langsung pemerintah. Birokrasinya pasti akan berbelit-belit. Jalan satu-satunya ya…dengan turun ke jalan (demo). Mahasiswa bukanlah orang yang hanya bisa berdiam diri tanpa tindakan nyata…”

Tanggapan:

1. Kita diperintahkan oleh Rosululloh untuk meninggalkan semua yang beliau larang, dan menjalankan semua perintahnya sebatas kemampuan.

Rosululloh bersabda,”Apa-apa yang telah aku larang untukmu, maka jauhilah; dan apa-apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu.”[HR. Bukhori dan Muslim].

Menasihati pemerintah didepan umum adalah perbuatan yang dilarang, maka kita harus (wajib) meninggalkannya secara total. Dan menasihati pemerintah secara empat mata adalah perbuatan yang diperintahkan, jika kita tidak mampu maka kita tidak berdosa. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”Alloh tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya.”[QS. Al-Baqarah:286]. Namun bukan berarti kita diam!

2. Pilih mana:

A. Menasihati pemerintah di depan umum, dengan resiko masuk neraka karena telah: Menyelisihi Al-Quran, menyelisihi Sunnah Rosululloh, dan menyelisihi jalannya para sahabat.

Alloh berfirman,”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti yang bukan jalan orang-orang mu’min (para sahabat). Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”[QS. An-Nisa:115]

Atau…

B. Bersabar -karena tidak mampu melakukannya- dengan jaminan:

– Tidak terancam neraka

– Akan diganti dengan yang lebih baik

– Berpahala karena telah mengikuti petunjuk Alloh dan Rosul-Nya

3. Pilih mana:

A. Membersihkan lantai yang berdebu dengan menggunakan sapu yang basah dan kotor, atau ….

B. Membersihkan dan mengeringkan sapu terlebih dahulu, baru kemudian digunakan untuk menyapu.

Lho, kan kita bisa pakai cara/alat lain?!

Ya, setuju. Kita bisa pakai cara/alat lain –yang halal- atau bisa juga dengan membeli sapu baru atau pinjam ke tetangga. Tapi, setelah berusaha ke sana-ke mari tetap tidak didapatkan, maka pilih mana:

A. Tetap menyapu dengan sapu yang basah dan berdebu, atau…

B. Bersabar beberapa saat menunggu sapu kering sambil melakukan kegiatan (ibadah) lain serta berdoa agar sapu cepat kering.

Semoga pembaca faham dengan permisalan ini

Argumentasi Kesepuluh:

”Kalau semua orang bersabar, siapa yang akan menasihati pemerintah !!!”

Tanggapan:

  1. Apakah setiap ulama/orang yang telah menasihati pemerintah harus dipublikasikan kepada semua orang bahwa dia telah menasihati pemerintah ?!
  2. Kita harus berbaik sangka bahwa ulama kita telah menasihati pemerintah ?!
  3. Suatu saat Usamah bin Zaid pernah didatangi oleh sekelompok orang, lantas mereka berkata,”Nasihatilah Utsman! Tidakkah engkau melihat kondisi kita saat ini ?!” Beliaupun menjawab,”Apakah setiap yang aku katakan harus aku sampaikan kepada kalian!? Adapun aku -demi Alloh- tidak ingin membuka pintu fitnah. Sesungguhnya aku telah menasihatinya secara sembunyi-sembunyi.”(Lihat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Inilah tanggapan dari kami tentang beberapa argumen yang biasa dilontarkan untuk membolehkan tindakan menasihati pemerintah di hadapan umum. Jika yang kami tulis ini keliru, kami sangat berharap saudaraku sesama Muslim untuk mengoreksinya. Sebab kita diperintahkan oleh Alloh untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Tapi kami berharap koreksi yang diberikan disampaikan secara ilmiyah. Jika pendapat kami terbukti keliru kami siap untuk kembali ke jalan yang benar dan kami bertobat kepada Alloh atas kekeliruan kami. Sebab, kebenaran lebih berhak untuk diikuti.

Wallohu a’lam bishowab

Sumber: Bulletin Islam Tasfiyah, Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: