Kisah Keteguhan Imam Ahmad rahimahullah Dalam Menghadapi Fitnah

Imam al-Aajurri rahimahullah berkata, Dikisahkan kepadaku dari al-Muhtadi rahimahullah bahwasanya ia berkata, “Tidak ada yang dapat menghentikan aksi ayahku (yakni al-Watsiq) kecuali seorang Syaikh (yakni Imam Ahmad) yang dibawa dari al-Mashishah. Ia dijebloskan ke dalam penjara selama beberapa waktu. Kemudian pada suatu hari ayahku teringat kepadanya. Ayahku berkata, “Bawalah Syaikh itu kepadaku!” Lalu iapun dibawa dalam keadaan terbelenggu.

Ketika Syaikh itu tiba iapun mengucapkan salam kepada ayahku. Namun ayahku tidak membalas salamnya. Syaikh itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau tidak memperlakukanku dengan adab yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormata, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)”. (QS. 4: 86). dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita membalas salam!”

Ayahku pun membalas salamnya, “Wa ‘alaikas salam!” balasnya, kemudian berkata kepada Ibnu Abi Duwad, “Tanyakanlah kepadanya!” Syaikh itu berkata, “Wahai amirul mukminin, saya dalam keadaan terikat seperti ini, saya mengerjakan shalat dalam sel tahanan dengan bertayammum, saya tidak diberi air. Lepaskanlah dahulu ikatan saya ini dan berilah saya air agar saya dapat bersuci dan mengerjakan shalat, setelah itu tanyalah yang ingin ditanyakan kepadaku.”

Lalu ayahku memerintahkan para pengawal agar mereka melepaskan ikatannya dan memberinya air. Syaikh itupun berwudhu lalu mengerjakan shalat. Kemudian ayahku berkata kepada Ibnu Abi Duwad, “Tanyakanlah kepadanya!”, “Sayalah yang semestinya bertanya kepadanya, suruh ia menjawab pertanyaanku!” potong Syaikh tersebut. “Silahkan!” Sahut ayahku.

Maka Syaikh itupun mendatangi Ibnu Abi Duwad dan bertanya kepadanya, “Kabarkan kepadaku tentang perkara yang engkau propagandakan kepada manusia (yaitu perkara kemakhlukan al-Qur’an -red), apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”
“Tidak!” jawab Ibnu Abi Duwad.
“Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu?” lanjut Syaikh tersebut.
“Tidak!” jawabnya.
“Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu?” tanyanya lagi.
“Tidak!” jawabnya.
“Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu?” tanyanya lagi.
“Tidak!” jawabnya.
“Apakah termasuk perkara yang didakwahkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu?” lanjut Syaikh itu.
“Tidak!” tegaaas Ibnu Abdi Duwad.

Syaikh itu berkata, “Suatu perkara yang tidak didakwahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu ‘anhum lalu Anda mendakwahkannya kepada umat manusia? Tidak bisa tidak anda harus berkata, ‘Mereka (Rasulullah dan para sahabat -ed) mengetahuinya atau mereka tidak mengetauinya’ Jika anda katakan, ‘Mereka mengetahuinya! namun mereka tidak menyuarakannya.’ Maka cukuplah bagi kita semua apa yang cukup bagi mereka, yaitu tidak menyuarakannya! “Jika anda katakan, ‘Mereka tidak mengetahuinya! tetapi sayalah yang mengetahuinya!’ Sungguh celaka anda ini! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafaaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum tidak mengetahuinya, sementara Anda dan rekan-rekan anda mengetahuinya!”

Al-Muhtadi berkata, “Saya lihat ayahku langsung berdiri dan masuk ke dalam haira, ia tertawa sambil menutup wajahnya dengan bajunya dan berkata, “Benar juga, tidak bisa tidak kita harus mengatakan, ‘Mereka mengetahuinya’ atau ‘Mereka tidak mengetahuinya’ Jika kita katakan, ‘Mereka mengetahuinya! namun mereka tidak menyuarakannya.’ Maka cukuplah bagi kita semua apa yang cukup bagi mereka, yaitu tidak menyuarakannya! “Jika anda katakan, ‘Mereka tidak mengetahuinya! tetapi andalah yang mengetahuinya!’ Sungguh celaka kita ini! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafaaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum tidak mengetahuinya, sementara Anda dan rekan-rekan anda mengetahuinya!”

Kemudian ayahku berkata, “Hai Ahmad!”, “Labbaika” jawabnya. “Bukan kamu yang saya maksud, tapi Ahmad bin Abi Duwad!” sahut ayahku. Maka Ibnu Abi Duwad pun segera mendatanginya. Ayahku berkata, “Berilah Syaikh ini nafkah dan keluarkanlah ia dari negeri kita!”

Dalam sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam As-Siyar disebutkan, “…Maka jatuhlah pamor Ibnu Abi Duwad dalam pandangan ayahku, dan beliau tidak pernah lagi menguji orang dengan keyakinan sesat tersebut (keyakinan Al-Qur’an sebagai makhluk)!”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Al-Muhtadi berkata, ‘Sayapun insyaf dari keyakinan tersebut dan saya kira semenjak saat itu ayah sayapun insyaf darinya.”

———-
Telah diriwayatkan dengan sanad yang tersambung oleh al-Ajurri dalam kitab Asy-Syari’ah hal. 91, dari beliau pula Ibnu Baththah meriwayatkannya dalam Al-Ibanah/Ar-Radd ‘Alal Jahmiyah (452).
Diriwayatkan pula dari jalur yang lain oleh Ibnu Baththah dalam kitab tersebut (453), al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (IV/151-152), (X/75-79), Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad (hal 431-432), Abdul Ghani al-Maqdisi dalam kitab Al-Mihnah (hal 169-174) dan Ibnu Qudamah dalam kitab At-Tawwabin (hal 210-215).

Dicopas dari: http://yudi81.blogspot.com/2009/01/kisah-keteguhan-imam-ahmad-rahimahullah.html

One Response to Kisah Keteguhan Imam Ahmad rahimahullah Dalam Menghadapi Fitnah

  1. Syifa says:

    Subhanallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: