EMANGNYA KITA SIAPA???

Terkadang ada orang yang mengkiaskan orang lain dengan dirinya. Dia menilai orang lain berdasarkan apa yang ada pada dirinya. PAdahal setiap orang beda-beda. Dan kita nggak bisa mengharapkan semua orang harus sama dengan diri kita. Hayo, ngerti nggak maksud saya?

Begini. Anda setiap hari biasa bangun pagi, kemudian olah raga sedikit dan berangkat ke kantor. Kemudian Anda melihat ada orang yang setiap Anda lihat kok tidur pagi terus,jam sepuluhan baru bangun. Mungkin Anda akan menilai, “Nih orang males banget sih, jam sepuluh baru bangun?”. Anda menilai seperti itu karena Anda melihat diri Anda yang biasa bangun pagi.

Atau, Anda setiap hari nyari duit di pasar dengan berdagang. Dengan berdagang itu Anda mendapatkan uang sehingga bisa membeli rumah dan menghidupi keluarga. TApi, Anda melihat ada orang yang memiliki rumah dan kendaraan mewah padahal setiap hari cuma di rumah aja nggak keluar-luar. Lalu Anda pun menilai, “Nih orang miara tuyul kali ya?”. Anda menilai seperti itu karena Anda melihat diri Anda yang kalau bekerja nyari duit harus keluar rumah.

Nah, sampai di sini sudah paham maksud saya, sobat?

Apa ??? BElom paham juga ??? Oke, nggak apa-apa.

Begini. Seorang ustadz dalam sebuah acara pengajian menyampaikan bahwa kita tidak bisa mengharapkan semua orang harus sama dengan kita. Sebab setiap orang itu diberi karunia yang berbeda-beda oleh Alloh. KAdang ada orang yang kuat puasa senin-kamin, namun nggak kuat tahajjud. Namun ada yang sebaliknya. Nah, bagi orang yang biasa puasa senin-kamis jangan mengatakan kepada orang yang nggak puasa bahwa dia itu males mengamalkan sunnah. Begitupun sebaliknya. SEbab terkadang ada orang yang begitu. Ketika dia melihat temennya nggak pernah puasa senin-kamis -misalnya- lantas dia vonis temennya itu malas melaksanakan sunnah. PAra Sahabat Rosul pun berbeda-beda amaliyah ibadahnya. Silakan baca di kitab -kalo nggak salah- mukhtashor minhajil qoshidin.

Begitupun dengan perkara-perkara lainnya, seperti perkara keduniaan. Kalau kita melihat ada orang yang abis sholat subuh tidur lagi dan baru bangun jam 10-an jangan langsung kita vonis pemalas. Bisa jadi dia emang semaleman lembur karena jadwal kerjanya malam.

Kemudian juga, jangan kita langsung vonis orang kaya yang jarang keluar rumah itu miara tuyul. Bisa jadi emang dia nyari duitnya di rumah, seperti bisnis online, nulis  buku dll.

Oya, aku jadi teringat dengan seorang penulis sukses yang dikira miara tuyul oleh masyarakat sekitarnya. SEbab masyarakat jarang ngeliat dia keluar rumah tapi kok rumahnya gede dan mobilnya bagus. Padahal si penulis itu jarang keluar rumah karena emang kerjanya di rumah. SEtiap hari dia nulis buku di rumah. Uang yang didapat dari hasil penjualan buku (royalti).

Nah, jadi begitu…. Sudah paham maksudnya kan?

Tulisan ini lahir karena terinspirasi oleh perkataan seseorang yang pernah aku dengar “Demen banget sih internetan….. Emangnya nggak bosen apah?” Dia menilai begitu karena dia pribadi memang nggak terlalu berhajat dengan internet. Paling-paling cuma ngecek facebook. Beda dengan orang lain yang mungkin mencari nafkahnya emang di dunia maya. Tentu saja dia nggak bakalan bosen-bosen intenetan. Gimana mau bosen, orang nyari duitnya di situh, ya nggak bang?

Intinya, jangan samakan orang lain dengan diri kita. Emangnya kita ini siapa ??? Kalau ada sesuatu yang kita lihat ganjil, segera tabayyun dulu. TAnyakan langsung ke orangnya.

“Maaf pak, kok saya liat bapak….. Bisa kasih tau alasannya….”

“Maaf bu, kok saya denger……. Mungkin ibu bisa ngasih penjelasan….”

Nah, begitu….

Gimana, Anda setujuh?

Eh, ada satu kisah menarik lagi nih. Dahulu aku pernah tinggal di sebuah asrama. Ada seorang kawanku yang begitu rajin ibadah. Waktu memasuki bulan Romadhon, dia lebih tambah giat ibadah. SEhabis sholat subuh dia banyak membaca al-Qur’an.

Namun, kawan-kawanku yang lain sehabis sholat subuh banyak yang tidur. Sehingga kawanku yang rajin ini merasa kecewa melihat hal ini. Suatu hari kami berkumpul bersama seorang ustadz. Kami ngobrol-ngobrol seputar masalah agama. Kawanku yang rajin ini pun kemudian memanfaatkan momen ini untuk mengadukan keadaan kawan-kawan yang suka tidur sehabis sholat subuh. HArapan dia, si ustadz bisa memberi nasihat kepada kawan-kawan yang biasa tidur sehabis subuh.

Ternyata jawaban ustadz diluar dugaan. Kurang lebih beliau menjawab begini:

“Ya wajar! PAra ulama dulu juga begitu. Habis subuh zikir, baca qur’an, trus tidur istirahat….”

Nah, lho!

Demikianlah. Semoga bisa menjadi bahan renungan kita bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: