Enakan Melayani atau Dilayani ?

Kawan-kawan…

MEnurut kalian, enakan jadi orang yang melayani atau dilayani? TApi kayaknya aku sangat yakin, orang-orang bakalan lebih memilih menjadi orang yang dilayani, tul gak? Enakan dilayani, toh. Nggak perlu cape-cape ngeluarin tenaga, segala sesuatunya sudah tersedia. Enak toh, mantep toh?

Makanya aku sering denger para pemuda yang pingin nikah ngomongnya begini:

“Ah, aku pingin nyari istri yang jago masak, biar bisa dimasakin yang enak-enak…”

“Ah, aku pingin nyari istri yang jago mijit, biar bisa dipijitin kalo kalo lagi pegel-pegel…”

“Ah, aku…..”

Intinya, kebanyakan mereka selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang ingin dilayani.

Apa mungkin ini sudah menjadi tabiat dasar manusia, yaitu senang jika dilayani? Sepertinya memang demikian. Namun yang jadi pertanyaan sekarang, baguskan jika kita selalu menempatkan diri kita sebagai orang yang selalu ingin dilayani?

Silakan kawan-kawan memberikan jawaban sendiri. TApi kalau menurutku, tidak bagus jika seseorang selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang selalu ingin dilayani. Kenapa?

Minimal ada dua dampak negatif yang aku takutkan. Pertama, menumbuhkan sifat malas; kedua, bisa menghilangkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Kok bisa?

Ya tentu saja bisa. Sebab orang yang selalunya ingin dilayani biasanya cenderung pasif. Bukankah orang yang malas itu cenderung pasif? DAn orang yang selalu ingin dilayani cenderungnya menunggu. Jadi dia nggak mau coba untuk melihat keadaan di sekitarnya. Pokoknya gua pinginnya beres, enak, nyantai! Gua nggak mau peduli, yang penting gua pinginnya segala sesuatu tersedia!!! Nah, begitu. (Setuju gak fren? Yang nggak setuju, coba angkat kaki -eh- angkat tangan !🙂 )

Nah, kawan…

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah: Sukakah kalian dengan sikap selalu ingin dilayani?

Aku yakin, kalian tentu akan menjawab “Nggak suka…..!” Iya, kan? Ayo ngaku aja dah, jangan malu-malu…he..he….

Kalo begitu, sekarang mari kita introspeksi diri aja deh. Apakah kita termasuk orang yang ingin selalunya dilayani. Jika ya, mari kita ubah dari sekarang. Insya Alloh, dengan adanya pembiasaan untuk tidak selalu menjadi orang yang pinginnya dilayani, diri kita akan berubah. Sebab, orang yang punya sifat selalu ingin dilayani -menurutku- berawal karena pembiasaan. Karena selama ini terbiasa dilayani, maka jadinya keterusan. Jadi selalunya ingin dilayani. JAdinya malas untuk melayani.

Cobalah, kalau kita sedang berada dalam sebuah komunitas yang sedang mengadakan kegiatan bersama, kita coba untuk berlatih menjadi orang yang melayani. Misalnya, kita bersama kawan-kawan sedang mengadakan acara bakar-bakar sate. Cobalah kita ikut ambil bagian menjadi orang-orang yang melayani. Misalnya dengan berpartisipasi memotong-motong ayamnya, memasukkan ayam ke dalam tusukan sate, membakarnya, ngipasinnya, dll. Jangan cuma nunggu dan jadi penonton doang! Kita coba tanyakan diri kita masing-masing, “Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu suksesnya acara ini?”

Atau misalnya, kita dan kawan-kawan sedang mengadakan acara buka puasa bersama. Cobalah kita ikut ambil bagian menjadi orang-orang yang melayani. Misalnya dengan berpartisipasi membeli sayuran, memasak nasi, memasak sayur, membereskan tempat berbuka, mencuci piring, dll. Jangan kita hanya pinginnya terima beres. Bukankah kita punya teladan yang baik dari Rosululloh? Kalian tau nggak, Rosululloh itu bukan tipe orang yang hanya bisa berpangku tangan. SEbisa mungkin beliau menjadi orang-orang yang melayani, meskipun beliau seorang Rosul.

Pada suatu hari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam pergi dalam sebuah perjalanan jauh bersama para sahabatnya. Ditengah perjalanan mereka beristirahat dulu dan mendirikan kemah di padang pasir. Kebetulan mereka membawa seekor domba, maka salah seorang sahabat berkata “aku akan memotong domba itu”, sedang yang lain berkata pula “aku akan mengulutinya”, dan sahabat yang lain lagi berkata “aku yang akan memasakannya nanti”. lalu Rasulullah berkata “dan aku yang akan mencari kayu bakarnya”.
 Para sahabat terperanjat dengan ucapan beliau. Mereka segera berkata “tidak usah ya Rosululloh, biar kami saja yang melakukan semuanya, baginda beristirahat saja sampai masakan ini selesai”.
Rosululloh kemudian bersabda kepada mereka semua “demi Alloh, aku tidak akan tinggal diam sementara kalian semua bekerja, Alloh membenci hamba-Nya yang mengistimewakan dirinya dari saudara-saudaranya”. Setelah mengucapkan sabdanya beliau pergi mencari dan memanggul sendiri kayu bakar yang didapatnya.
Nah, masihkah kita ingin menjadi orang yang selalunya ingin dilayani???
Hmmm…. Demikianlah….
Sebelum berpisah, aku cuma ingin mengingatkan. Tulisan ini bukan aku tujukan untuk menjadikan kita benci orang-orang yang terbiasanya selalu ingin melayani. Bukan, bukan itu! Tulisan ini aku tujukan untuk diri pribadi kita masing-masing. MAri kita tanyakan diri kita masing-masing. “Apakah saya sudah menjadi orang yang bisa memberikan pelayanan kepada orang lain? Apa yang sudah kita perbuat untuk membantu orang lain?”.
Nah, begitu. Semoga bisa dipahami.
Wallohu a’lam.

2 Responses to Enakan Melayani atau Dilayani ?

  1. khan alyas lia gt loooh says:

    bgymn cr mengingatkan orang yg krazz kpala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: