KARENA KITA MEMANG HARUS MEMILIH

Ya, inilah realitanya. Kita tidak bisa menutup mata dari semua ini.

Beberapa tahun lalu, sewaktu mengikuti pelatihan bahasa Arab di Jawa Timur, aku berkenalan dengan seorang ayah tiga anak dari Batam. Katanya, dia baru saja mentalak satu istrinya. Lho, kok bisa? Sebab istrinya tak mau lagi hidup bersamanya jika dia (kenalan saya itu) tak mau ikut bergabung dengan kelompok (jama’ah) istrinya. Istrinya meyakini bahwa orang yang diluar jamaahnya berarti telah kafir.

Beberapa tahun lalu, aku juga berkenalan dengan seorang bapak dari Subang. Dia mengaku mantan anggota kelompok XXXX. Dia termasuk petinggi kelompok XXXX. Katanya, kelompoknya dahulu meyakini bahwa orang diluar kelompoknya bukan lagi orang Islam. Jadi katanya di dunia ini cuma kelompoknya yang benar yang bakalan masuk Surga.

Beberapa tahun lalu juga, aku berkenalan dengan dua orang pemuda mantan kelompok XXXX. Mereka termasuk petinggi kelompok XXXX untuk kalangan pemudanya. Salah seorang dari mereka bercerita bahwa keyakinannya dahulu, hanya kelompoknya yang benar, yang lain salah.

Aku juga pernah mendapat cerita dari seorang pemuda yang dahulunya menjabat sebagai ketua Rohis di kampusnya. Katanya di kampusnya dahulu mahasiswanya terpecah menjadi beberapa kelompok Islam. Suatu hari dia dan kawan-kawan rohis lainnya diundang oleh salah satu kelompok Islam yang ada di kampusnya. DAlam sebuah majelis yang dihadiri oleh para ketua Rohis yang ada di kampusnya, mereka (para ketua rohis) ditawarkan untuk ikut bergabung dalam kelompok XXXX. Dalam majelis itu juga salah seorang petinggi dari kelompok XXXX mengkritik kelompok-kelompok lain yang ada di kampus. Menurutnya, cara dakwah mereka keliru.

Ya…demikianlah realita yang ada di tengah-tengah kita ummat Islam. Ummat Islam terpecah belah menjadi banyak kelompok dan jama’ah. Masing-masing merasa bangga dengan kelompoknya masing-masing. Keadaan mereka persis seperti yang difirmankan Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rosul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. (QS. Al-Mu’minun: 53)

Terkadang ada kelompok Islam yang berkata, “Sudahlah, kita nggak usah mempermasalahkan hal ini. Biarin aja ummat Islam berkelompok-kelompok. Yang penting tujuan kita sama. Janganlah kita saling mencela dan saling menyalahkan!!!”

Hmm… Pernyataan ini begitu indah didengar telinga. Namun yang jadi pertanyaan sekarang, bisakah mereka yang berkata seperti ini mempraktikkan ucapannya?

Aku jadi teringat dengan sebuah kelompok Islam yang ada di sebuah kampus. Kelompok ini sangat getol menyuarakan persatuan. Mereka termasuk kelompok yang sering berkata:

“Sudahlah, kita nggak usah mempermasalahkan hal ini. Biarin aja ummat Islam berkelompok-kelompok. Yang penting tujuan kita sama. Janganlah kita saling mencela dan saling menyalahkan!!!”

Namun sayangnya, mereka tidak sanggup untuk mempraktekkan ucapannya. Mereka justru malah melarang kelompok Islam lainnya untuk menyebarkan buletin dakwah di masjid yang mereka urus. Padahal kelompok dakwah lain itu masih lembaga resmi kampus. Mereka juga yang berinisiatif membubarkan sebuah stand milik sebuah kelompok Islam pada sebuah acara di kampus.

Jadi memang. Mau tidak mau kita harus memilih. Jika di hadapan kita ada dua pilihan “Benar” dan “Salah”, mau tidak mau memang kita harus memilih. Dan konsekuensinya, kita harus meyakini kesalahan dari pilihan yang lain. Namun bukan berarti setelah memilih kita lantas membenci orang yang berbeda pilihan dengan kita.

Misalnya aku memilih kelompok yang MENGIMANI ADANYA AZAB KUBUR. Maka konsekuensinya aku akan menyalahkan kelompok yang berkeyakinan HARAM MENGIMANI ADANYA AZAB KUBUR. Atau, aku memilih kelompok yang MENGIMANI BAHWA TIDAK ADA NABI LAGI SETELAH NABI MUHAMMAD. Maka konsekuensinya aku akan menyalahkan kelompok yang berkeyakinan bahwa ADA NABI LAGI SETELAH NABI MUHAMMAD.

Namun, aku tidak lantas membenci orang-orang yang berbeda keyakinan denganku. Sebab bisa jadi mereka belum tahu dan hanya ikut-ikutan. Sebisa mungkin aku akan menjelaskan kebenaran yang aku ketahui. Aku akan menempuh cara dialog dengan lembut dan hikmah. Mudah-mudahan mereka mau mengerti. Sebab aku tidak akan mungkin mendiamkan orang yang ingin melakukan sesuatu yang menurutku berbahaya.

Misalnya begini. Ada dua gelas. Yang aku ketahui, gelas yang satu berisi susu dan gelas yang satu berisi racun. Kemudian aku melihat ada yang ingin minum gelas berisi racun. Maka aku pun nggak bisa berdiam diri. Akan aku jelaskan kepadanya bahwa gelas yang ingin dia minum itu berisi racun. Aku jelaskan dengan sejelas-jelasnya dan dengan cara yang baik dan sesopan-sopannya. Kalau dia mau terima, alhamdulillah. Jika tidak dan berkeras ingin minum juga, kewajibanku sudah gugur. Resiko biar dia yang tanggung sendiri.

Sekali lagi, kita memang harus memilih. Dan pilihan kita harus benar. Jika tidak, kita akan menyesal di akhirat kelak.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih. Jangan asal memilih. Pilihlah yang sesuai dengan pilihan orang-orang yang telah sukses dalam memilih. Siapakah mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: