PROSES KELAHIRAN BUKU PASPOR KEMATIAN

Saya dahulu sering naik bus dari Jakarta ke Bogor atau dari Bogor ke Jakarta. Sambil duduk di atas bus, saya kadang sering memperhatikan aktivitas orang-orang yang ada di pinggir jalan. Ada sebuah pemandangan yang menarik hati saya. Apa itu?

Banyak saya lihat para pedagang di pinggir jalan yang hanya bengong menunggu pembeli datang. Mereka terlihat hanya duduk diam saja tanpa melakukan kegiatan yang berarti. Ada sebagian yang menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama kawan-kawannya atau ada yang bermain catur atau kartu.

Ternyata, saya melihat pemandangan yang sama di dalam bus yang aku tumpangi. Para penumpang kebanyakan hanya duduk diam tak melakukan kegiatan apa-apa.

Saya jadi berfikir begini. Coba kalau mereka gunakan waktu mereka untuk melakukan kegiatan ibadah (seperti dzikir, baca qur’an, dengerin ceramah atau murottal, dll.) tentunya akan sangat bermanfa’at bagi mereka. Sebab mereka akan mendapatkan pahala banyak untuk bekal kehidupan setelah mati. Bukankah setelah mati amalan mereka akan ditimbang. Kalau pahala mereka banyak, insya Alloh mereka akan sukses di akhirat.

Nah, maka muncullah ide untuk menulis buku yang membahas tentang amalan ibadah yang bisa dilakukan oleh seorang Muslim dalam sehari semalam full non stop 24 jam. Tujuannya agar mereka bisa memanfaatkan waktu mereka untuk hal-hal yang bermanfaat, dan terhindar dari perbuatan yang sia-sia apalagi yang haram.

Saya pun mulai mencari berbagai referensi yang dibutuhkan untuk menulis buku ini. Sebelumnya saya coba buat kerangka sementara berisi hal-hal yang akan saya bahas. Alhamdulillah, beberapa minggu kemudian jadilah sebuah buku yang aku beri judul “Seandainya Aku Mati Besok…”

Awalnya saya pernah mengirim buku ini ke penerbit X. Saya mengirimnya via email. Beberapa minggu kemudian -kalau tidak salah sekitar dua mingguan, kurang lebih- saya mendapat SMS dari pihak penerbit. Mereka menyatakan tertarik untuk menerbitkan buku saya. Setelah berdialog sebentar, akhirnya bentuk kerjasama yang disepakati berupa royalti 5 % (dari harga buku dipasaran), dan royalti tahap awal akan diberikan enam bulan kedepan. Untuk selanjutnya diberikan setiap empat bulan. Pihak penerbit mengatakan akan memberikan uang depe sebesar satu juta setelah MoU ditandatangani.

Setelah itu, saya menunggu-nunggu datangnya MoU ke alamat tempat tinggal saya. Tapi hingga bermingu-minggu, bahkan hampir 2 bulanan menunggu, MoU tak kunjung datang. Saya pun kemudian mengkonfirmasi pihak penerbit. Dan perkiraan saya benar. Pihak penerbit batal menerbitkan naskah saya. Mereka mengucapkan permohonan maaf karena telah membuat saya menunggu-nunggu. Beberapa hari kemudian, datanglah sepucuk surat ke alamat tempat tinggal saya. Isinya begini:

 ***

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Allah ’Azza wajalla senantiasa melimpahkan rahmad dan karunia-Nya kepada kita, amin.

Kami atas nama Redaksi Pustaka X, sebelumnya mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran atas partisipasi saudara dalam pengiriman naskah kepada kami (Pustaka X) beberapa waktu yang lalu.

Hasil dari musyawarah team redaksi pada tanggal 14 Juni 2008, setelah membaca dan mengkaji beberapa naskah yang saudara ajukan kepada redaksi X, dengan beberapa pertimbangan dan alasan-alasan, maka kami memutuskan. Bahwa naskah atau karya saudara belum dan atau kurang memenuhi karakter baik isi (kualitas) maupun jumlah halaman dari sebuah buku yang kami harapkan, sehingga kami belum dapat menerbitkan naskah-naskah saudara.

Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, semoga menjadi masukan yang positif, besar harapan kami jangan pernah patah semangat untuk berkarya dan beramal. Mudah-mudahan Allah ’Azza wajalla memberi hikmah dan hidayah kepada kita, amin.

Jazakumullahu khairan katsiran.

 Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

***

            Demikian isi surat yang saya terima. Sedih? Yaa…jelas sedih. Tapi mau gimana lagi.

Beberapa hari kemudian, setelah mendapat kabar naskah saya dibatalkan, saya langsung mengirim ke penerbit Y yang berada di Jakarta. Saya mengirimnya via email. Ternyata, tidak sampai seminggu saya langsung ditelpon pihak penerbit. Mereka menyatakan tertarik untuk menerbitkan naskah saya.

Tidak berapa lama, saya sudah melakukan penandatanganan MoU dan cover buku saya sudah terpampang di situs penerbit itu. Kemudian tepat tanggal 1 Ramadhan 1429 H/1 September 2008,  saya mendapat kabar dari pihak penerbit bahwa katanya buku saya telah selesai dicetak. Dan kini, buku saya itu sudah beredar di seluruh Indonesia.

2 Responses to PROSES KELAHIRAN BUKU PASPOR KEMATIAN

  1. Zaskia says:

    Wah, nice blog! Kalau boleh saya tanya, biasanya stlh tanda tangan MoU masih butuh berapa bulan sampai naskah bisa diterbitkan di pasaran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: