BARU SEKARANG AKU MENGERTI

(Sepenggal Kisah Pengalaman Hidupku dalam Mengamalkan Ajaran Islam)

Oleh: Muhammad Mujianto al-Batawie

 

Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala karena dilahirkan dari orang tua yang beragama Islam sehingga aku pun bisa menjadi seorang Muslim. Dan aku juga bersyukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala karena telah diberi petunjuk untuk bisa memahami Islam dengan benar setelah sebelumnya aku tidak mengerti sama sekali bagaimana seharusnya memahami Islam.

Berikut ini sedikit kisah pengalaman hidupku dalam mengamalkan ajaran Islam. Semoga bisa diambil hikmahnya, dan juga bisa memberi pencerahan kepada kaum Muslimin yang ingin meniti jalan yang lurus. Begini kisahnya…

 

Cuma Ikut-ikutan

Dahulu, aku bukanlah orang yang perhatian dengan masalah agama. Sebagaimana keadaan masyarakat pada umumnya, aku beragama atas dasar “ikut-ikutan”. Pokoknya setiap yang dianggap baik oleh masyarakat, itulah yang aku ikuti. Setiap yang dikerjakan oleh kebanyakan orang, itu pula yang aku kerjakan.

Semasa sekolah dulu, setiap yang dikatakan oleh penceramah di masjid, semuanya aku anggap benar. Aku tak mempermasalahkan siapa pun yang ceramah. Meskipun dia seorang penyanyi, artis, atau pelawak, apabila dia ceramah tentang agama, aku anggap perkataannya benar dan bagus. Dan itulah yang aku ikuti. Tak pernah terpikirkan dalam benakku waktu itu untuk mempertanyakan,  “Apakah yang mereka sampaikan benar-benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya atau tidak? Apakah yang disampaikan oleh para penceramah di masjid, TV, dan radio benar-benar berdasarkan dalil yang kuat dari al-Qur’an dan hadits-hadits yang shohih atau tidak?”. Pokoknya, apapun yang aku dengar, entah dari penceramah, guru, atau siapa saja, aku pun langsung terima begitu saja. Tidak pernah ada keinginan dalam diriku untuk mengkaji kembali ucapan mereka.

Lucunya waktu itu, setiap buku yang ada tulisan arabnya aku anggap sebagai buku yang bagus untuk dibaca. Buku apapun, baik yang dijual di toko buku, di bus, di kereta, atau dimanapun, jika isinya membahas tetang masalah agama, aku anggap isinya benar dan baik untuk diamalkan. Pernah suatu ketika aku membeli buku yang isinya mengajarkan  tentang zikir-zikir tertentu. Dalam buku itu dijelaskan tentang khasiat zikir-zikir. Dikatakan dalam buku itu, kalau kita baca zikir ini dan itu selama sekian kali, maka kita akan begini dan begitu. Namun tidak dijelaskan dalam buku itu apakah amalan ini memang ada ajarannya dari Rosululloh atau tidak. Dalam buku itu cuma disampaikan, kalau membaca zikir ini selama sekian kali maka akan begini dan begitu. Itu saja. Tanpa ada keterangannya dari al-Qur’an, Hadits dan penjelasan para ulama. Aku pun kemudian tertarik untuk mencobanya. Namun, meskipun aku sudah baca zikir ratusan kali seperti  yang diajarkan, aku tetap tidak mendapatkan hasil apa-apa. Padahal aku sudah sangat serius membacanya. Sebab katanya, kalau aku mengamalkan zikir itu, aku bisa menjadi “orang sakti”. Waktu itu aku masih SMA. Karena di sekitar sekolahku sering terjadi tawuran, maka aku ingin sekali jadi orang sakti agar bisa menang kalau berkelahi. Baru kemudian, setelah aku mengerti tentang pemahaman Islam yang benar, aku baru tahu kalau zikir-zikir semacam itu tidak boleh dilakukan. Sebab tidak ada ajarannya dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

Lagi pula kalau ada zikir-zikir semacam itu, niscaya Rosululloh lah yang akan pertama kali melakukannya, dan beliau tentu akan mengajarkannya kepada para Sahabat beliau. Sebab mereka sangat butuh zikir-zikir semacam itu. Bukankah mereka dahulu sering berperang sehingga tentunya sangat butuh kepada kesaktian untuk bekal berperang. Namun tidak ada keterangannya bahwa Rosululloh dan para Shahabat beliau mengamalkan zikir-zikir semacam itu.

Demikianlah diriku pada waktu itu. Aku bukanlah orang yang kritis dalam beragama. Aku cuma pengekor. Keadaan diriku dalam beragama persis seperti binatang ternak yang digiring oleh penggembala. Aku hanya manut-manut saja tanpa tahu mau digiring ke mana. Alhamdulillah aku belum sampai digiring ke penjagalan untuk disembelih!

 

Berbicara Tanpa Ilmu

Oh ya, selain ikut-ikutan, aku dahulu juga sering sok tahu kalau berbicara masalah agama. Aku sering berbicara tanpa ilmu. Pernah suatu ketika guru agamaku meminta siswanya untuk membawa al-Qur’an yang ada terjemahnya. Kemudian di kelas, beliau meminta kami untuk manafsirkan beberapa ayat sesuai dengan ilmu yang kami dapat di sekolah. Aku dan kawan-kawanku pun dengan santainya berkata, “Menurut ilmu  Fisika ayat ini maksudnya begini…….Menurut ilmu Biologi ayat ini tafsirnya begitu…….Menurut saya…….”. Pada waktu itu, kami semua seakan telah menjelma menjadi ahli tafsir kawakan yang sedang  menjelaskan tafsir ayat-ayat al-Qur’an kepada ummat. Padahal bahasa Arab saja kami tidak bisa. Jangankan bahasa Arab, ilmu tajwid kami saja masih belepotan. Hafalan al-Qur’an pun masih cekak. Tapi kami sudah berani-beraninya menafsirkan ayat tanpa didasari ilmu sama sekali. Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’un. Padahal berbicara tanpa ilmu termasuk dosa besar.

Alloh Subhanahu wa Ta’la berfirman (yang artinya):

“Katakanlah: “Robb-ku hanyalah mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu, SERTA (MENGHARAMKAN) BERBICARA ATAS NAMA ALLOH TANPA ILMU.”(QS. Al-A’rof:33)

 

Dalam ayat lainnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman (yang artinya):

Ÿ “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tiadalah beruntung”.(QS. An-Nahl:116)

 

Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu anhu berkata:

“Wahai manusia! Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu  yang diketahuinya, maka terangkanlah ilmu itu. Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu tentang hal itu, maka katakanlah, ‘Alloohu a’lam (Alloh-lah yang lebih tahu)’. Karena termasuk ilmu ialah engkau mengatakan, ‘Alloohu a’lam’, tentang apa yang engkau tidak ketahui. Sesungguhnya Alloh Taala berfirman kepada Nabi-Nya: “Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikit pun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang yang mengada-ada”.”(Atsar shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Ibnu ‘Abdil Barr. Lihat Buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga hal. 201)

 

Ada juga peristiwa lain yang aku masih ingat hingga sekarang yang menunjukkan betapa sok tahunya diriku waktu itu. Ceritanya waktu itu aku dan beberapa kawanku sedang berkumpul-kumpul di masjid. Kami pun kemudian berbincang-bincang tentang agama. Masing-masing bebas berbicara apa saja tentang permasalahan agama yang diketahui. Aku pun tak mau ketinggalan. Aku sempat memberikan nasihat kepada kawan-kawanku yang hadir. Dalam nasihatku, aku mengutip sebuah hadits Nabi,   “Uthlubul ilmi faridhotun ‘ala kulli Muslim”. Waktu itu aku tidak tahu kalau hadits yang aku ucapkan itu keliru lafazhnya. Aku tidak menyadarinya karena waktu itu aku memang belum mengerti bahasa Arab. Mestinya yang benar “Tholabul ilmi faridhotun ‘ala kulli Muslim” yang artinya “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas setiap Muslim”. Kalau “Uthlubul ilmi faridhotun ‘ala kulli Muslim” artinya “Tuntutlah ilmu oleh kalian, wajib atas setiap Muslim”. Aneh bukan jadinya? Lagi pula secara tata bahasa (Nahwu), yang aku ucapkan itu keliru juga. Yang benar mestinya “Uthlubul ilma”, bukan “Uthlubul ilmi”. Kalau ingat hal itu, aku jadi pingin ketawa he..he…

Demikianlah keadaan diriku waktu itu. Astaghfirulloohal ‘azhiim wa atuubu ilaih…

Namun, Alhamdulillah, semuanya kemudian berubah setelah aku menghadiri pengajian Sang Ustadz.

 

Pengajian Sang Ustadz

 

Ketika aku duduk di bangku kuliah, ada seorang kawan yang mengajakku datang ke sebuah acara pengajian. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kampusku. Pengajian itu diisi oleh seorang ustadz yang sangat mumpuni keilmuannya. Sebab Sang Ustadz berguru langsung dengan ulama besar yang terkenal yang ada di timur tengah sana.

Dalam setiap kajiannya sang ustadz membahas kitab-kitab para ulama. Diantaranya beliau membahas kitab Bulughul Marom karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani dan kitab Riyadhus Sholihin karya Imam An-Nawawi.

Ketika menjelaskan kitab-kitab para ulama, beliau tidak asal menjelaskan dari pendapat pribadinya. Beliau banyak membawakan perkataan para ulama. Jadi dalam kajiannya beliau tidak berkata, “Menurut pendapat saya begini……”. Tidak, beliau tidak mengajar demikian. Tapi beliau selalu berkata, “Berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih serta menurut penjelasan para ulama maka pendapat yang kuat tentang permasalah ini adalah begini dan begitu…….Karena……”.

Beliau senantiasa mengajarkan kepada peserta kajian untuk selalu bersikap kritis dalam beragama. Beliau senantiasa mengingatkan untuk tidak mudah menerima pendapat seseorang kecuali jika telah jelas-jelas berdasarkan dalil yang tegas dari al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Beliau melarang kami untuk taklid, yaitu melakukan sesuatu tanpa mengetahui dalilnya.

Dari beliau aku baru tahu bahwa dalam memahami Islam tidak bisa seenaknya. Kita tidak bisa memahami Islam dengan pemahaman pribadi kita. Tidak bisa kita membaca Al-Qur’an dan Al-Hadits lantas kita berkata, “Menurut saya maksudnya begini…”. Memangnya kita siapa! Kita harus memahaminya sesuai dengan pemahaman yang benar, yaitu yang dipahami oleh para Sahabat Rosul. Lho, kenapa harus pemahaman Sahabat Rosul?

Diantara alasannya adalah karena mereka adalah generasi yang paling mengetahui tentang ayat dan hadits. Sebab  mereka hidup di jaman turunnya wahyu. Wahyu turun di tengah-tengah mereka, dan mereka mengamalkannya sesuai bimbingan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Jika ada yang belum mereka pahami, langsung mereka tanyakan kepada Rosululloh. Dan, jika pemahaman mereka keliru, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam langsung meluruskannya.

Oleh karena itu, para Sahabat adalah manusia yang paling berilmu, paling mendalam pemahamannya terhadap Al-Quran dan hadits, paling bagus pengamalannya, dan paling setia mengikuti contoh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Mereka mendapat bimbingan langsung dari guru terbaik di kolong jagat ini, yaitu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Kita bisa mengenal aqidah, ibadah, dan syari’at Islam lainnya lewat perantaraan para Shahabat. Maka, sudah bisa dipastikan, pemahaman dan pengamalan Islam mereka adalah pemahaman dan pengamalan yang benar.

Banyak sekali dalil yang memerintahkan kita untuk memahami Islam sesuai dengan pemahaman para Sahabat Rosul. Puluhan dalil baik dari Al-Qur’an dan hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk memahami Al-Qur’an dan hadits berdasarkan pemahaman para Sahabat Rosul. Kita bisa membacanya di kitab-kitab para ulama yang membahas tentang masalah ini. Misalnya kitab I’laamul Muwaqi’iin karya Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rohimahulloh.

Karena itulah Sang Ustadz senantiasa memenuhi majelisnya dengan berkata, “Menurut pendapat Abu Bakar begini….Menurut pendapat Umar begitu…..Menurut pendapat Ibnu Mas’ud……….Abu Huroiroh…….”. Sehingga kami mengamalkan agama dengan perasaan tentram karena yang kami ikuti adalah orang-orang yang sudah dijamin keridhoan dan surga oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman (yang artinya):

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Alloh, dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah:100)

Dalam ayat ini Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan jaminan keridhoan dan surga kepada para Sahabat Rosul, baik kalangan Muhajirin maupun Anshor. Maka bisa dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah memahami dan mengamalkan Islam secara benar. Kalau tidak demikian, tidak akan mungkin Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjamin keridhoan dan surga kepada mereka. Oleh karena itu, jika kita ingin mendapat jaminan keridhoan Alloh dan surga seperti mereka, kita harus mengikuti jejak mereka, sebagaiaman Alloh katakan dalam ayat di atas, “……dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik….”

 

Aku pun Tersadar

 

Setelah beberapa kali mengikuti kajian Sang Ustadz aku jadi tersadar. Ternyata pemahaman agamaku selama ini keliru besar. Selama ini aku beragama cuma berdasarkan “katanya….katanya…katanya begini…katanya begitu….” tanpa aku tahu siapa yang berkata dan berpendapat. Aku selama ini beragama tanpa didasari oleh ilmu sama sekali. Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Israa:36)

 

Semestinya, ketika berbicara masalah agama, yang harus aku ucapkan adalah: Alloh berfirman begini….Rosululloh bersabda begini……Para Sahabat Rosul memahami dan mengamalkan begini……”

Imam Al-Auza’i (wafat th. 157 H) rohimahulloh berkata, “Ilmu itu apa yang datang dari para Shahabat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, adapun yang datang dari selain mereka bukanlah ilmu.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (I/769, no. 1421) dan Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 42). Lihat Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, hal. 22)

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab I’lamul Muwaqqi’iin (II/149) mengatakan, “Telah berkata sebagian ahli ilmu: ‘Ilmu adalah firman Alloh, sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, dan perkataan para Sahabat. Semuanya tidak bertentangan…..’”. (Lihat Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, hal. 22).

 

Mulai Memperbaiki Diri

Sedikit demi sedikit aku pun kemudian mulai memperbaiki diri. Pertama-tama, aku buang jauh-jauh keyakinan menyimpang yang selama ini bercokol di dadaku. Kemudian aku ganti dengan keyakinan yang benar yang sesuai dengan yang diyakini oleh Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Shahabat beliau. Aku jadi sering membaca buku-buku yang membahas tentang tauhid.

Aku juga kemudian mulai memperbaiki ibadah ritual yang biasa aku lakukan sehari-hari. Terutama ibadah sholat. Kalau dahulu aku melakukan gerakan sholat tanpa dilandasi ilmu sama sekali. Ketika bertakbir, aku asal saja mengangkat tangan. Aku tidak peduli sampai sebatas mana harus mengangkat tangan. Aku juga tidak peduli bagaimana posisi jari-jemari ketika mengangkat tangan. Pokoknya asal mengangkat tangan saja. Begitu juga saat ruku’ dan sujud. Semuanya aku lakukan tanpa aku ketahui dalil-dalilnya sama sekali.

Setelah aku banyak membaca hadits-hadits yang membahas tentang tata cara sholat, aku baru tahu kalau ternyata kita tidak boleh sembarangan melakukan gerakan sholat. Ada aturannya. Tidak bisa kita asal mengangkat tangan, atau asal ruku’ dan sujud saja. Semua ada aturannya sebagaimana yang dibahas dalam kitab-kitab fikih. Aku juga baru tahu bahwa dalam masalah sholat, Rosululloh ternyata pernah bersabda, “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Jadi, kita tidak boleh asal-asalan dalam melakukan sholat, baik bacaan maupun gerakannya. Kita harus menyesuaikan sholat kita dengan sholat yang dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Bagaimana caranya? Ya tentu saja dengan melihat kepada hadits-hadits yang menceritakan tentang tata cara sholat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Waktu itu, untuk memperbaiki sholatku, aku membaca buku Shifat Sholat Nabi yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rohimahulloh dan ulama-ulama lainnya.

 

Semakin Berhati-hati

Setelah sering mengikuti kajian, aku pun jadi semakin berhati-hati dalam berbicara masalah agama. Aku jadi takut berbicara tanpa ilmu. Terutama ketika menyampaikan hadits. Tidak setiap hadits yang pernah aku dengar langsung aku sampaikan. Kecuali yang telah aku ketahui keabsahannya. Aku tidak ingin dikatakan sebagai orang yang berdusta atas nama Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Sebab Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda:

“Barangsiapa dengan sengaja berdusta atas diriku, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat tinggalnya di neraka.” (HR.Bukhari (110), Muslim (30), dll. )

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

“Janganlah kamu berdusta atas namaku, karena barangsiapa berdusta atas namaku, maka silakan ia masuk Neraka.” (HR. Al-Bukhori (106), Muslim (1), dan At-Tirmidzi (2660), dll.)

“Maksud berdusta atas nama Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam ialah membuat-buat omongan atau cerita yang sengaja disandarkan kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, lalu mengatakan: Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda demikian, atau melakukan hal ini dan itu. Para ulama telah sepakat tentang haramnya membawakan hadits-hadits maudhu’ (palsu), yakni hadits yang diada-adakan seseorang atas nama Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dengan sengaja maupun tidak sengaja. Diperbolehkan membawakan hadits yang palsu hanya ketika menerangkan kepalsuan kepada ummat agar mereka selamat dari berdusta atas nama Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.” (Lihat Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga hal. 290)

Dua hadits di atas merupakan ancaman yang sangat keras bagi orang yang menyampaikan suatu perkataan kemudian dia katakan bahwa itu adalah hadits Rosululloh, padahal kenyataannya bukan. Sayangnya, ancaman dari Rosululloh ini tidak diketahui oleh kebanyakan kaum Muslimin. Sehingga sering kita saksikan, dengan santainya mereka menyampaikan suatu hadits tanpa diketahui siapa perawinya. Pokoknya setiap ada kata-kata yang bagus dan indah yang berkaitan dengan agama, langsung dikatakan bahwa itu adalah hadits. Padahal, setelah diperiksa oleh para pakar hadits, ternyata perkataan itu bukan berasal dari Rosululloh alias hadits palsu.

Aku pun dahulu demikian. Setiap ada perkataan yang menurutku bagus dan berbahasa Arab langsung aku anggap sebagai hadits. Padahal aku belum tahu siapa yang meriwayatkannya dan bagaimana status sanadnya, apakah shohih atau tidak. Setelah mengikuti pengajian Sang Ustadz, aku baru mengetahui bahwa perbuatan seperti ini tidak dibolehkan dalam agama. Dalam majelisnya Sang Ustadz sering mengingatkan untuk berhati-hati dalam menyampaikan hadits. Tidak boleh sembarangan. Nasihat beliau, kita tidak boleh teburu-buru menyampaikan setiap hadits yang kita dengar sampai kita tahu keabsahannya. Sebab Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menyampaikan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim (5)).

Imam Ibnu Hibban rohimahulloh berkata, “Di dalam hadits ini ada ancaman bagi seseorang yang  menyampaikan setiap apa yang ia dengar sampai ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat tersebut shahih.” (Adh-Dhu’afaa [I/9]. Lihat juga Tamaamul Minnah [hal.33]. Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga hal. 292)

 

Mengerti Jalan yang Lurus

Alhamdulillah, setelah mengikuti pengajian Sang Ustadz, aku juga kini telah mengerti apa itu “Shiroothol Mustaqiim” alias “Jalan yang Lurus” yang senantiasa aku minta di setiap sholatku. Berbeda sekali dengan dahulu. Sebelum mengikuti kajian Sang Ustadz, sama sekali aku tidak tahu apa itu jalan yang lurus. Aku hanya mengucapkannya saja tanpa memahami maknanya sama sekali.

Dalam sebuah kesempatan aku mendengarkan penjelasan langsung dari beliau. Kata beliau, seraya mengutip penjelasan dari Imam Ibnu Katsir, bahwa shirothol mustaqim itu memiliki 4 penafsiran: (1). Al-Haq (kebenaran), (2).  Agama Islam, (3). Al-Qur’an, dan (4). Abu Bakar dan Umar. Imam Ibnu Katsir  Rohimahulloh mengatakan bahwa keempat tafsir tersebut benar dan saling menyelarasi satu sama lain. Sebab, orang yang mengikuti Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan mengikuti jejak dua khalifah setelah beliau, yaitu Abu Bakar dan Umar, maka ia telah mengikuti kebenaran, dan siapa yang mengikuti kebenaran berarti dia telah mengikuti Islam, dan siapa yang mengikuti Islam berarti ia telah mengikuti Al-Qur’an, Al-Qur’an adalah Kitabulloh dan tali Alloh yang kokoh, jalan-Nya yang lurus, dan semuanya adalah shahih (benar) dan saling membenarkan.” (Silakan lihat pula buku Mulia dengan Manhaj Salaf, hal. 56)

Jadi, jalan yang lurus adalah ajaran Islam yang diamalkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dan para Sahabat beliau. Dan ini pula jalan yang ditempuh oleh kelompok yang selamat (al-firqotun najiyah) sebagaimana yang disabdakan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam kepada para Sahabat beliau di suatu ketika.

Suatu hari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan kepada para Sahabatnya bahwa kelak ummat Islam akan berpecah belah menjadi berkelompok-kelompok. Beliau mengatakan bahwa semua kelompok terancam Neraka, kecuali satu kelompok. Kemudian beliau mengabarkan bahwa kelompok yang satu yang selamat dari ancaman Neraka adalah, “…yang aku dan para Sahabatku berada di atasnya.” (HR. At-Tirmidzi (2641) dan Al-Hakim (I/129). Lihat penjelasan lengkapnya dalam Mulia dengan Manhaj Salaf hal. 108)

Kini, aku berusaha agar pengamalan agamaku sesuai dengan apa yang diamalkan oleh Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Sahabat beliau. Apa yang mereka kerjakan, itulah yang aku kerjakan. Dan apa yang mereka tinggalkan, itu pula yang aku tinggalkan. Aku tidak akan berani melakukan ibadah yang tidak mereka lakukan, apapun bentuknya (entah itu perayaan, dzikir, shalawat, dll.). Sebab Islam adalah agama yang sempurna. Dan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan semua syariat Islam kepada para Sahabatnya, tiada satupun yang tersisa. Kemudian para Sahabat beliau telah mengamalkan seluruh syari’at Islam ini secara sempurna. Maka ibadah apapun yang dahulunya tidak diamalkan oleh Rosululloh dan para Sahabatnya, maka sampai kapanpun kita tidak boleh mengamalkannya. Sebab itu bukan merupakan bagian dari syari’at Islam, meskipun orang-orang menganggapnya sebagai suatu hal yang baik.

Abdulloh bin Umar rodhiyallohu’anhu berkata, “Setiap bid’ah (ibadah yang tidak ada contohnya dari Rosululloh dan para Sahabatnya) adalah kesesatan walaupun dianggap baik oleh manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah)

Dan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam secara tegas menyatakan, “Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. An-Nasa-i (III/189)

 

 

***

            Demikianlah sepenggal kisah pengalaman hidupku dalam mengamalkan ajaran Islam. Sebuah kisah yang sederhana memang. Namun aku berharap bisa memberi manfa’at dan pencerahan kepada ummat. Wallohu a’lam.

 

Alloohumma ya Alloh….

Berilah aku keistiqomahan di jalan yang lurus

…wafatkanlah aku di atas Islam dan sunnah…

…dan tempatkanlah aku di Surga-Mu bersama para Nabi dan para pengikut mereka yang shalih…

Amiin ya Alloh ya Robbal ‘aalamiin…

 

Bahan Bacaan:

  1. Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhohulloh, terbitan Pustaka At-Taqwa Bogor, Cetakan Keempat: Rajab 1430 H/ Juli 2009 M
  2. Mulia dengan Manhaj Salaf karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhohulloh, terbitan Pustaka At-Taqwa Bogor, Cetakan  Ketiga: Rajab 1430 H/ Juli 2009 M

 

*Untuk lomba karya tulis JYL 2011*

 

3 Responses to BARU SEKARANG AKU MENGERTI

  1. Abu Faiz says:

    Barokallahulaka

  2. بارك الله فيك
    semoga Allah selalu memberikan keistiqamahan kepada kita semua untuk senantiasa diatas manhaj yang haq..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: