BAHASA ARAB & POHON CABE

Dahulu, sewaktu aku masih kecil, aku suka sekali bercocok tanam. SEbab waktu itu orang tuaku masih memiliki pekarangan yang luas. Waktu itu rumahku dikelilingi oleh pohon buah-buahan. Di samping rumah ada pohon jambu, delima, pisang, pepaya, dll. Di depan rumahku ada pohon nangka, kedondong, dan rambutan. Di belakang rumah ada pohon melinjo. Jakarta waktu itu juga masih seperti hutan. Pepohonan tumbuh di mana-mana. Jalanan pun masih tanah. Listrik saja belum masuk desa.

Waktu itu, yang paling sering aku tanam adalah pohon cabe. Biji cabenya aku dapat dari cabe yang sudah membusuk yang ada di dapur. Pertama-tama aku jemur dulu cabe itu. Sambil menunggu cabe kering, aku melakukan pengolahan lahan untuk tempat menanam biji cabe itu.

Setelah biji cabe kering, kemudian aku masukkan ke lubang-lubang yang sudah aku sediakan. Setelah itu aku tanam.

Setiap pagi biji-biji cabe itu aku siram. Sedikit demi sedikit menyembullah “bayi-bayi mungil” dari dalam tanah. Aku pun merasa senang melihatnya. Pemandangan ini semakin menyalakan semangatku untuk terus merawatnya.

Aku setiap pagi terus menyiram pohon-pohon cabe kecilku. Kadang aku beri pupuk. Hingga akhirnya pohon-pohon cabe itu tumbuh membesar, bertabur bunga, dan akhirnya melahirkan buah-buah cabe yang berwarna-warni.

Betapa senang hatiku melihat buah-buah cabe itu bergelayutan di sela-sela dedauan. Dan hatiku bertambah senang, ketika kemudian aku bisa mempersembahkan cabe-cabe itu kepada ibuku.

Lah, lalu apa hubungannya dengan bahasa Arab?

Begini. Jika kita ingin merasakan nikmatnya bisa bahasa Arab, maka kita harus bersabar. Sebab kita harus melewati beberapa tahapan. Kita tidak akan mungkin bisa bahasa Arab dengan sekali dua kali belajar atau sehari dua hari belajar. Sebagaimana kita tidak mungkin bisa melihat pohon cabe kita berbuah hanya dengan menanamnya dalam waktu yang singkat.

Untuk bisa bahasa Arab mulailah dari dasar, seperti halnya buah cabe yang berawal dari benih. Pelajarilah dasar-dasarnya dulu. Baca kitab-kitab dasar. Pahami dengan baik. Belajarlah dengan kontinyu layaknya sang petani yang menyiram tanamannya dengan kontinyu. Insya Alloh, cepat atau lambat, benih-benih pemahaman bahasa Arab akan mulai tumbuh dalam diri kita. Ketika itu, semangat kita pun akan terus menyala untuk melanjutkan pelajaran tingkat berikutnya.

Kemudian, jika kita terus belajar, sabar dalam belajar, insya Alloh pengetahuan kita akan semakin meningkat. Pemahaman kita akan semakin kokoh, sekokoh batang pohon cabe yang terus dirawat setiap hari. Hingga akhirnya, dengan terus belajar, sabar mengkaji dan memahami, kita akan melihat buah dari kesabaran dan perjuangan kita selama ini. Kita akan tersenyum bangga melihat diri kita berdiri di jajaran orang-orang yang bisa berbahasa Arab.

Jadi intinya, bersabarlah dalam belajar bahasa Arab. Jangan tergesa-gesa. Lewatilah tahapan-tahapannya. Jangan pernah bermimpi memetik buah, sebelum kita menanam benihnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: