SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-10)

Kali ini aku ingin bercerita tentang beberapa pemuda yang tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan. Mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda. Namun mereka kuliah di kampus yang sama.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dari kehidupan keseharian mereka. Namun, dari sekitar 20-an lebih mahasiswa yang tinggal di situ, ada satu orang yang memiliki sifat lain dari yang lain. Sebut saja namanya si A.

Si A memiliki sifat temperamental. Dia mudah sekali marah. Kalau ada yang dia kurang suka sedikit saja, langung marah. Padahal terkadang masalahnya cuma sepele. Akibatnya, dia tidak disukai kawan-kawan satu kosnya. Dan ternyata, kawan-kawannya di kampus pun banyak yang tidak suka dengannya.

Nah, kawan-kawan…

Dari sepenggal kisah di atas Anda tentu sudah tahu kan jurus ke-10 itu apa? Yup, benar sekali! Jurus ke-10 yang ingin aku bahas pada kesempatan kali ini adalah “JANGAN JADI PEMARAH!”.

Jelas, orang yang pemarah nggak bakalan disukai orang. Siapa sih orangnya yang suka dimarah-marahin. Orang yang melakukan kesalahan sekalipun tentu nggak bakalan suka dimarah-marah, ya nggak?!

Oleh karena itu, jika kita ingin rumah tangga kita harmonis, maka usir “Si Pemarah” dari dalam rumah kita. Maksudnya gimana? Maksudnya, janganlah seorang suami/istri menjadi orang yang hobinya marah-marah. Sebaliknya, Jadilah pemaaf!

Lho, emangnya kita nggak boleh marah ???

Bukannya nggak boleh marah, mas. Tapi marahlah pada tempatnya. Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam saja pernah marah, kok! Tapi beliau bisa menempatkan dirinya, kapan memang harus meluapkan kemarahan dan kapan kemarahan itu harus ditahan. Tidak setiap waktu beliau marah. Beliau hanya akan marah jika agama Alloh dilanggar.

Ada sebuah kisah menarik yang penting untuk direnungi oleh para pasutri. Kisah ini berasal dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, salah seorang pembantu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Dia pernah bercerita begini….

” Demi Alloh saya telah menjadi pembantu beliau selama 9 tahun, saya tidak mendapatkan beliau komentar apa yang aku kerjakan” Kenapa kamu berbuat sepert ini dan begini? Atau sesuatu yang aku tinggalkan,  ” Kenapa kamu tidak berbuat seperti ini?”

Anas telah menjadi pembantu Rosululloh   bertahun-tahun, tapi beliau tidak pernah mencelanya sama sekali, tidak pernah memukul, tidak pernah menghardik, tidak pernah bermuka masam, tidak pernah menyuruhnya dan dia malas kemudian Rosululloh mencelanya. Maka jika salah satu keluarganya mencelanya, beliau berkata, ” Biarkanlah apa yang dia kerjakan!” (Hayah shahabah, 2/540 dalam http://errozzelharb.wordpress.com/2011/01/26/anas-bin-malik/)

Kawan-kawan…

Sungguh indah jika sikap Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam kepada Anas bin Malik ini bisa ditiru oleh para pasutri. Insya Alloh keharmonisan rumah tangga akan terus langgeng.

Untuk para suami, janganlah kalian marah kepada istri kalian hanya karena kesalahan yang sepele. Jangan kalian berkata (sambil cemberut):

“Nyapu kok nggak bersih, sih!”

“Masak sayur kok keasinan terus!”

“Tempat tidur kok masih berantakan!”

“Nyuci baju kok nggak bersih!”

….

Kemudian, untuk para istri, janganlah kalian marah kepada suami hanya karena kesalahan yang sepele. Janganlah kalian berkata (sambil cemberut):

“Gimana sih mas, disuruh beliin yang ini malah belinya yang itu!”

“Kalo habis buka odol tutup lagi dong, Mas! Kebiasaan nih….”

“Kalo habis make handuk, taro lagi ditempatnya atuh…!”

“Make baju kok nggak rapi terus sih, Mas? Malu tau diliat orang!”

“…..

Jadi, selama kesalahan itu masih bisa ditolerir, hendaknya tidak kita jadikan alasan untuk meluapkan kemarahan kita. Hendaknya kita tahan. Diam itu lebih baik, sebagaimana sabda Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya dia diam”. (HR. Ahmad)

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam jika tidak menyukai sesuatu, langsung terlihat pada raut wajahnya. Beliau tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau suka maka dimakanlah makanan itu. Jika tidak suka, maka beliau tinggalkan tanpa mencelanya. (Sumber: HR. Al-Bukhari, no. 3549, 35554, 3560, 3562, dan 3563)

Salah seorang kawan pernah curhat kepadaku. Katanya dia kesal kalau istrinya minta dibelikan sesuatu kepadanya, kemudian ketika yang diminta salah, istrinya pun kemudian marah-marah kepadanya.

“Gimana sih Mas, kok malah beli yang ini!”

Akhirnya dia jadi malas kalau disuruh-suruh beli sesuatu lagi oleh istrinya.

Sebenarnya masih banyak kisah menarik yang ingin aku ceritakan. Tapi takut kepanjangan ntar tulisannya. Jadi demikian saja dulu ya. Wallohu a’lam.

NB.

Bagi kawan-kawan yang ingin penjelasan lebih lanjut tentang “Marah”, silakan baca artikel berikut ini. Adapun dariku cuku sampai sini. Insya Alloh kapan-kapan kita sambung lagi.

Wassalam.

***

Jangan Marah…

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”

Tips Menanggulangi Kemarahan

Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah. Diantaranya ialah:

  1. Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim”.
  2. Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya.
  3. Mengambil sikap diam, tidak berbicara.
  4. Duduk atau berbaring.
  5. Memikirkan betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah.
  6. Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh.
  7. Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.

Syaikh As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk mengikuti ajaran Rasul shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang menjadikan murka dan pembelaannya dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya. Laa haula wa laa quwwata illa billaah” (lihat Durrah Salafiyah).

Sumber: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jangan-marah.html

Jika masih belum puas, silakan baca di sini:

https://pustakalaka.wordpress.com/2011/09/14/jangan-marah-kamu-akan-masuk-surga/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: