SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-11)

Jurus ke-11 ini aku dapatkan dari sebuah buku yang sangat luar biasa. Ukuran bukunya sih emang kecil, tipis pula. Namun jangan salah. Isinya sungguh sangat super sekali!

Setelah membaca buku ini, seorang kawan yang saat ini bekerja sebagai PNS di Jawa Barat pernah berkomnetar, “Bagus nih bukunya. Kecil tapi isinya bagus!”

Buku aslinya berbahasa Arab. Dan buku ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, termasuk Indonesia. Alhamdulillah aku berkesempatan menjadi salah seorang yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Judul bukunya adalah “Al-Wasaa-ilul Mufiidah lil Hayaatis Sa’iidah” karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rohimahulloh. Artinya kurang lebih “Wasilah-wasilah yang Bermanfa’at untuk Meraih Kehidupan Bahagia”. Namun, aku lebih senang memberinya judul “Kiat Meraih Ketenangan Batin”, karena setelah membaca buku ini hati terasa menjadi tenteram.

Dalam buku ini, penulis membawakan sekitar 20-an lebih kiat untuk meraih kehidupan yang bahagia. Diantaranya ialah yang akan aku bahas pada kesempatan kali ini.

Namun sebelumnya, aku ingin bertanya dulu kepada kawan-kawan semua: Adakah manusia di dunia ini yang sempurna? Ada nggak kira-kira?

Tentu saja jawabnya adalah “Tidak ada!”. Makanya ada pepatah yang mengatakan “Tidak ada gading yang tak retak”. Kawan-kawan tentu tahu maksudnya, bukan?

“Dan kenyataannya memang demikian. Siapapun dia, selama dia disebut anak manusia, entah wanita ataupun lelaki, mesti ada kekurangannya. Tidak ada yang sempurna dalam segala sisi. Memang ada manusia yang mempunyai banyak kelebihan. Namun jumlah mereka pun sedikit.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, yakni hampir-hampir dari seratus unta tersebut engkau tidak dapatkan satu unta pun yang bagus untuk ditunggangi.” (HR. Al-Bukhari no. 6498 dan Muslim no. 2547)

Al-Khaththabi rohimahulloh berkata: “Mereka menafsirkan hadits di atas dengan dua sisi.” Beliau lalu menyebutkan sisi pertama.  Setelahnya beliau berkata: “Sisi kedua:  mayoritas manusia itu memiliki kekurangan. Adapun orang yang memiliki keutamaan dan kelebihan jumlahnya sedikit sekali. Maka mereka seperti kedudukan unta yang bagus untuk ditunggangi dari sekian unta pengangkut beban.”  (Fathul Bari, 11/343)
Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh menyatakan: “Orang yang diridhai keadaannya dari kalangan manusia, yang sempurna sifat-sifatnya, indah dipandang mata, kuat menanggung beban (itu sedikit jumlahnya).” (Syarah Shahih Muslim, 16/101)

Ibnu Baththal rohimahulloh juga menyatakan yang serupa tentang makna hadits di atas: “Manusia itu jumlahnya banyak, namun yang disenangi dari mereka jumlahnya sedikit.” (Fathul Bari, 11/343)”. [Dikutip dengan sedikit perubahan dari http://www.asysyariah.com/sakinah/mengayuh-biduk/946-jangan-terlalu-membenci-istri-mengayuh-biduk-edisi-11.html)

Nah, jika demikian keadaannya, maka kita harus bersiap menerima kekuarangan yang ada pada diri pasangan kita. Karena pasti pasangan kita bukanlah sosok yang sempurna dalam segala hal. Bisa jadi pasangan kita itu rajin beribadah, tapi dia kurang peduli dengan masalah kebersihan dan kerapihan rumah. Atau bisa jadi pasangan kita itu rajin merawat badan, namun ketika berkata-kata sering menyakitkan.

Sungguh senang memang jika kita melihat kelebihan yang ada pada pasangan kita. Namun, bagaimana jika kita melihat kekurangannya hadir di depan mata kita? Apakah yang harus kita lakukan agar bibit-bibit kebencian tidak tumbuh di dalam hati kita?

Yup, inilah jurus ke-11 yang bisa kita gunakan untuk menyikapi kekurangan yang ada pasangan kita, dan tentunya bisa melanggenggkan keharminisan dalam rumah tangga. Jurusnya adalah: LIHATLAH KEBAIKANNYA!

Lho, maksudnya gimana?

Begini. Jika suatu ketika kita melihat kekurangan pada pasangan kita, maka hendaknya kita lihat kebaikan yang sudah dilakukan oleh pasangan kita selama ini. Niscaya akan kita dapati bahwa kebaikannya justru sangat banyak. Dengan begitu, kita akan melupakan kekurangan pasangan kita itu.

Misalnya, seorang suami ketika pulang ke rumah mendapati istrinya belum menyiapkan makanan untuknya. Rupanya istrinya waktu itu ketiduran karena lelah mengurus rumah dan anak-anak seharian.Maka, jangan lantas hal ini dijadikan alasan oleh si suami untuk membenci istrinya. Hendaknya dia mengingat jasa istrinya selama ini. Bahwa selama 10 tahun hidup berumah tangga –misalnya- istrinya selalu memasakkan makanan yang enak untuknya ketika dia berangkat dan pulang kantor, menyucikan baju untuknya, mengurus anak-anaknya, dll. Nah, dengan melihat kebaikan si istri yang banyak ini, niscaya kebencian dalam diri si suami akan hilang. Bisa jadi si suami langsung berkata kepada istrinya, “Gimana kalau malam ini kita makan di restoran saja, setuju kan?”

Atau misalnya seorang istri sering mendapati suaminya suka lupa menutup kembali odol setelah dipakai, sembarangan meletakkan handuk sehabis dipakai, dll. Maka jangan jadikan itu alasan untuk membencinya. Cobalah ingat kebaikan suaminya selama ini. Bahwa suaminya selama ini telah bersusah payah mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Suaminya juga suka membelikan oleh-oleh untuknya, dan telah menjadi tempat untuknya berbagi suka dan duka, dll. Niscaya bibit kebencian yang baru akan muncul itu akan mati dengan sendirinya.

Demikianlah. Dan inilah yang diajarkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits:

“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istri). Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridho (senang) dengan tabiat/ perangainya yang lain.”  (HR. Muslim no. 1469)

“Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata: “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya, karena bila ia mendapatkan pada istrinya satu perangai yang tidak ia sukai namun di sisi lain ia bisa dapatkan  perangai yang disenanginya pada si istri. Misal, istrinya tidak baik perilakunya akan tetapi ia seorang yang beragama atau berparas cantik atau menjaga kehormatan diri atau bersikap lemah lembut dan halus padanya atau yang semisalnya.” (Syarah Shahih Muslim, 10/58)

Dengan demikian tidak sepantasnya  seorang suami membenci istrinya dengan penuh kebencian hingga membawa dia untuk menceraikannya. Bahkan semestinya dia memaafkan kejelekan istrinya dengan melihat kebaikannya dan menutup mata dari apa yang tidak disukainya dengan melihat apa yang disenanginya dari istrinya.” [Dikutip dari http://www.asysyariah.com/sakinah/mengayuh-biduk/946-jangan-terlalu-membenci-istri-mengayuh-biduk-edisi-11.html%5D

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata:

“Dalam hadits ini terdapat dua faidah: Pertama, bimbingan dalam bermuamalah kepada istri, kerabat, teman, pekerja, dan setiap orang yang ada hubungan denganmu. Hendaknya dirimu siap akan adanya aib, kekurangan, dan perkara yang tidak menyenangkan yang pasti ada pada diri mereka. Jika engkau dapati hal itu, maka bandingkanlah antara perkara yang tidak kamu sukai ini, dengan sesuatu yang wajib engkau lakukan terhadap mereka, yaitu berupa kekuatan hubungan dan kelanggengan kasih sayang, dengan cara mengingat kebaikan-kebaikan yang ada pada mereka. Dengan menutup mata dari kekurangan-kekurangan, dan mengingat kebaikan-kebaikan, maka persahabatan dan hubungan akan terus berlanjut, dan akan sempurna ketenangan dan tercapai untukmu ketentraman.” (Siapakah Orang yang Beruntung hal. 119)

Jadi demikianlah. Semoga bisa dipahami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: