SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-15)

Ini adalah kisah sepasang suami istri yang baru saja menikah. Sebut saja namanya si Kumbang dan si Bunga. Mereka tinggal berdua di rumah kontrakan yang teramat sederhana. Hanya beberapa meter ukurannya. Namun, mereka bisa melewati kehidupan rumah tangga dengan bahagia.

Mereka berdua sama-sama bekerja. Sang saumi bekerja di sebuah perusahaan swasta, sedangkan sang istri bekerja sebagai guru TK. Namun tempat kerja mereka tidak seberapa jauh dari rumah. Mereka biasa berangkat ke sana dengan berjalan kaki.

Ada sepenggal kisah dari kehidupan mereka berumah tangga yang akan aku jadikan sebagai bahan inspirasi untuk membuat jurus ke-15 ini. Kisah ini aku dengar langsung dari si Kumbang pada suatu ketika. Kurang lebih ceritanya begini…

Suatu hari, si Kumbang pulang ke rumah lebih dulu dibanding si Bunga istrinya. Rupanya dia mendapati di kamar mandi cucian masih menumpuk di dalam ember dan belum dijemur. Begitu istrinya pulang, belum sempat istrinya istirahat, si kumbang langsung berkata dengan nada serius.

“Cucian tuh di jemur!”

Istrinya hanya bisa cemberut dan langsung masuk ke kamar mandi. Tapi, begitu masuk kamar mandi, dia tidak melihat ada ember di sana.

“Embernya aku pindahin ke belakang!”, ucap si kumbang saat melihat istrinya keluar lagi dari kamar mandi.

MAsih dengan wajah cemberut, si Bunga pun melangkahkan kaki ke belakang rumah. Namun, ketika sampai di belakang, dia sudah melihat cucian tersusun rapih di jemuran.

“Weee….udah aku jemurin he…he…..!”

“Dasar !”.

Si Bunga pun tak sanggup menahan senyum. Wajah yang tadinya cemberut tiba-tiba berubah menjadi ceria. Mendungpun berubah menjadi pelangi.

Kawan-kawanku yang aku cintai karena Alloh….

Ada pelajaran penting yang ingin aku petik dari penggalan kisah romantika dalam kehidupan rumah tangga kawanku ini, si Kumbang dan si Bunga. Pelajaran apakah itu? Ada yang tahu?

Pernahkah kawan-kawan makan sayur tanpa garam? Bagaimanakah rasanya? Tentu sangat tidak enak sekali, bukan? Hambar!

Nah, begitupun dengan hidup ini.  Bagaimana rasanya jika hidup ini hanya diisi dengan aktifitas keseriusan. Tentu akan hambar, bukan? Dan, hidup akan menjadi nikmat jika di dalam aktifitas keseriusan itu kita beri garam secukupnya. Kira-kira garam apakah yang bisa kita masukkan ke dalam hidup ini agar hidup menjadi ceria dan tidak hambar? Yup, benar sekali! Garam canda. Dengan adanya canda, hidup ini akan menjadi ceria.

Jadi, inilah jurus ke-15 itu. Hadirkan canda ke dalam rumah tangga Anda. Insya Alloh dengan begitu, rumah tangga Anda akan ceria dan bahagia.

Kawan-kawan….

Kita tentu kenal kan dengan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam? Beliau adalah orang yang senantiasa serius dalam hidupnya. Namun, di sela-sela keseriusan beliau, tak lupa pula beliau menyelipkan canda di sana. Baik kepada keluarga maupun sahabat-sahabat beliau.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bercerita, ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukainya. Hanya saja tampang pria ini jelek.

Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika ia sedang menjual barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memeluknya dari belakang, sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Zahir bin Haram pun berseru: “Lepaskan aku! Siapakah ini?”

Setelah menoleh iapun mengetahui, ternyata yang memeluknya ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?”

Dia menyahut,”Demi Allah, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian aku tidak akan laku dijual!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas: “Justru di sisi Allah l engkau sangat mahal harganya!” [Diriwayatkan oleh Ahmad (III/161), at-Tirmidzi dalam asy-Syamil (229), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (3604).]

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, bawalah aku?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kami akan membawamu di atas anak onta.” Laki-laki itu berkata: “Apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bukankah onta yang melahirkan anak onta?” [Abu Dawud (4998), dan at-Tirmidzi (1991) dari Anas. Shahîh Abu Dawud (4180).]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering kali bercanda dan menggoda Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Suatu kali beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Aku tahu kapan engkau suka kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku,” Aku (‘Aisyah) menyahut: “Darimana engkau tahu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kalau engkau suka kepadaku engkau akan mengatakan, ‘Tidak, demi Rabb Muhammad,’ dan kalau engkau marah kepadaku engkau akan mengatakan, “Tidak, demi Rabb Ibrahim”. Aku (‘Aisyah) menjawab: “Benar, demi Allah! Tidaklah aku menghindari melainkan namamu saja.”[ Muttafaqun ‘Alaihi, Shahîh al-Bukhâri, sebagaimana terdapat dalam Fathul-Bari (9/325), Shahîh Muslim (3/1890, hadits nomor 2439).]

Kalau Rosululloh saja bercanda, kenapa kita nggak! Mari kita bercanda agar hidup menjadi indah dan ceria.

Eh, tapi perlu diinget juga nih. Bercanda juga ada batasannya. Seperti halnya garam, kalo kebanyakan juga nggak enak, kan. Begitupun dengan bercanda. Lakukan secukupnya saja.

Islam telah memberikan batasan-batasan dalam bercanda, diantaranya yang biasa dijelaskan oleh para ulama:

  • Tidak boleh kebangetan dan tidak boleh berdusta ketika bercanda.

Ada sebagian orang yang meremehkan dosa dusta dalam hal bercanda dengan alasan hal ini hanya guyon saja untuk mencairkan suasana. Hal ini telah di jawab oleh sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Aku menjamin sebuah taman di tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yag baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud)

Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya aku juga bercanda, dan aku tidak mengatakan kecuali yang benar.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Kabir)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah seorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad).

 

  • Tidak boleh bercanda atau bermain-main dengan syari’at Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab,”Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu meminta maaf, karena engkau telah kafir sesudah beriman…” (Qs. At Taubah: 65-66).

  • Dll.

[Bagi yang ingin mendapatkan penjelasan lebih lengkap tentang canda, sialkan ke sini ajah: http://almanhaj.or.id/content/3108/slash/0 atau http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bercanda-yang-berpahala.html)

***

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai sarana untuk bercanda. Misalnya saja lewat cerita-cerita lucu (Tapi ingat! Nggak boleh cerita bohong ya…..). Dan seingatku, ada seorang suami yang hobi ngumpulin cerita lucu untuk diceritakan kepada keluarganya agar lahir keceriaan di rumah.

Aku ada beberapa cerita yang mungkin bisa dijadikan sebagai bahan bercanda di rumah. Diantaranya…

Aku pernah dengan ada seorang penceramah yang berkata kepada jama’ah pengajiannya, “Nikah dengan wanita sekampung itu nggak boleh, haram hukumnya!”

Jama’ahnya pun ada yang protes, masak sih nikah dengan wanita sekampung nggak boleh.

Penceramah itu pun berkata, “Ya iyalah nggak boleh…kan laki-laki Cuma boleh menikah dengan 4 orang wanita maksimal. Kalo dengan wanita sekampung kebanyakan…”

“He..he…..”, jama’ah pun tertawa.

Ada juga cerita begini. Ada dua orang suami istri yang baru menikah. Kebetulan si Istri seorang yang cantik, adapun suaminya justru senbaliknya. Suatu hari terjadi dialog antaras si istri dengan suaminya. Kurang lebih isi dialognya begini:

“Aku dan kamu akan masuk Surga” ucap sang istri.

“Lho, kok bisa?”

“Kamu mendapat seorang istri yang cantik, kemudian kamu bersyukur, maka kamu akan masuk surga. Dan aku mendapat suami yang jelek, kemudian aku bersabar, maka aku akan masuk surga.”

Selain cerita, bisa juga dengan main tebak-tebakan. Misalnya begini.

Pernah suatu ketika aku bertanya kepada kawanku yang ahli pelistrikan.

“Mahalan mana, bayar listrik yang nyala-idup-nyala-idup dengan yang nyala terus?”

“Ya jelas yang nyala-idup-nyala-idup, sebab….blablabla…..” diapun memberikan penjelasan yang panjang lebar.

Aku hanya bisa tertawa-tawa dan berkata, “Ya, sama aja lah!”.

“Lho, kok bisa?”

“Ya iyalah….emang apa bedanya “nyala” dengan “idup”?”

“Hahaha…”

KAwanku itupun tertawa.

Oh iya, sampai lupa. Kawan-kawan tentu ingat kan dialog antara Rosululloh dengan seorang nenek-nenek? Dari situ kita juga bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana cara bercanda.

Dan, masih banyak cara untuk bisa menghadirkan canda di rumah tangga kita. Silakan dicoba.

Wallohu a’lam.

One Response to SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-15)

  1. Ibnu says:

    Subhanalloh.. inspiring sekali mas Muji.. :tjapjempol:

    syukron!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: