RUMAHKU SURGAKU…

Waktu subuh masih cukup lama. Sekitar 1.5 jam lagi. Namun aku sudah terbangun. Perlahan, dengan penuh kelembutan, aku bangunkan dia yang masih lelap terbaring di sisiku. Kami memang sudah membuat kesepakatan. Untuk saling membangunkan di sepertiga malam yang akhir.
Bergegas kami mengambil air wudhu. Bersama. Saling bergantian kami mengguyurkan air dari gayung laksana kran. Setelah itu, kami bergegas menuju sudut ruangan rumah yang kami peruntukkan untuk musholla. Di sudut ruangan itu biasanya digunakan olehnya untuk sholat wajib yang lima waktu. Sebab, untuk wanita, yang terbaik mengerjakan sholat yang lima waktu di rumah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (bagi para wanita) tentu lebih baik.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Adapun aku biasanya menggunakan ruangan itu untuk tempat menghafal al-Qur’an, berdzikir, berdo’a, sholat sunnah, dan ibadah-ibadah ta’abudiyyah lainnya. Untuk sholat wajib, aku mengerjakannya di masjid dengan berjama’ah bersama kaum Muslimin. Karena untuk laki-laki, yang terbaik mengerjakan sholat yang lima waktu di masjid. Bahkan banyak ulama yang menyatakan akan kewajibannya karena begitu banyak dalil-dalil yang mendukungnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ ».

”Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya,“Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab,”Ya”. Rasulullah bersabda,”Penuhilah seruan (adzan) itu.” (HR. Muslim [Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 44-Bab Wajib Mendatangi Masjid bagi Siapa Saja yang Mendengar Adzan])
Sesaat, kami larut dalam manisnya sholat tahajjud. Sujud demi sujud kami lewati. Sendiri-sendiri. Kami berdialog dengan Sang Maha Gagah Perkasa. Sebelas rekaat kami lewati dengan penuh harap dan cemas. Berharap agar Alloh mau menerima ibadah kami, dan cemas kalau-kalau Alloh tidak mau menerima ibadah yang kami lakukan.
Kemudian, kami tutup dengan bermunajat kepada Sang Maha Pemurah. Sendiri-sendiri, kami menengadahkan tangan ke langit. Memohon kebaikan dunia dan akhirat. Untuk diri-diri kami yang rapuh.
Ya Robbi…
Ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik kami tatakala kecil.
Ya Robbi…
Anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan yang bisa menjadi penyejuk pandangan mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin dari orang-orang yang bertakwa.
Ya Robbi…
Ya Robbi….
……
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita turun ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman (yang artinya): ‘Adakah seorang yang meminta? Pasti Aku akan memberinya. Adakah seorang yang berdoa? Pasti Aku akan mengabulkannya. Dan adakah seorang yang memohon ampunan? Pasti Aku akan mengampuninya’. Hal ini berlangsung hingga tiba waktu fajar.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).
Selesai sudah. Aku pun duduk istirahat dengan bersandarkankan dinding ruang itu. Kakiku terjulur. Kubuka mushaf al-Qur’an kemudian kubaca dengan bacaan paling merdu yang aku mampu. Dan dia, seperti biasa, tertidur di pangkuanku. Kepalanya berbantalkan pahaku. Sambil berbaring, dia simak bacaan al-Qur’anku. Selalu saja begitu. Kami berdua khusyuk menunggu subuh. Dengan suasana romatis yang tak bisa kuceritakan dengan kata-kata. Begitu indah. Begitu mesra.
Allohu Akbar….Allohu Akbar….
Adzan Subuh pun berkumandang. Kami pun bangkit mempersiapkan diri untuk sholat Subuh. Aku memilih sholat sunnah qobliyyah Subuh di rumah, karena demikianlah yang disunnahkan oleh Rosululloh. Bagi laki-laki, sholat sunnah lebih afdhol di kerjakan di rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

“Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.”(HR. Bukhari no. 731 dan Ahmad 5/186, dengan lafazh Ahmad)
Akupun bangkit hendak menuju masjid. Dan dia dengan setia mengantarku hingga ke depan pintu. Dan akupun meninggalkannya dengan mememberikan jejak di keningnya. Jejak yang tak berwarna, namun begitu menenteramkan jiwa.
Diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah mencium salah seorang istri beliau baru kemudian berangkat menunaikan shalat tanpa memperbaharuhi wudhu’” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits no. 170)

>> Di Pagi yang Penuh Berkah
Selesai sholat subuh, aku sempatkan diri untuk duduk sejenak di masjid. Dzikir pagi kuhaturkan. Berharap Alloh memberikan keberkahan yang banyak di hari baru yang akan aku jalani ini. Dan setelah itu, aku pun beranjak pulang.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“(HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403)).

Lagi-lagi, seolah tak ada rasa jemu, dia selalu setia menantiku di balik pintu. Saat aku mengucapkan salam, dia bergegas membukakan pintu untukku. Begitu pintu terbuka, senyum manis dari wajahnya langsung terbang memeluk jiwaku. Aku kecup keningnya. Kemudian kami berdua bergandeng tangan menuju musholla yang ada di sudut ruang itu.
Berdua. Kami duduk berhadap-hadapan. Masing-masing kami memegang mushaf al-Qur’an. Aku bacakan beberapa ayat yang sedang kuhafal. Diapun menyimaknya sambil matanya tertuju pada mushaf yang ada di tangannya. Jika bacaanku keliru, di langsung membetulkannya. Kemudian giliranku. Aku melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan tadi. Kami saling mendengarkan, saling membetulkan, dalam dekapan dingin subuh yang romantis.
Terkadang, setelah menghafal al-Qur’an, kami saling membacakan terjemah dari beberapa ayat al-Qur’an. Jika waktu masih luang, kami juga biasa saling bergantian membacakan faidah-faidah dari hadits-hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Setelah itu, kami berpisah sejenak. Aku bersiap-siap untuk berangkat kerja, sedangkan dia beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan kami berdua.
Di situ, di ruang tengah yang cukup luas itu, kami biasa makan berdua. Dalam satu piring, dan minum dalam satu gelas. Sambil makan, kami biasa saling bercanda, saling menasehati, dan saling mengingatkan untuk tetap istiqomah di atas jalan kebenaran.
Dan waktunya pun tiba. Saatnya kami berpisah. Namun bukan untuk selamanya. Aku harus pergi mencari nafkah. Karena memang sudah tugas suamilah untuk pergi mencari nafkah.
Dia lepas kepergianku dengan senyuman. Aku pun kembali memberi jejak di keningnya. Dan tak bosan-bosannya dia berkata kepadaku:
“Mas, aku kuat untuk menahan lapar di dunia. Namun, aku tak kuat menahan panasnya api neraka. Maka, carilah harta dari jalan yang halal. Jangan tertipu oleh manisnya rayuan setan. Semoga Alloh meudahkan urusan Mas….”
Dan aku pun tak pernah jemu untuk memberikan beberapa bait kata perpisahan.
Doakanlah sayang
Harapkanlah manis
Suamimu segera kembali
Kutitipkan semua yang kutinggalkan
Kau jagalah semua yang mesti kau jaga
Permataku…
Aku percaya padamu!
….
Kami pun kemudian berpisah. Diiringi doa keselamatan dan kasih sayang.
Assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh…

>> Sedang Apakah Bidadariku
Apakah yang dilakukan bidadariku saat aku sedang berada di luar rumah??
Duhai, rupanya memang dia istri yang Shalihah. Dia tahu bagaimana harus memposisikan dirinya sebagai seorang istri. Dia tahu betul hak dan kewajian sebagai seorang isteri.
Dia jaga hartaku. Dia hias istanaku. Dan dia tidak mengizinkan seorangpun masuk kecuali dengan seizinku.
Allah Ta’ala berfirman: “ ..maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisa’: 34)

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Isteri terbaik adalah apabila dipandang suami ia menyenangkan, apabila diperintah ia taat dan apabila ditinggal bepergian ia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Imam Ahmad dll dengan sanad sahih).
Dia pun tahu bahwa dirinya adalah madrasah pertama bagi anak-anakku nanti. Makanya dia selalu rajin belajar. Tatkala semua rutinitas pekerjaan rumah selesai, dia pun kemudian bergegas masuk ke ruang perpustakaan. Di situ, di ruang perpustakaan pribadi itu, sengaja aku sediakan ribuan buku-buku bacaan bermanfaat untuk kami baca dan kami pelajari. Dia ruang itu, biasanya dia sanggup berlama-lama membaca tulisan-tulisan para ulama. Tak lupa dia membuat ringkasan dan catatan penting tentang ilmu baru yang didapat dari hasil membaca.
….
Ibu adalah madrasah bagi anak-anak
Jika engkau menyiapkannya,
Maka engkau telah menyiapkan bangsa yang bergenerasi baik
Apabila para ibu tumbuh dalam ketidaktahuan
Maka anak-anak akan menyusu kebodohan dan keterbelakangan
….
Itulah yang dilakukannya tatkala aku tak berada di rumah. Dia tidak habiskan waktu dengan menonton TV, karena memang kami telah bersepakat untuk tidak memasukkan kotak berbahaya itu ke dalam rumah. Kami lebih memilih untuk memenuhi rumah dengan semerbak harum aroma ilmu yang kami ambil dari buku-buku karya para ulama.
>> Kembali ke Surga
Lelah seharian bekerja di luar rumah. Badan terasa pegal-pegal. Kepala agak sedikit pening karena banyak menghirup asap kendaraan bermotor. Namun tiba-tiba, semuanya sirna seketika tatkala di depan rumah, aku melihat dia sudah berdiri menyambutku dengan senyumnya yang begitu indah.
Duh, permataku….
Engkau sungguh mengerti aku…
Kami pun kemudian bergandeng tangan bersama masuk ke dalam Surga. Baiti Jannati….Rumahku Surgaku….
(Bersambung kapan-kapan……)

Kota Hujan, 30 September 2011
Saat sunyi mendekap malam
Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: