SERIAL BAITI JANNATI (JURUS-17)

Ada sebuah kisah menarik. Kurang lebih kisahnya begini.

Ada sebuah perusahaan yang memiliki beberapa manajer penjualan. Masing-masing manajer penjualan membawahi beberapa anak buah. Dari sekian manajer, ada dua manajer yang memiliki prestasi bagus. Kemudian, pimpinan perusahaan itu mengadakan sebuah pesta besar untuk memberi penghargaan kepada kedua manajer ini. Diundanglah semua manajer berserta anak buah mereka.

Saat pesta digelar, kedua manajer ini kemudian diberi kesempatan untuk memberi sambutan. Dalam sambutannya, manajer pertama menyatakan bahwa prestasinya ini merupakan hasil jerih payah dan kecerdasannya sendiri. Di depan umum dia membangga-banggakan dirinya sendiri.

Berbeda halnya dengan manajer yang satu lagi. Dalam sambutannya, dia menyatakan bahwa keberhasilannya selama ini merupakan hasil jerih payah anak buahnya. Kemudian dia memuji-muji anak buahnya di depan umum. Dia sebut nama mereka satu persatu sambil mereka diminta berdiri agar para hadirin bisa melihat wajah mereka.

Setelah pesta selesai, mereka  bekerja seperti biasa. Namun kemudian terjadi perubahan. Manajer yang pertama prestasinya menurun. Sedangkan manajer yang kedua prestasinya terus menanjak. Apa sebabnya? Ternyata, anak buah dari manajer pertama merasa tidak dihargai jerih payahnya oleh manajer pertama, sehingga semangat mereka jadi berkurang. Adapun anak buah dari manajer kedua, justru semakin bersemangat. Sebab mereka merasa sangat dihargai oleh  atasannya. Sebagai balasannya, mereka bekerja dengan lebih baik lagi.

Nah, kawan-kawan yang dirahmati Alloh…

Dari kisah di atas kita bisa mengetahui betapa besarnya pengaruh penghargaan terhadap jiwa seseorang. Sebab memang secara fitrah manusia itu senang untuk dihargai. Sebaliknya, mereka benci jika tidak diberi pernghargaan oleh orang lain. Kisah berikut ini mungkin bisa memberikan sedikit gambaran bahwa memang manusia tidak suka jika dirinya tidak diberi penghargaan yang selayaknya.

Aku punya seorang kawan yang bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar. Dia berposisi sebagai manajer produksi. Gajinya agak sedikit lebih besar kalau dibandingkan karyawan lain yang posisinya ada di bawahnya. Kalau tidak salah, gajinya waktu itu 1.5 Juta, sementara karyawan lainnya sekitar 900 ribu- 1 Juta.

Awalnya, hubungan dia dengan atasannya baik-baik saja. Dia tidak mengeluh walaupun tugasnya cukup berat dan melelahkan. Sebab dia merasa dirinya sudah dilebihkan dari sisi gaji dari karyawan yang lain. Jadi dia merasa cukup dihargai lah.   Walaupun sebenarnya dia merasa gaji yang diterima tidak sebanding dengan jerih payahnya bekerja. TApi karena atasannya termasuk teman dekatnya, dia nggak protes apa-apa. Dia terima saja dengan senang hati.

Namun tiba-tiba, beberapa waktu kemudian, sikapnya berubah terhadap atasannya. Dia jadi merasa tidak dihargai lagi oleh atasannya. Kenapa bisa begitu? Begini ceritanya…

Suatu hari kawanku itu menyalakan komputer dan printer milik kantor. Tiba-tiba, begitu printer menyala, ada kertas yang keluar dari dalamnya. Rupanya ada file yang masih tersisa yang belum tercetak oleh orang yang ngeprint sebelumnya. Isinya berupa omzet penjualan perusahaan.

Kawanku itu kaget ketika melihat ternyata omzet penjualan perusahaan sangat besar. Jumlahnya ratusan juta rupiah. Dalam hati, kawanku itu berkata, “Kalau perusahaan tiap bulannya memperoleh keuntungan sangat besar, kenapa saya digaji cuma segitu!”

Semenjak itu kawanku tidak menaruh simpati lagi terhadap atasannya. Dia pun sekarang menggunakan fasilitas kantor seenaknya, tidak seperti sebelumnya.

Kawanku yang lain lagi pernah mengalami hal yang mirip-mirip dengan kawanku ini. Pernah dia bekerja di sebuah perusahaan cukup besar. Tugasnya memasukkan data-data ke dalam komputer. Namun, dia dihargai sangat murah. Untuk data yang jumlahnya bejibun, dia Cuma digaji beberapa ratus rupiah. Padahal kawan dia yang bekerja di tempat lain, bisa mendapatkan bayaran puluhan ribu hanya dengan memasukkan data yang tidak seberapa.

Aku sendiri pernah mengalami hal yang serupa seperti ini. Tapi, biar nggak ada yang ngerasa tersinggung, aku berikan permisalan begini saja.

Pernah suatu ketika seorang kawan dekatku mendapatkan sebuah proyek. Dia diminta untuk mengecat tembok seluas 100 meter persegi. Diapun kemudian meminta bantuanku. Aku dimintanya untuk membantu mengecat tembok itu.  Namun dia tidak mengatakan, berapa upah yang akan aku terima. Karena dia termasuk orang yang aku hormati, maka aku tidak sanggup menolaknya. Aku cat tembok itu dari pagi sampai malam hari. Adapun dia hanya mengawasi. Jika ada yang belum bagus hasil catnya, dia yang melengkapi.

Setelah selesai, aku diberi upah olehnya sebesar Rp.25.000,-. Aku sih senang-senang saja. Namun yang membuat dadaku sedikit sesak, ternyata dari proyek itu dia mendapatkan bayaran Rp. 500.000,-. Jadi, aku Cuma mendapatkan 2.5 % dari bayaran dia. Jauh banget bukan?

Nah, dari kisah-kisah di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa “Jika kita ingin menumbuhkan benih-benih kecintaan, sekaligus mencegah bibit-bibit kebencian tumbuh di dalam hati pasangan kita, maka berilah penghargaan kepadanya dengan penghargaan yang selayaknya”. Jadi jurus ke-17 adalah “BERILAH PENGHARGAAN YANG LAYAK KEPADA PASANGAN ANDA”.

Contoh praktisnya gimana?

Begini. Misalnya seorang suami melihat istrinya setiap hari selama sebulan full tidak pernah mengecewakan dalam memberikan pelayanan. Setiap pagi sarapan telah tersedia, setiap pulang kerja pun begitu. Kemudian kondisi rumah dibuat selalu dalam kondisi yang bersih, rapih, dan indah. Maka, alangkah indahnya jika si suami memberikan penghargaan kepada istrinya. Misalnya dengan mengajaknya ke toko busana muslimah untuk membeli pakaian yang paling disukainya.

Atau, jika memang tidak ada dana untuk itu –misalnya kondisi keuangan sedang seret- maka cukuplah dengan ucapan terima kasih yang diucapkan dengan tulus.

“Istriku, terima kasih karena engkau telah memberikan pelayanan yang terbaik untukku….Sungguh, aku sangat bangga mempunyai seorang bidadari sepertimu… Tanpa bantuanmu, mungkin aku akan sangat kerepotan dalam menjalani aktivitas sehari-hari…Jazakillahu khoiron….Semoga Alloh memberi balasan kepadamu dengan yang lebih baik…Amiin….”

Untuk istri misalnya begini. Misalnya selama ini suaminya selalu memberikan uang belanja yang cukup kepadanya. Suaminya juga selalu memenuhi keinginannya. Maka alangkah indahnya jika kemudian si istri –misalnya- membuatkan menu special kesukaan suami tatkala suaminya pulang kerja. Tapi sebelumnya, si Istri, sudah mengirim SMS yang isinya begini:

“Suamiku, terima kasih karena selama ini engkau telah menjadi suami yang baik untukku. Engkau telah memberiku yang terbaik. Engkau juga telah menjagaku dengan penuh kasih sayang. Jazakallohu khoiron….Semoga Alloh membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik….amiin…. Sebagai rasa terima kasihku, aku sudah menyiapkan hidangan special untukmu untuk kita makan berdua malam ini…Cepet pulang ya….Wassalam…Si Cantik, istrimu…”

Nah, seperti ini saja. Sederhana namun bisa memberikan arti yang sangat mendalam.

Sekarang, aku ingin Tanya nih kepada para suami dan istri yang membaca catatanku ini. Selama hidup berumah tangga:

  • Berapa kali Anda mengucapkan terima kasih kepada istri Anda atas pelayanannya kepada Anda?
  • Berapa kali Anda mengucapkan terima kasih kepada suami Anda atas pelayanannya kepada Anda?

Jika selama ini Anda jarang mengucapkan terima kasih atau bahkan tidak pernah, cobalah lakukan sekarang juga! Insya Alloh kehidupan rumah tangga Anda akan bahagia.

Intinya penghargaan. Dan penghargaan ini nggak mesti harus berupa materi. Dengan memuji atau berucap terima kasih sudah cukup untuk membuat pasangan kita merasa dihargai.

Demikianlah. Wallohu a’lam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1954)

Dalam sebuah hadits yang terdapat di dalam Kitab Sunan At-Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang diberikan suatu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengucapkan jazakallaah khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) berarti dia telah sempurna dalam memuji.”

Dari Jabir bin Abdillah Al Ansahary, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya.” (Shahih) Takhrijut Targhib (2/55), Ash Shahihah (617): [Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 87-Bab Maa Jaa-a fii Man Tasyabba’a bimaa Lam Yu’thihi].

 

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang memohon perlindungan dengan mengatasnamakan Allah , maka lindungilah dia. Dan siapa yang meminta dengan mengatasnamakan Allah, maka berilah ia. Dan siapa yang berbuat baik kepadamu, balaslah kebaikannya. Jika anda tidak mampu, maka doakanlah dia sampai dia tahu bahwa kalian telah memberinya yang setimpal.” (Shahih) Ash Shahihah (254): [Abu Dawud: 9-Kitab Az Zakah, 38-Bab ‘Athiyatu Man Sa-ala billah].

Kota Hujan, 4 Oktober 2011

Jam 00.05 dini hari waktu laptop

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: