SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-20)

“Ada cerita bagus tuh Mas, kemaren ane baca”, ucap kawanku pada suatu ketika.

“Cerita apaan?”

“Cerita anak kecil di Cina yang dapet penghargaan”.

“Ceritanya kayak gimana?”

Mulailah kawanku itu bercerita, namun tidak mendetail. Karena penasaran, akupun kemudian mencari cerita lengkapnya di internet. Anda pingin tahu seperti apa cerita lengkapnya? Ini dia….

>> Zhang Da, Kisah Seorang Anak Teladan dari Negeri China

Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.

Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.

 

Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.

 

Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.

 

Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

 

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

 

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.

 

Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

 

Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat Papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.

 

Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

 

Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.

 

Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi / suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.

 

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,

“Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?

 

Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir.

 

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.”

 

Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,

“Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?

 

Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.

 

Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.

 

Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya. (apakabardunia.com)

 

>> Harta; Bahagia dan Sengsara

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh….

Tentunya banyak hikmah yang bisa kita petik dari cerita di atas. Namun, ada satu pelajaran  berharga yang ingin aku ambil yang berhubungan dengan kehidupan keluarga. Apa coba kira-kira pelajaran itu? Ada yang tahu? Ternyata, keadaan ekonomi yang sulit dalam sebuah keluarga bisa menjadi pemicu kehancuran rumah tangga.  Lihat saja ibunya Zhang Da. Dia tega meninggalkan suami dan anaknya karena tidak tahan dengan kemiskinan yang membelit keluarga mereka.

Ya, memang  tidak bisa dipungkiri. Harta memang bisa membuat orang bahagia.  Bukankah Rosululloh bersabda:

“Empat perkara yang bisa membawa kepada kebahagiaan:  istri sholihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara yang bisa membawa kepada kesengsaraan:  tetangga yang buruk (akhlak), istri yang buruk (akhlak), tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang buruk” (Shohih ibnu Hibban no:  4107, dishohihkan oleh al-Albani dalam shohihut targhib no: 2576)

 

Namun kita harus ingat! Meskipun harta bisa membuat orang bahagia, namun harta tidak bisa menjamin kebahagiaan. Buktinya para koruptor yang hartanya berlimpah tidak bisa hidup bahagia. Mereka selalu dikejar-kejar rasa takut kalau-kalau dirinya ditangkap aparat. Trus ada juga konglomerat yang kekayaannya milyaran, namun dia tidak bisa menikmati hidupnya dengan nyaman. Pola makannya harus diatur. Nggak boleh makan ini, nggak boleh minum itu. Pokoknya semuaya serba tidak boleh. Dia tidak bisa menikmati hartanya sendiri yang sudah dikumpulkannya dengan susah payah.

Jika harta bisa membuat orang bahagia, apakah lantas ketiadaan harta bisa membuat orang sengsara?  Bisa ya, bisa  juga tidak. Tergantung bagaimana seseorang menyikapinya. Ada rumah tangga yang hancur berantakan karena hidup dalam belitan kemiskinan. Namun, ada juga yang tetap hidup harmonis meskipun sehari-harinya serba kekurangan.

 

>> Bercermin pada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Sebagai bahan kita bercermin, marilah aku ajak Anda untuk mengintip keadaan ekonomi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Semoga bisa menyadarkan kita bahwa  tidak selamanya kemiskinan  itu membuat orang sengsara. Tidak selamanya kekurangan harta bisa membuat rumah tangga hancur berantakan.

“Terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di atas alas dan terkadang di atas kulit, tikar, lantai, kasur dan terkadang diatas kain hitam. Tempat tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbuat dari tali yang dianyam, begitu juga bantalnya.

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Saya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu beliau sedang tidur di atas tikar yang membekas pada pinggangnya, saya menangis”. Beliau berkata, “Apa yang menjadikanmu menangis ?” saya berkata, “Raja Kisro dan Qoisar tidur diatas kain sutra sedang engkau tidur diatas tikar”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaanku dan dunia ini adalah tidak lain seperti pengendara yang berlindung di bawah pohon kemudian dia meninggalkannya”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad Shahih).

An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu menyebutkan kondisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Saya melihat Nabi kalian melipat perutnya seharian penuh, tidak mendapatkan makanan yang dapat mengisi perutnya walaupun itu kurma yang paling jelek”. (H.R Muslim).

‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami adalah keluarga Muhammad selama sebulan kami tidak menyalakan api kecuali hanya sekedar kurma dan air”. (HR. al-Bukhari).

‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata, “Keluarga Muhammad semenjak tinggal di Madinah tidak pernah kenyang dari makanan yang terbuat dari gandum selama tiga hari berturut-turut sampai beliau meninggal”. (HR. al-Bukhari).

Al-Bukhari juga meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata kepada Urwah, “Wahai anak saudariku, sungguh kami menanti 3 kali hilal dalam dua bulan dan tidak pernah api itu dinyalakan di rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Saya (Urwah) berkata, “Lantas apa yang kalian makan ? ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Kurma dan air, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai tetangga dari kalangan anshor yang banyak memberi, mereka sering memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari rumah mereka, sehingga mereka bisa memberi makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah kenyang dari roti dan minyak dalam satu haripun”.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah meninggalkan dunia ini sedang beliau tidak pernah kenyang dari gandum dalam satu hari, baik makan siang maupun makan malam”. (HR. Muslim).

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuna berkata, “Rasulullah tidur pada beberapa malam sedang keluarganya melipat perutnya, tidak mendapatkan makan malam”. (HR. Tirmidzi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari dalam shahihnya selalu membaca do’a, “Ya Allah berikanlah rizki makanan pokok untuk keluarga Muhammad”.

Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Hadits-hadits tersebut menunjukan atas fadhilah kesederhanaan dan mengambil seperlunya dari kehidupan dunia serta mencukupkan diri dari kelebihan hal itu demi mendapatkan kenikmatan akhirat dan mengedepankan sesuatu yang kekal dari yang fana. Oleh kerena itu seharusnya, umat beliau mengikutinya dalam hal ini.”

Al-Qurthubi berkata, “Makna hadits ini adalah anjuran untuk mencari kecukupan, karena makanan pokok itu adalah yag dapat membantu tubuh dan cukup untuk kebutuhan. Kondisi demikian dapat menyelamatkan diri dari penyakit kaya dan penyakit miskin.” (Dikutip dari: http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=518)

 

>> Jadlah Orang yang Qona’ah!

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Demikianlah. Ketiadaan harta dalam rumah tangga bisa membuat orang sengsara atau tidak, sangat tergantung dari cara bersikap. Jika pasutri mau qona’ah dengan harta pemberian dari Alloh, insya Alloh rumah tangga akan tetap bahagia. Namun kalau mereka kufur dan tidak ridho dengan pemberian Alloh, maka mereka akan tersiksa dengan sikap mereka sendiri.

Jadi, jurus ke-20 untuk tetap mengharmoniskan kehidupan rumah tangga adalah “JADILAH ORANG YANG QONA’AH!”. Arti qona’ah adalah merasa ridha dan cukup dengan pembagian rizki yang Allah Ta’ala berikan (Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/508).)

Alangkah indahnya jika pasutri bisa menjadi pribadi yang qona’ah. Terutama para istri. Jika mereka diberi harta yang sedikit, mereka tetap bersyukur dan merasa cukup. Mereka tidak mengeluh dan tidak  mengkufurinya. Mereka juga tidak banyak menuntut.  Insya Alloh dengan begitu, rumah tangga mereka akan selalu diselimuti oleh kabut kebahagiaan.

 

Coba saja kita bayangkan sendiri. Bagaimana seandainya ada seorang suami yang penghasilannya pas-pasan, namun istri selalu merasa kurang atas pemberian suami setiap bulan. Si istri selalu menuntut lebih dan lebih. Tidak pernah sekalipun merasa cukup dan bersyukur meski hanya diberi sedikit. Kira-kira apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar rumah tangga mereka akan menjadi seperti neraka. Konflik akan mudah muncul.

Aku sendiri, alhamdulillah, dilahirkan di lingkungan keluarga yang –bisa dibilang- qona’ah. Ibuku tidak banyak menuntut. Jika ayahku hanya memberi uang belanja sedikit, ya disyukuri dan diterima dengan lapang dada. Kemudian uang itu dipergunakan dengan sehemat mungkin. Pernah aku hanya makan nasi pakai garam dan terasi bakar. Ibuku tidak pernah minta yang macem-macem kepada ayahku. Dan alhamdulillah, kehidupan mereka adem ayem saja meskipun pernah mengalami kesulitan ekonomi yang cukup parah.

Jadi demikianlah. Semoga bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya, dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya”(HR. Muslim (no. 1054)).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan)”. (HR at-Tirmidzi (no. 2305) dan Ahmad (2/310), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani).

Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :الحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ الْقَنَاعَةُ Kehidupan yang baik adalah qona’ah (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thobari dalam tafsirnya 17/290)

Wallohu  a’lam.

NB.

Bagi kawan-kawan yang ingin tahu bagaimana kiat menjadi pribadi yang qona’ah, silakan baca di:

 

Kota Hujan, 8 Oktober 2011

Saat mendung masih menggelayut di atap rumah kita,  09:48

 

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

(Pengerajin Kata-kata yang Sederhana dan Biasa-biasa Saja)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: