HATI-HATI DENGAN ANALOGI !!! (bag-2)

>>> Percaya dan Tidak Percaya

Kawanku dari Ciamis pernah bercerita padaku di suatu ketika. Katanya, sewaktu dia masih SMA, kakak kelasnya yang kuliah di Bogor pernah mengisi pengajian di sekolahnya. Kakak kelasnya itu sempat menyampaikan sebuah analogi di tengah-tengah materi yang disampaikannya. Katanya begini:

“Misalnya ada satu orang dateng kepada kalian sambil berkata ‘Di alun-alun ada kebakaran!’, kira-kira kalian percaya nggak ? Nggak percaya, kan? Nah, begitupun dengan hadits ahad. Karena yang menyampaikan Cuma satu orang maka tidak bisa kita yakini beritanya….”

Para siswa yang mendengarnya hanya diam saja, tidak ada yang protes. Entah setuju atau mungkin malah bingung, karena nggak ngerti dengan materi yang disampaikan. Memang, pembahasan seputar hadits bisa dikatakan agak rumit. Jadi nggak cocok –menurutku- untuk disampaikan kepada para siswa yang semangat ngajinya saja masih lemah. Jangankan siswa sekolah umum. Siswa pondokan saja kadang masih merasa berat mempelajarinya.

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Supaya jelas, mungkin aku jelasin dulu aja kali ya pengertian hadits ahad.

Ahad menurut bahasa mempunyai arti satu.  Dan khabarul-wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan hadits ahad menurut istilah adalah hadits yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir.  Hadits ahad terbagi menjadi 3 macam, yaitu : Masyhur, ‘Aziz, dan Gharib.  (Sumber: http://jacksite.wordpress.com/2007/07/04/ilmu-hadits-definisi-hadits-ahad-hadits-masyhur-hadits-aziz-hadits-gharib/)

Secara bahasa, mutawatir adalah isim fa’il dari at-tawatur yang artinya berurutan. Sedangkan mutawatir menurut istilah adalah “apa yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang menurut kebiasaan mereka terhindar dari melakukan dusta mulai dari awal hingga akhir sanad”. Atau : “hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang banyak pada setiap tingkatan sanadnya menurut akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta dan memalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkan pada sesuatu yang dapat diketahui dengan indera seperti pendengarannya dan semacamnya”. (http://jacksite.wordpress.com/2007/07/04/ilmu-hadits-definisi-hadits-mutawatir/)

Silakan lihat penjelasan lengkapnya di kitab Mustholahul Hadits.

 

>>>  Kritikan Terhadap Analogi

Nah, sekarang, aku pingin tanya ke kawan-kawan. Apakah analogi hadits ahad tadi bisa diterima? Silakan kawan-kawan berfikir sejenak.

Kalau aku pribadi sangat tidak setuju, dengan beberapa alasan:

1. Tidak selamanya kita tidak meyakini kabar dari satu orang. Bahkan realita yang ada justru sebaliknya. Kita seringkali meyakini sebuah kabar meskipun yang menyampaikannya Cuma satu orang.

Misalnya saja begini. Misalnya Anda seorang mahasiswa. Suatu hari kawan Anda satu dosen bimbingan datang ke kosan Anda dan mengatakan bahwa Anda di panggil ke kantor dosen Anda siang ini. Apakah Anda percaya ? Aku sangat yakin, Anda tentu akan mempercayainya. Ya kan?!

Jangankan kawan dekat, terkadang orang asing yang tidak kita kenal menyampaikan berita, kita meyakininya. Misalnya di dekat rumah Anda ada dua warung sayur. Di sebelah barat dan di sebelah timur. Suatu hari, Anda ingin belanja di warung sebelah timur. Tapi di tengah jalan Anda berpapasan dengan orang yang sering Anda lihat belanja di warung sebelah timur itu. Orang itu tidak Anda kenal. Kemudian orang itu berkata kepada Anda, “Warungnya tutup!”. Kira2 Anda meyakininya atau tidak? Aku sangat yakin Anda akan meyakininya meskipun orang itu tidak Anda kenal. Andapun akan berbalik arah menuju Barat untuk belanja di sana.

2. Jika orang yang tidak Anda kenal menyampaikan berita saja Anda terima, lalu bagaimana jika yang menyampaikan berita itu adalah orang yang sudah sangat Anda kenal dengan sifat-sifatnya yang terpuji, seperti: hafalannya kuat, tidak pernah Anda dengar berdusta, dan sangat taat agama. Anda tentu akan lebih meyakininya, bukan? Dan sifat-sifat seperti itu ada dalam diri perawi hadits shahih. Bahkan sifat-sifat para perawi hadits shahih tidak bisa dibandingkan dengan sifat orang-orang zaman sekarang. Jauh, jauh sekali, seperti ilmu profesor dibandingkan dengan ilmu anak TK. (Bagaimana mungkin bisa kita bandingkan!!! Perawi hadits adalah orang-orang yang hafal ribuan hadits beserta sanadnya, mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berdusta atas nama nabi, mereka adalah orang-orang yang begitu kuat menjaga kehormatan diri mereka, dll. Lihat pembahasan lengkap tentang karakteristik perawi hadits shahih dalam ilmu mustholahul hadits)

Nah, dua alasan ini kiranya sudah cukup untuk membantah logika di atas.

 

>>> Jawaban Pamungkas

Memang, terdapat polemik yang sangat tajam tentang apakah hadits ahad dapat dijadikan hujjah dalam masalah akidah atau tidak. Dan aku tidak akan membahas polemik itu di sini. Sebab sudah banyak dibahas oleh para ahlinya langsung.

Pada kesempatan kali ini, aku hanya akan menyampaikan jawaban pamungkas yang menunjukkan bahwa hadits ahad itu bisa kita jadikan sebagai hujjah dalam masalah akidah dan lainnya. Jawaban ini aku dapat dari Syaikh Masyhur bin Hasan  Alu Salman hafizhohulloh tatkala beliau ditanya “Apakah hadits ahad dapat dijadikan hujjah dalam masalah akidah?”

Beliau memberikan tiga poin jawaban penting. Aku akan bawakan dua poin saja dulu. Poin yang ke-3 akan aku sampaikan belakangan. Beliau menjawab begini:

1. Tidak kita temukan satu kitab pun tentang akidah yang hanya berhujjah dengan hadits mutawatir. Seluruh para ulama semenjak dahulu hingga sekarang berhujjah dengan hadits ahad dalam aqidah. Kita katakan pada mereka: Tunjukkan pada kami sebuah kitab aqidah yang hanya berhujjah dengan hadits mutawatir!! Saya yakin mereka tidak akan menemukannya. Dengan demikian, maka mungkin merekalah yang sesat ataukah para ulama kita semenjak dahulu hingga sekarang yang sesat ?! Dan mustahil bila ulama kita yang sesat. Maka label “sesat” hanyalah pantas disandang oleh para pengusung pemikiran ini.

2. Masa riwayat hadits telah terputus pada abad kelima. Berikanlah contoh hadits mutawatir satu saja!!

“Barangsiapa yang berdusta padaku secara sengaja, maka hendaklah mencari tempat duduknya di Neraka.”

Saya akan bertanya lagi: Darimanakah kalian mengetahui bahwa hadits itu mutawatir?! Kalian akan menjawab:”Ibnu Hajar mengatakan demikian”. Dengan demikian, hukum hadits mutawatir kembali kepada ahad. (Lihat penjelasan lengkapnya di Majalah Al-Furqon edisi 12 tahun II, hal. 3)

Semoga kawan-kawan bisa memahaminya. Jadi begini.

1. Jika memang hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam masalah aqidah, maka mestinya para ulama dari zaman dahulu hingga sekarang hanya mengisi kitab-kitab aqidah mereka dengan hadits-hadits mutawatir saja. Nyatanya, tidak ada seorang pun ulama yang menulis kitab aqidah berisi hadits mutawatir saja. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah bersepakat bahwa hadits ahad bisa dijadikan hujjah dalam masalah aqidah. Dan, tidak akan mungkin para ulama kita bersepakat dalam kesesatan!!!

2. Hadits-hadits mutawatir akan kembali kepada ahad-ahad juga. Misalnya kita diminta untuk mendatangkan satu saja hadits mutawatir, kemudian kita membawakan hadits: “Barangsiapa yang berdusta padaku secara sengaja, maka hendaklah mencari tempat duduknya di Neraka.”

Kemudian kita ditanya lagi, “Siapa yang mengatakan bahwa ini hadits mutawatir?”. Kita tentu akan menjawab, “Imam Ibnu Hajar”. Nah, berarti hadits itu sampai kepada kita lewat satu orang kan? Berarti ahad juga kan?

 

>>> Al-Qur’an dan Hadits pun Mendukung

Banyak sekali dalil dari al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan wajibnya kita berhujjah dengan hadits ahad, baik dalam masalah aqidah maupun lainnya. Silakan baca sendiri dikitab para ulama, semisal  kitab “Al-Adillah wasy Syawaahid ‘ala Wujuubil Akhdzi bi Khobaril Waahid fil Ahkaam wal Aqoo-id karya  Syekh Salim bin ‘Ied Al-Hilaali.

Namun, pada kesempatan kali ini, aku hanya ingin mengajak kawan-kawan merenung. Kira-kira….

  • Apa hikmah Alloh mengutus Jibril seorang diri kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam untuk menyampaikan wahyu ?
  • Apa hikmah Alloh mengutus Nabi Muhammad seorang diri untuk menjelaskan Islam kepada Ummat ?
  • Apa hikmah Rosululloh mengirim utusan seorang diri ke beberapa daerah untuk menjelaskan seluruh syari’at Islam, baik aqidah maupun yang lainnya?

Silakan direnungi dengan baik!

 

>>> Mana Dalilnya ???

Berikut ini poin jawaban ke-3 yang disampaikan oleh Syaikh Masyhur hafizhahulloh:

“Ucapan kalian bahwa “aqidah tidak boleh diambil dari hadits ahad” merupakan aqidah. Dengan demikian, agar kita menerima ucapan kalian ini, maka kalian harus mendatangkan pada kami dalil penukilan yang qot’iy tsubut dan qot’iy dilalah. Mereka pun tidak menjumpainya! Maka kita membantah kalian dengan kaidah kalian (senjata makan tuan).”

Jadi maksudnya begini. Mereka yang mengatakan bahwa “aqidah tidak boleh diambil dari hadits ahad” memiliki kaidah bahwa aqidah harus diambil dari dalil yang qot’iy tsubut (al-Qur’an atau hadits mutawatir) dan qot’iy dilalah (pasti penunjukannya, tidak bisa ditakwil kepada makna lainnya). Nah, perkataan mereka “aqidah tidak boleh diambil dari hadits ahad” termasuk aqidah (keyakinan) mereka.

Maka, jika keyakinan mereka ini benar, kita minta kepada mereka untuk mendatangkan satu saja dalil (nggak usah banyak-banyak) yang berasal dari Al-Qur’an atau hadits mutawatir yang qot’iy dilalah yang menunjukkan bahwa “aqidah tidak boleh diambil dari hadits ahad”. Hingga detik ini mereka tidak sanggup untuk mendatangkannya.

“Berikut ini juga kami tambahkan keterangan Imam an-Nawawi rahimahullah yang sangat indah tentang hal ini. Beliau berkata -sebagaimana tertera di dalam Mukadimah Syarh Shahih Muslim– (jilid 1 hal 223-224, cet. Dar Ibnul Haitsam), “Telah tampak dengan jelas penunjukan dalil-dalil syari’at serta didukung oleh hujjah-hujjah aqliyah yang menunjukkan wajibnya beramal dengan khabar wahid, dan para ulama telah menetapkan hal itu di dalam kitab-kitab fikih dan ushul lengkap dengan bukti-bukti penunjukannya. Mereka telah menjelaskan hal itu secara gamblang, dan banyak para ulama ahli hadits dan yang lainnya yang menulis secara panjang lebar maupun ringkas mengenai khabar wahid dan kewajiban beramal dengannya, wallahu a’lam.” Sekian nukilan dari beliau. Keterangan beliau ini juga dinukil oleh Dr. Muhammad Luthfi ash-Shabbagh dalam kitabnya al-Hadits an-Nabawi, mushthalahuhu, balaghatuhu, kutubuhu cet. al-Maktab al-Islami (hal. 265)”. (Dikutip dari: http://muslim.or.id/aqidah/khabar-ahad-hujjah-dalam-aqidah.html)

 

>>> Pendapat yang Ganjil

Pendapat yang mengatakan bahwa “hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam masalah aqidah adalah pendapat yang ganjil”. Kenapa???

“Di antara keganjilan konsekuensi pendapat ini -yang menolak hadits ahad sebagai hujjah dalam hal akidah- sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah adalah apabila misalnya ada salah seorang sahabat yang mendengar langsung sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara akidah -misalnya mengenai turunnya Allah ke langit terendah- maka sahabat yang mendengar langsung hadits ini dari beliau wajib meyakini hal itu karena ilmu yang diperolehnya mencapat taraf yakin. Adapun apabila ada sahabat lain atau tabi’in yang mendengar hadits itu tidak secara langsung dari Nabi akan tetapi melalui perantara sahabat tadi maka dia tidak wajib meyakininya meskipun hadits itu sampai kepadanya dengan jalan yang sahih, dengan alasan hadits tersebut adalah ahad! (lihat Muntaha al-Amani, hal. 88).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan di dalam kitabnya Muhtashar Shawa’iq (2/412) sebagaimana dinukil oleh Syaikh al-Albani rahimahullah, “Pembedaan ini -antara masalah akidah dan amal dalam hal keabsahan berhujjah dengan hadits ahad- adalah batil dengan kesepakatan umat. Karena hadits-hadits semacam ini senantiasa dipakai sebagai hujjah dalam perkara khabar ilmiah -yaitu akidah- sebagaimana ia dipakai untuk berhujjah dalam perkara thalab/tuntutan dan urusan amaliah…” (lihat Muntaha al-Amani, hal. 117, baca pula keterangan Syaikh Abdullah al-Fauzan dalam kitabnya Syarh al-Waraqat, hal. 214)” (Sumber: http://muslim.or.id/aqidah/khabar-ahad-hujjah-dalam-aqidah.html)

 

>>> Berani Menerima Tantangan Ini ?

 

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Sebagaimana sudah aku sampaikan di awal, bahwa risalah ini aku buat untuk melatih kita bersikap kritis. Jadi aku tidak memaksa kawan-kawan untuk menerima pendapatku ini. Hanya saja, di akhir risalah ini aku ingin menantang mereka-mereka yang berpendapat bahwa “hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam masalah aqidah”.

Wahai saudaraku….

Jika memang hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam masalah aqidah, maka:

1. Tolong buatkan satu saja kitab aqidah yang hanya berisi hadits mutawatir !

2. Tolong sampaikan kepada ummat aqidah apa saja yang haram diyakini karena haditsnya ahad !

 

>>> Kesimpulan

Jadi kesimpulannya adalah: Sebuah hadiits, selama haditsnya itu shahih berdasarkan pemeriksaan para pakar hadits, maka wajib kita yakini isinya dan kita amalkan meskipun haditsnya ahad. Jadi yang jadi paatokan sebuah hadits itu diterima atau tidak adalah kesahihannya, bukan mutawatir atau ahadnya.

“Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin telah sepakat bahwasanya barang siapa yang telah jelas baginya suatu Sunnah (hadits) yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkan hadits itu karena mengikuti pendapat siapapun“. Beliau juga mengatakan, “Apabila suatu hadits terbukti shahih maka itulah mazhabku”. Beliau juga mengatakan, “Semua permasalahan yang di dalamnya terdapat hadits yang dinyatakan shahih menurut ahli naql (ahli hadits) serta menyelisihi pendapatku maka aku rujuk darinya selama aku hidup maupun sesudah aku mati”.” (Dikutip dari: http://muslim.or.id/manhaj/delapan-kaidah-penting-untuk-muslim-dan-muslimah-2.html)

Demikianlah. Semoga bisa dipahami.

Wallohu a’lamu bish shawab.

 

Bogor, 11 Oktober 2011

Ba’da Subuh 05: 45

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

NB.

Bagi kawan-kawan yang ingin mendapatkan pembahasan lengkap terkait masalah hadits ahad, silakan baca kitab “Al-Adillah wasy Syawaahid ‘ala Wujuubil Akhdzi bi Khobaril Waahid fil Ahkaam wal Aqoo-id karya  Syekh Salim bin ‘Ied Al-Hilaali. Kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh dua penerbit. Diantaranya oleh Pustaka Ulil Albab dengan judul “Keabsahan Hadits Ahad dalam Aqidah dan Hukum”. Alhamdulillah aku berkesempatan untuk menjadi editor bahasa dari buku ini. Dan aku sudah membacanya berkali-kali.Subhanalloh! Buku yang sangat menakjubkan.

Atau, silakan baca artikel2 berikut:

http://muslim.or.id/aqidah/khabar-ahad-hujjah-dalam-aqidah.html

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/05/hadits-ahad-dan-hadits-mutawatir.html

http://abusalma.wordpress.com/2007/04/05/benarkah-imam-bukhari-tidak-menjadikan-hadits-ahad-sebagai-hujjah-dalam-masalah-aqidah/

http://almanhaj.or.id/content/2859/slash/0

http://adiabdullah.wordpress.com/2007/10/20/hadits-ahad-sebagai-hujjah/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: