HATI-HATI DENGAN ANALOGI !!! (LATIHAN BERFIKIR KRITIS)

Sebelumnya mungkin perlu aku sampaikan bahwa tujuan ditulisnya  risalah ini ialah agar kita bisa berfikir kritis. Sebab, dalam Islam, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang kritis. Kita dilarang untuk taklid buta (asal terima saja pendapat orang). Apalagi di zaman sekarang yang mana segala sesuatunya serba tersamar. Yang salah dianggap benar, dan yang benar di anggap salah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Biasanya, untuk memperjelas suatu pembahasan, dibuatlah analogi. Dengan analogi, maka semakin jelaslah sesuatu itu. Terkadang, dengan analogi yang cuma satu paragraf, bisa lebih dicerna otak dibandingkan penjelasan panjang yang berbelit-belit. Itulah hebatnya analogi.

Pernah suatu ketika aku tertarik untuk memberi komentar berupa analogi di status seorang kawan. Aku tulis begini: “Jangan sampai kita jadi seperti orang yang mengajak orang lain untuk menanam pepohonan untuk mengurangi polusi, namun di tangannya masih terselip manis sebatang rokok yang menyala.”

Lewat analogi ini, aku sekadar ingin mengingatkan kawan-kawan yang sedang semangat-semangatnya untuk menegakkan syari’at Islam agar tidak melupakan diri-diri mereka. Sebab, aku sering melihat sebagian orang yang sering berteriak-teriak tentang penegakkan khilafah, namun ternyata mereka masih melakukan perbuatan yang justru bisa meruntuhkan khilafah itu sendiri. Misalnya dengan berakidah tidak sesuai dengan akidahnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Diantaranya, mereka tidak mengimani adanya azab kubur (Silakan lihat catatanku yang berjudul “Nasihat Sederhana untuk Para Penulis Buku Agama).

Kawanku ini kemudian membalas analogiku dengan analogi pula. Beliau (yang sangat aku hormati) menulis begini: “Jangan sampai kita seperti calo yg teriak “KARAWANG, KARAWANG, Atau CIKARANG, CIKARANG” Tapi tak pernah naik dan ikut kedalam bus. Walaupun tak jadi supir yg mengangkut dan mengantar banyak penumpang. Biarlah menjadi kernet yg berdiri dipintu yg mencari orang…”.

Hmm….aku faham dengan analogi yang beliau berikan. Maksudnya –kalo salah mohon dibetulkan –  beliau ingin mengritik sebagian orang  yang  -menurutnya- nggak mau mendukung orang-orang yang ingin menegakkan khilafah. Mereka ingin khilafah tegak, Cuma nggak mau mendukung dan bergabung dengan kelompok yang susah payah membuat opini pentingnya khilafah bagi ummat Islam.

Sebenarnya aku pingin balas begini, “Jangan sampai kita tertipu dengan calo yang mengatakan “JAKARTA….JAKARTA….” padahal tujuannya ke Bandung.” Bukankah lebih baik kita nggak naik mobil yang salah arah, daripada kita kesasar. Buang-buang ongkos, toh?

Tapi, aku nggak mau memancing “keributan”. Sebab, aku memang nggak suka keributan. Makanya kadang kalau mengkritik orang, aku upayakan dengan bahasa sehalus mungkin agar orang yang aku kritik tetap tidak merasa terusik. Demikianlah yang diajarkan kawanku sesama penulis sejak dulu.

Jadi, aku lebih memilih memberi analogi begini: Jangan sampai kita seperti orang yang berteriak di jalan2, “Ayo kita melakukan penghijauan!”, tapi kita menganggap orang yang sedang sibuk membuat lubang-lubang tanam dan mencari pupuk tidak mau mendukung gerakan kita.

Maksud dari analogiku ini adalah: hendaknya kita tidak berburuk sangka terhadap saudara kita sesama Muslim. Bukan berarti orang yang tidak ikut teriak di jalan-jalan tentang khilafah itu nggak mau menegakkan khilafah. Bisa jadi merekalah sebenarnya orang-orang yang  telah memulai membangun bangunan khilafah itu. Tapi mereka nggak mau bikin spanduk besar-besaran bahwa mereka sedang melakukan itu. Sebab mereka nggak mau disebut sebagai generasi NATO (No Action Talk Only).

Demikianlah beberapa contoh analogi. Singkat, namun bisa memberi makna yang dalam.

 

>>> Awas !!! Hati-hati !!!

Namun, aku ingin mengingatkan kawan-kawan bahwa tidak setiap analogi yang disampaikan itu tepat sasaran.  Kadang ada juga yang nggak bener sehingga muncul kritikan terhadap analogi itu. Aku akan memberikan beberapa contoh.

Kawan-kawan yang ingin menegakkan syari’at Islam lewat parlemen memberi analogi begini: “Jika ada bola masuk ke dalam comberan, nggak akan mungkin kita mengambilnya tanpa nyebur langsung ke comberan itu!”

Namun, oleh kawan-kawan yang mengharamkan demokrasi, analogi ini dibantah begini, “Lho, ngapain nyebur langsung! Kan bisa pake alat ngambilnya….”

Contoh lain lagi, kawan-kawan yang ingin menegakkan syari’at Islam dengan cara mengubah sistemnya memberi analogi begini:” Masyarakat itu ibarat air dalam gelas. Adapun sistem itu ibarat batu es. Jika kita memasukkan gelas berisi air itu ke dalam kumpulan batu es, maka air itu akan dingin dengan sendirinya.”

Namun, kawan-kawan yang tidak setuju membantah begini, “Ya, tergantung airnya. Kalau airnya itu sangat panas, bisa-bisa batu esnya nanti yang mencair”.

Kemudian, seorang kawan yang sedang kuliah S2 di Bogor bercerita bahwa dosennya di kelas pernah ngomong begini. “Kita memang tidak boleh mendekati zina, tapi berzina itu boleh. Ibaratnya seperti kereta. Kita kan nggak boleh deket-deket kereta karena takut keserempet. Tapi kalo masuk kereta itu boleh kan?”. Mahasiswa yang mendengarnya spontan tertawa.

Analogi ini jelas tidak benar.  Sebab orang yang masuk kereta itu harus beli karcis dulu. Kalo nggak punya karcis bisa dilempar keluar dari kereta nantinya. Sedangkan orang-orang yang berzina adalah orang-orang yang nggak punya karcis dan layak untuk dilempar keluar. Jadi tidak benar jika berzina dianalogikan dengan orang yang masuk kereta.

Adapun analogi yang tepat –menurutku- adalah dengan “api” atau “Jurang”. Jadi kita dilarang mendekati zina ibarat kita dilarang mendekati api atau jurang. Kalo emang Anda memang sudah bosan hidup, ya silakan saja masuk ke dalam api atau jurang. Nah, begitu!

Jadi demikianlah. Tidak setiap analogi yang diberikan itu tepat. Makanya kita harus kritis. Jangan asal terima.

Ada sebuah analogi lagi yang ingin aku bahas. Sebuah analogi yang nantinya bisa berpengaruh besar terhadap benar tidaknya keyakinan seseorang. Analogi ini aku dengar dari seorang kawan yang sekarang bekerja sebagai PNS di Ciamis. Dia kawanku satu kos dulu waktu masih kuliah. Namun, pembahasannya agak panjang. Jadi kayaknya lebih baik aku bahas pada lembar kedua saja. Sementara cukup sampai di sini dulu.

Wallohu a’lam.

(Bersambug insya Alloh….)

Kota Hujan, 11 Oktober 2011

Saat petir menyambar-nyambar dengan kerasnya di sore hari, 16:44

Muhammad Mujianto Abdul  Jabbar Al-Batawie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: