DAN, CINTA ITU PUN TUMBUH DENGAN SENDIRINYA…

Dahulu, aku nggak terlalu suka dengan terong. Pikirku, “Apaan sih nih, kok rasanya begini banget, lembek-lembek gimanaa gitu….”. Makanya, kalo ada lauk yang lain, aku memilih lauk yag lain itu. Terong nggak kulirik sama sekali.

Hingga suatu ketika, aku ikutan pelatihan bahasa Arab sebulan full di sebuah pondok pesantren. Di sana, hampir setiap hari disuguhi terong. Awalnya aku makannya rada-rada gimanaaa gitu, terpaksa. TApi lama kelamaan jadi terbiasa juga. Bahkan malahan aku jadi suka.

Sepulang pelatihan, kalau makan di warteg dan kalau kebEtulan melihat terong, aku tertarik untuk mencobanya. Dan ALHAMDULILLAH, aku dipertemukan dengan warung makan yang masakan terongnya beda dari yang lain-lain. Mantaf dah pokoknya, gak ada duanya di dunia (he3….lebay). JAdinya, aku sering makan di situ. Dan selalu terong yang aku pilih menjadi peneman makanku.

Barusan aku berfikir. Kira-kira manusia bisa gak ya disamain dengan terong. Ups! Sebentar…sebentar….jangan protes dulu….Belum selesai nih ngomongnya. Maksudnya begini.

Ada seorang kawan yang bercerita kepadaku bahwa dia pernah mendengar seorang ustadz berkata bahwa “Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu…”. Si ustadz  kemudian berkata bahwa dia awalnya juga nggak terlalu cinta dengan istrinya. Ya, biasa-biasa saja. Sebab dia menikahi istrinya itu dengan proses yang terbilang sangat cepat. Ketika ada kabar akhwat siap nikah, dia langsung lihat, cocok, dan kemudian menikah. Sehingga dia nggak terlalu tahu kepribadian si akhwat ini. Namun, seiring berjalannya waktu, dia pun jadi semakin mencintai istrinya.

Nah, begitu maksudnya. Jadi, nggak salah dong kalo aku bilang manusia itu sama dengan terong he3…. Bukan sama bentuknya. Tapi, sama-sama bisa dicintai seiring dengan berjalannya waktu.

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Lewat risalah sederhana ini sebenarnya aku hanya ingin memberi pencerahan kepada para pasutri. Jika saat ini Anda masih merasa belum terlalu mencintai pasangan Anda, jangan bersedih. Jangan khawatir bin gundah alias gelisah. Sebab, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.

Cobalah untuk saling mendekati, saling bersama, dan saling memberi rasa cinta yang selama ini masih terpendam. Jangan izinkan pihak kedua mengganggu kemesraan kalian berdua. Tutup pintu rapat-rapat. Berikan terus menu cinta Anda kepadanya. Insya Alloh, seiring berjalannya waktu, cinta itu akan tumbuh denga sendirinya. Semakin indah, semakin merekan…hingga akhirnya berbuah dengan lebatnya…(he3…rambutan kali ye….)

Demikian saja.

Barokallohu laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khoirin…

Wallohu a’lam.

Bogor, 13 Oktober 2011

Pagi hari yang penuh berkah, 07:53

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: