SEPUCUK SURAT UNTUKMU YANG MENCINTAIKU

Dahulu, sewaktu SMP dulu, aku suka sekali dengan sebuah film silat berseri  yang disiarkan disebuah stasiun televisi. Judul  filmnya –kalau tidak salah- Pendekar Rajawali Sakti. Kawan-kawan mungkin masih ingat, siapa nama pendekarnya? Yup, benar sekali! Namanya Yoko.

Aku suka dengan  film itu karena memang aku waktu itu hobby nonton film-film silat. Ditambah lagi memang jalan ceritanya aku suka. Sederhana dan mudah dipahami. Dan yang paling aku suka dari film itu adalah penggambaran sosok seorang manusia yang sangat ideal. Sudah sakti, ganteng, eh banyak disukai wanita lagi. Banyak wanita yang berharap jadi istri si Yoko. Waku itu aku sampai ngebayangin, “Coba aku bisa jadi seperti si Yoko…..Disukain banyak wanita…….he3…..”.

Beberapa tahun kemudian –kalo tidak salah sekitar tahun 2006- terbitlah sebuah novel  yang berjudul Ayat-ayat Cinta. Novel ini laris manis dipasaran hingga mengalami cetak ulang berkali-kali. Sesuai judulnya, novel ini bercerita tentang cinta.

Awalnya aku tahu novel ini dari sebuah resensi di majalah Sabili. Oleh si peresensi, dikatakan bahwa novel itu mirip-mirip denga kisah Pendekar Rajawali Sakti. Dalam novel itu digambarkan sosok seorang pemuda yang ideal yang disenangi banyak wanita. Pemuda itu bernama Fachri. Seorang pemuda dari Indonesia yang kuliah di Al-Azhar Mesir.

Awalnya aku nggak tertarik baca novel itu. Apalagi banyak kritikan tertuju kepada novel itu. Kataya, ada beberapa hal yang perlu diluruskan karena tidak sesuai dengan aturan syari’at. Namun, karena ramainya perbincangan tentang novel itu, ditambah lagi aku waktu itu memang sedang getol-getolnya mencari buku-buku best seller untuk aku pelajari gaya bahasanya, akhirnya aku baca juga novel itu walaupun bisa dikatakan sudah agak basi. Aku baca novel itu setelah novel itu beredar sekitar 5 tahun di masyarakat.

Ternyata benar. Ketika membacanya, pikiranku langsung melayang pada film Pendekar Rajawali Sakti. Fachri mirip sekali dengan Yoko. Sama-sama diperebutkan banyak gadis-gadis cantik. Namun aku menilai novel ini agak lebay bin ghuluw. Dan penilaianku ini teryata sama dengan peresensi yang aku ceritakan tadi.

 

>>> Jika Dirimu Jadi Mereka

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh….

Sekarang aku ingin bertanya kepada kalian. Seandainya kalian jadi Yoko atau Fachri, apakah kalian akan merasa bahagia? Apakah kalian akan merasa senang jika ada banyak wanita yang minta dinikahi oleh kalian? (Jika berkenan, silakan kawan-kawan memberi jawaban di kolom komentar).

Hmm….Kalau aku diberi pertanyaan ini, aku akan menjawab “Tergantung!”. Tergantung kapan pertanyaan ini diajukan kepadaku. Kalau pertanyaan ini diajukan kepadaku pada saat aku masih jahil alias nggak ngerti sama-sekali tentang aturan Islam, aku tentu akan merasa bahagia. Gimana nggak bahagia dikerubuti perempuan cantik. Bukankah nafsu ini memang suka dengan yang seperti ini.

Allah Ta’ala berfirman,

{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ}

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali ‘Imran:14).

Namun, jika pertanyaan ini diajukan kepadaku sekarang ini, saat –alhamdulillah- aku sudah mulai seikit demi sedikit mengenal ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, maka aku akan menjawab “PUSYIIIIIING…..!!!”. Sebab, ini tentu akan menjadi beban berat untukku. Kenapa mereka sampai mencintaiku seperti itu??? Kenapa mereka begitu berlebihan menilai baik diriku ??? Apakah mereka sudah membelah isi hatiku ??? Dari mana mereka tahu kalau aku kelak bisa menjadi suami yang terbaik untuk mereka ???

Oleh karena itu, jika aku menjadi Fachri atau Yoko, aku akan menulis sepucuk surat untuk para wanita yang mengejar-ngejarku. Namun, karena itu mustahil, maka aku hanya bisa menulis surat ini untuk Fachri dan Yoko. Kalau mereka mau, aku persilakan mereka untuk mengirimkan surat ini kepada para wanita yang mencintai mereka. Begini isi suratnya….

 

>>> Sepucuk Surat untuk Ukty Fillah

Assalamu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuh.

Ukhtiy fillah yang aku hormati…

Sebelumnya aku mohon maaf jika suratku ini nantinya membuatmu bersedih. Namun aku tetap menuliskannya karena aku tak ingin engkau sedih berkepanjangan di kemudian hari. Biarlah engkau bersedih sekarang. Namuan yakinlah bahwa kesedihan itu hanyalah sesaat. Insya Alloh,  jika dirimu beriman dan bertakwa kepada Alloh dengan sebenarnya, maka di akhirat kelak engkau akan tertawa lepas melihat betapa indahnya pemandangan kebun-kebun Surga yang tiada tara.

Ukhtiy fllah…

Aku tahu engkau sangat mencintaiku. Aku tahu itu, setelah engkau ucapkan berkali-kali padaku “Sungguh aku mencintaimu karena Allah…..”. Dan aku berbaik sangka kepadamu bahwa apa yang engkau ucapkan itu lahir dari lubuk hatimu yang paling dalam.

Namun ukhtiy….

Melalui surat ini, aku ingin memberikan nasihat kepadamu. Dan nasihatku ini lahir karena rasa cintaku kepadamu juga. Sungguh aku mencintaimu karena Alloh. Tidak ada sedikitpun rasa benci dalam hati ini kepadamu. Percayalah padaku. Karena itulah aku menulis surat ini.

Ukhtiy…

Janganlah penilaianmu terhadap seseorang mendahului penilaian Alloh terhadap orang itu.

Dari mana uktiy tahu kalau dia itu memang seorang yang shalih ???

Dari mana uktiy tahu kalau dia memang baik untuk ukhtiy ???

Dari mana ukhtiy tahu kalau kelak ukhtiy akan bahagia hidup bersamanya ???

Apakah telah datang wahyu kepada ukhtiy ???

Apakah ukhtiy sudah membelah isi hatinya sehingga ukhtiy tahu dirinya yang sebenarnya seperti apa ???

Ukhtiy…

Janganlah  kecintaanmu kepada makhluk mengalahkan cintamu kepada Sang Pencipta makhluk yang berfirman:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.(Al-Baqarah: 216)

 

Ukhtiy…

Renungkanlah baik-baik firman Alloh ini….

“….dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu….”

Ukhtiy….

Betapa banyak pemuda yang dianggap baik oleh masyarakat sekitarnya. Mereka menilainya sebagai pemuda yang taat beragama. Namun ternyata, setelah menikah, dia tidak bisa membahagiakan istrinya.

Ukhtiy…

Janganlah uktiy menilai buah hanya dari kulit luarnya. Betapa banyak buah yang berkulit halus mulus, namun isinya busuk dipenuhi ulat.

Ukhtiy…

Jangan ukhtiy menilai baik-buruknya seseorang hanya dari penampilan luarnya. Tidakkah ukhtiy mengambil pelajaran dari kisah rumah tangga seorang da’i kondang yang dahulunya banyak dipuja para umahat ???  Dia begitu pandai berceramah hingga majelisnya selalu penuh sesak dengan jama’ah. Dia juga begitu pandai menulis hingga buku-bukunya laris manis bak kacang  goreng. Tutu katanya pun santun dan lembut. Namuan apa yang terjadi….. Rumah tangganya hancur di tengah jalan. Dan banyak orang yang tidak percaya akan hal ini.

 

Ukhtiy…

Tentu lebih baik kita makan sepiring singkong rebus tapi kemudian badan kita sehat, daripada kita makan sepiring sate ayam tapi kemudian perut kita sakit tak karuan.

Ukhtiy tentu faham permisalanku ini karena aku tahu ukhtiy adalah orang yang  cerdas.

Jadi, tatkala ukhtiy melihat ada seorang pemuda yang dimata ukhtiy memiliki akhlak luar biasa, kemudian ukhtiy lantas berkeyakinan bahwa dialah pasangan yang baik untuk ukhtiy yang akan bisa membawa ukhtiy kepada kehidupan bahagia. Belum tentu wahai ukhtiy !!! Ambillah pelajaran dari kisah da’i kondang itu wahai ukhtiy !!! Jangan sampai ukhtiy menyesal di kemudian hari.

Ukhtiy…

Aku mohon maaf  jika ada kata-kataku yang menyakitkan hatimu. Sungguh aku tidak menyangsikan cintamu padaku. Dan akupun sama sekali tidak membencimu.

Ukhtiy…

Hendaknya firman Alloh ini selalu berada di dalam hatimu…

“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS An Nur:26)

Lebih baik sekarang kita sama-sama memperbaiki diri. Mari kita sama-sama meningkatkan iman dan ketakwaan kita kepada Ilahi. Jika memang kita berjodoh, insya Alloh suatu saat nanti, kita akan bertemu di atas bahtera ini. Bahtera rumah tangga yang dipenuhi cinta kerena Ilahi, bukan cinta yang hanya berselimut mimpi.

 

Ukhtiy….

Kuharap engkau mau mengerti.

Wassalam.

 

Bogor, 19 Oktober 2011

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

(Seorang Manusia Biasa yang Haus Akan Cinta-Nya)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: