BERIBADAHLAH SEPERTI TUKANG ES YANG CERDAS

Dalam sebuah pengajian, seorang ustadz pernah menyampaikan sebuah faidah ilmu yang sangat bagus. Faidah itu masih terus terngiang-ngiang di telingaku. Beliau menyampaikan sebuah ilmu yang sangat bermafaat untuk meningkatkan kualitas ibadah seorang hamba.

Ustadz itu berkata, “Seorang  yang ‘alim, dengan ibadah yang hanya sedikit, bisa mendapatkan pahala lebih banyak dari seorang ahli ibadah yang jahil (bodoh) yang  banyak ibadahnya……”.

Aku sudah lupa lanjutan dari perkataan ustadz itu. Namun aku masih ingat maksud dari perkataannya. Semenjak itu aku sangat berkeinginan untuk membahasnya dalam sebuah risalah tersendiri. Dan alhamdulillah sekaranglah saatnya.

 

>>> Tukang Es yang Cerdas

Seperti apa sih tukang es yang cerdas? Hmm…yang jelas, tukang es yang cerdas bukanlah tukang es yang berjualan di tengah-tengah kiburan. Bukan pula tukang es yang berjualan di tengah malam saat datang rintik hujan. Tapi, menurutku,  tukang es yang cerdas adalah cara berjualannya seperti Bang Ronto. Nah lho, siapa tuh Bang Ronto ?

Hehehe….kenalin nih. Bang Ronto tukang es yang biasa mangkal di depan sekolahku waktu SD. Menurutku dia adalah seorang tukang es yang cerdas. Kok bisa? Iya, soalnya dia tahu kapan bagaimana membuat es yang berkualitas sehingga disukai oleh anak-anak sekolah. Waktu itu dia jualan es sirup yang dicampur dengan es dan sedikit kacang. Waktu aku masih SD harga esnya segelas Cuma jigoh alias 25 perak.

Kemudian Bang Ronto juga tahu kapan dan di mana dia harus berjualan agar esnya. Dia berjualan diwaktu siang saat orang-orang memang butuh yang seger-seger. Dan dia memilih berjualan di sekolahan karena memang di sanalah tempat banyak pembeli berkeliaran. Kita tahu sendiri kan, sekolahan itu kayak gimana. Apalagi sekolahan SD yang anak-anaknya pada seneng jajan.  Bang Ronto pun cerdas memilih posisi jualan. Dia mangkal di sebelah tukang cireng. Jadi biasanya, kalau anak-anak sekolah habis makan cireng, mereka akan beli es karena ngerasa kepedesan.

Selain berjualan es, dia juga berjualan mainan anak-anak. Jadi dia dapat dua pemasukan. Dari hasil jualan es dan jualan mainan.

Nah, dari Bang Ronto ini, kita bisa menarik sedikit kesimpulan bahwa pedagang es yang cerdas adalah yang minimal memeliki 4 ciri:

1. Bisa membuat es yang berkualitas.

2. Bisa memilih waktu yang tepat untuk berjualan.

3. Bisa memilih tempat yang tepat untuk berjualan.

4. Bisa mencari penghasilan tambahan selain dari jualan es.

Jika seorang pedagang es memiliki 4 ciri ini, insya Alloh dia akan mendapatkan untung besar. Ya seperti Bang Ronto yang esnya selalu laris manis diserbu anak-anak SD.

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Sampai sini kalian tentu sudah faham kenapa tulisan ini aku beri judul seperti di atas, bukan? Supaya  kita mendapatkan pahala besar dari ibadah yang kita lakukan, maka hendaknya kita menjadi seorang yang cerdas. Hendaknya dalam beribdah kita memperhatikan 4 hal juga seperti tukan es yang cerdas. Apa itu?

1. Bisa melakukan ibadah yang berkualitas.

2. Bisa memilih waktu yang tepat untuk beribadah.

3. Bisa memilih tempat yang tepat untuk beribadah.

4. Bisa mencari pahala tambahan dari selain ibadah yang sedang kita lakukan.

Agar lebih jelas, mari kita bahas satu persatu.

 

>>> Ibadah yang Berkualitas.

Seperti apakah ibadah yang berkulitas? Ya, seperti apakah ibadah yang berkualitas itu? Kalau es yang berkulitas adalah es yang rasanya enak dan bisa diterima oleh konsumen. Maka,ibadah yang berkulitas adalah ibadah yang bagus yang membuahkan penerimaan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Para ulama kita telah menjelaskan bahwa ibadah yang berkualitas adalah ibadah yang baik yang  padanya terpenuhi dua syarat: Ikhlas dan Mutaba’ah alias sesuai dengan yang diajarkan oleh Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan kedua syarat ini mutlak harus ada dalam setiap ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba. Jika hilang salah satunya, maka ibadah itu tidak akan diterima sebanyak apapun ibadah itu dilakukan.

Kedua syarat ini ibarat dua sayap burung. Jika salah satunya hilang, maka burung tidak akan bisa terbang. Atau, ibarat dua sisi mata uang logam. Jika salah satunya tidak ada, maka uang itu tidak bisa digunakan untuk berjual-beli.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Al-Fudhail bin Iyadh rohimahulloh berkata bahwa maksud dari “yang lebih baik amalnya” adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Sebab, suatu amal jika dilakukan dengan ikhlas tapi tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu juga apabila suatu amal itu benar tapi tidak ikhlas, maka akan ditolak, kecuali amal tersebut dilakukan dengan ikhlas dan benar. Suatu amal dikatakan ikhlas jika dilakukan hanya demi Alloh, sedangkan suatu amal dikatakan benar jika sesuai dengan sunnah Rosululloh.” (Ditakhrij oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (8/95) dan disebutkan oleh Al-Baghawi dalam tafsirnya (4/369))

Ayat ini menunjukkan bahwa keutamaan suatu amal berdasarkan pada kualitas pelaksanaan, bukan berdasarkan pada kuantitasnya. Oleh karena itu Muhamma bin ‘Ajlan berkata saat saat menafsirkan ayat ini, “Alloh tidak mengatakan paling banyak amalnya.” (Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (8/176)).

(Bersambung insya Alloh……)

 

Bogor, 19 Oktober 2011

Ba’da Isya 20:22

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

Bahan Bacaan:

–          Amalan Apakah yang Paling Utama, Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Darus Sunnah Jakarta, Cetakan Pertama – September 2009.

 

 

 

 

BERIBADAHLAH SEPERTI TUKANG ES YANG CERDAS (BAG-2)

 

>>> Mencari Waktu yang Istimewa

Diantara bentuk kasih sayang Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya ialah diberikannya waktu-waktu khusus kepada mereka yang seandainya mereka beribadah pada waktu itu dengan ibadah yang cocok, maka mereka akan mendapatkan banyak sekali keutamaan. Keutamaan yang didapat bisa berupa pahala yang melimpah ataupun yang lainnya, seperti lebih mendatang kekhusyu’an dan lebih berpeluang besarnya ibadah itu diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk mencari waktu-waktu istimewa itu.

Misalnya saja sholat sunnah mutlak (sholat sunnah yang tidak ditentukan waktunya dan tidak ditentukan sebabnya. Jadi kita niatkan untuk sholat saja). Sholat ini boleh dilakukan kapan saja , selain waktu yang terlarang. Akan tetapi , jika dilakukan pada malam hari lebih utama daripada di siang hari berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

“Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan. “(QS. Al-Muzzammil: 6)

Adh-Dhahhak berkata, “Makna  ‘asyaddu wath-an’ adalah membaca Al-Qur’an di malam hari lebih terasa mantap dan lebih berkesan daripada di siang hari.” (Tafsir Ath-Thabari (12/284))

Ath-Thabari berkata, “Maknanya adalah bangun di malam hari (untuk sholat) lebih terasa mentap dan lebih berkesan di hati daripada siang hari.” (Idem (12/283))

Amru bin Al-‘Ash rhodiyallohu ‘anhu berkata, “Satu rekaat di malam hari lebih baik daripada sepuluh rekaat di siang hari.” (Ditakhrij oleh Al-Marwazi dalam Qiyamul Lail. Lihat: Mukhtshar Qiyamul Lail, oleh: Al-Muqrizi, hal. 63).

Kemudian, beristighfar lebih utama dilakukan di akhir malam, berdasarkan dalil firman Alloh Subhanhu wa Ta’ala:

“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Alloh).” (QS. Adz-Dzariyat: 18) dan,

“Dan orang-orang yang memohon ampunan pada akhir malam.” (QS. Ali-Imran:17)

Dan masih banyak lagi amal ibadah tertentu yang jika dilakukan pada waktu istimewa maka akan membuahkan pahala dan keutamaan yang banyak lagi besar. Dintaranya:

  • Berdzikir di waktu pagi dan petang,
  • berdoa pada waktu menjelang subuh,
  • berdo’a setelah Ashar hingga terbenamnya matahari di hari Jum’at,
  • bedo’a pada hari Arafah,
  • berdo’a pada waktu antara adzan dan iqomah,
  • dll.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“(HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403).).

 

>>> Mencari Tempat yang Istimewa

Diantara bentuk kasih sayang Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya juga  ialah diberikannya tempat-tempat  khusus kepada mereka yang seandainya mereka beribadah di tempat  itu dengan ibadah yang cocok, maka mereka akan mendapatkan banyak sekali keutamaan.

Misalnya saja, bagi seorang laki-laki, sholat wajib lima waktu lebih utama dikerjakan di masjid. Berdasarkan dalil yang sangat banyak diantaranya:

“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dilipat gandakan dibandingkan shalat di rumahnya atau di pasar sebanyak 25 kali lipat.” (HR. Al-Bukhari)

Adapun sholat sunnah lebih utama dikerjakan di rumah, berdasarkan hadits, “Sesungguhnya sebaik-baiknya sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat wajib.” (HR. Muslim)

Kemudian, apabila seseorang hendak sholat berjama’ah di masjid, maka lebih utama dia berwudhu terlebih dahulu di rumah agar mendapatkan banyak keutamaan. Hal ini berdasarkan hadits:

“Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa” (HR. Al Tirmidzi).

Kawan-ka wan yang ingin mendapatkan penjelasan lengkap tentang hal ini, silakan baca buku “Amalan Apakah yang Paling Utama?”.

 

>>> Sambil Menyelam Minum Air

Kawan-kawan tentu tahu kan peribahasa “Sambil Menyelam Minum Air” ? Kurang lebih artinya: Sambil kita melakukan sesuatu, kita juga dapat mempelajari atau mendapat manfaat lain dari apa yang kita lakukan.

Nah, peribahasa ini bisa juga kita pakai dalam melaksanakan ibadah agar kita mendapatkan pahala yang berlimpah ruah. Sambil kita melakukan sebuah ibadah, kita juga bisa sekalian melakukan ibadah lainnya. Contohnya gimana, bang?

Begini. Misalnya, sambil kita sholat, kita juga bisa sambil berdoa di saat sujud atau setelah tasyahud sebelum salam. Dan perlu kalian ketahui bahwa kedua waktu itu termasuk waktu yang mustajab untuk berdo’a (Silakan baca penjelasan lengkapnya di buku Do’a dan Wirid karya Al-Ustadz Yazid Jawas hafizahullah).

Contoh lainnya, sambil kita berangkat sholat berjama’ah ke masjid, kita juga bisa melakukan amalan-amalan sunnah  sekalian, seperti membaca do’a menuju masjid, berdzikir sambil melangkahkan kaki, memberi salam kepada orang Muslim yang kita temui, bermuka manis dan tersenyum kepada orang-orang yang berjumpa dengan kita, menunggu waktu sholat dengan dzikir, do’a, membaca al-Qur’an, dll.

Intinya sih kita maksimalkan waktu yang kita miliki dengan berbagai macam ibadah sebanyak yang kita mampu untuk melakukannya. Jangan sampai waktu kita terbuang sia-sia.

 

>>> Seorang Alim VS Abid yang Jahil

Dari uraian singkat di atas, kita tentu kini faham dengan maksud dari perkataan ustadz yang aku sampaikan di awal tulisan ini. Seorang yang alim, dengan ibadahnya yang sedikit dan singkat bisa mendapatkan pahala dan keutamaan yang besar karena dia tahu bagaimana beribadah yang berkualitas dan tahu kapan dan di mana dia harus beribadah untuk meraih keutamaan.

Berbeda halnya dengan seorang ahli ibadah yang bodoh. Mungkin kita melihat dia banyak sekali melakukan ibadah. Namun bisa jadi  ibadahnya itu sia-sia dan tidak membuahkan pahala sama sekali karena dia melakukan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa Sallam alias ibadahnya nggak berkalitas.

Kawan….

Kalau begitu, kalian pilih mana: Jadi seorang yang alim atau seorang ahli ibadah yang jahil ? Jika kalian ingin menjadi seorang yang ‘alim, maka mari mulai sekarang kita belajar. Mari kita perbaiki kualitas ibadah kita. Mari kita cari waktu dan tempat istimewa untuk beribadah. Semoga kita dimudahkan Alloh untuk menjadi hamba yang berilmu.

 

 

>>> Sebuah Renungan

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh….

Tahukah kalian, siapakah Muslim yang cerdas itu? Coba simak nih baik-baik…

Ibnu Umar radhiyallohu ‘anhu berkata: “Aku sedang duduk bersama Rasulullah, maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar, lalu ia memberi salam kepada Nabi seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama? Beliau menjawab:

أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

‘Yang paling baik akhlaknya.’

Ia bertanya lagi, ‘Mukmin seperti apakah yang paling cerdas? Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولئِكَ اْلأَكْيَاسُ

“Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah (4259) dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.)

 

Ya, diantara ciri Muslim yang cerdas adalah mereka yang mau mempersiapkan diri untuk khidupa akhirat.

Kawan….

Kita tentu tahu bawah di akhirat kelak amalan kita akan ditimbang. Jika amal baik kita yang lebih berat, insya Alloh kita akan masuk Surga. Namun jika sebaliknya, maka kita akan dimasukkan ke dalam api yang menyala-nyala.

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?  (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qori’ah:6-11))

Kawan…

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah: Apakah kita sudah merasa yakin, saat nyawa kita dicabut, amalan kebaikan kita pada waktu itu lebih banyak daripada amal keburukan ???

Kawan…

Sebelum terlambat….Sebelum malaikat maut datang menjemput….Marilah kita perbanyak amal ibadah di dunia ini. Kita kumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Mudah-mudahan kita dimasukkan Alloh ke dalam golongan orang-orang yang berat timbangan amal kebaikannya. Sehingga kita bisa tersenyum bangga masuk ke dalam Surga-Nya. Amiin ya Robb…

 

Bogor, 20 Oktober 2011

Ba’da Subuh, 07: 06

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

(Semoga Alloh memasukkan penulis ke dalam jajaran orang-orang yang beribadah di atas landasan ilmu. Dan semoga Alloh menghapuskan kejahilan dari dalam diri penulis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: