SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-22 & 23, LENGKAP)

Sebelum kita mulai obrolan, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepada kawan-kawan semua.

Pertama, jika kawan-kawan mendapati kebaikan pada tulisanku, aku persilakan untuk menyebarkannya kepada orang lain. Mudah-mudahan ini bisa menjadi amal jariyah untuk kita. Namun, jika kawan-kawan mendapati kekeliruan dalam tulisanku, aku harap kawan-kawan berkenan untuk meluruskannya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari.

Kedua, aku harap kawan-kawan tidak pelit untuk mendoakan kebaikan kepada penulis. Jika kawan-kawan berdo’a di keheningan malam, janganlah lupa untuk menyelipkan nama penulis di dalam do’a kawan-kawan. Semoga kita semua bisa berkumpul kembali di akhirat kelak dalam sebuah negeri kebahagiaan yang tiada penderitaan lagi di dalamnya. Amiin ya Alloh ya Robbal ‘aalamiin.

Yup, sekarang kita mulai perbincangan kita.

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Jika kita melihat kepada apa yang ada di sekeliling kita, niscaya akan kita dapati begitu banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik. Dari sesuatu yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan ada saja mutiara-mutiara berkilau yang bisa kita jadikan perhiasan dalam hidup ini. Bebuahan ranum menyembul dengan lebatnya di pohon-pohon hikmah yang tumbuh subur di belantara peristiwa. Begitu ranum dan segar sehingga bisa membuat sehat orang yang memakannya. Maka pantaslah kiranya jika orang-orang yang mau mengambil pelajaran dari alam ini diberi predikat sebagai orang-orang yang berakal cerdas.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ َلآَيَاتٍ ِلأُولِي الأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran:190)

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata, “Bahwasanya pada penciptaan langit dan bumi (dan apa-apa yang ada pada keduanya), serta bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal sempurna, yang mengenal sesuatu dengan hakikatnya, dan bukan seperti orang-orang yang bisu, tuli, dan buta yang disifati oleh Alloh dengan,

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ . وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Alloh) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Alloh, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Alloh (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105 dan 106)

Kemudian beliau berkata, “Kemudian Alloh menjelaskan tentang sifat orang-orang yang berakal tersebut dalam ayat-ayat berikutnya:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

 

Kawan-kawan yang aku cintai karena Alloh…

Pada kesempatan kali ini aku ingin mengajak kalian untuk mengambil  pelajaran dari sebuah perlombaan yang biasa kita saksikan pada acara 17 Agutusan. Kalian tentu tahu kan lomba panjat pinang. Ada dua hikmah yang bisa kita petik dari lomba ini untuk kita gunakan dalam rangka melanggengkan keharmonisan rumah tangga.

Pada pertandingan panjat pinang, biasanya yang mengikuti lomba ada dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 atau 6 orang. Mmm….ya sekitar segitulah. Tentu saja, masing-masing anggota kelompok berat badannya beda-beda. Dan kita tahu betul bahwa untuk bisa memenangkan pertandingan, dibutuhkan kekompakan. Hanya kelompok yang kompaklah yang menang. Right?!

Menurut kawan-kawan, gimana caranya supaya sebuah kelompok bisa memenangkan pertandingan?  Strategi apa yang kira-kira tepat untuk digunakan? Silakan kawan-kawan berfikir sejenak.

Kalau menurut kawanku, caranya ialah dengan memposisikan anggota kelompok yang berbadan paling besar dan paling kuat di posisi paling bawah. Dia menjadi pijakan anggota kelompok lain yang badannya lebih ringan. Dan begitu seterusnya hingga ketas. Jadi yang paling atas adalah yang berat badannya paling ringan.

Hmmm…..sepertinya  memang inilah cara yang paling tepat untuk bisa memenangkan pertandingan dalam lomba panjat pinang. Atau mungkin kawan-kawan ada cara lain yang lebih tepat?

Nah, sekarang, pelajaran apa yang kira-kira bisa kita ambil dari pertandingan panjat pinang ini? Aku kira kawan-kawan semua tentu sudah bisa memetik hikmahnya, bukan? Yang pertama, untuk meraih kemenangan terkadang butuh sikap mengalah. Dengan mengalah bukan berarti kita kalah. Mengalah hanyalah proses istirahat sesaat untuk menarik nafas agar bisa berlari lebih kencang hingga bisa sampai ke garis finish dan memenangkan pertandingan.

Kemudian, pelajaran keduanya adalah: Untuk meraih kemenangan, sesama anggota tim harus saling memberi dukungan. Tidak boleh egois. Sebuah tim, jika diisi oleh orang-orang yang egois, hampir bisa dipastikan mereka akan selalu kalah dalam setiap pertandingan. Kecuali jika lawannya adalah tim yang anggotanya memiliki sifat sama.

Jadi inilah jurus ke-22 dan 23 itu. Jurus ke-22: Mengalah untuk menang, dan jurus ke-23: Saling memberi dukungan. Sekarang mari kita bahas satu persatu.

 

>>> Mengalah untuk Menang

Manusia diciptakan Alloh dengan sifat yang berbeda-beda. Meskipun ada yang diciptakan kembar, namun tetap saja mereka memiliki sifat yang berbeda. Dan  yang pasti, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Selalu saja ada sisi-sisi kurangnya. Selalu saja ada kesalahan-kesalahan yang dibuatnya.

“Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat”. [Hadits Hasan Riwayat Ahmad, Tirmidzi, dll.)

 

(Bersambung….)

 

Bogor, 29 Oktober 2011

Waktu Sahur, 03:49

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

 

 

 

SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-22 & 23)

>>> Mengalah untuk Menang

Manusia diciptakan Alloh dengan sifat yang berbeda-beda. Meskipun ada yang diciptakan kembar, namun tetap saja mereka memiliki sifat yang berbeda. Dan  yang pasti, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Selalu saja ada sisi-sisi kurangnya. Selalu saja ada kesalahan-kesalahan yang dibuatnya.

“Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat”. [Hadits Hasan Riwayat Ahmad, Tirmidzi, dll.)

Pernah suatu ketika seorang suami melihat istrinya sedang memarahi anaknya yang masih kecil. Melihat hal itu tentu saja suaminya tidak senang. Dia pun berkehendak untuk menegur istrinya. Namun, sebelum dia melaksanakan maksudnya itu, dia teringat bahwa tanggal-tangal segini biasanya istrinya rutin kedatangan “tamu bulanan”.

“Hmm…ya ya..”, ucapnya dalam hati, “pantas saja istriku dari tadi ngomel-ngomel terus ke anak..”.

Akhirnya, dengan lembut dia memanggil buah hatinya.

“Sini nak, main sama ayah. Bunda sekadang sedang capek. Nanti kalau bunda sudah tidak capek, kita main lagi sama bunda”.

Setanpun akhirnya kecewa karena tidak jadi melihat drama adu mulut sepasang suami istri.

Ya, kehidupan rumah tangga terkadang memang tak semudah dan semulus yang dibayangkan. Seshalih apapun suami-istri, tetap saja dia adalah manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Seorang istri yang penyabar, bisa saja berubah menjadi sosok wanita yang emosional ketika “tamunya” datang. Dan, seorang suami yang santun, bisa gampang naik darah ketika lelah seharian bekerj dan mumet pikirannya karena dikejar-kejar penagih hutang.

Nah, ketika muncul hal-hal yang tak terduga seperti ini, butuh untuk sikap saling mengalah. Sekali lagi, mengalah bukan berarti kalah. Mengalah hanyalah proses istirahat sesaat untuk menarik nafas agar bisa berlari lebih kencang hingga bisa sampai ke garis finish dan memenangkan pertandingan.

Aku pernah mendengar cerita tentang seorang istri yang punya suami baik-baik. Suaminya sangat sayang kepadanya. Namun kemudian, karena ada permasalahan hidup yang membelit diri sang suami, maka suaminya ini berubah. Sikapnya tak lagi seperti dulu ketika awal-awal menikah. Dia gampang marah. Kadang tak segan-segan main fisik.

Akan tetapi sang istri tetap bersabar. Dia tetap mengalah meski dia bukan di posisi yang salah. Akhirnya, dengan sikapnya ini, serta diiringi dengan doa yang terus terpanjat, suaminya kemudian bisa kembali berubah seperti semula. Terbuktilah kiranya bahwa mengalah memang bisa memberikan pengaruh yang luar biasa untuk mengharminiskan rumah tangga.

Untuk sementara perbincangan tentang “mengalah” aku cukupkan dulu. Lain waktu aku sambung lagi dengan menambahkan kisah-kisah yang menarik, insya Alloh.

Wallohu a’lam.

 

Bogor, 30 Oktober 2011

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

 

SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE- 22 & 23, SELESAI)

>>> Saling Memberi Dukungan

Untuk jurus yang satu ini, sangat indah kiranya jika kita bisa memetik bebuahan yang ranum dari kehidupan rumah tangga Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dengan istri pertama beliau Khodijah Rhodiyallohu ‘anha. Sebab, di sana kita bisa melihat betapa dahsyatnya pengaruh dukungan seorang istri kepada suaminya. Begitu membekas dan terukir kokoh di dalam sanubari sang suami. Hingga tak mungkin bisa terhapuskan oleh hempasan gelombang waktu sekalipun.

Kita tentu mengetahui dari sejarah, betapa besar jasa Khodijah kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Dan inilah yang membuat Rosululloh sangat mencintai dan menghargainya. Sebagai buktinya, beliau tidak menikah dengan wanita lain ketika khadijah masih hidup.

“Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Az-Zuhri dari Urwah radiyallahu anhu bahwa Aisyah radiyallahu anha berkata:

“Nabi Shalallahu alaihi wassalam tidak menikahi wanita lain sampai khadijah wafat”( Fathul Baari 7:517)

Hal ini tidak diperselisihkan di kalangan ahli ilmu dan sejarawan yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau.

Mengapa sangat agung kedudukan Khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau shalallahu alaihi wassalam? Karena ia telah memberikan pengorbanan dan jasa yang sangat besar dalam kehidupan suaminya tercinta. Ia tak kenal  lelah dan letih begitu setia mendampingi  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam berdakwah mengenalkan islam pada masyarakat Quraisy waktu itu, sehingga sang suami mendapat berbagai cobaan, ujian dan kesulitan dalam hidupnya. Ia korbankan harta bendanya untuk sang suami tercinta di jalan dakwahnya, memberikan dukungan, ketenangan dan kasih sayang yang melimpah ruah dalam rumah tangganya. Mendidik anak-anak beliau sehingga menjadi penyejuk mata bagi keduanya.

Inilah sosok istri teladan yang patut  bagi setiap muslimah untuk mencontohnya dan mempersembahkannya untuk suami tercinta sehingga rumah tangga setiap muslim menjadi kokoh dan kuat bangunannya.Wajarlah bila Allah Azza wa jalla memberikan kabar gembira atas jasa-jasa beliau ini berupa istana di surga.

Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwa suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, dia berkata :

”Wahai Rasulullah, itu Khadijah telah datang membawa makanan atau minuman. Kalau sudah tiba, sampaikan salam kepadanya dari Allah dan dariku, dan berilah kabar gembira bahwa telah di sediakan untuknya sebuah istana di surga yang terbuat dari intan permata dan di istana tersebut tidak ada keributan maupun keletihan”( HR. Bukhari no.3820 dan Muslim no.1671)

Selain itu atas jasa besar Khadijah radiyallahu anha yang sangat tulus dalam memperjuangkan islam akhirnya beliaupun berhak menyandang gelar sebagai wanita yang terbaik pada umat ini. Dari Ali bin Abu Thalib Radiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam bersabda:

“Wanita mereka yang terbaik adalah Maryam (yakni kepada umat yang didalamnya terdapat Maryam)dan wanita umat ini yang terbaik adalah Khadijah “(HR.Bukhari no.3815 Fathul Baari 7/512 dan Muslim no.1670)

Jasa istrinya selalu beliau kenang sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidupnya. Beliau begitu setia, santun, memiliki pergaulan yang baik dengan istrinya, menjaga kehormatan hidup istrinya baik di saat hidup maupun setelah tiada serta memuliakan kerabat dan teman-temannya. Cintanya tak pernah lekang di makan usia bahkan beliau tetap setia mencintainya , senantiasa menyebut namanya. Betapa indahnya!.” [Diringkas dari: http://jilbab.or.id/archives/654-inilah-cinta-dan-kesetiaan/]

Demikianlah. Begitu dahsyat memang pengaruh dukungan seseorang kepada pasangannya dalam kehidupan rumah tangga. Aku rasa, satu kisah ini saja sudah cukup untuk membuktikan hal itu. Dan kiranya, sudah cukup pula  untuk memberi inspirasi kepada pasutri yang ingin rumah tangganya harmonis selama-lamanya. Wallohu a’lam.

 

Bogor 30 Oktober 2011

Ba’da Ashar yang gerimis, 16:59

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: