Shalihah yang Ditolong Allah (Serial Risalah Cinta untuk Kaum Wanita_Bag 1)

Beberapa tahun silam, aku mendapatkan hadiah kutaib (kitab ukuran saku berbahasa Arab) dari kawan-kawan yang kuliah di LIPIA Jakarta. Ada beberapa kutaib yang aku dapat. Diantaranya ada satu kutaib yang khusus membahas tentang wanita. Lebih tepatnya nasihat untuk kaum wanita.

Judul kutaibnya  خمسون زهرة من حقل النصح   (ayo, siapa yang bisa ngasih harokat? Ntar dikasih hadiah deh…he3….hadiah doa…..). Artinya kurang lebih “50 Bunga dari Taman Nasihat”. Sesuai judulnya, kutaib ini berisikan 50 nasihat yang ditujukan khusus untuk kaum wanita.

Menurutku, setelah aku baca isinya, nasihatnya sungguh sangat bagus. Jika diamalkan oleh para wanita, insya Alloh aku yakin mereka bakalan berubah menjadi sosok wanita shalihah yang layak untuk menempati Surga-Nya.

Pada kesempatan kali ini aku hanya ingin menyampaikan sebuah kisah menarik yang dibawakan oleh penulis di awal tulisannya ini. Sebuah kisah tentang wanita shalihah yang diselamatkan Allah dari musibah besar yang hampir saja menimpanya. Begini ceritanya…

Ada seorang wanita shalihah nan bertakwa. Dia sangat mencintai kebaikan. Tak jemu-jemu lisannya berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak mengizinkan ucapan yang buruk keluar dari mulutnya. Jika disebut-sebut tentang Neraka, diapun merasakan takut dan hatinya bergetar. Diapun bersegera memohon kepada Allah perlindungan dari siksa Neraka. Jika disebut-sebut tentang Surga, diapun merasa rindu untuk segera memasukinya. Bersegeralah dia menengadahkan tangan untuk berdoa kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan penduduk Surga. Dia mencintai orang-orang di sekitarnya, dan mereka pun mencintainya. Dia pun sangat lembut kepada orang-orang, dan mereka pun berlaku lembut juga kepadanya. Tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian pahanya. Serta merta dia olesi bagian yang sakit dengan minyak dan juga mengompresnya. Namun rasa sakitnya terus bertambah parah.

Setelah mendatangi banyak rumah sakit dan bertemu dengan banyak dokter, akhirnya suaminya membawanya berobat ke London. Di sana, di sebuah rumah sakit besar, setelah menjalani pemeriksaan dengan teliti, para dokter melihat ada pembusukan di darah. Mereka pun kemudian mencari sumber pembusukan ini yang menjadi sebab rasa sakit di bagian paha. Setelah diperiksa, akhirnya disimpulkan bahwa wanita ini menderita kanker di bagian paha yang merupakan sebab timbulnya rasa sakit dan pembusukan di darah. Kesimpulannya, kaki wanita ini harus segera diamputasi dari bagian atas paha agar sakitnya tidak menyebar.

Di ruang operasi, wanita ini telah pasrah dengan ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun lisannya tak pernah berhenti dari berdzikir kepada Allah. Dan dia bernar-benar berlindung dan tunduk hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semua dokter telah hadir di ruangan itu (karena operasi amputasi termasuk operasi besar). Pisau bedah pun lalu diletakkan di mesin pemotong. Wanita itu didekatkan. Kemudian dengan teliti ditetapkan lah daerah yang akan dipotong. Di tengah kengerian dan ketegangan, arus listrik pun kemudian dialirkan. Hampir saja pisau bedah itu bergerak, namun tiba-tiba pisau itu patah. Kemudian digantilah dengan pisau yang baru. Namun lagi-lagi pisau itu patah hingga berulang sampai tiga kali. Dan ini baru pertama kalinya dalam sejarah operasi amputasi terjadi yang seperti ini. Tergambarlah rona keheranan di wajah para dokter. Mereka saling beradu pandang.  Kemudian mereka menepi sebentar untuk bermusyawarah. Akhirnya diputuskan untuk tidak jadi mengampuasi kaki si wanita ini. Mereka hanya melakukan pembedahan biasa.

Duhai alangkah ngerinya! Pisau bedah hampir mencapai bagian tengah perut paha wanita ini. Dengan mata kepala sendiri, para dokter melihat kapas yang membusuk dengan rupa yang sangat tidak enak dilihat. Setelah mengangkatnya, mereka pun kemudian membersihkan daerah operasi dan mensterilkannya. Hilanglah sudah semua rasa sakit yang diderita si wanita ini hingga tak tersisa sedikitpun.

Setelah siuman, si wanita ini tidak lagi merasakan rasa sakit di kakinya. Kemudian dia melihat suaminya sedang berbincang-bincang dengan para dokter yang baru saja hilang ketegangan dari wajah-wajah mereka. Mereka bertanya kepada suaminya, apakah dahulu si wanita pernah menjalani operasi di bagian paha. Para dokter kemudian mengetahui dari wanita ini dan suaminya bahwa dahulu si wanita pernah mengalami kecelakaan lalu lintas, dan mendapat luka yang serius di bagian paha. Para dokter kemudian berkata dengan satu suara bahwa ini semua adalah petolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Betapa gembiranya wanita ini. Hilanglah mimpi buruk yang selama ini menghantui dirinya. Dia merasa tidak akan pernah berjalan dengan satu kaki sebaimana selama ini mengganggu fikirannya. Dia pun kemudian memuji Allah dan bersyukur atas semua nikmat ini. Dia semakin merasakan kedekatan dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada dirinya.

Ukhtiy Muslimah…

Kisah wanita ini hanyalah satu contoh dari sekian banyak contoh orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Inilah contoh mereka yang senantiasa menjalankan perintah Allah, mendahulukan keridhoan Allah atas keridhoan selain-Nya, serta memenuhi kecintaan Allah ke dalam hatinya. Mereka senantiasa berdzikir kepada Allah dan tidak pernah jemu melakukannya. Dzikir kepada Allah bagi mereka telah menjadi senandung merdu sehingga lisan-lisan mereka tidak pernah bosan untuk melantunkannya. Bahkan terus menerus diulang-ulang, dan mereka merasakan manis dan ledzatnya dzikir  itu di dalam hatinya.

Mereka menerima perintah Allah dengan penuh kerinduan. Mereka menjalankan hukum-hukum Allah dengan penuh kecintaan. Sehingga Allah pun tidak akan pernah meninggalkan mereka sendiri. Bahkan senantiasa menolong dan membantu mereka dengan kekuatan-Nya. Dengan keperkasaan-Nya, Allah mencegah mereka dari mara bahaya. Setelah itu, Allah memberi mereka anugerah keridhoan dan memasukkan mereka ke dalam Surga-Nya yang penuh kenikmatan.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu ..” (Al-Baqarah: 152)

Wallahu a’lam.

 

Bogor, 10 Nov 2011

Muhammad Mujianto Abdul  Jabbar al-Batawie

 

*diterjemahkan secara bebas dari hal 2-3*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: