SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-24)

Kira-kira apa yang membuat orang rela mengantri panjang hanya untuk mendapatkan sebungkus-dua bungkus pisang goreng ?

Kira-kira apa yang membuat orang rela jauh-jauh datang ke sebuah toko hanya untuk membeli sepatu di toko itu, padahal di dekat rumahnya banyak terdapat  toko sepatu?

Kira-kira apa yang memuat orang rela datang ke tukang cukur A yang jaraknya lumayan jauh, padahal di dekat rumahnya ada tukang cukur B, C, dan D ?

Kira-kira apa yang membuat seorang pemilik kendaraan memilih untuk hanya mengunjungi bengkel X, padahal masih banyak bengkel-bengkel yang lain ?

Jawaban paling mudah adalah KEPERCAYAAN. Ya, sebuah kepercayaan mampu membuat seseorang lengket dengan “sesuatu”. KEPERCAYAAN mampu membuat seseorang betah berlama-lama dengan yang dipercayainya.

Nah, jika memang demikian kedaannya, kenapa tidak kita gunakan saja jurus KEPERCAYAAN untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Insya Allah hasilnya akan dahsyat! Jadi, inilah jurus ke-24 itu: BERIKAN KEPERCAYAAN KEPADA PASANGAN ANDA!

 

>>> Jujurlah Padaku!

Tentu saja. Kunci utama agar orang mau percaya dengan kita adalah “kejujuran”. Meski kita berprilaku baik, berkata lembut, suka membantu, namun kalau kita tidak jujur orang tidak akan mau percaya dengan kita.

Kalau dalam bisnis, pedagang yang tidak jujur akan ditinggalkan pelanggan. Dalam rumah tangga pun begitu. Pasangan yang tidak jujur, cepat atau lambat akan ditinggalkan oleh pasangannya.

Percuma saja seorang suami memberikan pelayanan baik kepada istrinya kalau ternyata dia tidak jujur. Begitupun sebaliknya. Terkadang meskipun seorang pasangan belum bisa memberikan pelayanan terbaik, tapi kalau dia dikenal sosok yang jujur di mata pasanganya, insya Allah pasangannya itu akan tetap memberikan kepercayaan kepadanya.

Ada seorang istri yang mengaku sering mendapatkan prilaku kasar dari suaminya. Walaupun begitu dia masih bisa bertahan. Dia masih terus berusaha mencintai suaminya. Namun setelah dia tahu  suaminya selingkuh, si istri pun tidak bisa terima. Dia merasa dikhianati. Hatinya terasa disakiti. Akhirnya, mereka pun bercerai.

Jadi, kejujuran adalah syarat mutlak yang harus ada jika rumah tangga ingin harmonis. Namun bukan berarti aku menyuruh setiap pasutri untuk mengungkapkan semuanya ke pasagan mereka. Harus ditimbang maslahat mudharatnya. Jika dengan diungkapkan justru bisa menimbulkan bahaya, lebih baik disimpan saja.

Contohnya, tidak perlu seorang suami –misalnya- menceritakan pengalaman hidup yang kelam setelah Allah menutupnya. Janganlah seorang suami sampai berkata, “Oh, aku dulu pernah pacaran sama si Fulanah….aku pernah *&%$$$ sama dia……aku,,,,,,,”. Jangan ! Tutup sudah rapat-rapat. Jangan diungkit-ungkit lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Jika Anda masih bingung, silakan konsultasikan kepada para Ustadz yang terpercaya. Nanti mereka akan menjelaskan perkara apa saja yang boleh diceritakan dan yang tidak.

 

>>> Mulailah dari yang Terkecil

Untuk membuktikan kejujuran, cobalah dimulai dari hal-hal yang terlihat sepele. Misalnya, seorang suami menjelaskan semua nomer HP yang ada di-phonebook HP-nya kepada sang istri. Terutama nomoer-nomer kawan wanitanya. Tujuannya ialah untuk menghilangkan kecurigaan yang mungkin saja ada di dalam hati sang istri. Apalagi kalau istrinya itu orangnya cemburuan.

Trus, sekali waktu cobalah untuk saling berukar HP. Istri pakai HP suami, dan suami pakai HP istri. Insya Allah hal ini bisa memberi pengaruh yang cukup dahsyat dalam membangun kepercayaan dalam kehidupan berumah tangga.

Kemudian, untuk sang istri, cobalah sekali waktu (atau setiap bulan juga nggak apa-apa bila tidak merepotkan) untuk memberikan laporan keuangan rumah tangga ke suaminya. Meskipun suami tidak meminta, namun tidak ada salahnya jika si istri menjelaskan arus keluar masuk keuangan rumah tangga. Insya Allah hal ini bisa semakin membuat sang suami percaya padanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Begitu pula dalam hadits dari Al Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200, hasan shahih).

 

>>> Tunjukkan Kualitas Dirimu!

Setiap laki-laki normal, tentu ingin mempunyai istri yang shalihah. Begitupun sebaliknya. Seorang wanita normal akan sangat ingin mendapatkan suami yang shalih. Maka, tunjukkanlah kepada pasangan Anda bahwa Anda adalah sosok pribadi yang shalih dan shlihah. Insya Allah pasangan Anda akan semakin menaruh kepercayaan kepada Anda. Dia tentu akan semakin yakin bahwa Andalah pasangan yang tepat untuknya.

Ada sebuah kisah menarik yang mungkin bisa dijadikan sebagai sebuah inspirasi. Kisah ini tentang kehidupan rumah tangga seorang yang biasa disebut sebagai ustadz. Sang istri begitu sangat cintanya kepada sang suami. Kenapa ? Karena dia melihat suaminya itu adalah sosok seorang yang shalih di matanya.

Pernah suatu ketika sang istri menceritakan pengalaman indah bersama suaminya. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakannya. Sebuah pengalaman yang menurutku sangat layak ditiru oleh pasutri yang ingin kehidupan rumah tangganya bahagia.

Dia bercerita, katanya dia sering menghabiskan sepertiga malam yang akhirnya bersama sang suami. Mereka bangun di sepertiga malam yang akhir untuk shalat tahajjud. Setelah itu, selesai shalat, dia tempelkan pipinya di bantal paling empuk yang pernah dia pakai yaitu paha suaminya. Sementara sang suami sibuk melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Subhanalloh! Sungguh indah…

Kalau untuk ibadah yang standar –seperti shalat lima waktu, membaca al-Qur’an, dll- ini mah sudah biasa. Apalagi jika suami-istri adalah seorang yang bisa dikatakan agamis. Makanya cari ibadah-ibadah istimewa yang jarang orang –terutama di zaman sekarang ini- yang sanggup melakukannya. Diantaranya yaitu tadi, sholat tahajjud. Terkadang aktivis dakwah sekalipun berat untuk melakukan ibadah yang satu ini. Memang mereka rajin shalat berjama’ah ke masjid, setiap hari baca Qur’an satu juz. Namun, manakah orangnya yang setiap hari bangun di keheningan malam untuk bermunajat kepada Robb-nya?

Aku sangat yakin, jika ada pasutri yang setiap malam bangun untuk shalat tahajjud, kemudian mereka saling mendoakan kebaikan, saling memperdengarkan bacaan al-Qur’an, saling menasihati dalam kebaikan niscaya kehidupan rumah tangga mereka akan harmonis. Kalau tidak percaya, coba saja sendiri!

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ, فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى, فَإِنْ أَبَى نَضَحَت فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.”( HR. Abu Dawud no. 1308 kitab Ash-Shalah, bab Al-Hatstsu ‘ala Qiyamil Lail, An-Nasa`i no. 1609 bab At-Targhib fi Qiyamil Lail dan Ibnu Majah no. 1336 bab Ma Ja`a Fiman Ayqazha Ahlahu Minal Laili, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, 2/303)

Al-Allamah Al-‘Azhim Abadi rahimahullahu menerangkan hadits di atas dengan menyatakan bahwa Allah merahmati seorang lelaki yang shalat tahajjud pada sebagian malam dan ia membangunkan istrinya ataupun wanita yang merupakan mahramnya, baik dengan peringatan atau nasehat hingga si istri pun mengerjakan shalat walau hanya satu raka‘at. Bila istrinya enggan untuk bangun karena kantuk yang sangat atau perasaan malas yang lebih dominan, ia memercikkan air ke wajah istrinya. Yang dimaukan di sini adalah ia berlaku lembut kepada istrinya dan berusaha membangunkannya untuk mengerjakan amalan ketaatan kepada Rabbnya selama memungkinkan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوى

“Tolong menolonglah kalian dalam perbuatan kebaikan dan ketakwaan.”

Hadits ini menunjukkan bolehnya bahkan disenangi memaksa seseorang untuk melakukan amal kebaikan. Sebagaimana hadits ini menerangkan tentang pergaulan yang baik antara suami dengan istrinya, kelembutan yang sempurna, kesesuaian, kecocokan dan kesepakatan di antara keduanya. (Lihat Aunul Ma‘bud, kitab Ash-Shalah, bab Al-Hatstsu ‘ala Qiyamil Lail)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا في الذَّاكِرِيْنَ وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seorang lelaki (suami) membangunkan keluarganya di waktu malam hingga keduanya mengerjakan shalat atau shalat dua rakaat semuanya, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang berzikir.”( HR. Abu Dawud no. 1309 kitab Ash-Shalah, bab Al-Hatstsu ‘ala Qiyamil Lail, dan Ibnu Majah no. 1335 bab Ma Ja`a Fiman Aiqazha Ahlahu Minal Laili. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, Shahih Ibni Majah, dan Al-Misykat no. 1238.)

Dalam riwayat yang dikeluarkan An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ, كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seorang lelaki (suami) bangun di waktu malam dan ia membangunkan istrinya lalu keduanya mengerjakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat/berdzikir kepada Allah.” [Dikutip dari: http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/munakahat-keluarga/menumbuhkan-suasana-ibadah-didalam-rumah/]

Demikian saja. Semoga bermanfa’at.

Wallohu a’lam.

 

Bogor, 11 Nov 2011

Di sepertiga malam yang akhir, 03:25

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

NB.

Sungguh aku sangat senang jika kawan-kawan yang membaca catatanku ini mau untuk mendoakan kebaikan untukku.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: