Suamiku Kok Begini, Sih ?! ((Serial Risalah Cinta untuk Kaum Wanita_Lembar 2_Bag 1)

Sudah sejak lama aku ingin menulis pembahasan ini. Bahkan sangat ingin aku menuliskannya. Namun qodarullah belum berkesempatan untuk itu. Banyak tema lain yang sepertinya harus aku dahulukan.

Tiba-tiba keinginanku jadi semakin kuat setelah membaca Majalah Keluarga Al-Mawaddah terbitan bulan ini (Vol. 45/ Dzulhijjah 1432 H – Oktober/November 2011). Dalam rubrik Konsultasi Keluarga ada sebuah pertanyaan yang sama persis dengan tema yang ingin sekali aku bahas. Pertanyaannya begini.

*******

Beda di Luar, Beda di Dalam

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, ana istri dari suami yang dianggap banyak orang sebagai seorang da’i yang “masya Allah!” akhlaknya. Jika bermuamalah dengan objek dakwah bagus sekali, namun jika bermuamalah dengan keluarga berbeda 180 derajat, terlebih dengan istrinya. Ia seorang yang temperamental dan kasar. Sampai kapan si istri harus bersabar? Apa nasihat Ustadz bagi si istri?

(Ummu Suhailah, Banten, +628132xxxxxxx)

[Majalah Al-Mawaddah, hal. 7]

*******

Aku tiba-tiba saja teringat dengan seseorang. Dia orang yang sudah sangat aku kenal. Kurang lebih dua tahun lamanya aku tinggal satu kos dengannya. Bahkan sempat satu kamar.

Dia seorang yang taat beragama. Setiap ahad pagi selalu rutin mengikuti acara pengajian. Bahkan dia sempat berguru langung dengan ustadz yang mengisi kajian (istilahnya takhoshus). Diapun begitu semangat belajar bahasa Arab. Dan dia bercita-cita bisa kuliah di Universitas Islam Madinah.

Dia dikenal oleh teman-temannya sebagai seorang yang sangat aktif dalam berdakwah. Bahkan dia diangkat menjadi ketua rohis di kelas sekaligus juga ketua organisasi keislaman yang ada di tempat tinggalnya. Intinya, di mata banyak orang, dia adalah sosok seorang pemuda yang alim dan baik. Semangatnya untuk menuntut ilmu agama sangat tinggi.

Entah mengapa tiba-tiba keinginannya untuk menikah begitu menggebu. Padahal kawan-kawan mainnya belum ada yang menikah satupun.  Dan waktu itu memang belum populer istilahnya nikah dini. Masih sangat jarang ada mahasiswa yang menikah sambil kuliah. Tapi dia begitu menggebu ingin menikah.

KEtika tingkat dua kuliah, dia sempat menelpon kawan wanitanya semasa SMA yang berada di kampung halamannya jauh di seberang pulau. Dia bermaksud melamar kawannya itu.

“Apakah ukhti masih kosong? Bagaimana kalau ana mengkhitbah ukhti?”

Demikian kira-kira ucapnya lewat telpon yang masih aku ingat. Kawan wanitanya itu pun setuju. Namun kemudian hubungan mereka putus karena kawanku itu belum siap menikah dalam waktu dekat. Dia masih tersibukkan dengan urusan kuliah.

Tiba-tiba, saat tingkat tiga perkuliahan akan berakhir, aku mendengar kabar dia hendak menikah. Rupanya diam-diam dia sedang proses dengan dengan seorang akhwat via internet. Awalnya mereka berkenalan lewat chatingan. Hingga akhirnya mereka betemu dan setuju untuk menikah.

Setelah menikah dia tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama istrinya. Dia sekarang sedang fokus menyelesaikan tugas akhirnya, karena waktu itu dia sudah tingkat akhir. Saat dia kuliah, istrinya di rumah saja.

Sebagaimana pasutri yang baru menikah pada umumnya, minggu-minggu pertama dijalani dengan indah. Dia kadang sering menceritakan keindahan itu kepada kawan-kawannya sehingga membuat kawan-kawannya jadi kepingin segera mengikuti jejaknya.

Namun beberapa bulan kemudian, terjadilah perubahan drastis. Tiba-tiba saja dia kabur dari rumah meninggalkan istrinya. Rupanya dia sedang bertengkar dengan istrinya. Saking dahsyatnya pertengkaran itu, dia sempat mengucapkan kata “cerai” kepada istrinya.

Menurut cerita yang dia sampaikan kepada kawan-kawannya, sudah beberapa hari mereka bertengkar. Masalahnya dia suka nyinggung-nyinggung poligami. Jelas saja istrinya marah-marah.

Akhirnya pihak keluarga istrinya turun tangan. Mereka pun didamaikan kembali. Hingga akhirnya mereka bisa bersatu kembali. SEtelah lulus, mereka mengontrak rumah di sebuah perumahan. Semenjak itu aku jarang berhubungan lagi dengan dia. Yang aku tahu kemudian dia sudah dikaruniai seorang anak. Dia pun sudah bekerja di sebuah perusahaan yang Islami. Dia pun dikenal sebagai seorang ustadz. Dia suka diminta jadi khotib Jum’at dan sesekali mengisi pengajian. Ya memang aku akui, ilmu keislamannya memang bagus. Dia banyak membaca kitab-kitab para ulama.

Sekitar 6 tahun kemudian, aku kembali tinggal dekat dengannya. Aku dan dia sama-sama tinggal di sebuah perumahan. Namun kami beda RT. Kita biasa shalat berjama’ah di masjid yang sama.

Anaknya kini sudah besar. Sebentar lagi masuk TK. Kebidupannya pun terlhat semakin mapan. Aku sering melihat dia pergi kerja sambil membawa mobil.

NAmun, apakah rumah tangganya bahagia? Wallohu a’lam, aku sendiri tidak terlalu tahu banyak tentang kehidupan rumah tangganya. Namun yang aku lihat dari penampakan di luar, rumah tangganya terlihat baik-baik saja. Dia sering mengajak istrinya keluar untuk jalan-jalan atau makan di restoran.

Hingga suatu ketika badai kembali datang menerpa rumah tangga mereka. Istrinya menangis mengadukan keadaan kondisi rumah tangga mereka kepada kawannya. Dari mulut istrinyalah kemudian diketahui bahwa kawanku itu ternyata terkadang bisa menjadi sosok yang menakutkan jika sedang marah.

“Ana sendiri sampe takut kalo dia sedang marah”, demikian ucap istrinya saat curhat kepada kawannya.

Badai itupun semakin besar. Kian hari kian menghempas. Hingga akhirnya bahtera rumah tangga mereka hancur berkeping-keping di tengah lautan. Mereka pun bercerai setelah membina rumah tangga sekitar 7 tahun lamanya dan setelah dikaruniai seorang anak yang lucu dan sehat.

PAdahal kawan-kawannya banyak yang mengira dia itu adalah sosok yang suami yang ideal. Dia pintar agama dan juga pintar dalam mencari harta dunia. Namun ternyata….Wallahu a’lam. Isi hati manusia memang hanya Allah Suhanahu wa Ta’ala yang tahu. Adapun kita hanya bisa melihat dari kulit luarnya saja.

>>> Memetik Pelajaran Berharga

Kawan-kawan yang aku cintai karena Allah….

Ada beberapa pelajaran berharga yang ingin aku petik dari kisah sederhana ini. Mudah-mudahan bisa memberikan sedikit pencerahan bagi para wanita yang belum menikah –khususnya- dan kaum Muslimin pada umumnya.

(Bersambung insya Allah…….biar nggak kepanjangan…….)

Kota Hujan, 18 Nov 2011

Ba’da Ashar di Hari Jum’at, 16:07

Pena Cinta Menatap Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: