BILA JIN BERSABDA

Apa jadinya kira-kira jika kebenaran itu boleh diambil dari omongan para jin? Hmm….aku sangat yakin dunia ini akan semakin dipenuhi oleh aliran dan kelompok yang aneh-aneh. Mereka tentunya akan mengaku berada di atas kebenaran dengan bermodalkan “sabda” para jin yang datang kepada mereka.

Sebagai contoh ringan, tentu kita masih ingat kan dengan Lia Aminuddin yang memproklamirkan dirinya sebagai Imam Mahdi setelah bertemu dengan jin. Akhirnya dia pun kemudian membentuk jama’ah aneh yang diberi nama Jama’ah Salamullah. Untuk kembali menyegarkan ingatan kita, berikut ini aku kutipkan sedikit beritanya.

Didatangi Malaikat Jibril. Nama Lia Aminuddin kemudian mendapat sorotan luar biasa setelah pada tahun 1997, ia mengaku mendapatkan wahyu dari Malaikat Jibril. Awal mulanya ternyata ketika di suatu malam pada 27 Oktober 1995, sekujur tubuh Lia menggigil kencang setelah melakukan shalat Tahajud. Ia mengira ada makhluk sejenis jin yang mendampinginya saat itu. Diakui Lia, jin yang bernama Habib al-Huda tersebut memberikan banyak nasihat baik kepada dirinya. Dua tahun setelahnya, jin itu mengaku sebagai Malaikat Jibril. Beberapa tahun sebelumnya sekitar tahun 1974, Lia juga mengaku sempat didatangi sejenis benda bercahaya yang menghampirinya ketika ia tengah duduk di halaman rumahnya. Benda bercahaya yang mirip dengan sebuah bola kecil berwarna kuning keemasan itu kemudian dianggapnya sebagai sosok Malaikat Jibril.

Anehnya, setelah pertemuan misterius dengan sosok jin itulah banyak kejadian-kejadian yang dialami Lia dan tidak masuk akal. Salah satunya adalah kemampuan Lia dalam mengobati penyakit yang diderita oleh orang-orang yang datang kepada dirinya. Obat yang digunakan hanyalah air yang keluar dari mata air, tempat ia melihat bola bercahaya beberapa tahun sebelumnya. Sumber mata air yang menyembuhkan berbagai penyakit itu tak dalam, cuma 5-6 meter. Tempat bertuah itu kemudian diberi nama Salamullah. Nama yang sama dengan nama jamaah yang dimilikinya. Puncaknya, pada 18 Agustus 1998, Lia memproklamirkan diri sebagai Imam Mahdi yang dibaiat Jibril menyusul setahun sebelumnya ketika Lia mengaku mendapat wahyu dari Malaikat jibril….”. (Dikutip dari: http://fajar-aryanto.blogspot.com/2010/03/lia-aminuddin-pemimpin-komunitas-eden.html)

 

Nah, demikianlah kira-kira yang akan terjadi jika omongan jin langsung kita terima, tanpa kita saring dulu dengan tolak ukur kebenaran (akan aku jelaskan nanti di bagian akhir tentang tolak ukur kebenaran dalam Islam).

Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap ocehan para jin?

 

>>> Pendusta Besar

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no.2311), diceritakan tentang pertemuan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan jin yang menyamar dalam wujud manusia. Jin itu kemudian mengajarkan sebuah dzikir yang dibaca sebelum tidur. Ketika Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan hal ini kepada Rasulullah Shallallahu a’alihi wa Sallam, beliau pun bersabda begini:

إنه قد صدقك و هو كذوب

“Sesungguhnya dia telah berkata benar kepadamu (pada kali ini) padahal dia itu PEMBOHONG BESAR!”

Dari hadits yang mulia ini, ada beberapa pelajaran berharga yang bisa kita petik.

Pertama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyifati jin yang berjumpa Abu Hurairah dengan PEMBOHONG BESAR! Oleh karena itu, sikap kita terhadap perkataan jin pertama kali adalah MENDUSTAKANNYA. Tidak serta merta membenarkannya.

Makanya aku sangat heran ketika membaca artikel yang isinya berupa omongan jin tentang sebuah kelompok dakwah. Aku tidak sedang mempermasalahkan kelompok dakwahnya. Yang aku permasalahkan adalah sikap para pembaca artikel itu yang menelan begitu saja omongan jin, seolah-olah omongan jin itu adalah wahyu yang pasti benar dan harus diikuti. Hal ini terlihat sekali dari komentar-komentar yang diberikan. Berikut ini aku kutipkan sebagiannya:

“keren ey…”

“subhanallah…”

“Pendapatku setelah baca ini jd smangat kq..bhw qt telah berada di jalur p’juangan kelompok yg benar..insyaAllah..dan m’ingat kan bhw musuh qt juga jelas yaitu setan2 dari gol jin & manusia..
# b’fikir positif
:)”

….

Kedua, terkadang jin berkata benar. Namun, untuk mengetahui perkataannya itu benar atau salah, harus kita timbang dulu dengan timbangan kebenaran. Setelah ditimbang, baru kemudian kita tetapkan.

 

>>> Bila Jin Dipercaya

Dari sedikit uraian di atas, kita tentu bisa menerka, kira-kira apa yang akan terjadi jika setiap omongan jin langsung kita terima. Kerusakan demi kerusakan tentu akan semakin banyak terjadi di tengah-tengah ummat ini. Betapa sering kita mendengar orang yang mengaku sebagai nabi setelah mendapatkan “wahyu” dari para jin. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terjadinya permusuhan antara sesama Muslim karena percaya begitu saja dengan omongan jin.

Aku jadi teringat dengan cerita seorang kawan yang pernah merukyah tetangganya yang kesurupan. Kawanku itu kemudian sempat berdialog dengan jin yang masuk ke dalam tubuh tetangganya. Jin itu berkata bahwa dia suruhan si Fulan, yaitu  kawan dari tetangga kawanku itu.

Mendengar hal itu, anggota keluarga dari tetangga kawanku itu langsung emosi dan ingin melabrak si Fulan. Tapi kemudian dicegah oleh kawanku. Kawanku mengingatkan bahwa kita jangan percaya begitu saja dengan jin. Dia pingin mengadu domba manusia supaya mereka saling bermusuhan.

Nah, semoga hal ini bisa kita ambil sebagai pelajaran.

 

>>> Tolak Ukur Kebenaran

Lalu, dengan apa kita menimbang omongan Jin?

Dalam Islam sudah jelas bahwa tolak ukur kebenaran adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan yang dipahami oleh Rasulullah dan para Sahabatnya. Jadi omongan siapapun di dunia ini, baik manusia atau jin, harus kita timbang dengan tolak ukur kebenaran ini. Kalau sesuai kita terima, kalau tidak sesuai maka kita tolak sejauh-jauhnya. (Lihat penjelasan lengapnya di: https://pustakalaka.wordpress.com/2011/07/28/siapakah-yang-benar/)

Jika ada seseorang-misalnya- memiliki keyakinan:

–          Semua agama sama

–          Ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

–          Haram mengimani azab kubur

Maka kita tolak keyakinan ini karena bertentangan denga kebenaran. Keyakinan ini sampai kapanpun akan tetap salah walaupun kemudian datang seribu jin yang mengatakan bahwa ini adalah keyakinan yang benar.

Barangkali demikian saja penjelasan dariku. Semoga bermanfaat dan tidak ada yang tersinggung. Sesungguhnya kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti.

NAsihat terakhirku: Hati-hatilah di zaman yang banyak fitnah seperti sekarang ini. Jangan mudah percaya dengan omongan orang, apalagi omongan jin. Banyak-banyaklah belajar agar kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Perbanyaklah mengumpulkan cahaya ilmu agar jalan di hadapan kita menjadi terang benderang.

Wallohu a’lam.

 

Bogor, 20 November 2011

Dini hari yang sunyi, 03:17

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

Sumber bacaan:

Alam Jin Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (Bantahan Terhadap Buku: Dialog Dengan Jin Muslim), Abdul Hakim bin Amir Abdat, DArul Qolam Jakarta, Cetakan: I – Th. 1424 H/ 2003 M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: