LAIN DULU, LAIN SEKARANG

Kawan-kawan yang aku cintai karena Allah…

Kalian ingin saling mencintai? Saling memberi hadiahlah!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencinta.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 594. Ibnu Hajar berkata,”Sanadnya shahih”)

Dan, adakah hadiah yang lebih baik dan indah dibandingkan sebuah nasehat berharga yang diberikan seorang Muslim kepada saudaranya sesama Muslim sebagai bekal untuk mendekatkan diri ke Surga dan menjauhkan diri dari Neraka?

Maka, terimalah hadiahku ini…. Semoga kita bisa saling mencintai….. Jika nanti kawan-kawan tidak suka dengan hadiahku ini, harap jangan di buang ke tong sampah. Berikan saja kepada orang lain yang menyukainya. Gimana? Atau balikin saja ke aku…..

 

>>> Air yang Jernih

Aku yakin semua orang sepakat bahwa air yang jernih adalah yang paling dekat dari sumbernya. Semakin jauh air dari sumbernya, akan semakin keruh. Akan banyak kotoran yang masuk ke dalamnya.

Nah, begitu pun dengan Islam. Islam yang paling murni adalah Islam yang diamalkan oleh para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sebab mereka mengambil agama ini langsung dari sumbernya, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka mendapatkan bimbingan langsung dari beliau. Jika pengamalan mereka keliru, maka langsung diluruskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Jadi,  pengamalan Islam mereka adalah pengamalan Islam yang benar, sehingga wajar jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita mengikuti jejak mereka.

 

>>> Ada Apa dengan Sahabat ?

Mereka adalah generasi terbaik yang mendapat pujian langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Alloh, dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah:100)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat)…”. (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

 

>>> Satu-satunya Tangga

Lewat para Sahabatlah kita bisa mengenal Islam. Maka, jika kita ingin pengamalan Islam kita benar, tidak ada cara lain selain harus mengikuti pengamalan Islamnya para Sahabat Rasul, baik dalam hal aqidah, ibadah, maupun metode dakwah. Sebab merekalah satu-satunya tangga menuju pengamalan Islam yang benar yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Jika ada orang Islam zaman sekarang yang mengaku pengamalan Islamnya benar, namun tenyata berbeda dengan yang diamalkan para Sahabat Rasul, bisa kita katakan bahwa mereka adalah orang yang aneh bin ajaib. Bagaimana mungkin mereka mengaku mengamalkan kebenaran sementara para Sahabat tidak melakukan amalan itu? Dari mana mereka mendapatkan kebenaran itu? Apakah mereka langsung mendapatkannya dari Rasulullah tanpa lewat perantaraan para Sahabat? Ckckckc….sunggguh aneh dan harus kita waspadai! Jangan-jangan mereka mendapatkan “wahyu” dari jin!

 

>>> Saatnya Kita Bercermin

Kawan-kawan yang aku cintai karena Allah….

Agar kita betul-betul merasa yakin bahwa ajaran Islam yang kita amalkan ini benar-benar murni bersumber langsung dari Rasulullah, marilah kita bercermin kepada para Sahabat Rasul Shallallahu a’alaihi wa Sallam. Kita ikuti jejak mereka agar kita mendapatkan jaminan keridhoan Allah dan Surga seperti mereka telah mendapatkannya (QS. At-Taubah: 100)

Berikut ini aku bawakan beberapa contoh sikap para Sahabat Rasul dalam mengamalkan Islam. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi bahan renungan untuk kita bersama.

 

  • Para Sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Ali, …..dll. radhiyallahu ‘anhum) dan orang-orang yang mengiktui jejak mereka (Para Tabi’in dan para ulama sesudahnya seperti Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dll. Rahimahumullah) semuanya SEPAKAT untuk memfokuskan dakwah pada pembinaan aqidah ummat.

 

Mereka tidak memfokuskan dakwah pada politik, ekonomi, dll. Tapi mereka fokuskan membina aqidah ummat agar bersih dari noda-noda kesyirikan. Sebab memang inilah jalan dakwah yang ditempuh para Nabi dan Rasul dari sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan dengan dakwah seperti inilah Islam bisa jaya. Terbukti, meski dengan keadaan ekonomi mereka yang sederhana (bahkan banyak yang miskin), dan persenjataan yang sederhana serta jumlah personil yang jauh lebih sedikit, mereka bisa menaklukan dua Negara besar pada waktu itu, yaitu Romawi dan Persia. Dengan apa mereka menaklukannya? Dengan keimanan yang tinggi menjulang dan dengan aqidah yang murni yang tak ada sedikitpun kotoran!

 

Namun beda sekali dengan sekarang.  Banyak aktivis dakwah yang justru lebih memilih metode dakwah mereka sendiri-sendiri. Ada yang “sibuk” mengurusi urusan politik, ekonomi, ….dll. Bahkan ada yang sampai menyibukkan diri dengan menganalisa berita di Koran-koran dan televisi. WAktu mereka lebih banyak duduk di depan televisi daripada di depan majelis para ulama. Dan mereka lebih sering membuka-buka Koran dan majalah dibanding Al-Qur’an dan kitab-kitab aqidah yang ditulis pada ulama. Hmmm…..apakah metode dakwah mereka yang lebih baik ataukah metode dakwahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Sahabatnya? Semoga hal ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama.

 

 

  • Para Sahabat MENGIMANI aqidah yang disampaikan oleh orang yang terpercaya, meskipun yang menyampaikannya cuma satu orang. Sebab demikianlah yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan akan sangat rancu jika seseorang DIHARAMKAN mengimani kabar aqidah dari satu orang yang terpercaya.

 

Misalnya begini. Misalnya ada seorang Sahabat menerima kabar aqidah dari Rasulullah. Maka mereka WAJIB MENGIMANI karena langsung mendengar dari Rasulullah. Namun, ketika sahabat itu menyampaikan kabar itu kepada keluarganya di rumah, maka –berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa AQIDAH HARAM dibangun di atas kabar satu orang- keluarga mereka HARAM MEYAKININYA. Sebab yang menyampaikannya cuma satu orang. Aneh sekali bukan??? Di saat yang bersamaan mereka memiliki aqidah berbeda dalam permasalahan yang sama. Sungguh aneh! (Penjelasan lengkap, silakan baca noteku “Serial Kritis dalam Beragama, 1-9”)

 

  • Para Sahabat MENGIMANI semua yang diimani oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

 

–          Mereka MENGIMANI AZAB KUBUR, sebagaimana Rasulullah MENGIMANI AZAB KUBUR.

–          Mereka MENGIMANI Allah berada tinggi di atas ‘Arsy, sebagaimana Rasulullah MENGIMANI demikian.

–          Mereka MENGIMANI bahwa agama Islamlah yang diterima di sisi Allah, sebagaimana Rasulullah MENGIMANI demikian.

–          Mereka MENGIMANI tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad, sebagaimana Rasulullah MENGIMANI demikian.

–          ….

 

Beda dengan orang zaman sekarang. Ada yang mengatakan azab kubur tidak ada. Ada juga yang punya aqidah aneh yang menyatakan “Kita HARAM MENGIMANI AZAB KUBUR, kita hanya boleh membenarkannya tapi HARAM MENGIMANI!”. Sungguh aneh! Sebab jika aqidah ini yang benar, niscaya para Sahabat telah menyampaikannya kepada kita. Nyatanya, tidak ada seorang pun dari kalangan Sahabat yang beraqidah seaneh ini. Maka, aqidah siapakah yang harus kita ikuti ??? (Silakan baca kritikanku terhadap keanehan ini di noteku yang lalu-lalu).

 

 

  • Para Sahabat berlepas diri dari kelompok yang beraqidah menyimpang dari aqidahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ketika ada seorang Sahabat yang diberitakan kepadanya bahwa di suatu daerah ada kelompok yang mengingkari takdir, maka dia pun langsung menyatakan diri berlepas diri dari mereka dan beliau tidak melihat kepada ibadah kelompok itu yang bisa jadi sangat banyak jumlahnya. Sebab bagi mereka aqidah adalah tolak ukur kebenaran seseorang atau sebuah kelompok. Jika ada orang atau kelompok yang aqidahnya menyimpang, cukuplah jadi alasan bagi mereka untuk tidak menjadikannya teman dekat. Kalau menjadikannya teman dekat saja tidak, apalagi sampai ikut bergabung!!!

 

Beda dengan orang sekarang. Sudah jelas-jelas ada orang atau kelompok yang beraqidah menyimpang, masih saja dijadikan teman dekat. Belum sampaikah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ke telinga mereka:

 

“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Al-Albani mengatakan SHAHIH dalam Ash-Shahihah no. 927)

 

 

(Bersambung insya Allah……..)

 

Bogor, 21 November 2011

Ba’da Subuh, 05: 30

 

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: