Suamiku Kok Begini, Sih ?! (Serial Risalah Cinta untuk Kaum Wanita_Lembar 2_Bag 3)

>>> Terlanjur Basah

Lalu, bagaimana jika seorang wanita mendapatkan suami “bermasalah” sebagaimana pertanyaan di atas tadi? Apa yang harus dilakukannya ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, aku serahkan saja kepada ahlinya langsung. Biarlah Al-Ustadz ‘Aunur Rofiq bin Ghufron hafizhahullah –selaku pengasuh rubrik konsultasi keluarga Majalah Al-Mawaddah- yang akan menjawabnya. Ini dia jawaban beliau…

Jawab:

Wa’alaikumussalam. Perlu dimaklumi, bahwa orang yang kasar tindakannya dan marah tentu ada sebab. Boleh jadi karena sifat bawaannya. Jika demikian, istri harus bersabar sambil mencari pahala, selagi tidak dirugikan agamanya. Walau bising juga telinga mendengarkan dan tidak nyaman pula mata melihatnya. Jika istri tidak bersabar, solusinya pisah, tapi belum tentu mendapatkan ganti yang lebih baik. Apalagi lelaki zaman sekarang suka jual mahal. Hidup menyendiri pun belum tentu baik, karena hidup pasti menjumpai aral dan rintangan. Hanya dengan ilmu, bersabar dan istiqamahlah yang mampu memecahkan permasalahan.

Memang, terkadang manusia punya sifat ramah dengan orang, tetapi kasar dengan keluarga sendiri. Istri hendaknya introspeksi diri, mungkin ada perbuatan ganjil yang membuat suami benci dan kasar kepadanya sampai 180 derajat. Insya Allah jika penyebabnya dihilangkan, akibatnya pun akan hilang. Jika telah dipelajari ternyata suami yang salah, nasihati dia dengan lembut. Upayakan mampu mencari dalil untuk menasihatinya, mengingat dia seorang da’i.

Agar pikiran kita tidak tegang, maafkan kesalahannya, sebagaimana istri senang bila kesalahannya dimaafkan oleh suami. Baca surat at-Taghabun ayat 14, semoga hati kita lembut.

Adapun pertanyaan Ukhti, sampai kapan istri harus bersabar? Bersabar adalah ibadah hati yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidaklah berhenti hingga kita mati, seperti dijelaskan dalam surat al-Hijr ayat 99. Wallaahu a’lam.

Kami nasihatkan agar Ukhti menasihatinya dengan lembut jika suami yang salah, asal dia tidak main pukul dan berbahaya. Jika berbahaya, Ukhti tinggal memilih cerai atau tetap bertahan. Tentunya harus menimbang madharat dan maslahatnya bila berpisah, baik untuk anak dan keluarga atau kerabat. Jangan lupa berdo’a kepada Allah agar diberi kemudahan. Wallahu a’lam. (Selesai jawaban Al-Ustadz).

Demikian saja. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

Bogor, 22 November 2011

Menjelang Subuh, 03:42

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

*Insya Allah serial selanjutnya berjudul “Untukmu yang Masih Sendiri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: