KAMU KAN SALAFY !!!

Akhir-akhir ini ramai dibicarakan kelompok “salafy”. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Yang mendukung mengatakan:

“Salafy itu adalah pengikut Rasulullah dan para Sahabatnya….”

“Salafy itu ya ajaran Islam yang murni karena bersumber langsung dari Rasulullah……”

…..

Adapun yang menentang mengatakan:

“Salafy itu ekstrim…tukang ngebom sana-sini…..!”

“Salafy itu tukang membid’ahkan orang….menyesatkan orang……!”

“Salafy itu kaku…nggak mau membaur dengan masyarakat….!”

….

Lalu, bagaimana sikap kita menanggapi hal ini???

Sebagai seorang Muslim yang baik, kita tentu tidak akan menelan mentah-mentah setiap pendapat yang beredar. Terlebih dahulu kita harus mengecek kebenarannya. Sebab, kita dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikuti sesuatu tanpa kita ketahui ilmunya. Dan kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang kita amalkan (katakan dan yakini) selama hidup di dunia (Lihat QS. Al-Isra: 36).

Maka, agar kita tidak salah dalam bersikap, mari kita sedikit berbincang-bincang tentang penamaan “Salafy”. Semoga bisa memberikan sedikit pencerahan.

>>> Mengenal Istilah “Ya Nasab

Dalam ilmu tata bahasa Arab (Nahwu) ada pembahasan “Ya Nasab”, yaitu huruf  ya ( ﻱ ) yang ditasydid yang berfungsi untuk menisbatkan sesuatu kepada sesuatu yang yang lain. Jadi jika kita ingin menisbatkan diri kita kepada sesuatu (Negara, kota, suku, profesi, dll) tinggal kita tambahkan huruf ya bertasydid di akhir katanya.

Contohnya:

  • Jika kita ingin menisbatkan diri kepada Negara Indonesia, kita bisa tambahkan embel-embel “Indunisiy (Indonesia + ya nasab) di akhir nama kita menjadi  Ahmad Al-Indunisiyy, Bambang al-Indunisiyy, dll.
  • Jika kita ingin menisbatkan diri kepada suku Betawi, kita bisa tambahkan embel-embel “Al-Batawiyy (Al-Batawi + ya nasab) di akhir nama kita menjadi  Muji Al-Batawiyy, Anto al-Batawiyy, dll.
  • Dll.

Namun untuk wanita –berdasarkan kaidah tata bahasa Arab (Nahwu)- perlu ditambah huruf ta marbuthoh di akhirnya (  ﺓ ), sehingga menjadi Al-Indunisiyyah atau Al-Batawiyyah. Contohnya: Tuti Al-Indunisiyyah, Yuni Al-Batawiyyah, dll.

>>> Mengenal Istilah “As-Salaf”

Sungguh telah shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada putri beliau Fatimah Radhiyalahu ‘anha:

فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

sesungguhnya sebaik-baik SALAF (pendahulu) bagi kamu adalah aku.” (Dikeluarkan oleh Bukhary no.5928 dan Muslim no.2450.)

Para ulama ahlus sunnah dulu dan sekarang banyak menggunakan istilah salaf dalam ucapan dan kitab-kitab mereka. Seperti contohnya ketika mereka memerangi kebid’ahan, mereka mengatakan, “Dan setiap kebaikan itu dengan mengikuti kaum salaf (pendahulu, yaitu Sahabat Rasul), sedangkan semua keburukan berasal dari bid’ahnya kaum kholaf (belakangan)”.

Menurut keterangan di atas, Rasulullah menamakan dirinya dengan “As-Salaf” (  ﺍﻟﺴﻠﻒ ), dan para Sahabat Rasul dikenal juga dengan sebutan “As-Salaf”.

Jadi, jika ada orang yang ingin menisbatkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Sahabatnya, dia tinggal menambahkan ya nisbah di akhir kata “As-Salaf”, sehingga menjadi “As-Salafiyy” (  ﺍﻟﺴﻠﻔﻲ  ). Misalnya: Muhammad As-Salafiyy, Iwan As-Salafiyy, Dodi As-Salafiyy, Habibah As-Salafiyyah ( ﺍﻟﺴﻠﻔﻴﺔ  ), Hamroh As-Salafiyyah, dll.

>>> Bukan Istilah Baru !

Saudaraku yang aku cintai karena Allah….

Ketahuilah bahawa Istilah “Salafy” bukanlah istilah yang baru muncul sekarang ini. Istilah Salafy sudah dikenal di kalangan ulama zaman dahulu.

Misalnya Imam Adz-Dzahaby dalam kitab beliau yang fenomal Siyar A’lam An-Nubala` menyebutkan banyak sekali (ada yang mengatakan sampai ratusan) istilah Salafy. Dan kita ketahui bersama bahwa kitab beliau ini dijadikan rujukan oleh para ulama dari zaman ke zaman. Dan tidak ada seorang pun yang mempermasalahkan istilah ini. Mereka semua sepakat akan bagusnya penggunaan istilah ini. Subhanallah!

Imam Adz-Dzahaby berkata tentang Imam Ad-Daraquthny: “Beliau adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ilmu kalam (ilmu mantik) dan tidak pula ilmu jidal (ilmu debat) dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut, bahkan beliau adalah seorang SALAFY.” (Baca Siyar A’lam An-Nubala` jilid 16 hal.457.)

Dan dalam Tadzkirah Al-Huffazh jilid 4 hal.1431 dalam biografi Ibnu Ash-Sholah, berkata Imam Adz-Dzahaby: “Dan beliau adalah seorang SALAFY yang baik aqidahnya.” (Dan lihat: Thobaqot Al-Huffazh jilid 2 hal.503 dan Siyar A’lam An-Nubala` jilid 23 hal.142.)

[Silakan baca perkataan beliau yang lain di: http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/hakikat-dakwah-salafiyyah/%5D

>>> Tiga Golongan yang Dijamin Surga dan Keridhoan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah: 100)

Menurut ayat di atas, hanya ada tiga golongan manusia yang akan dijamin Keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga-Nya. Mereka adalah: (1). Golongan Muhajirin, (2). Golongan Anshar, dan (3). Golongan orang-orang yang mengikuti mereka dengan  baik.

Jadi, jika kita ingin mendapatkan jaminan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga, kita harus masuk kedalam salah satu dari ke-3 golongan ini. Untuk masuk ke dalam golongan Muhajirin dan Anshar sudah tidak mungkin lagi, karena masa mereka telah lewat. Hanya tersisa satu pilihan bagi kita yaitu masuk ke dalam golongan ketiga: Golongan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

SEbagaimana telah dijelaskan, bahwa para Sahabat Nabi dikenal juga dengan penamaan “As-Salaf”. Nah, jika kita ingin menisbatkan diri kepada golongan ke-3 ini, berarti kita bisa menamakan diri kita dengan “As-Salafy”, yaitu orang yang mengikuti jejak para Sahabat Rasul. Mengikuti dalam hal apa? Tentu saja dalam hal beragama, dalam hal memahami dan mengamalkan Islam.

Nah, dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa “As-Salafy” adalah pengamalan Islam yang benar, karena bersumber langsung dari generasi terbaik ummat ini yaitu para Sahabat Rasul. Sehingga kalau ada orang yang mengatakan “Saya bukan Salafy”, maka kita bisa tanyakan kepada dia: “Kalau begitu, Anda mengikuti cara beragama siapa ???”.

Kalau dia mengatakan, “Saya mengikuti cara beragama Rasulullah!”

Lah, kalau begitu “Anda adalah Salafy!”, meskipun Anda tidak  menamakan diri Anda dengan  Salafy.

>>> Salafy Keras, Kasar, Tukang Ngebom……(?)

Ada anggapan yang beredar di masyarakat bahwa Salafy adalah orang-orang yang keras, kasar, tukang ngebom……dll.

Sekarang kita tanya kepada mereka: Bagaimana sikap Anda dengan orang barat yang mengatakan bahwa Islam itu keras, kasar, tukang ngebom…….dll. ???

Aku yakin mereka akan menjawab: Itu kan orang Islamnya, bukan Islamnya. Sebab Islam tidak  pernah mengajarkan demikian!!!

Nah, inilah jawaban kita! JAdi bukan Salafy-nya yang salah. Namun sebagian orangnya yang salah. Adapun Salafy –sebagaimana telah dijelaskan- adalah Islam yang murni, yang bersumber langsung dari Rasulullah dan para Sahabatnya. Apakah Rasulullah dan para Sahabatnya keras ??? Apakah Rasulullah da para Sahabatnya kasar ??? Apakah Rasulullah da para Sahabatnya tukang ngebom ??? (Silakan baca tulisanku yang berjudul “Kasih Sayang untuk Semesta” di https://pustakalaka.wordpress.com/2011/11/12/kasih-sayang-untuk-semesta/)

>>> Salafy Penamaan yang Bid’ah ?

Ada juga orang yang mengatakan bahwa, “Penamaan salafy itu bid’ah karena tidak ada dalilnya dan tidak ada contohnya dari Rasulullah !!!”

Hmm…Perkataan ini sungguh teramat lucu sekali. Kenapa ?

Apakah ketika Anda ingin memberi nama anak Anda harus pakai dalil ?  Apakah ketika Anda ingin memberi nama masjid yang Anda bangun harus pakai dalil? Apakah ketika Anda ingin memberi nama rumah kos-kosan yang Anda tempati harus pakai dalil ???  Apakah ….???

Tentu tidak bukan ?! Silakan Anda mau menamakan apa saja yang penting tidak dengan nama-nama yang melanggar syari’at.

Jadi, silakan saja orang mau menamakan dirinya dengan “Salafy” atau tidak. Terserah !!! Tidak ada perintah dan larangan juga. Jadi bebas-bebas saja.

Hanya saja perlu kita ketahui bahwa penamaan Salafy adalah penamaan yang bagus dan mulia.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Tidak ada aib bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, menisbatkan diri kepadanya, dan bangga dengan madzhab salaf. Bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan para ulama, karena tidaklah madzhab salaf kecuali di atas kebenaran. Apabila dia sesuai dengan salaf secara lahir dan batin, maka dia bagaikan seorang mukmin yang berada di atas kebenaran secara lahir dan batin” [Majmu Fatawa 4/149]

>>> Bukan Kelompok Biasa

Kemudian perlu aku luruskan juga bahwa “Salafy” itu bukanlah kelompok seperti kelompok-kelompok dalam tubuh ummat Islam yang ada sekarang ini, yang mereka punya pendiri tersendiri, punya metode dakwah tertentu, punya aqidah tertentu, dll.

Namun salafy adalah kelompok yang langsung menisbatkan dirinya kepada Rasulullah dan para Sahabatnya. Qudwah (pimpinan/teladan) Salafy adalah Rasulullah, metode dakwah Salafy adalah metode dakwahnya Rasulullah dan para Sahabatnya, dan aqidah Salafy adalah aqidahnya Rasulullah dan para Sahabatnya. Dengan kata lain, Salafy itu adalah Islam, dan Islam adalah Salafy. Tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Terkadang ada yang berkata begini, “Saya menganggap yang di kelompok  **, *****, salafi ya saudara…kecuali… Salafi yang nggak nganggap kami saudaranya….”.

Perkataan ini mengandung konsekuensi bahwa orang yang berkata ini tidak mengakui dirinya sebagai “Salafy” alias di luar “Salafy” (Perhatikan penggunaan kata “kami” di atas). Lalu, dengan pemahamann siapakah dia beragama ? Apakah dia tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah pengikut Rasulullah dan para Sahabatnya ? Kalau begitu, siapakah yang diikutinya ??? Allahul musta’an.

>>> Hati-Hati!

Saudaraku yang aku cintai karena Allah….

Di akhir risalah sederhana ini, aku ingin memberi nasihat kepada diriku dan kaum Muslimin pada umumnya. Hendaknya kita berhati-hati dalam bersikap di zaman sekarang ini. SEbab di akhir zaman ini akan banyak sekali fitnah (ujian) yang akan menimpa. Di akhir zaman ini kebenaran menjadi tersamar. Terkadang yang benar dianggap salah, dan yang salah dianggap benar.

Hendaknya di akhir zaman ini kita semakin semangatkan diri kita untuk mengkaji al-Qur’an dan As-Sunnah, serta mengkaji jejak-jejak para Sahabat Rasul. Sebab itulah satu-satunya jalan keselamatan.

Janganlah kita mudah menelan perkataan setiap orang. Hendaknya kita kritis. Kita timbang semua perkataan orang dengan timbangan al-Qur’an dan As-Sunnah. Yang cocok kita ambil, dan yang menyimpang kita buang jauh-jauh.

Sebagai penutup, mari kita simak perkataan Imam Malik rahimahullah berikut ini:

”Setiap orang perkataannya bisa diambil dan bisa dibuang, kecuali perkataan penghuni kubur ini,”sambil tangan beliau menunjuk ke kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Wallahu a’lam. SEmoga mencerahkan dan tidak ada yang tersinggung.

Bogor, 24 November 2011

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

Bahan  Bacaan:

http://almanhaj.or.id/content/2111/slash/0

http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html

http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/hakikat-dakwah-salafiyyah/

3 Responses to KAMU KAN SALAFY !!!

  1. andi says:

    kenapa orang lebih senang kepada panggilan2 yang Allah tidak pernah memanggil mereka dengan sebutan itu?

    Lihatlah dalam Al Qur’an bagaimana Allah memanggil Rasul dan para pengikutnya.

  2. hanafi says:

    Sungguh benar penjelasan ustad Mujianto mengenai “Salafy”. Hidayah paling besar dan agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah jika seorang muslim mendapatkan pemahaman dan pengamalan Islam dengan mencontoh/mengikuti cara dan jalan-nya para sahabat Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa salam.

    Luar biasa penjelasan ustad Mujianto, bijak (hikmah), sejuk, mencerahkan, laksana sebuah cahaya terang dalam kegelapan.
    Apa yang dijelaskan Ustad Mujianto tidak lain adalah penjelasan yang bersumber dari Alqur’an dan Hadits Rosulullah sholallahu ‘alaihi wasalam.

    Semoga pahala dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala terus tercurah kepada ustad kita Pak Mujianto.

    Waasalam Hanafi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: