SIAPA YANG CERDAS DI ANTARA ANTUM ?

Ketika aku membuka-buka kembali Kitab Umdatul Ahkam karya Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi (Sebuah kitab yang berisi ringkasan hadits-hadits berkenaan dengan masalah hukum yang telah disepakati keshahihannya oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim), aku berjumpa dengan sebuah hadits yang mengingatkanku pada peristiwa sekitar 12 tahun yang lalu. Peristiwa itu terjadi di sebuah acara pengajian yang membahas Kitab Fathul Bari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqolani rahimahullah (Kitab penjelasan hadits-hadits yang terdapat dalam Kitab Shahih Al-Bukhari). Sang ustadz pengisi kajian membacakan sebuah hadits. Setelah itu beliau berkata kepada para jama’ahnya.

“Siapa yang cerdas di antara antum? Ada pelajaran berharga dari hadits yang mulia ini? Ada pelajaran besar tentang cara beragama yang benar dari hadits ini ? Ayo, siapa yang tahu angkat tangan !?”

Namun para jama’ah hanya bisa terdiam. Tak seorang pun yang bisa memberikan jawaban. Akhirnya, setelah beberapa saat menunggu jawaban, sang ustadz yang menjawab pertanyaannya sendiri. Sebuah jawaban berharga yang semakin membuat aku sadar bahwa selama ini  telah keliru besar dalam menjalankan syari’at Islam.

Sebelum aku sampaikan jawaban dari sang Ustadz, aku akan bawakan hadits yang dimaksud. Semoga bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua yang sangat menginginkan diri kita berada di atas kebenaran dalam beragama.

 

>>> Jangan Lakukan !

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Bilal datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan membawa kurma yang berkualitas sangat bagus. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bertanya kepadanya, “Dari manakah kurma ini?”

Bilal menjawab, “Tadinya aku memiliki kurma yang jelek, kemudia aku menukarkan dua sha’ (kurma yang jelek tersebut) dengan satu sha’ (kurma yang bagus) agar kami bisa memberikan makanan untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.”

Seketika itu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Haah….itulah riba yang sebenarnya! Jangan engkau melakukannya! Akan tetapi jika engkau hendak membelinya, maka juallah kurmamu (yang jelek) dengan penjualan lain. Setelah itu belilah kurma yang bagus.” (HR. al-Buhkari dalam Al-Wakalah [2312])

Kawan-kawan yang aku cintai karena Allah…

Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari hadits yang mulia ini. Disamping mengajarkan kita tentang riba (Silakan kawan-kawan baca sendiri penjelasan tentang riba di kitab-kitab fikih), hadits ini juga mengajarkan tentang cara atau sikap yang benar dalam menjalankan Agama Islam. Maka, perhatikanlah baik-baik!

Lihatlah para Sahabat Rasul. Mereka adalah orang-orang yang sangat besar cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tidak ada seorang pun di atas permukaan bumi ini yang kecintaanya kepada Rasulullah mengalahkan kecintaan para Sahabat.

Kawan-kawan tentu ingat dengan kejadian di perang Uhud. Betapa para Sahabat rela mengorbankan jiwa dan raganya demi membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka rela menjadikan tubuh-tubuh mereka sebagai tameng agar Rasulullah selamat dari lemparan panah dan tikaman pedang. Subhanallah!

Dan dalam hadits di atas dipertontonkan kepada kita salah satu bukti kecintaan para Sahabat kepada beliau. Mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada beliau. Lihatlah bagaimana Bilal sampai bela-belain menukar kurma yang jelek dengan kurma yang berkualitan bagus agar bisa menghadiahkan yang terbaik kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tentu saja ini adalah sebuah NIAT YANG SANGAT BAIK! Adakah niat yang lebih baik dibandingkan niat seorang Muslim untuk memberikan yang terbaik kepada Rasulnya tercinta ?

Namun, apakah lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menerima NIAT BAIK Bilal ini? Ternyata tidak! Bahkan beliau berkata “Jangan engkau melakukannya!”

Nah, dari sini kita bisa mengambil sebuah pelajaran berharga. Ternyata, niat baik saja tidak cukup untuk membuat sebuah amalan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Niat baik, caranya pun harus baik, yaitu sesuai dengan persetujuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (Mutaba’atur Rosul).

 

>>> Bisa Berakibat Fatal

Seseorang yang melakukan suatu amal ibadah hanya dengan bermodalkan niat baik, terkadang bisa menimbulkan kerusakan besar.  Tidak saja terhadap dirinya, namun juga terhadap orang lain di sekitarnya.

Contoh paling mudah adalah orang-orang yang suka ngebom sana-sini. Mereka niatnya baik, yaitu ingin berjihad memerangi orang-orang kafir. Namun caranya keliru. Akibatnya mereka telah menjatuhkan diri mereka sendiri ke dalam jurang kebinasaan (bunuh diri), dan mereka juga telah membahayakan orang di sekitarnya. Bahkan mereka telah melakukan dosa yang teramat besar, yaitu membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh. Subhanallah! Inilah salah satu bukti bahwa niat baik tanpa diiringi cara yang baik, bisa berakibat fatal.

Kemudian juga, jika setiap orang diberi kebebasan  melakukan apa saja yang dia mau dengan alasan “niat baik”, kerusakan besarlah yang akan timbul di masyarakat. Sebab, bisa saja nanti ada yang berkata:

  • Niat saya ke tempat prostitusi kan baik, untuk memberi nafkah para WTS…
  • Niat saya korupsi kan baik, untuk memberangkatkan orang tua naik haji…
  • Niat saya berduaan dengan lawan jenis kan baik, untuk mengajar al-Qur’an kepadanya….biar lebih konsen….
  • …..

Demikianlah yang kemungkinan akan terjadi. Bahaya sekali, bukan ?!

 

>>> Dua Sayap Burung

Alhamdulillah, para ulama kita telah menjelaskan di kitab-kitab mereka bahwa syarat diterimanya sebuah amalan itu ada dua:

  • Ikhlas lillaahi Ta’ala
  • Mutaba’ah (Sesuai contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam)

Kedua syarat ini mutlak harus ada dalam setiap amalan. Jika salah satunya hilang, maka amalan itu tidak akan diterima dan tidak akan membuahkan pahala. Kedua syarat ini ibarat sayap burung. Jika salah satunya hilang, maka burung tidak akan bisa terbang. Atau seperti dua sisi mata uang. Jika salah satunya tidak ada, maka uang itu tidak akan laku digunakan.

Makanya sebelum kita beramal, hendaknya kita buat perhitungan dulu. Apakah amalan kita ini ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam? Jika ada, maka kita kerjakan dengan penuh keikhlasan. Jika tidak, maka kita tinggalkan dan kita cari amalan lain yang jelas-jelas ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

 

>>> Orang Mau Shalat Kok Dilarang !!!

Ada sebuah fenomena menarik di masyarakat. Ketika ada orang yang melakukan suatu amal ibadah yang tidak ada contohnya, kemudian mereka diingatkan, serta merta saja mereka berkata:

  • Orang mau shalat kok dilarang !
  • Orang mau dzikir kok dilarang !
  • Orang mau shalawatan kok dilarang !
  • Dll.

Hmmm…..sebenarnya bukan shalatnya, dzikirnya, atau shalawatannya yang kita permasalahkan. Tapi tata caranya yang kita permasalahkan karena tidak sesuai dengan yang dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Sebagai bahan renungan, mari kita simak kisah berikut ini.

Dari Sa’id bin Musayyib rahimahullah (seorang ulama dari kalangan Tabi’in), ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua roka’at, ia memanjangkan ruku’ dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata: “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat?” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi as-Sunnah.” Dikeluarkan oleh Baihaqi dalam Sunan Kubro: 2/46 dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Gholil: 2/236 (dikutip dari: http://alqiyamah.wordpress.com/2011/02/05/menjawab-syubhat-syubhat-perayaan-maulid-nabi-dan-benarkah-ibnu-taimiyyah-rahimahullah-mendukung-maulid-nabi/)

Terakhir, aku nasihatkan kepada diriku pribadi dan kaum Muslimin pada umumnya: Mari kita koreksi kembali syari’at Islam yang telah kita amalkan selama ini.

  • Sudahkah aqidah kita sesuai aqidahnya Rasulullah
  • Sudahkah ibadah kita sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah
  • Sudahkah metode dakwah kita sesuai dengan metode dakwah Rasulullah
  • Sudahkah akhlak keseharian kita sesuai dengan akhlaknya Rasulullah
  • ….
  • Sudahkah….?

 

Demikian saja. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Bogor, 25 November 2011

Menjelang Tidur, 20:56

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: