SAAT BIDADARI BARU SAJA MELANGKAHKAN KAKI (Serial Risalah CINTA untuk Kaum Wanita_Lembar 5_Bag 2_SELESAI)

Kemudian, karena engkau adalah seorang wanita –wahai ukhtiy Muslimah- pelajarilah dan fahamilah pembahasan fikih yang berkaitan dengan masalah kewanitaan. Terutama pembahasan tentang darah kebiasaan wanita, seperti darah haidh, darah istihadhoh, darah nifas dan hal-hal yang terkait dengannya. Sehingga engkau bisa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan dirimu yakin berada di atas kesucian. Dan juga nantinya engkau bisa mengajari putrimu tentang permasalah yang wajib diketahui oleh setiap wanita.

Pelajari pula tentang adab-adab yang berkaitan dengan cara berpakaian seorang Muslimah, adab berhias, dan adab keluar rumah. Intinya, pelajarilah segala sesuatu yang bisa membuatmu mencapai predikat wanita shalihah di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)”. (QS. An Nisaa:34)[1].

 

>>> Persiapkan Dirimu Menghadapi Masa-masa Itu !

Ukhtiy Muslimah yang aku cintai karena Allah…..

Engkau tentu tentu sangat menginginkan kelak menjadi seorang ibu dari anak-anak yang shalih dan shalihah. Insya Allah, dengan izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak lama setelah engkau menikah, engkau akan mengandung. Setelah itu, engkau akan mendapatkan seorang anak. Namun, sudahkah engkau mempersiapkan diri untuk menghadapi masa-masa indah itu ? Sudahlah engkau mengetahui apa yang seharusnya dilakukan seorang wanita saat minggu-minggu awal kehamilan? Sudahkah engkau mendapatkan informasi tentang apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh seorang wanita saat hamil muda ?

Maka, dalam rangka persiapan, carilah informasi sebanyak-banyaknya seputar permasalahan ini. Cobalah sekali waktu ajak suamimu untuk berkunjung ke rumah kerabatmu atau ke rumah kawan-kawanmu yang sudah berkeluarga. Kemudian tanyakanlah segala hal yang engkau butuhkan untuk bekal mengarungi bahtera rumah tangga.

Saat engkau sedang berkunjung, cobalah engkau tanyakan kepada mereka-mereka yang sudah lebih banyak pengalamannya darimu beberapa pertanyaan berikut:

  • Bagaimana caranya menyenangkan hati suami ?
  • Bagaimana menyikapi suami yang sedang marah ?
  • Permasalahan apa yang biasanya dihadapi pasangan pasutri yang baru menikah ? Bagaiman solusinya ?
  • Apa yang seharusnya dipersiapkan suami-istri di awal-awal pernikahan ?
  • Apa yang seharusnya dilakukan seorang wanita ketika hamil muda ?
  • Apa yang tidak boleh dilakukan seorang wanita ketika hamil muda ?
  • Makanan apa yang bagus dikonsumsi seorang wanita yang sedang hamil ?
  • Peralatan apa yang perlu dipersiapkan di rumah ketika mendekati masa kelahiran ?
  • Di mana bidan yang bagus untuk membantu proses kelahiran ? Berapa nomer teleponnya?
  • Saat usia kandungan melebihi 9 bulan, sikap apa yang seharusnya dilakukan pasutri?
  • Saat bayi lahir, apa yang seharusnya dilakukan ?
  • ……
  • ……dll.

Selain itu, perbanyak pula membaca buku yang berkaitan dengan masalah pendidikan dan perawatan anak. Intinya, cari informasi sebanyak-banyaknya seputar permasalahan yang kelak akan engkau hadapi dalam mengarungi samudera rumah tangga. Banyak-banyaklah bertanya dan menimba ilmu dari orang-orang yang telah banyak makan asam garam kehidupan berumah tangga. Bacalah buku dan majalah yang bermanfaat. Setelah itu, lakukanlah persiapan. Semoga jalanmu kedepannya akan terasa lebih mudah.

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Di antara faktor yang paling bermanfaat dalam menghilangkan kegelisahan dan duka cita ketika seorang hamba ditimpa musibah adalah berusaha meminimalisir dengan memprediksikan kemungkinan terburuk dari suatu perkara. Kemudian mempersiapkan diri untuk menghadapinya….”.[2]

 

>>> Teruntuk Para Suami

Pada penutup Risalah ini, aku ingin menyampaikan beberapa patah kata kepada para suami. Walaupun risalah ini sebenarnya aku khususkan untuk para istri (wanita), namun tidak mengapa kiranya jika aku sedikit menyampaikan nasihat kepada para suami. Baragkali saja ada yang membacanya. Atau jika para istri berkenan, silakan untuk menyampaikan risalahku ini kepada suami-suami kalian. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mau untuk saling nasihat-menasihati dalam kebaikan.

Wahai para Suami yang aku cintai karena Allah….

Kalian adalah pemimpin bagi istri dan anak-anak kalian. Dan kalian kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Maka, janganlah engkau sia-siakan mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin, dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Didiklah istri kalian dengan ilmu-ilmu keislaman. Ajarilah dia cara beragama yang benar. Bacakanlah kitab-kitab para ulama di hadapan istri-istri kalian. Bacakanlah al-Qur’an beserta tafsirnya kepada mereka. Bacakanlah hadits-hadits beserta penjelasannya kepada mereka. Terangilah rumah kalian dengan cahaya ilmu. Agar kelak anak-anak kalian bisa tumbuh dan berkembang dalam baluran cahaya ilmu yang  begitu indah gemerlap.

Jika kalian tidak mampu untuk mengajarkan secara langsng, maka jangan biarkan istri-istri kalian menghabiskan waktu di rumah dengan perbuatan yang sia-siapa apalagi perbuatan yang haram. Jangan biarkan istri-istri kalian mengisi waktu siangnya (saat kalian sedang di luar rumah) dengan khusyuk duduk di depan televisi. Jika kalian membiarkan hal itu sementara kalian tahu, maka kelak kalian akan dimintai pertanggunggjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas perbuatan istri-istri kalian itu. Sebab kalian adalah penanggungjawab mereka.

Jika kalian memang tidak mampu untuk memberikan ilmu-ilmu keislaman secara langsung, maka berikanah fasilitas kepada mereka agar bisa mempelajari ilmu-ilmu yang mereka butuhkan selama menunggu di rumah. Belikanlah buku-buku bacaan Islam kepada mereka. Belikanlah VCD ceramah yang bisa mereka tonton saat mengisi waktu luang. Kemudian, ajak pula istri-istri kalian untuk mendatangi majelis-majelis ilmu.

Jika kalian ada waktu, maka buatlah program rutin belajar bersama di rumah. Buatlah waktu-waktu khusus untuk kalian saling mengulang pelajaran yang sudah di dapat di pengajian, atau minimal hanya sekedar membacakan beberapa ayat dan hadits berikut terjemahannya. Mudah-mudahan dengan begitu, rumah-rumah kalian kelak akan menjadi madrasah-madrasah unggulan yang siap untuk mencetak generasi-generasi robbaniy bila saatnya tiba nanti.

Semoga kita semua dikaruniai Allah pasangan hidup yang mencintai ilmu dan bersemangat untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan, semoga kita juga dikaruniai Allah anak-anak yang shalih dan shalihah yang bisa menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih”. (QS. Ash Shaafat : 100)
.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Furqaan : 74)

Amiin ya Allah ya Robbal ‘Aalamiin.

 

 

Bogor, 9 Muharram 1433 H/ 5 Desember 2011

Ba’da Ashar yang Sejuk, 16:16

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar Al-Batawie

 

 

 


[1] Menurut Al Qur’an dan Al Hadits yang shahih, diantara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah :

a. Ta’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ta’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
b. Ta’at kepada suami dan menjaga kehormatannya di saat suami ada atau tidak ada, serta menjaga harta suaminya.
c. Menjaga shalat yang lima waktu tepat pada waktunya.
d. Melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan.
e. Banyak shadaqah dengan seizin suaminya.
f. Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al Ahzab:33).
g. Tidak berbincang-bincang dan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, karena yang ketiganya adalah syetan.
h. Tidak menerima tamu yang tidak disukai oleh suaminya.
i. Ta’at kepada kedua orang tua dalam kebaikan.
j. Berbuat baik kepada tetangganya sesuai dengan syari’at.
k. Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islami.

(Lihat: http://almanhaj.or.id/content/2863/slash/0)

[2] Siapakah Orang yang Beruntung, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, Pustaka Laka Bogor, Cetakan I: Rabi’ul Akhir 1426 H – Mei 2005 M, hal. 110.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: