KARENA KITA TAK INGIN BERCERAI (Catatan Sederhana Menjelang Keberangkatan)

Sedih rasanya jika aku mendengar ada pasangan suami istri yang bercerai. Dan kesedihanku semakin bertambah tatkala aku dapati bahwa sebagiannya adalah kerabat dekatku.

Padahal, setiap pasutri, saat pertama kali menaiki bahtera rumah tangga, mereka tentu sangat menginginkan bisa hidup bahagia dan tetap harmonis hingga di hari tua. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit yang kehidupan rumah tangganya hancur berkeping-keping di tengah jalan. Dan aku tidak ingin kejadian ini menimpa rumah tanggaku nanti. Karena itulah aku menulis risalah ini.

Risalah ini aku tulis dalam rangka menasihati diriku sendiri. Risalah ini aku susun sebagai bekal bagi diriku untuk mengarungi samudera kehidupan yang luas terbentang. Aku berharap risalah ini bisa menjadi pengingat saat aku nanti telah berada di atas bahtera itu. Dan semoga kaum Muslimin yang membaca risalah ini, bisa mendapatkan manfaatnya juga.

 

>>> Perkokoh Pondasi Bangunanmu, Kawan!

Sebuah bangunan bisa berdiri dengan kokoh dan kuat jika ditopang oleh pondasi yang kokoh dan kuat pula. Tanpa pondasi yang kuat, cepat tau lambat bangunan itu akan roboh. Begitupun dengan bangunan sebuah rumah tangga.

Kita barangkali sering mendengar orang berkata:

Cinta karena wajah, akan segera punah.

Cinta karena harta, akan segera fana.

Namun cinta karena Allah, akan tetap kekal selamanya.

 

Perkataan ini benar adanya. Jika seseorang membangun cintanya di atas landasan kecantikan fisik semata, maka cintanya itu akan punah seiring munculnya keriput yang ada di wajah pasangannya. Begitupun jika orang membangun cintanya di atas gemerlapnya harta dunia, maka cintanya itu akan fana bersama musnahnya harta yang dipunya kekasihnya. Namun, jika seseorang mendasari cintanya karena Allah semata, maka cintanya itu akan kekal abadi selama-lamanya.

 

Oleh karena itulah, jika kita ingin rumah tangga kita tetap kekal abadi selamanya, hendaknya kita perbaiki pondasi rumah tangga kita. Kita perbaiki niat kita dalam berumah tangga. Jadikanlah Allah sebagai dasar dalam kita menikah. Jadikanlah alasan kita menikah adalah karena ingin melaksanakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Insya Allah, rumah tangga kita akan tetap abadi selamanya.

 

Ada sebuah kisah menarik tentang pentingnya niat ikhlas dalam setiap amalan. Suatu hari, saat hendak menulis kitab al-Muwatha, Imam Malik rahimahullah ditanya oleh seseorang.

 

“Wahai Imam, bukankah yang menulis kitab dengan judul al-Muwatha sudah banyak ?”

 

Maka, Imam Malik pun menjawab:

 

ما كان لله فهو أبقى

 

“Apa saja yang diperuntukkan untuk Allah (Lillahi ta’ala), maka dia akan tetap kekal”.

 

Dan ternyata benarlah yang beliau katakana. Ternyata kitab al-Muwatha Imam Maliklah yang tetap kekal hingga sekarang. Adapun kitab-kitab al-Muwatha lain terkubur oleh zaman.

 

Hal yang sama terjadi juga pada Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah saat hendak menulis kitab Fathul Bari. Beliau memberikan jawaban yang sama dengan yang diucapkan oleh Imam Malik. Dan ternyata, Kitab Fatul Bari karangan beliau tetap lestari hingga sekarang.[1]

 

Jadi sekali lagi, mari kita perbaiki niat  kita dalam membangun rumah tangga. Semoga rumah tangga kita semua tetap kekal selamanya. Amiin ya Allah ya Robbal ‘alamiin.

 

>>> Segalanya Harus dengan Ilmu

Ketika orang hendak membangun sebuah rumah, maka dia harus belajar terlebih dahulu tentang cara membangun rumah. Dia harus berilmu terlebih dahulu. Baru setelah itu dia bisa membangun rumah yang dia idam-idamkan.

Dalam kehidupan rumah tangga pun begitu. Bagaimana mungkin kita ingin mendapatkan rumah tangga yang bahagia dan harmonis, sementara kita tidak tahu bagaimana caranya agar bisa membuat rumah tangga bahagia dan harmonis. Oleh karena itulah kita harus belajar terlebih dahulu. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Al-Bukhari: Al-Ilmu qoblal qoul wal ‘amal. Artinya “Ilmu itu sebelum berkata dan berbuat”.

Sungguh betapa banyak rumah tangga yang hancur berantakan disebabkan oleh ketiadaan ilmu dari pasutri. Mereka tidak mengetahui apa saja hak dan kewajiban suami istri. Mereka juga tidak mengatahui, bagaiman mengatasi problema hidup berdasarkan bimbingan ilahi. Akibatnya, mereka berjalan di atas kebodohan. Ujung-ujunganya, merekapun jatuh ke dalam jurang kebinasaan karena salah dalam memberi keputusan.

Muncullah kemudian kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, dan seabrek problem rumah tangga lainnya yang akhirnya berbuntut pada perceraian. Apa penyebab dari semua ini? Tak lain dan tak bukan karena ketiadaan ilmu dalam berumah tangga.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah:

الجهل أصل كل شر

“Kebodohan itu akar dari segala keburukan”.

Oleh karena itu, agar rumah tangga kita bahagia, hendaknya kita bekali diri kita dengan ilmu sebanyak-banyaknya. Agar dengan ilmu itu, jalan di depan kita menjadi terang benderang. Sehingga bahtera rumah tangga yang kita tumpangi, bisa berjalan dengan baik di atas lautan. Dan bisa selamat dari menabrak gunung karang.

Sungguh indah perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:

“Barangsiapa yang menghedaki dunia, maka hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki dunia akhirat, maka hendaknya dia berilmu.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 1/30 oleh An-Nawawi rahimahullah).

 

>>> Bersyukur dan Bersabar

Hidup ini seperti roda pedati, kadang di atas kadang di bawah. Kadang ada orang yang saat ini berada dalam kekayaan, beberapa saat kemudian diapun jatuh dalam kemiskinan. Kadang ada orang yang saat ini berada dalam keberuntungan, beberapa waktu kemudian diapun jatuh pada kerugian. Maka, agar kita tetap bisa tersenyum dalam menjalani hidup ini, kita harus memiliki dua modal penting. Yaitu: bersyukur dan bersabar.

Dalam hidup berumah tangga, tentu tidak selamanya kita akan mengalami keadaan yang mengenakan. Ada saja hal-hal kurang mengenakkan yang akan kita hadapi. Ibarat bahtera yang tengah mengarungi samudera, ada saja riak gelombang yang datang menerjang. Karena lautan tak selamanya tenang.

Maka, saat kita mendapati hal-hal yang baik dalam rumah tangga kita, hendaknya kita beryukur kepada Allah Subahanu wa Ta’ala. Saat kita masih bisa makan hari ini, masih diberi kesehatan diri dan anak-anak, masih bisa tidur dengan nyenyak, maka jangan lupa untuk bersyukur. Agar dengan syukur kita itu, Allah akan terus menambah nikmat-Nya kepada kita.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan (ingatlah juga) ketika Robb kalian mengatakan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka ketahuilah sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Dalam ayat yang mulia ini, Alloh Azza wa Jalla memberikan janji kepada para hamba-Nya yang mau bersyukur, sekaligus memberikan ancaman yang keras bagi mereka yang berani untuk kufur kepada-Nya.

Namun, ketika kita diberi ujian berupa hal-hal yang kurang mengenakan dalam kehidupan rumah tangga kita, hendaknya kita bersabar dan menjauhi sikap berkeluh kesah. Insya Allah dengan begitu kita akan mendapatkan kebaikan dan pahala yang besar dari Allah Subhanhu wa Ta’ala.

 

Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya),

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh [2]: 155)

Rasullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له

“Sungguh mengagumkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik,  dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang Mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan demikian itu lebih baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, dan demikian itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim, al Baihaqi dan Ahmad )

 

>>> Mengertilah!

Dalam sebuah pertandingan sepak bola, jika dalam sebuah tim sering terjadi salah pengertian, maka kemungkinan besar tim itu akan kalah bertanding. Dalam rumah tangga pun begitu. Jika pasutri yang ada di dalam sebuah rumah tangga tidak bisa saling mengerti, maka rumah tangga itu bisa jatuh pada jurang perceraian. Makanya, saling pengertian sangat dibutuhkan dalam hidup berumah tangga.

Seorang istri hendaknya mau mengerti keadaan suami. Begitupun sebaliknya. Jangan egois dan jangan mau menang sendiri.

Saat sang istri terlihat lelah dengan pekerjaannya di rumah, janganlah lagi dibebani dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang akan membuatnya bertambah lelah. Malah mestinya dibantu agar kelelahannya itu sirna. Bukannya malah diberi tambahan beban. Contohnya nyatanya, jika sang suami melihat istrinya dalam posisi lelah, hendaknya sang suami membuat kopi sendiri atau menyeduh mie instan sendiri jika menginginkannya. Bukan seenaknya saja menyuruh sang istri untuk membuatkannya.

Sang istri pun harus mengerti keadaan suami. Jika suami pulang kerja dalam keadaan lelah, janganlah ditambah lelah lagi pikirannya dengan diberi keluhan-keluahan permasalahan yang di hadapi di rumah. Hendaknya ditunda hingga sang suami kembali fresh pikirannya. Kemudian juga, ketika sang suami sedang mengalami kerugian  usaha –misalnya-, janganlah sang istri membebaninya dengan meminta ini-itu. Hendaknya sang istri mengerti kondisi suami.

Maka, saling mengertilah, niscaya hidup kita akan bahagia!

 

>>> Terimalah Apa Adanya

Allah Subahanahu wa Ta’ala memberikan rezeki kepada setiap orang dengan berbeda-beda ukurannya. Ada yang banyak dan ada yang sedikit. Dan tentu saja, dengan adanya perbedaan ini, ada hikmah besar yang terkandung di dalamnya.

Sebagian orang, saat diberi keluasan rezeki, dia akan bergembira luar biasa. Sebaliknya, saat diberi kekuarangan rezeki, dia akan berkeluh kesah. Namun, hal ini tidak akan terjadi pada diri seorang Muslim yang sejati.

Seorang Muslim yang sejati akan merasa cukup dan puas dengan pemberian dari  Allah seberapa pun besarnya. Dan inilah yang disebut dengan qona’ah. Yaitu merasa cukup dan puas dengan rezeki pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebuah rumah tangga, jika pasutri yang ada di dalamnya memiliki sifat qona’ah, maka insya Allah akan bahagia. Mereka tidak akan mempedulikan seberapa besar rezeki yang Allah berikan kepada mereka. Besar atau kecil, banyak atau sedikit akan mereka terima dengan hati yang qona’ah. Sebaliknya, jika dalam sebuah rumah tangga tidak ada sifat qona’ah dari penghuninya, maka cepat atau lambat rumah tangga ini akan roboh.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi manusia yang qona’ah ?

Caranya, silakan renungi hadits berikut ini.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Lihatlah orang yang yang ada di bawahmu dan janganlah kamu melihat orang yang ada di atasmu. Hal itu akan lebih baik bagimu agar kamu tidak meremehkan nikmat Alloh yang yang diberikan kepadamu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Misalnya, jika sang suami memiliki penghasilan perbulan hanya Rp. 500.000,-, hendaknya sang istri lebih sering bergaulnya kepada ummahat yang suaminya berpenghasilan di bawah Rp. 500.000, atau minimal sama. Jangan bergaulnya justru lebih sering kepada ummahat yang suaminya berpenghasilan 1 juta, bahkan lebih. Ini hanya sekedar tips. Wallohu a’lam.

 

>>> Karena Kita adalah Anak Adam

Selama kita masih mengakui diri kita sebagai seorang manusia biasa, maka kita harus mengakui juga bahwa diri kita tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa. Sebab, kita bukanlah malaikat yang selalu berbuat taat. Kita juga bukan nabi yang ma’sum. Kita hanya manusia biasa. Kadang, saat kita lupa dan lalai, kita pun terjatuh  pada perbuatan maksiat.

Jika kita sudah memahami hal ini, maka jangan kaget kalau nanti kita akan mendapati kekeliruan yang dilakukan pasangan kita di rumah. Namanya juga manusia. SEbagaimana kita juga tidak akan luput dari kesalahan, pasangan kita pun begitu. Maka, dibutuhkan ada saling nasihat menasihati antara kita dan pasangan kita. Agar dengan adanya saling menasihati ini, kehidupan rumah tangga kita akan bahagia dan sukses. Dan ini adalah janji Allah dalam Al-Qur’an.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Perhatikanlah! Allah mengatakan bahwa semua manusia berada dalam kerugian. Namun, Allah mengecualikan 4 golongan manusia dari termasuk ke dalam golongan yang merugi. Ke-4 golongan ini akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Ke-4 golongan ini, yaitu: (1). Orang-orang yang beriman, (2). Orang-orang yang beramal shalih, (3) Orang-orang yang saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan (4). Orang-orang yang saling menasihati supaya menetapi kesabaran.

Nah, jadi jika kita ingin rumah tangga kita beruntung dan bahagia, hendaknya kita hidupkan semangat saling menasihati dalam rumah tangga kita. Insya Allah rumah tangga kita akan tetap bahagia selamanya.

Namun perlu diingat tentang adab-adab memberi nasihat. Hendaknya nasihat itu dilakukan dengan lemah lembut, di waktu yang tepat, dan tidak di depan umum. Lakukanlah nasihat itu secara rahasia. Misalnya, dini hari saat sang suami dan istri selesai melaksanakan shalat tahajjud.

 

>>> Menjadi Pemain yang Profesional

Apa jadinya jika dalam pertandingan sepak bola, semua pemain dalam sebuah tim ingin maju ke depan? Tentunya pertahanan tim itu akan lemah dan gawangnya akan mudah kebobolan. Sebuah tim yang bagus adalah yang diisi oleh pemain-pemain yang professional. Mereka tahu di mana  harus menempatkan diri. Mereka tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Tim seperti inilah yang akan memenangkan pertandingan.

Dalam rumah tangga pun begitu. Dalam Islam, suami istri telah diberikan posisi masing-masing. Posisi ini ditentukan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala Sang Pencipta Manusia yang tentu saja paling tahu segala sesuatu yang maslahat untuk kehidupan manusia. Allah telah menetapkan bagi istri untuk lebih banyak tinggal di rumah, sedangkan suami diperintahkan untuk mencari nafkah. Jika ini dipatuhi dengan baik, insya Allah sebuah rumah tangga akan bisa hidup bahagia.Mau bukti? Silakan baca kisah kehidupan RAsulullah dan para Sahabatnya dahulu.

Namun, bukan berarti Islam mengharamkan wanita bekerja di luar rumah. Sebagaimana pertandingan sepak bola, jika memang pemain depan butuh bantuan, maka pemain belakang boleh untuk maju ke depan  membantu penyerangan. Namun jika pemain depan sudah bisa menjalankan tugas dengan baik, untuk apa pemain belakang maju ke depan. Jauh lebih baik mereka tetap berada di posisi semula agar pertahanan tetap kuat terjaga. Bukankah seperti itu, kawan?

 

Hmmm……

Barangkali ini saja yang bisa aku tulis. Mohon maaf jika agak panjang. Jika ada yang benar silakan diambil dan diamalkan. Namun jika ada yang keliru, silakan buang jauh-jauh.

SEmoga bermanfaat.

Wallohu a’lam.

 

Bogor, 07 Februari 2011

Siang hari yang cerah, 10:33

Muhammad Mujianto Al-Batawie

____Menjelang Keberangkatan (4 hari lagi, insya Allah)_____

[Mohon doa kawan-kawan agar acara pernikahan kami tanggal 12 Februari nanti berjalan lancar dan penuh berkah]

 

*Tulisan ini terkhusus aku persembahkan untuk Ukhtiy Hamroh Humaeroh yang ada di Cikarang sana. Semoga dia berkenan membacanya.

 


[1] Kisah ini saya dengar dari ceramahnya Al-Ustadz Firanda hafizhahullah saat membahas tema tentang ikhlas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: