Gelisah Karena BBM Naik

Penulis : Al Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Naiknya harga bahan bakar minyak –bensin, solar, dan minyak tanah- menimbulkan keresahan bagi semua lapisan masyarakat terutama saudara kita yang berpenghasilan kecil. Mereka mengeluh dan bingung mengatur perekonomian rumah tangganya. Naiknya harga bahan bakar jelas mempengaruhi harga kebutuhan pokok.

Menyikapi peristiwa ini, sebagian orang tidak dapat menahan emosi dan kemarahannya. Diantara mereka ada yang mengadakan demonstrasi, perusakann, ataupun kritik terhadap pemerintah. Tindakan-tindakan ini tidaklah menyelesaikan perkara. Bahkan, boleh jadi memperumit dan menambah masalah.

Inilah penyakit jiwa. Apabila melihat sesuatu yang tidak disepakati oleh hawa nafsunya, muncul keluh-kesah sebagaimana Firman Alloh:

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. al-Ma’arij: 19-21)

Kiranya tidak ada jalan keluar dari segala kesulitan dan kesempitan hidup melainkan dengan kembali kepada hokum Alloh. Semoga penjelasan di bawah ini membantu me-mecahkan masalah.

A. Pemegang Kunci Rizki

Harus kita maklumi, semua peristiwa yang terjadi seperti kenaikan BBM ataupun yang akan terjadi, telah ditentukan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Tidak mungkin kita akan luput dari takdir-Nya.

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh bagi kami.” (QS. at-Taubah: 51)

Kita harus yakin pula, sesulit apapun kondisi kita, tetap saja Alloh Subhanahu wa Ta’alayang menanggung rizki hamba-Nya:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Alloh-lah yang memberi rezkinya. (Qs. Hud: 6)

Karena itu, kita tidak boleh khawatir tidak mendapatkan rizki. Alooh Maha Kaya, senantiasa member rizki hamba-Nya.

Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas). (QS. Ali Imran: 27)

Kita dilarang bunuh diri, membunuh anak, atau membatasinya lantaran khawatir tidak mendapat rizki. Alloh berfirman:

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. al-Isra’: 31)

Rizki, pada akhir zaman akan melimpah, walaupun banyak manusia mengeluh karena ganti harga.

Dari Abu Musa radhiallohu ‘anhu, Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Manusia akan menjumpai waktu, yang saat itu ada seseorang menawarkan sedekahnya berupa emas, namun tidaklah ia menjumpai orang yang mau menerimanya. (HR. Bukhari 2/513, Muslim 2/700, Ibnu Hibban 15/173, Sunan Kubra 6/358, dan lainnya)

Perlu dimaklumi, kekayaan bukanlah tolak ukur kebahagiaan. Sebaliknya, kemiskinan bukanlah tanda kehancuran. Akan tetapi, keduanya merupakan ujia.

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Qs. Thaha: 131)

 

Prinsip ini harus kita pahami agar kita menyadari, kenikmatan dunia suatu saat dapat menjadi sebab kehancuran manusia apabila tidak sisertai iman. Tidak sedikit orang yang memiliki kedudukan dan kekayaan dunia justru menjadi hancur karena sombong serta menjadi pelopor penindasan dan perbuatan jahat. Lihatlah raja Fir’aun dan orang kafir pada zaman dahulu dan sekarang. Bahkan anak mereka pun ikut menjadi perusuh, pemabuk, pejudi, pezina, dan pencuri. Alloh mengabadikan semboyan mereka dalam al-Qur’an:

Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan Kami sekali-kali tidak akan diazab (QS. Saba’: 35)

B. Penghalang Rizki 

Benar, kita harus mengimani takdir. Tetapi harus diketahui, musibah atau takdir yang jelek tidaklah terjadi melainkan karena ulah manusia yang jelek.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan-mu).(QS. aassy-Syura: 30)

Adapun penghalang rizki Alloh sebagai berikut:

1. Mengingkari nikmat Alloh

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. an-Nahl: 113)[1]

2. Bakhil dan kikir

Perhatikan surat al-Qalam ayat 17-33 berikut:

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari, Dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari: “Pergilah diwaktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya”. Maka Pergilah mereka saling berbisik-bisik. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebun-mu”. Dan Berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) Padahal mereka (menolong-nya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)”. Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukan-kah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?” Mereka mengucap-kan: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim”. Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagi-an yang lain seraya cela mencela. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; Sesungguh-nya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; Sesungguhnya kita mengharapkan ampun-an dati Tuhan kita. Seperti Itulah azab (dunia). dan Sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.

Dijelaskan dalam ayat-ayat di atas, Alloh Subahanahu wa Ta’ala menghancurkan tanaman pemilik kebun yang sengaja menghalangi hak fakir miskin. Kami anjurkan pembaca sudi membaca tafsir ayat-ayat tersebut. Mudah-mudahan menjadi obat penyembuh penyakit bakhil (kikir).

3. Tidak mau membantu anak yatim dan orang miskin

Perhatikan keluhan orang yang mendapat-kan rizki hanya sedikit. Alloh dituduh menghinanya, padahal merekalah yang menghina dirinya sendiri, karena tidak mengeluarkan sebagian harta yang menjadi hak orang fakir dan miskin.

Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak saling mengajak memberi Makan orang miskin, Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil), Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS. al-Fajr: 16-20)

4. Tidak amanat atas rizqi yang Alloh berikan

Membelanjakan harta untuk kemaksiatan atau tidak ada gunanya atau kepada orang yang tidak bisa memegang amanat. Misalnya menuruti kemauan istri dan anak atau hawa nafsunya tanpa melihat bermanfaat atau tidak. Karena itu, pemegang harta dan kekayaan hendaknya memperhatikan wasiat Alloh di dalam kitab-Nya:

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (QS. an-Nisa’ :5)

Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat. (QS. asy-Syura: 27)

5. Banyak kemaksiatan

Imam al-Albani berkata, “Maksiat adalah penyebab paceklik, kemiskinan dan musibah.” Lalu membawakan hadits Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallam:

Tidaklah nampak perbuatan keji pada suatu kaum melainkan Alloh Azza wa Jalla akan menimpakan kepada mereka kehancuran. (HR. al-Hakim 2/126, al-Baihaqi 3/346, al-Bazzar 3299, lihat Silsilah ash-shahihah 1/219)

6. Enggan menunaikan zakat

Orang yang enggan mengeluarkan zakat, Alloh akan menimpakan atas negeri itu paceklik. Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dan tidaklah suatu kaum enggan mem-bayar zakat, melainkan Alloh Azza wa Jalla menahan hujan atas mereka. (HR. al-Hakim 2/126, al-Baihaqi 3/346, al-Bazzar 3299, lihat Silsilah ash-shahihah 1/219)

C. Penyebab Datangnya Rizki 

1. Beriman dan bertaqwa 

Orang yang senantiasa beriman kepada Alloh dengan menjalankan perintah-Nya yang wajib atau sunnah dan meninggalkan larangan-Nya yang haram maupun makruh, akan mendapat rizki yang cukup, sebagaimana janji Alloh:

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al-A’raf: 96)

Suatu bukti konkrit, Negara Saudi Arabia. Walaupun Negara kecil, tetapi karena banyaknya ulama, orang shalih, dan pemimpin yang melaksanakan hokum Alloh Subhanahu wa ta’ala member kekayaan yang cukup untuk menghidupi rakyatnya. Lebih dari itu, kekayaaannya dapat dirasakan oleh kaum muslimin seluruh dunia, baik berupa bantuan masjid, lembaga pendidikan, dan bantuan social lainnya. Bahkan dengan kekayaannya itu, mampu membiayai penuntut ilmu di dalam negeri maupun dari luar negeri dengan Cuma-Cuma, bebas calo dan tangan haram.

2. Bertawakkal kepada Alloh 

Bertawakkal kepada Alloh dengan berusaha yang halal adalah kunci datangnya rizki.

Umar bin Khaththab radhiallohu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallam bersabda:

Seandainya kamu benar-benar bertawakkal kepada Alloh, tentu Alloh akan member rizki kepadamu sebagaimana Ia member rizki kepada burung, keluar pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaang kenyang.” (Shahih, HR. Ibnu Majah 4157, Ahmad 23, lihat Takhrij Hadits Musykilatil Faqri hal.24)

3. Berdo’a kepada Alloh 

Orang yang beriman tidak boleh hanya mengandalkan usahanya secara lahiriah. Hendaknya selalu mengawali usahanya dengan memohon kepada Alloh agar diberi rizki yang halal. Karena manusia tugasnya mencari sedangkan Alloh-lah Sang Maha Pemberi. Nabi Ibrahim ‘alaihisalam berdo’a kepada Alloh untuk dirinya dan umatnya. Lihat surat al-Baqarah: 126 dan surat Ibrahim: 37 

 

4. Mensyukuri nikmat Alloh 

Apabila seseorang mendapatkan rizki yang halal, jangan sekali-kali mengatakan, “Ini karena saya yang berbuat atau si fulan.” Hendaknya ia meyakini dan mengatakan, “Alloh yang memberi rizki.” Kemudian hendaknya mensyukurinya dengan meninggal-kan ibadah. Insya Alloh dengan prinsip ini, Alloh senantiasa member kemudahan dan tambahan rizki.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

5. Hijrah dari kemaksiatan 

Orang yang hijrah dan meninggalkan kemaksiatan akan memperoleh rizki dari Alloh sebagaimana disebutkan dalam surat al-Anfal ayat 74:

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.

 

6. Senantiasa menjalankan shalat 

Orang yang senantiasa menjalankan shalat sesuai syarat dan rukunnya akan mendapatkan rizki sebagaimana disebutkan di dalam surat al-Anfal ayat 3-4:

(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.

 

7. Meningkatkan iman dan amal shalih 

Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia. (QS. al-Hajj: 50)

 

8. Membantu mencarikan pangan rakyat yang miskin 

Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallam dalam memimpin umat, selalu mendahulukan kebutuhan umatnya daripada diri sendiri dan keluarganya. Terutama perhatian beliau kepada para fakir miskin, janda, dan anak yatim.

Beliau mengatakan:

Sayalah yang lebih berhak mengurusi orang mukmin daripada dirinya sendiri. Bila ada orang yang beriman meninggal dunia lalu dia punya hutang, sayalah yang membayarnya dan bila meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya. (HR. Bukhari 2/805, Ibnu Hibban 1/180, bersumber dari Abu Hurairah radhiallohu ‘anhu)

Prinsip beliau Shallollohu ‘alaihi wasallam ini hendaknya diteladani para pemimpin dan orang kaya. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menitipkan kepada mereka amanat harta dan kekuasaan. Oleh sebab itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitabSiyasatusy Syar’iyyah mengatakan, “Negara menjadi baik bila pemimpinnya as-saja’ahdan al-karam, artinya pemberani dan pemurah. Pemberani dibutuhkan untuk mematahkan musuh dan perusuh. Pemurah dibutuhkan untuk menolong orang yang tertindas dan kaum buruh.” (Siyasatusy Syar’iyyah bab Cara pemimpin mengatur ekonomi hal.85-87)

Selanjutnya beliau Shallollohu ‘alaihi wasallam berpesan kepada kita umat Islam agar banyak berinfaq dan menolong orang miskin, karena rizki dating dengan sebab menolong mereka.

Mush’ab bin Sa’ad berkata, “Sa’d radhiallohu ‘anhu memandang dirinya lebih mampu daripada yang lain, lau Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tidaklah kamu mendapatkan kemenangan dan kelapangan rizki melainkan sebab kamu menolong kawanmu yang miskin.” (HR. Bukhari 3/1061, Shahih Ibnu Hibban 11/85)

Abu Darda’ berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallam bersabda:

Bantulah aku membantu kaum dhu’afa (orang-orang miskin) di kalangan kalian, karena tidaklah engkau mendapatkan rizki dan kemenangan melainkan karena kamu tolong mereka.” (HR. Tirmidzi 4/206, Imam Syaukani berkata: Hadits yang serupa diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dengan sanad shahih, lihat Nailul Authar 8/103)

 

D. Jalan menuju kecukupan 

Untuk memperoleh kecukupan dan ketenangan jiwa pada saat dilanda kekurangan kebutuhan hidup, lakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Bersabar atas ketentuan Alloh 

Maksudnya kita, umat Islam, tidak boleh mengeluh dan putus asa. Karena tidak mungkin kita keluar dari ketentuan-Nya. Musibah ini bukan hanya menimpa diri kita saja, tetapi juga menimpa para utusan sebelumnya, terutama Nabi kita Shallollohu ‘alaihi wasallam.

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. al-Baqarah: 214)

Orang yang bersabar akan mendapatkan pertolongan sebagaimana firman Alloh:

Bersabarlah, sesungguhnya Allah menolong orang-orang yang sabar. (QS. al-Anfal: 46)

2. Bersabar atas tindakan pemimpinnya 

Sikap Ahlu Sunnah wal Jama’ah atau salafush shalih ketika melihat tindakan pemimpin yang dibenci, bukanlah unujuk rasa, demonstrasi, apalagi melakukan perusakan, tetapi bersabar.

Hudzaifah bin al-Yaman radhiallohu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallam bersabda: Dan akan dipimpin umat ini oleh pemimpin, hati mereka adalah hati setan yang masuk ke dalam tubuh manusia. Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang harus aku perbuat jika aku menjumpainya?’ Beliau Shallollohu ‘alaihi wasallammenjawab: Dengarkan dan taati pemimpin, walaupun dipukul punggungmu dan dirampas hartamu. Dengarkan dan taatilah.” (HR. Muslim 3/1476, al-Mustadrak, ash-Shahihah 4/547)

Mudah-mudahan hadits ini dapat memadamkan emosi dan kemarahan jiwa kaum muslimin yang berkenan melihat tindakan pemimpinnya. Dengan bersabar, insya Alloh masalah menjadi lebih ringan dan aka nada jalan keluarnya.

3. Tetap istiqomah dan taqwa kepada Alloh 

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. (QS. ath-Thalaq: 2-3)

 

4. Optimis dan yakin Alloh tetap member rizki 

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallohu ‘anhu, Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallambersabda:

Sesungguhnya Jibril ‘alaihisallam meniupkan di dalam jiwaku, sesungguhnya salah seorang dari kaliantidak akan mati hingga telah sempurna rizkinya, maka takutlah kepada Alloh dan carilah rizki dengan cara yang baik. (Musnad asy-Syihab 2/185, al-hakim 2/4, Ibnu Abi Hatim 2/1, al-Hilyah 10/27. Hadits shahih, lihat Takhrij Hadits Musykilatil Faqri hal. 14 oleh al-Albani)

 

5. Tanamkan rasa qana’ah dan merasa cukup 

Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sungguh beruntung orang Islam yang berserah diri dan merasa cukup dengan rizki yang ada dan merasa puas atas pemberian-Nya. (HR. Muslim 2/370 dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, Ahmad 2/168, Sunan al-Baihaqi 4/196, Syu’abul Iman 7/290, dan lainnya)

 

6. Hindarkan ambisi rakus dunia 

Factor utama hancurnya umat dan perusak pada zaman dahulu maupun sekarang adalah tamak atau rakus kedudukan dan harta. Padahal kaya yang hakiki ialah kaya jiwa, mampu menghadapi semua masalah. Hal ini tidak mungkin diperoleh kecuali bagi orang yang beriman dan berilmu dienul Islam.

Abu Hurairah radhiallohu’anhu berkata, “Nabi Shallollohu ‘alaihi wasallam bersabda:Bukanlah kaya itu orang yang banyak harta, tetapi kaya itu kaya jiwa.” (HR. Bukhari 6081, Muslim 1051)

 

7. Hindarkan pemborosan dan israf 

Sebenarnya rizki yang Alloh berikan kepada hamba-Nya seudah cukup untuk kepentingan primer setiap harinya. Namun hawa nafsu tidaklah pernah berhenti menyuruh kita boros dan membeli sesuatu yang tidak ada gunanya. Misalnya, membeli TV, menghiasi dalam dan luar rumah yang tidak berfaedah, makan enak yang bukan tuntutan perutnya, rekreasi (piknik), nonton hiburan, dan masih banyak lagi.

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. al-A’raf: 31)

Dengan menjauhi perkara ini, insya Alloh rizki dari Alloh cukup untuk menutup kebutuhan.

8. Hindarkan segala tindakan yang merusak badan dan keimanan 

Misalnya merokok. Perokok adalah perusak badan dan ekonomi keluarga. Demikian juga judi dan minuman yang memabukkan. Karena merokok tidaklah menghilangkan lapar dan haus, berbeda dengan makan dan minum. Orang bisa berpikir, bila uang untuk membeli rokok dikumpulkan untuk menafkahi keluarga, insya Alloh lebih dari cukup dan manfaatnya jelas. Perhatikan firman Alloh:

Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. al-Baqarah: 195)

Adapun yang merusak keimanan, seperti menggunakan harta untuk berziarah ke kuburan wali, atau tempat keramat, inilah perusak kekayaan dan iman. Demikian juga membeli jimat untuk mencari kakayaan dan ketenangan. Ini adalah pekerjaan kyai tukang sihir mengeruk harta orang awam dan merusak tauhid mereka.

 

9. Berusaha hidup hemat sesuai dengan rizki yang diterima 

Kita hendaknya bisa membedakan antara kebutuhan perut dengan keinginan. Jangan sampai rizki yang sudah cukup menjadi kurang karena mengikuti hawa nafsu.

Sebagai penutup, cermatilah firman Alloh berikut:

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Alloh kepadanya. Alloh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Alloh berikan kepadanya. Alloh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. ath-Thalaq: 7)

Disalin dari majalah Al Furqon Edisi : 3 tahun V// Syawal 1426/ Nopember 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: