SERIAL BAITI JANNATI (JURUS KE-27)

Kisah ini saya dengar pertama kali dari ceramah seorang ustadz lewat kaset. Saat itu beliau sedang membahas tema tentang “Berbakti Kepada Orang Tua”. Beliau membawakan kisah ini saat sedang mengkaji sebuah pembahasan “Apakah seorang anak harus mematuhi orang tuanya apabila orang tua menyuruhnya untuk menceraikan istrinya ?”. Sungguh sebuah kisah menarik yang sarat akan pelajaran berharga.

Kisah ini saya dengar sudah cukup lama. Sekitar delapan tahun yang lalu kalau tidak salah. Namun tiba-tiba kisah ini muncul kembali dalam ingatan saya. Dan saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari kisah ini terkait kehidupan berumah tangga. Pingin tahu kisahnya?

 

>>> Mengambil Pelajaran dari Keluarga Nabi Isma’il ‘alaihis salam

Kisah ini terdapat di dalam Kitab Shahih al-Bukhari. Kisahnya cukup panjang. Bagi yang ingin membaca kisah selengkapnya silakan baca hadits nomer 3364 dalam Kitab Shahih al-Bukhari. Adapun saya pada kesempatan kali ini hanya akan menyampaikan penggalam kisah yang terkait dengan tema perbincangan kita.

Kurang lebih begini kisahnya….

Pada suatu hari datanglah Nabi Ibrahim ke Mekah setelah anaknya Ismail menikah Akan tetapi, dia tidak menjumpai Ismail di rumahnya. Dia hanya berjumpa dengan istri Isma’il. Maka Nabi Ibrahim pun bertanya kepadanya.

Istrinya Isma’il menjawab, “Dia sedang keluar mencari nafkah untuk kami.” Kemudian Nabi Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Maka dijawab, “Kami dalam kondisi buruk. Kami dalam kesempitan dan kesulitan.” Kemudian dia mengadukan  kepada Nabi Ibrahim perihal keadaan keluarganya. Maka Nabi Ibrahim berpesan, “Jika suamimu datang, sampaikanlah salamku padanya dan katakan padanya untuk mengganti palang pintunya.”
Ketika Ismail datang, seakan- akan dia merasakan sesuatu. Dia bertanya, “Apakah ada seseorang yang mendatangimu?” Istrinya menjawab, “Ya, seorang orang tua begini dan begitu telah mendatangiku. Kemudian dia bertanya tentangmu, maka aku pun memberinya kabar. Dia juga bertanya bagaimana kehidupan kita maka aku memberitahunya bahwa kita dalam keadaan sulit dan susah.”

Ismail bertanya, “Apakah ia memberi wasiat kepadamu?” Dia menjawab, “Ya, dia menyuruh menyampaikan salam kepadamu, dan dia berpesan, “Gantilah palang pintumu!” Ismail berkata, “Itu adalah ayahku. Dia memerintahkanku untuk menceraikanmu. Karena itu, pulanglah kepada keluargamu!”
Isma’il pun menceraikannya lalu menikahi wanita lain dari golongan mereka. Ibrahim pun tinggal jauh dari mereka. Setelah itu Ibrahim datang lagi, tetapi dia tidak mendapati Ismail, maka diapun menemui istrinya dan menanyakan Ismail kepadanya. Sang istri menjawab, “Dia keluar mencari nafkah untuk kami.” Ibrahim bertanya, “Bagaimana  keadaan kalian?” Ibrahim menyakan tentang kehidupan dan kondisi mereka. Sang istri menjawab, “Kami dalam keadaan baik dan dalam kondisi lapang.” Sang istri pun memuji Allah.

…..

Kemudian, Ibrahim bertanya lagi, “Jika suamimu tiba, sampaikan salamku kepadanya dan suruhlah dia untuk menetapkan palang pintunya.” Maka ketika Ismail tiba, dia bertanya, “Apakah seseorang mendatangimu?” Dia menjawab, “Ya, seorang tua yang bagus keadaannya telah mendatangiku”. Dia pun memujinya. “Kemudian dia bertanya tentangmu, maka aku pun memberitahunya. Dia bertanya tentang kehidupan kita maka aku memberitahunya bahwa kita dalam keadaan baik.” Ismail bertanya, “Apakah ia mewasiatkan sesuatu kepadamu?” Dia menjawab, “Ya, dia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhmu untuk menetapkan palang pintumu.” Dia berkata, “Itu adalah ayahku dan kamulah palang pintu. Ia menyuruhku untuk mempertahankanmu.”[1]

>>> Nasihat Orang Tua yang Bijak

Saat kembali teringat dengan kisah ini, pikiran saya langsung melayang kepada diri saya. Ya, kepada diri saya. Lebih tepatnya kepada keluarga saya, istri saya dan saya sendiri. Sungguh saya akan sangat kecewa jika istri saya melakukan perbuatan yang sama dengan yang dilakukan oleh istri pertama Nabi Isma’il ‘alaihis salam.

Saya yakin, setiap pasangan suami istri tentu tidak ingin jika urusan rumah tangganya sampai diketahui oleh orang lain. Apalagi jika menyangkut perkara yang sifatnya sangat rahasia. Misalnya tentang aib yang ada pada anggota keluarga, baik aib suami atau istri.

Oleh karena itu, hendaknya para pasutri menjaga baik-baik rahasia yang ada dalam keluarga masing-masing agar tidak terjadi hal-hal yang tidak mengenakan di kemudian hari. Dan inilah jurus ke-27 itu: JAGALAH RAHASIA KELUARGA KITA! Insya Allah dengan begitu kehidupan rumah tangga kita akan harmonis dan bahagia.

Saya jadi teringat dengan nasihat yang sering disampaikan oleh para orang tua yang bijak kepada anaknya yang hendak memasuki pintu gerbang pernikahan. Kurang lebih nasihatnya begini, “Nak, kalau nanti kamu menghadapi sebuah problema, hadapi saja bersama. Bicarakan bersama. Diskusikan bersama. Cari solusinya bersama. Dan, tutup rapat-rapat rahasia yang ada pada keluargamu. Jangan ceritakan kepada orang lain…..Jangan sampai ayah dan ibu tahu….”.

 

>>> Bisa Berbahaya

Sudah saya jelaskan pada jurus-jurus sebelumnya bahwa setan yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah setan yang berhasil menceraikan pasangan suami istri. Dan setan tentu saja akan menggunakan berbagai macam cara untuk bisa membuat bahtera rumah tangga anak Adam hancur berkeping-keping sebelum sampai ke tujuan. Dan bisa jadi, inilah celah empuk bagi setan untuk bisa membuat sebuah rumah tangga hancur. Bisa jadi, saat salah seorang anggota keluarga (entah suami atau istri) menyebarkan aib keluarga kepada orang lain, maka muncullah bibit-bibit kebencian dalam diri pasangan suami istri. Dengan munculnya bibit-bibit itu, maka begitu mudah bagi setan untuk kemudian menyiraminya hingga membuat bibit-bibit itu tumbuh besar dan membuahkan pertengkaran dalam rumah tangga.

Ada sebuah kisah nyata dari sepasang suami istri. Sebut saja namanya Fulan dan Fulanah. Sebelum menikah, Fulanah pernah berpacaran dengan Si Fulanto.

Suatu hari, pada sebuah acara walimahan, secara tidak sengaja Fulanah berjumpa kembali dengan Fulanto. Merekapun kemudian terlibat perbincangan. Dalam perbincangan itu, Fulanah menceritakan keadaan keluarganya kepada si Fulanto. Inti dari ceritanya, Fulanah merasa kecewa dengan suaminya. Dia merasa suaminya itu kurang bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya sehari-hari.

Cerita ini pun kemudian menyebar ke banyak orang. Hingga akhirnya singgah ke telinga Fulan. Langsung saja Fulan “melabrak” istrinya.

“Kamu ketemu di mana dengan dia………bla…bla……..”.

Semenjak itu hubungan mereka menjadi tidak harmonis. Rasa cinta Fulan kepada Fulanah menjadi semakin berkurang. Dia pun tertarik untuk melirik wanita lain. Rasa cinta Fulanah kepada Fulan pun sama. Bahkan Fulanah beberapa kali pernah berkata kepada kawannya, “Coba kalau dulu gua nikah sama si Fulanto, tentu nggak bakalan begini…………..”.

Pernah juga saya dapat cerita dari seorang kawan. Kawan saya itu punya teman yang sudah berkeluarga. Namun keluarganya tidak harmonis. Teman kawan saya itu sering cekcok dengan istrinya.

Pada suatu ketika teman kawan saya itu menceritakan kondisi keluarganya kepada kawan saya. Dia ceritakan semua yang terjadi dalam keluarga. Dia ceritakan pula akhlak buruk istrinya. Dan dia sampaikan juga keinginan untuk menceraikan istrinya itu.

Tanpa mereka sadari, obrolan mereka berdua ternyata didengar oleh seorang wanita yang diam-diam menyukai teman kawan saya itu. Wanita itu jadi tahu kalau teman kawan saya itu sudah tidak lagi menyukai istrinya. Wanita ini pun kemudian mencoba untuk melakukan pendekatan. Cerita selanjutnya, saya tidak tahu lagi.

Dua kisah ini kiranya sudah cukup untuk menjadi pelajaran buat para pasutri untuk berhati-hati dalam menjaga lisan. Hendaknya para pasutri menahan lisanya dari menceritakan rahasia yang ada dalam keluarga. Jangan sampai mereka membuka celah bagi setan untuk memporakporandakan rumah tangga yang sedang mereka bangun berdua.

 

>>> Jika Memang Harus Bercerita

Namun bukan berarti kita tidak boleh sama sekali buka mulut tentang rahasia yang ada pada keluarga kita kepada orang lain. Pada asalnya tidak boleh, karena bisa masuk kepada ranah ghibah nantinya.Namun adakalanya kita boleh menceritakannya jika memang ada maslahat besar di dalamnya. Misalnya ketika kita minta solusi dari problema rumah tangga yang kita sedang hadapi kepada orang yang kita yakini berilmu dan bijaksana.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Kitab Riyadhus Shalihin mengatakan, “Ketahuilah sesungguhnya ghibah itu ada yang dibolehkan untuk tujuan yang benar menurut syari’at, yang tidak mungkin tujuan itu tercapai kecuali dengan ghibah tersebut, dan hal ini boleh dengan enam sebab: (Diantaranya beliau berkata) [2] Meminta tolong dalam merubah kemungkaran, dan mengembalikan orang yang bermaksiat kepada jalan ketaatan, maka baginya diperbolehkan mengatakan kepada orang yang diharapkan mampu menghilangkan kemungkaran:”Si Fulan telah melakukan ini itu, maka cegahlah ia!” atau semisalnya. Jadi maksud dari menceritakan kejelekan orang di sini adalah bertawassul untuk menghilangkan kemungkaran, akan tetapi jika tanpa disertai niat tadi maka hukumnya haram.” (Riyadhus Shalihin, Bab 256: Ghibah yang Dibolehkan)[2]

Pada jaman Rasulullah dahulu pernah suatu hari para Sahabiat (Sahabat wanita) mendatangi keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka mengeluhkan suami-suami mereka yang suka memukul. Nabi pun kemudian memberikan arahan kepada para suami lewat sabdanya:

خيركم خيركم لأهله و أنا خيركم لأهلي

“Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku.” (HR. At-Trimidzi)

Namun saya kembali mengingatkan. Hendaknya diupayakan untuk menyelesaikan sendiri dahulu setiap problema rumah tangga yang dihadapi. Jangan sampai orang lain tahu, termasuk orang tua. Jika kemudian tidak bisa diselesaikan sendiri, maka silakan untuk minta bantuan orang lain. CArilah orang yang memang benar-benar kita kenal akan keilmuannya, kebijaksanaannya, dan keamanahannya dalam menjaga rahasia. Mintalah solusi kepadanya. Kalau bisa, usahakan untuk menggunakan bahasa yang tidak langsung menjerus ke individu tertentu. Gunakanlah bahasa yang umum terlebih dahulu. Misalnya, “Bagaimana menurut Bapak jika ada seorang suami yang……………………….atau istri yang……………..”.

Jadi pada intinya, hendaknya kita semua berhati-hati dalam menggunakan lisan kita. Sebelum berkata-kata, hendaknya kita fikirkan dulu dampak dari ucapan yang akan kita lontarkan. Jika nantinya bisa berdampak buruk dan tidak ada manfaatnya, hendaknya kita tahan lisan kita. Jika ada manfaatnya, baru kita membuka mulut.

Sungguh indah perkataan yang diucapkan oleh Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu:

قل خيرا تغنم أو اسكت عن شر تسلم و إلا أنك ستندم

“Katakanlah yang baik maka engkau akan beruntung. Atau diamlah dari berkata yang buruk maka engkau akan selamat. Jika tidak –ketahuilah- sesungguhnya engkau akan menyesal.”[3]

Intinya -sekali lagi- kepada para pasutri, jagalah rahasia keluarga kita. Insya Allah rumah tangga kita akan harmonis dan bahagia. Insya Allah….

Wallahu a’lam.

 

Bogor, 4 April 2012, Menjelang Dzuhur

Ditulis bersama:

Muhammad Mujianto al-Batawie

Hamroh Humaeroh al-Batawiah

 

 

 

 

 


[1] Baca kisah selengkapnya dalam H.R Bukhari (3364).

[2] Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2, Imam Nawawi, Penerbit Duta Ilmu Surabaya, Cetakan Kedua: Oktober 2004, Hal. 548.

[3] Dikutip dari Ustadz Maududi dalam jeda Rodja dengan judul “Menjaga Lisan”, dengan pengubahan terjemah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: