LAGI-LAGI NAHWU !

Beberapa tahun yang lalu, saat saya mengikuti pelatihan Bahasa Arab selama sebulan di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur, salah seorang ustadz yang mengajar sempat menyampaikan kritikan kepada para santri di pondoknya yang lebih senang belajar ilmu nahwu ketimbang ilmu shorof. Mereka lebih bersemangat untuk mendalami nahwu dibanding shorof.  Padahal, menurut ustadz itu, justru ilmu shoroflah yang mestinya mendapat perhatian lebih dibanding ilmu nahwu. Kenapa?

Sebab begini. Jika seseorang pandai ilmu shorof tapi tak terlalu pandai ilmu nahwu, maka dia masih bisa membaca sebuah tulisan berbahasa Arab. Meskipun dengan mensukunkan huruf akhirnya, seperti halnya ketika membaca ayat-ayat al-Qur’an saat diwaqofkan. Namun, jika seseorang pandai dalam ilmu nahwu namun lemah dalam ilmu shorof, kemungkinan besar dia akan menemui kesulitan dalam membaca sebuah kata. Sebab harokat sebelum akhir dari sebuah kata kemungkinannya bisa banyak. Berbeda halnya dengan harokat akhir sebuah kata yang tidak jauh-jauh dari dhommah, fathah, kasroh, dan sukun. Dan dalam ilmu nahwu fokus pembahasan ada pada harokat akhir kata. Sedangkan dalam ilmu shorof, fokus pembahasan pada harokat semua huruf akhir sebuah kata. Sudah kebayang kan mana yang mestinya harus mendapatkan perhatian serius.

Terus terang saja, saya setuju dengan ustadz itu. Bahkan sangat setuju. Dan saya punya sedikit pengalaman terkait hal ini.

Ketika awal pertama kali belajar bahasa Arab, yang diperkenalkan kepada saya adalah ilmu nahwu.  Beberapa kali dalam seminggu saya diajarkan kaidah-kaidah yang ada dalam ilmu nahwu. Namun, selama selama hampir setahun belajar, saya tetap tidak bisa membaca kitab gundul. Saya sendiri waktu itu belum ngerti arah pembahasan ilmu nahwu sendiri mau ke mana?

Waktu itu saya sudah belajar sungguh-sungguh dalam belajar. Saya kepingin sekali bisa membaca kitab gundul. Buku-buku nahwu banyak saya beli. Namun, tetap saja saya tidak bisa-bisa. Hingga akhirnya…..

Saat sedang berjalan melewati lorong sebuah stasiun kereta, saya melihat ada pedagang buku-buku bekas yang menggelar dagangannya di samping loket penjualan karcis kereta. Secara tidak sengaja mata saya melihat kepada sebuah buku yang judulnya bertuliskan huruf arab. Sampul bukunya berwana biru. Tertera di sampul depan buku itu sebuah tulisan “كتاب التصريف “. Dari judulnya kita tentu tahu bahwu buku itu berisikan pembahasan tentang ilmu shorof.

Waktu itu ada dua buku yang saya beli. Satunya lagi buku Fighul Lughoh yang berisi tentang ilmu nahwu sekaligus ilmu shorof. Bukunya bagus karena berisi banyak contoh dan diselingi oleh cerita-cerita menarik dalam bahasa Arab.

Kedua buku itu saya bawa pulang. Saat masih di perjalanan, sempat saya buka-buka sebentar. Kalau buku Fighul Lughoh bahasanya masih campuran sehingga waktu itu saya merasa masih mungkin untuk mempelajarinya sendiri. Berbeda halnya dengan “كتاب التصريف “. Isinya full bahasa Arab.

“Waduh, gimana belajarnya nih?!” pikir saya waktu itu.

Beberapa hari kedua buku itu masih belum saya buka. Sebab masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Baru kemudian saat saya memiliki waktu luang agak banyak, saya pun tergerak untuk membuka-buka buku “كتاب التصريف “.

Setelah saya baca secara seksama, ternyata “كتاب التصريف “ tidak sepenuhnya berisi bahasa Arab asli. Meskipun bertuliskan huruf Arab (huruf hijaiyyah), tapi ternyata bahasanya adalah bahasa latin. Saya biasa menyebutkan bahasa Arab Latin (nggak tau bener nggak nih istilah ini….?). Sehingga saya pun akhirnya bisa mempelajari buku ini dengan baik.

Setelah menyelesaikan buku ini dan menghafal sekitar 80 % dari isi buku, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ketika saya membaca kitab-kitab gundul, saya jadi merasa lebih mudah. Beda jauh keadaannya ketika dahulu saya tidak belajar ilmu shorof.

Jadi memang, kalau kita ingin lancar membaca kitab gundul, kita harus bekali diri kita pertama kali dengan ilmu shorof. Dan saya berpendapat bahwa salah satu kunci sukses untuk bisa membaca kitab gundul adalah dengan mengusai ilmu shorof. Setelah itu baru lebih fokus mempelajari ilmu nahwu.

Namun, pada kenyataannya banyak orang yang sepertinya lebih senang belajar ilmu nahwu dibanding ilmu shorof. Kenapa bisa seperti itu? Kalau menurut dugaan saya sih karena belajar shorof itu berat. Sebab harus menghafal pola-pola pembentukan kata yang jumlahnya sangat banyak. Beda dengan ilmu nahwu yang hanya menyusun kata yang sudah jadi menjadi kalimat. Yah ibarat batu-bata dan tembok. Lebih sulit mana, bikin batu-bata atau menyusun batu-bata yang sudah ada menjadi tembok? Tentu bikin batu-batanya, kan?

Saya saja waktu pertama kali belajar shorof pagi-siang-malam menghafal pola-pola pembentukan kata. Kadang saya ucapkan, kadang saya tuliskan dalam berlembar-lembar kertas. Begitu terus saya lakukan selama hampir sebulan. Dan ketika pelatihan bahasa Arab selama sebulan di Jawa Timur, saya mendengar di kelas dasar hampir setiap hari para peserta berteriak-teriak menghafal pola kata. Alhamdulillah saya waktu itu tidak ikutan teriak-teriak karena saya ikut di kelas lanjutan yang lebih fokus membahas kaidah nahwu lebih mendalam.

Mungkin ada yang berkata, “Bukankah mestinya kedua ilmu ini dipelajari berbarengan?”.

Ya, saya setuju. Namun, saya menyarankan: ketika pertama kali belajar bahasa Arab, lebih fokuslah belajar ilmu shorof. Adapun ilmu nahwu, pelajari dengan santai saja namun tetap serius.

Demikian. Semoga bermanfaat.

 

Bogor, Selasa 2 Oktober 2012

 

Muhammad Mujianto al-Batawie

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: