ANAK KECIL SAJA BISA ! (Serial STRATEGI SUKSES BELAJAR BAHASA ARAB)

Jika kita memperhatikan proses perjalanan seorang anak balita hingga sampai pada tahapan bisa berlari kencang, sungguh akan kita dapati banyak pelajaran berharga yang bisa kita terapkan untuk meraih kenerhasilan dalam belajar bahasa Arab. Bahkan tidak hanya bahasa Arab. Untuk ilmu-ilmu yang lain pun bisa. Namun, kali ini saya ingin fokus pada bahasa Arab saja. Untuk ilmu-ilmu yang lain saya serahkan kepada kawan-kawan yang faham untuk menulisnya.

Pelajaran pertama, untuk bisa sampai pada tahapan berlari, paling tidak ada 5 tahapan yang harus dilalui. Yaitu: tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan. Hingga akhirnya seorang anak kecil pun pun bisa berlari dengan kencangnya.

Pelajaran kedua, terkait dengan kesungguhan. Coba saja lihat anak bayi yang sedang belajar tengkurap. Setiap hari dia berusaha terus untuk membalikkan badannya. Terus dia lakukan meski berat dirasa. Tak pernah bosan dia mencoba dan mencoba. Dan, hal yang sama dia lakukan juga saat ingin bisa berjalan. Awalnya sering jatuh. Tapi, dengan kesungguhan yang luar biasa, diapun kemudian bisa tegak berdiri, untuk kemudian berjalan dan berlari.

Pelajaran ketiga, tentang kesabaran. Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang bayi untuk bisa sampai berlari dengan kencang. Kurang lebih dua tahunan. Ya kurang lebih segitu lah. Dan itu bukanlah waktu yang singkat. Tapi, sang bayi tetap bersabar untuk melewatinya. Dia tidak berkeluh kesah meski sering terjatuh. Memang kita lihat dia menangis. Tapi itu dikarenakan rasa sakit. Dan ini wajar. Namun dia tidak mengeluh. Dia terus mencoba dan berusaha. Berkat kesabarannya ini, dua tahun kemudian, dia pun bisa ikutan lomba lari bersama ayahnya di pinggir lapangan sepak bola.

Bahasa Arab pun kurang lebih seperti itu. Untuk sampai pada tingkatan mahir, ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Dibutuhkan pula kesungguhan dan kesabaran dalam mempelajarinya.

Paling tidak ada 3 tingkatan yang harus dilewati dalam belajar bahasa Arab. Tingkatan dasar, tingkatan menengah, dan tingkatan atas. Masing-masing tingkatan ada kitab khusus yang digunakan. Dan masing-masing tingkatan harus dilewati secara bertahap. Sangat tidak disarankan seorang mempelajari kitab untuk tingkatan atas, sebelum dia menguasai dengan baik kitab tingkatan menengah. Sebagaimana sangat  tidak disarankan seorang anak kecil disuruh berlari sebelum dia kuat kokoh berdiri.

Pernah ada seorang penuntut ilmu yang tertarik mempelajari Kitab Al-Fiyyah. Padahal dia baru saja menyelesaikan kitab tingkatan dasar. Sedangkan Kitab Al-Fiyyah biasanya dipelajari untuk tingkatan atas. Beberapa bulan lamanya dia pelajari kitab itu. Namun, dia belum ngerti-ngerti juga. Banyak istilah baru yang dia belum faham. Sehingga, walaupun hampir semua isi kitab itu dia baca, dia masih belum terlalu ngerti juga ilmu nahwu. Dan dia baru mengerti setelah mempelajari kitab nahwu untuk tingkat menengah.

Jadi, ketika kita belajar bahasa Arab, janganlah tergesa-gesa. Laluilah setiap tingkatannya. Jangan melompat ke tingkat yang lebih tinggi sebelum kuat berpijak di tingkat sebelumnya. Insya Allah, bahasa Arab akan bisa difahami dengan mudah.

Kemudian, belajar bahasa Arab pun perlu kesungguhan. Harus banyak latihan. Harus terus mencoba dan terus mencoba. Jika menemui kesulitan, segera konsultasikan kepada orang yang sudah terlebih dahulu bisa. Jangan pernah malas untuk berlatih! Ingat kata pepatah Arab. Man jadda wajada, barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil.

Saya punya seorang teman yang sangat luar biasa kesungguhannya dalam belajar bahasa Arab. Meskipun dia sibuk dengan kuliah, namun dia tetap menyempatkan diri untuk belajar bahasa Arab. Setiap pagi dia belajar bahasa Arab dikosannya bersama kawan-kawan yang lain. Kemudian di hari sabtu dan ahad, dia belajar full dari sore hingga pagi lagi di tempat lain diluar kosan. Diapun minta kesediaan seorang ustadz untuk membimbingnya dalam latihan membaca kitab. Akhirnya, dia pun bisa menguasai ilmu bahasa Arab dengan baik. Setelah lulus kuliah dia bekerja menjadi editor bahasa di sebuah penerbitan buku Islam yang cukup besar di Jakarta. Padahal dahulunya dia kuliah di bidang pertanian. JAdi tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasa Arab.

Terakhir, karena untuk bisa bahasa Arab perlu melewati beberapa tingkatan, maka dibutuhkan kesabaran dalam melewatinya. Jangan tergesa-gesa. Pelan-pelan saja. Insya Allah, kalau kita sabar dalam mempelajarinya, lama kelamaan kita akan bisa juga.

Sedikit setiap hari tidak mengapa. Sehari misalnya kita hanya membaca 10 halaman buku atau hanya menghafal satu kaidah dan 3 kosa kata. Tapi tidak mengapa. Yang penting kontinyu dan terus bersabar. Bukankah bukit yang tinggi itu berasal dari tumpukan batu-batu kerikil yang kecil. Konon, Imam Syafi’i saja butuh waktu 10 tahun untuk bisa menguasai bahasa Arab. Lalu, bagaiamana dengan kita ?! MAka, bersabarlah !!! Bersabarlah !!!

Sekali lagi, lewatilah tahapan demi tahapan. Bersungguh-sungguhlah! Dan, Bersabarlah! Semoga kita semua diberi kemudahan untuk mepelajari ilmu yang bermanfaat.

Demikian saja. Semoga bermanfaat!

Cikarang, Ahad 7 Oktober 2012

Waktu Dhuha, di rumah mertua

Muhammad Mujianto Al-Batawie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: