DIA ADALAH SAHABATKU (Serial TAMAN PERSAHABATAN_BAG 2)

“Semoga Allah membalas niat baiknya dengan balasan yang berlipat ganda”.

Inilah doa yang ingin aku panjatkan untuknya. Semoga Allah membalas niat baiknya dengan balasan yang berlipat ganda. Ya, dengan balasan yang berlipat ganda.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Dia orangnya sederhana. Keadaan ekonominya pas-pasan. Bahkan mungkin bisa dikatakan tergolong miskin. Namun, meski tergolong miskin, dia tidak segan-segan untuk mengeluarkan uangnya demi menyenangkan hati orang-orang di sekitarnya dengan hadiah.

Dia tidak mempunyai pekerjaan tetap. Kerjanya serabutan. Apa saja yang bisa menghasilkan uang dia kerjakan. Karena pekerjaannya tidak tetap, maka uang yang didapatnya setiap bulan pun tidak tetap pula. Bahkan pernah, tatkala dia sedang tidak bekerja, dia tidak memegang uang sama sekali.

“Ane pernah nggak punya uang, hatta 500 perak sekalipun”, demikian ucapnya kepadaku pada suatu ketika.

Walaupun kawanku ini bisa dibilang orangnya biasa-biasa saja, tidak jauh beda dengan orang kebanyakan, namun ada satu hal yang aku kagumi dari dirinya. Dia begitu bersemangat dalam berinfak, meski kondisi ekonominya pas-pasan.

“Ane pingin setiap hari infak meski cuma gopek. Tapi sepertinya Allah belum berkenan untuk memberi ane kesempatan untuk itu.”

Inilah salah satu keinginannya yang pernah dia ungkapkan kepadaku. Katanya, setelah dia membaca sebuah hadits, dia jadi ingin untuk setiap hari berifak meski jumlahnya sangat sedikit. Pingin tahu hadits apa yang dia baca? Ini dia…..

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah harta) orang yang kikir.’” [Muttafaq ‘alaih. Shahiih al-Bukhari kitab az-Zakaah bab Qau-luhu Ta’ala: Fa Amma Man A’thaa wat Taqaa wa Shaddaqa bil Husnaa (III/304 no. 1442) dan Shahiih Muslim kitab az-Zakaah bab Fil Munfiq wal Mumsik (II/700 no: 1010 (57)).]

Dia juga punya keinginan untuk setiap bulannya menyumbang 50 ribu untuk pembangunan pondok pesantren. Katanya, dia ingin mendapatka pahala mengalir. Tapi lagi-lagi, dia belum diberi kesempatan oleh Allah untuk itu.

Dia pernah memotifasiku untuk berinfak pada suatu ketika.

“Kalau kita berinfak, selain dapet pahala, insya Allah kita juga akan mendapat gantinya di dunia. Insya Allah infak kita akan dibalas berlipat ganda”

Demikian nasihatnya kepadaku. Kemudian diapun menceritakan pengalaman pribadinya. Katanya pernah dia hanya mengantongi uang sekitar 50 ribu. Uang itu hasil keuntungan dia berdagang. Dan tentu saja dia sangat butuh uang itu untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Namun, dia tetap menyisihkan sebagiannya untuk dinfakkan. Dia sisihkan 5 ribu untuk disumbangkan ke sebuah masjid yang sedang dalam tahap renovasi.

“Alhmadulillah, setelah itu ane dapet balasan dari Allah 10 kali lipat. Ane dapet pesanan barang yang untungnya sebesar 50 ribu.” Katanya kemudian.

Hmmm…….Kawan. Semoga Allah memberi balasan yang berlimpah untukmu dan mengabulkan apa yang menjadi keinginan dan niat baikmu. Dan semoga Allah memberinya pasangan hidup yang shalihah yang mau mengerti keadaan dirinya. Amiin…

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari rodhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.

“Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja:

(1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia.

(2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama.

(3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak
bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak
mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah.

(4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh
Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.”

(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV/562 no.2325, dan Ahmad IV/231 no.18194).

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

 

Bogor, Kamis 8 November 2012

Muhammad Mujianto Al-Batawie.

 

 

Bahan Bacaan:

  1. http://almanhaj.or.id/content/3300/slash/0/doa-para-malaikat-bagi-orang-yang-berinfak-agar-mereka-mendapatkan-pengganti-apa-yang-diinfakkannya/
  2. http://abufawaz.wordpress.com/2012/09/05/dunia-ini-hanya-milik-empat-orang/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: