PETA MENUJU SURGA

35473017.CurugLuhurJika ada orang yang sedang sangat membutuhkan uang diberi sebuah peta. Peta itu berisi panduan menuju ke suatu tempat penyimpanan harta bernilai milyaran rupiah. Namun, peta itu berisi bahasa Asing yang tidak dia mengerti sama sekali. Kira-kira apa yang akan dia lakukan?

Saya yakin, Anda akan memberikan jawaban yang sama dengan saya. Minimal orang itu akan melakukan dua hal: Pertama, dia akan bertanya kepada orang yang mengerti bahasa asing itu untuk minta penjelasan. Atau, yang kedua, karena dia takut dibohongin, maka dia akan belajar terlebih dahulu bahasa asing itu agar nantinya dia bisa memahami sendiri isi peta.

Nah, sekarang, saya ingin bertanya kepada Anda dan kita semua. Saya, Anda, dan kita semua tentu sangat menginginkan Surga. Betul, tidak ?! Dan  kita semua tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan dua buah peta untuk membimbing kita menuju surga. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا؛ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama-lamanya setelah keduanya: Kitab Allah dan sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di atas telaga (hari kiamat).” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/172)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.

“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitabullah dan sunnah NabiNya.” (HR. Malik secara mursal (Al-Muwatha, juz 2, hal. 999).

Namun, Al-Qur’an dan As-Sunnah itu berbahasa Arab. Dan kita tidak akan bisa memahaminya kecuali jika kita mengerti bahasa Arab. Maka, kenapa sekarang kita tidak tergerak untuk mempelajari bahasa Arab?

Barangkali akan ada yang beralasan begini: Bukankah Al-Qur’an dan Hadits sudah di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Jadi, tidak perlu lagi kita belajar bahasa Arab. Cukuplah kita fahami Al-Qur’an dan Hadits itu dari buku-buku terjemahan saja.

Ya, memang benar, Al-Qur’an dan al-Hadits sekarang ini sudah diterjemahkan. Dan ini tentu saja patut kita syukuri. Sebab, keberadaan terjemahan itu bisa membantu kita untuk memahami keduanya.

Namun, tidakkah kita berfikir. Bagaimana kalau dalam terjemahan itu ada kekeliruan? Mungkin salah cetak atau salah dalam menerjemahkan. Tidakkan kita takut terjatuh pada salah pemahaman akibat salah dalam terjemahan yang kita baca?

Kalau kita salah memahami isi peta yang mengantarkan kita kepada tempat harta karun, paling-paling resikonya kita tidak mendapatkan apa-apa. Namun, kalau kita salah dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah resikonya sangat besar. Bisa-bisa kita malah nyasar masuk ke Neraka.

>>> Meminimalisir Kesalahan

Sekali lagi memang harus kita syukuri adanya terjemahan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan Alhamdulillah semakin hari kualitas buku-buku termahan semakin bagus. Semakin terkontrol.

Terutama Al-Qur’an. Sebelum dicetak, kualitas terjemahannya diperiksa terlebih dahulu oleh para ahli dibawah pegawasan langsung oleh pemerintah. Sehingga lebih meminimalisir kesalahan. Lalu bagaimana dengan As-Sunnah?

Sangat disayangkan, kualitas terjemahan As-Sunnah (hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) tidak seketat Al-Qur’an. Setiap orang bebas untuk menerjemahkan dan menerbitkannya ke tengah-tengah masyarakat. Ada yang kualitasnya bagus dan ada juga yang kurang bagus.

Bahkan saya pernah mendapati ada sebuah penerbit yang menerbitkan sebuah kitab kumpulan hadits yang ditulis oleh seorang ulama berisi hadits-hadits tentang fikih. Pada cetakan pertamanya terdapat banyak sekali kesalahan. Ada yang berupa kesalahan terjemah, kesalahan harokat, dan ada hadits yang tertulis tidak lengkap. Kemudian pada cetakan keduanya penerbit melakukan revisi total. Namun sayangnya, cetakan pertama terbitannya sudah tersebar luas ke masyarakat.

Jadi, akan sangat bagus jika kita bisa menggabungkan dua hal. Pertama, kita bisa membaca terjemahan Al-Qur’an dan As-Sunnah dari penerbit-penerbit yang amanah dan berkualitas. Kemudian kedua, kita juga mengerti bahasa Arab sebagai bekal untuk melakukan koreksi terhadapap terjemahan yang kita baca. Sehingga dengan begitu kesalahan bisa lebih diminimalisir.

>>> Bekal Mentadaburi Al-Qur’an

Khusus Al-Qur’an, telah datang perintah langsung dari Allah Subahanahu wa Ta’ala untuk mentadaburinya. Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

Ÿ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24).

Untuk mentadaburi Al-Qur’an dengan sempurna, tidaklah cukup dengan bermodal terjemahan. Sebab Al-Qur’an memiliki bahasa yang tinggi yang terkadang sulit untuk dicari padanannya dalam bahasa-bahasa selainnya. Dan kita hanya akan bisa merasakan ketinggian bahasa dalam Al-Qur’an jika telah mengerti bahasa Arab.

Sebagai contoh, ada beberapa kata dalam Al-Qur’an yang tulisannya berbeda namun diterjemahkan sama ke dalam bahasa Indonesia. Padahal tentu saja kata-kata yang berbeda itu mengandung maksud yang berbeda pula. Dan kita tidak akan bisa mengetahui dan merasakan hal itu tanpa mengerti bahasa Arab.

Coba perhatikan contoh-contoh berikut!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

[SILAKAN LIHAT MUSHAF]

 “Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang ISTERIku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera”. (QS. Maryam [19]: 5)

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

[SILAKAN LIHAT MUSHAF]

 “Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepadanya Yahya dan kami jadikan ISTERInya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”.(QS. Al-Anbiya [21]:90)

Perhatikan! Pada ayat pertama Alloh Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata “Imro-ah”, sedangkan pada ayat kedua Alloh Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata “Zauj”. Namun kedua kata yang berbeda ini diterjemahkan sama, yaitu “istri”.

Contoh lain lagi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

[SILAKAN LIHAT MUSHAF]

“Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Ali-Imron [3]:153)

Kemudian,dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

[SILAKAN LIHAT MUSHAF]

 “Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Ali-Imron [3]:180)

Perhatikan! Dua ayat di atas memiliki bentuk susunan kalimat yang berbeda, namun diterjemahkan sama dalam bahasa Indonesia.Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.

Maka, jika kita ingin bisa memahami dan mentadaburi isi Al-Qur’an dengan sempurna, wajib bagi kita untuk belajar bahasa Arab. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah berkata:

“Bahasa Arab itu sendiri adalah termasuk dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami al-Qur’an dan as-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa Arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya maka ia (belajar bahasa Arab) menjadi wajib. Kemudian diantaranya ada yang fardhu ‘ain dalam mempelajarinya dan  adakalanya fardhu kifayah.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah: 1/527)

Semoga kita semua dimudahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mepelajarinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: