BELAJAR BAHASA ARAB SECARA OTODIDAK, KENAPA TIDAK ?!

merangkakSekali lagi saya sarankan. Bagi Anda yang punya kemampuan dan kesempatan, sebaiknya Anda belajar bahasa Arab setahun-dua tahun di pondok pesantren. Atau jika tidak, Anda bisa ikutan kursus bahasa Arab di lembaga-lembaga kursus bahasa Asing. Intinya, sebisa mungkin Anda mencari pembimbing yang bisa mengajarkan bahasa Arab secara langsung. Insya Allah cara ini lebih efektif.

Namun, bagi Anda yang belum ada kemapuan dan kesempatan untuk itu, maka silakan Anda belajar secara otodidak. Insya Allah jika Anda bisa menjalaninya dengan baik, hasil yang Anda peroleh tidak jauh dengan mereka yang belajar bahasa Arab di pondok pesantren atau di lembaga kursus bahasa Arab.

 

>>> Seperti Telur

Menurut saya, belajar itu seperti menetaskan telur.    Tidak hanya ada satu cara untuk menetaskan telur. Setahu saya, minimal ada dua cara. Pertama, kita tetaskan telur dengan cara dierami oleh ayam langsung. Kita letakkan telur di bawah tubuh induk ayam yang sedang mengeram. Kedua, kita letakkan telur di sebuah ruangan yang suhunya sama dengan suhu di bawah tubuh ayam betina yang sedang mengerami telurnya.

Belajar bahasa Arab pun begitu. Untuk bisa bahasa Arab, tidak mesti kita harus masuk dulu ke pondok pesantren. Kalau bisa sih bagus. Namun kalau tidak, kita bisa gunakan cara lain. Kita bisa belajar secara mandiri alias otodidak. Yang penting, kita bisa menciptakan atmosfir belajar kita seperti layaknya belajar di pondok pensantren.

 

>>> Mereka yang Berhasil

Saya belum dapati contoh orang yang bisa bahasa Arab hanya mengandalkan belajar dari buku tanpa keterlibatan media lain, seperti MP3, VCD, dll. Saya juga belum dapati contoh orang yang bisa bahasa Arab tanpa sekalipun pernah belajar di hadapan guru secara langsung meski hanya beberapa kali pertemuan. Namun saya kenal dengan beberapa orang yang tidak pernah mondok di pesantren, namun kemudian mereka berhasil mengauasai ilmu Nahwu dan ilmu Shorof. Pada kesempatan kali ini saya akan ceritakan dua orang saja. Semoga bisa diambil pelajaran dari mereka berdua.

Sebut saja namanya Si Ahmad dan Si Ali. Mereka berdua berasal dari sekolah umum. Sehingga tentu saja mereka belum pernah kenal dengan ilmu Nahwu dan Shorof sebelumnya. Mereka baru mengenalnya saat tinggal bersama di sebuah rumah kontarakan yang berlokasi di sekitar kampus tempat mereka kuliah.

Kebetulan kawan satu kontrakan mereka ada yang lulusan pondok pesantren. Sehingga dia diminta untuk mengajar kawan-kawan yang ada di rumah kontrakan itu. Hampir setiap hari mereka belajar. Waktunya pagi hari ba’da shubuh, kurang lebih 45 menit.

Namun, kegiatan belajar bahasa Arab di kontrakan mereka tidak berlangsung lama. Karena terbentur kesibukan kuliah, akhirnya pelajaran dibubarkan. Namun, meskipun di kosan itu sudah tidak ada lagi kegiatan belajar bahasa Arab, tidak lantas menghentikan kegiatan belajar Si Ahmad dan Si Ali. Mereka tetap belajar bahasa Arab. Namun belajar sendiri dengan caranya masing-masing.

Saat liburan kuliah, Si Ahmad memutuskan untuk mengikuti pelatihan bahasa Arab selama sebulan di sebuah pondok pesantren. Setelah itu, dia juga mengikuti pelatihan bahasa Arab selama beberapa minggu yang diadakan oleh sebuah yayasan Islam. Selanjutnya, dia banyak mengembangkan kemampuan bahasa Arabnya sendiri.

Dia coba praktikkan ilmu bahasa Arab yang sudah dia pelajari dengan cara membaca dan mengkaji kitab-kitab ulama. Dia juga minta bantuan salah seorang ustadz untuk membimbingnya berlatih membaca kita gundul. Hingga akhirnya dia punya kemampuan yang cukup untuk membaca kitab-kitab ulama. Dia pun lantas diterima bekerja sebagai editor bahasa di sebuah penerbit buku Islam yang cukup besar di Jakarta. Diantara tugasnya ialah memeriksa hasil terjemahan buku berbahasa Arab sebelum naik cetak.

Lalu, bagaimana dengan Si Ali. Agak berbeda dengan Si Ahmad, Si Ali lebih memilih belajar bahasa Arab sendiri lewat buku. Dia coba beli banyak buku tata bahasa Arab (Nahwu-Shorof). Dia baca dan dia kaji sendiri. Jika menemui kesulitan, dia tanyakan kepada kawannya yang bisa. Dan ini berlangsung sekitar 4 tahun lamanya.

Dia tamatkan beberapa buku Nahwu tingkat dasar. Dia hafalkan pola-pola pembentukan kata dalam ilmu Shorof. Kemudian, dia coba berlatih membaca kitab-kitab gundul. Dan, pada suatu kesempatan, dia juga mengikuti pelatihan bahasa Arab di sebuah pondok pesantren yang sama dengan yang pernah diikuti oleh Si Ahmad.

Alhamdulillah, setelah sekian tahun lamanya belajar, dia berhasil menguasai ilmu Nahwu dan Shorof. Beberapa kitab ulama pernah dia terjemahkan dan kemudian diterbitkan.

Nah, kedua cerita di atas semoga bisa memberikan tambahan penjelasan bahwa untuk bisa bahasa Arab tidak mesti harus masuk pondok pesantren. Di luar pondok pesantren pun kita bisa mempelajarinya. Kita bisa belajar bahasa Arab secara otodidak. Tinggal yang kita butuhkan sekarang adalah infromasi bagaimana caranya belajar otodidak yang efektif. Agar hasil yang dicapai pun bisa memuaskan. Insya Allah informasi itu akan Anda dapatkan di dalam buku ini.

Jadi, belajar bahasa Arab secara otodidak, kenapa tidak ?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: