PROSES MENUJU SUKSES

jejak kakiAda banyak pelajaran yang bisa kita petik dari proses perjalanan seorang anak kecil untuk sampai pada tingkatan berlari. Di sini, cukup saya sampaikan dua pelajaran penting saja yang berkaitan dengan kegiatan belajar bahasa Arab yang akan kita lakukan.

>>> Pelajaran Pertama: Sukses Butuh Proses

Tentu saja seorang anak kecil yang baru lahir tidak akan langsung bisa berlari. Butuh proses. Ada beberapa tahapan yang harus dia lewati. Dari mulau terlentang, tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, baru setelah itu bisa berlari.

Belajar bahasa Arab pun begitu. Tidak bisa kita baru belajar langsung pingin bisa mahir baca kitab gundul. Harus berproses dulu. Lewati tahapan demi tahapan. Jangan tergesa-gesa ingin memanen, jika kita baru saja menebar benih.

>>> Pelajaran Kedua: Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Betapa sering kita melihat anak kecil menangis saat baru belajar berdiri dan berjalan. Kadang dia terjatuh, kemudian menangis, kemudian terbangun, berjalan lagi, terjatuh lagi, menangis lagi, bangun lagi, dan begitu seterusnya.  Entah sudah sudah berapa kali dia merasakan sakitnya jatuh saat belajar jalan. Namun dia tidak putus asa. Dia terus mencoba dan mencoba meski terkarang luka terus bertambah di lututnya. Hingga akhirnya, dia bisa berlari riang ke sana kemari bersama teman-temannya.

Saat seseorang baru pertama kali belajar bahasa Arab, akan banyak ujian yang harus dia lewati. Akan banyak kesakitan dan kepayahan yang akan dia dapati. Dia harus menghafal definisi-definisi, contoh-contoh kalimat, kosa kata, pola-pola pembentukan kata, dan lain sebagainya. Terkadang hal ini membuat pusing sebagian para pelajar pemula (termasuk saya dahulu).

Namun demikianlah yang namanya belajar. Harus ada pengorbanan. Awalnya mungkin akan terasa sakit. Namun, kalau kita mau besabar, cepat atau lambat kita akan bisa merasakan manisnya ilmu itu bersemayam di dalam dada kita.

Inilah dua pelajaran penting yang bisa kita petik.

>>> Mendobrak Pintu

Ada sebuah nasihat berharga dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Suatu ketika, saat beliau sedang memberi penjelasan kitab Muqoddimah Al-Ajurrumiyyah (Kitab Nahwu tingkatan pemula), beliau berkata kepada para murid-muridnya di bagian muqdimah.

Kata beliau, “Oleh karena itu memahami ilmu Nahwu adalah perkara yang sangat penting. Namun ilmu Nahwu itu awalnya sulit dan akhirnya mudah. Permisalannya seperti rumah yang terbuat dari bambu sedangkan pintunya terbuat dari besi. Maksudnya, sulit untuk masuk ke dalamnya. Namun, jika engkau sudah berhasil masuk ke dalamnya, engkau akan mudah melakukan apa saja. Oleh karena itu hendaknya setiap orang memiliki kemauan kuat untuk belajar dasar-dasar ilmu Nahwu terlabih dahulu, hingga mudah baginya untuk naik tahapan selanjutnya.” (Diterjemahkan dari kitab At-Ta’liqoot Al-Jaliyyah, hal. 52,).

Demikian kurang lebih nasihat beliau. Ada yang mengatakan bahwa “pintu besi” yang beliau maksud adalah kitab Al-Ajurumiyyah, kitab nahwu tingkatan pemula. Kitab ini sungguh sangat bermanfaat bagi orang yang ingin mengokohkan kakinya di tingkat dasar ilmu nahwu. Namun, sebagian orang merasa bahwa kitab ini sulit untuk dipelajari. Butuh perjuangan ekstra keras. Saya sendiri lebih memilih kitab lain yang lebih mudah. Kitab Al-Muyassar misalnya.

Namun, apapun pintu besi itu, yang jelas untuk menapaki langkah pertama belajar bahasa Arab memang tidaklah mudah. Namun, tak sesulit pula yang dibayangkan sebagian orang. Memang butuh perjuangan dan butuh pengorbanan. Hanya orang-orang yang memang serius, siap berjuang, dan tahan banting saja yang bisa untuk menguasainya.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…..

Saya tulis pembahasan ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti Anda. Sebab memang demikianlah kenyataannya. Namun, saya punya kabar baik untuk Anda. Saya ingin sampaikan kepada Anda bahwa sebenarnya tidak ada yang sulit dalam melakukan sesuatu itu. Asalkan kita tahu bagaimana cara mengerjakannya dengan mudah. Termasuk belajar ilmu Nahwu dan Shorof.

Ilmu Nahwu itu sebenarnya sederhana saja dalam mempelajarinya. Begitupun dengan ilmu Shorof. Belajar ilmu Nahwu dan ilmu Shorof itu tak ubahnya seperti orang mengupas buah kelapa. Pingin tahu maksudnya apa? Silakan baca uraian selanjutnya.

Demikian saja. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: