ANTARA NAHWU & SHOROF

OLYMPUS DIGITAL CAMERANahwu dan Shorof adalah dua ilmu yang tak bisa dipisahkan. Setiap orang yang ingin bisa baca kitab gundul, dia harus mempelajari keduanya. Tidak bisa diambil salah satunya saja. Kedua-duanya harus dipelajari beriringan.

Namun, sekali lagi saya ingin mengingatkan. Ketika di awal-awal belajar bahasa Arab, berikanlah porsi yang lebih besar dalam mempelajari ilmu Shorof. Sebab, kalau kita sudah menguasai ilmu Shorof dengan baik, kita akan sangat terbantukan dalam membaca kitab gundul, meskipun ilmu Nahwu kita biasa-biasa saja. Kenapa bisa begitu?

Penjelasannya begini. Dalam ilmu Shorof, kita akan belajar cara memproduksi sebuah kata dengan bermacam-macam maka. Dan, kata yang diproduksi itu adalah sebuah kata yang berharokat lengkap dari awal sampai akhirnya.

Contohnya kata-kata berikut ini:

  • “تَعَلَّمَ” (Telah belajar)
  • “يَتَعَلَّمُ” (Sedang belajar)
  • “تَعَلَّمْ” (Belajarlah!)

 

Dalam ilmu Shorof, kita akan diajarkan cara memberi harokat lengkap kata-kata di atas. Tidak hanya harokat akhir katanya. Tapi semua harokat, dari awal ampai akhir. Sehingga kita bisa membaca kata-kata di atas dengan mudah.

Kemudian, kata-kata yang kita pelajari cara membentuknya dalam ilmu Shorof, ada yang bisa berubah harokat akhirnya saat sudah dimasukkan ke dalam sebuah kalimat. Yang awalnya berharokat dhommah misalnya, saat sudah dimasukkan ke dalam kalimat, ada yang bisa berubah menjadi fathah, kasroh, dan sukun sesuai dengan kedudukan dan keadaannya dalam kaliamat.

Misalnya:

 هُوَ لَنْ يَتَعَلَّمَ

“Dia tidak akan belajar”

هُوَ لَمْ يَتَعَلَّمْ

“Dia belum belajar”

            Perhatikan! Kata “يَتَعَلَّمُ” berubah harokatnya menjadi FATHAH dan SUKUN karena diawali oleh HURUF “لن” dan “لم”. Kenapa bisa begitu? Akan kita ketahui alasannya dalam ilmu Nahwu.

Namun, sekarang saya ingin mengajak Anda memperhatikan hal berikut. Seandainya kalimat di atas ditulis tanpa harokat sama sekali, Anda tidak akan bisa membacanya jika tidak faham ilmu Shorof. Meskipun Anda mahir ilmu Nahwu, namun Anda tentu akan tetap merasa kesulitan untuk memberi harokat setiap huruf yang menyusun kata “يتعلم” dari awal.

Berbeda halnya jika Anda sudah mahir ilmu Shorof. Meskipun Anda tidak tahu harokat akhir katanya, Anda tetap bisa membacanya meski dengan mensukunkan harokat akhirnya. Sama seperti Anda mewaqofkan ayat saat membaca Al-Qur’an. Bukankah saat membaca BASMALLAH Anda mensukunkan akhirnya “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ”, Padahal harokat yang benar adalah “بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ”. Meskipun begitu, Anda  tetap tahu artinya kan?

Inilah diantara alasan kenapa kita harus lebih fokus belajar ilmu Shorof ketika baru pertama kali memulai belajar bahasa Arab. Adapun jika Anda sudah bisa menguasai ilmu Shorof tingkat dasar (misalnya Anda sudah menamatkan belajar buku KITABUT TASHRIF karya Al-Ustadz Hasan bin Ahmad), maka silakan saja Anda lebih memfokuskan belajar ilmu Nahwu. Adapun ilmu Shorof tingkat lanjutan, bisa dipelajari dengan lebih santai.

Intinya, dalam ilmu Nahwu yang dipelajari adalah perubahan harokat akhir kata sesuai dengan keudukannya dalam kalimat. Sedangkan dalam ilmu Shorof, yang dipelajari adalah semua harokat sebelum akhir. Nah, Anda tentu sudah bisa membayangkan. Mana yang paling membantu dalam kelancaran baca kitab gundul ?

Jadi sekali lagi, ketika awal belajar, beri porsi yang lebih besar dalam belajar ilmu Shorof. Insya Allah, Anda akan merasakan manfaat yang luar biasa.

Demikian saja. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: