MAMA, JAJAN…….!

Ucapan ini begitu sering terdengar dari dalam rumah kontrakan tempat saya tinggal. Ucapan ini jelas bukan berasal dari anak saya. Sebab saya belum punya anak. Suara ini berasal dari anak-anak  tetangga yang sama-sama tinggal di rumanak pemulungah kontrakan.

 

Kadang suara ini datang di pagi hari. Namun, kadang di siang dan sore hari. Suara ini berasal dari anak-anak kecil usia sekitar 2-3 tahunan.

 

Kadang mereka mengucapkannya berkali-kali. Seringnya sambil merengek-rengek. Jika tidak dikabulkan keinginannnya, mereka pun menangis sekencang-kencangnya. Mereka tidak peduli, apakah orang tuanya sedang punya uang atau tidak. Pokoknya jajan!

 

Barangkali kawan-kawan juga tidak asing dengan ucapan ini. Bisa jadi mungkin malah datang dari anak kawan-kawan semua di rumah. Atau anak tetangga kawan-kawan semua. Ucapan ini bukanlah sebuah ucapan yang aneh. Ini adalah ucapan yang biasa dan memang sering terdengar di mana-mana.

 

Namun, saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk merenung sejenak. Mari kita luangkan waktu untuk mengingat kejadian beberapa tahun silam. Mungkin puluhan tahun silam. Ternyata, kita juga dahulu sering mengucapkan kata-kata ini. Kita juga sering merengek-rengek kepada orang tua kita untuk dibelikan jajan. Kalau tidak dituruti kita akan menangis, bahkan ngamuk-ngamuk. Kita tidak mau tahu keadaan orang tua. Kita tidak peduli apakah orang tua sedang punya uang atau tidak.

 

Kalau kawan-kawan sudah tidak ingat lagi, coba tanyakan saja kepada orang tua kawan-kawan. Saya yakin mereka masih ingat dengan semua itu.

 

Alhamdulillah sekarang kita sudah tumbuh dewasa. Bahkan kita sudah berkeluarga. Bahkan banyak diantara kita yang sudah punya anak-anak. Kita juga sudah bisa mencari nafkah sendiri. Bahkan banyak diantara kita yang berpenghasilan tinggi.

 

Namun, masih ingatkah kita dengan kejadian masa kecil dulu? Masih ingatkah kita betapa kita dulu sering membuat repot orang tua kita? Masih ingatkah kita betapa dulu sering meminta uang jajan kepada orang tua kita?

 

Lalu, setelah kita sukses sekarang ini, apa yang bisa kita berikan kepada orang tua kita? Apa yang sudah kita persembahkan kepada orang tua kita untuk membahagiakan mereka?

 

Saat kita menerima gaji setiap bulan, adakah nama orang tua kita terlintas di benak untuk menjadi daftar orang pertama yang akan kita traktir? Saat kita menerima rezeki melimpah, adakah nama orang tua terdaftar pertama kali sebagai orang pertama yang akan kita beri bagiannya?

 

Atau, kita malah lebih ingat dengan teman-teman kita?

 

Kawan….

 

Jadikanlah kedua orang tua kita sebagai daftar orang pertama yang akan menerima bagian kebahagiaan, saat kita mendapatkan kebahagiaan.

 

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbakti kepada kepada kedua orang tua. Amiin….

 

Bogor, 19 Jumadal Ula 1434 H/31 Maret 2013 M

Muhammad Mujianto Al-Batawie

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: