MASUKAN DARI SEORANG KAWAN MAHASISWA LIPIA

jangan marah 2Setelah saya memposting tulisan berjudul “CATATAN ILMU NAHWU 2: TENTANG HURUF “LI” di fesbuk, tiba-tiba muncul sebuah komentar di bawah tulisan saya itu. Penulis komentar adalah kawan saya yang sekarang sedang kuliah di LIPIA tingkat syari’ah.

Dia menulis:

afwan syeikh, antum jangan sebut huruf li
tapi huruf lam, itu mushtolah yg dipakai ulama lughoh

Saya pun kemudian menjawab singkat:

Ya, ini untuk memudahkan kalangan pemula di Indonesia aja syekh. Ibarat kata, isim diterjemahin kata benda untuk memudahkan pemahaman. Nanti, setelah mereka faham arah pembelajaran ilmu Nahwu, mereka akan tahu itu. Misalnya saat mereka baca syarah ajurrumiyyahnya syekh utsaimin beserta ta’liqootnya. Jazakumullahu khoiron atas masukannya Ustadz….

Demikian jawaban singkat saya waktu itu. Namun, agar tidak terjadi kesalahfahaman, maka saya ingin menjelaskan kepada kawan-kawan terkait hal ini. Saya ingin katakan:

Mmmm….begini. Saat saya menjelaskan materi bahasa Arab, biasanya saya lebih mengedepankan sisi “kejelasannya”. Maksudnya, saya ingin orang yang membaca buku saya atau kawan-kawan yang belajar langsung dengan saya itu faham dengan apa yang saya sampaikan. Sehingga terkadang penjelasan yang saya berikan mungkin agak sedikit berbeda dari penjelasan sebagian buku atau sebagian pengajar bahasa Arab.

Misalnya, untuk memudahkan pemahaman bagi pelajar pemula, saya mengartikan HURUF JAR adalah HURUF yang menyebabkab kata setelahnya menjadi berharokat kasroh. Saya tidak menjelaskan bahwa HURUF JAR adalah huruf yang berfungsi untuk men-JARkan kata setelahnya. Kenapa? Sebab istilah “JAR” ini belum diajarkan di awal-awal belajar. Sehingga tentu saja akan membingungkan jika harus disampaikan istilah ini di awal. Lebih baik saya katakan saja bahwa fungsi huruf jar adalah menjadikan kata setelahnya menjadi berharokat kasroh. Kemudian saya beri contoh-contohnya yang banyak bertaburan di dalam Al-Qur’an dan hadits.

Kalau ada yang bertanya, “Tapi saya pernah baca ada kata yang terletak setelah huruf jar tapi harokat akhirnya tidak kasroh?”.

Maka, cukup saya jawab, “Oh, itu nanti penjelasannya ya…..”.

Dengan begitu, pelajar pemula akan merasa ringan dalam belajar tanpa harus dibebani dengan pemahaman dan menghafal hal-hal yang tidak terlau penting di awal-awal belajar.

Contoh lain lagi, saat membahas pengertian I’ROB, saya lebih memilih penejelasan bahwa I’ROB dalah PERUBAHAN harokat akhir sebuah kata sesuai dengan kedudukannya dalam kalimat. Ini penjelasan yang saya pilih untuk pemula. Kemudian saya beri contoh isim-isim yang berkedudukan sebagai FA’IL, MAF’IL BIH, MASBUQ BI HARFIL JAR, dll. untuk lebih menambah kejelasan bahwa sebuah kata bisa berubah harokat akhirnya sesuai dengan KEDUDUKANnya dalam kalimat.

Penjelasan ini lebih saya pilih dibandingkan harus menjelaskan bahwa I’ROB adalah perubahan bentuk akhir sebuah kata karena kemasukan amil. Sebab, butuh penjabaran yang lebih yang saya takutkan nantinya justru malah membebani pelajar pemula. Jadi saya lebih memilih yang sederhana dan mudah difahami.

Nah, sama juga halnya dengan pembahasan tentang huruf “LI”. Kenapa langsung saya sebut huruf “LI”? Sebab menurut saya, itulah yang paling mudah difahami oleh para pemula. Sebab mereka melihatnya demikian di dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits.

Memang, para ulama bahasa menjelaskan bahwa huruf yang terdiri dari satu huruf hijaiyyah itu disebutkan namanya, bukan bentuknya. Misalnya huruf-huruf jar berikut: “بِ” (الباء), “كَ” (الكاف), “لِ” (اللام), dll. Namun, sekal lagi, kalau menurut saya sepertinya lebih mudah difahami jika langsung saja disebut bentuknya, seperti LI (Bukan LAM). Sebab dengan begitu di pelajar jadi langsung tahu bentuknya. Dan hal ini tidak memberikan pengaruh terhadap kesuksesan seseorang dalam belajar bahasa Arab.

Insya Allah, dengan semakin banyak menelaah, nantinya si pelajar bisa mengetahui kaidah-kaidah yang seharusnya mereka tahu. Yang penting sekarang, saat awal-awal belajar, dia fokuskan saja pada pemahaman arah dari pemebelajaran ilmu Nahwu dan Shorof. Setelah faham, baru dia mulai membenahi, memperbaiki, dan memperbagus kaidah bahasa yang sudah dia pelajari.

Demikian saja. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

Bogor, Malam Jum’at 24 Jumadal Ula 1434 H/ 4 April 2013

Muhammad Mujianto Al-Batawie

# Saya ucapkan “Jazakumullahu khairan” kepada Al-Ustadz Dika yang berkenan untuk memberikan masukan. Barakallahu fiikum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: