UANG BUKAN SEGALANYA, TAPI….

duitKata-kata bisa memberi pengaruh. Terkadang, dua buah kalimat yang memiliki makna sama, bisa memberi cita rasa yang berbeda jika disampaikan dengan susunan kata yang berbeda.

Misalnya kata-kata berikut:

“Saya punya uang 500.000”

“Saya punya uang setengah juta”

Anda tentu bisa merasakan bedanya, kan? Jika kita –misalnya- punya uang 500.000,-, kemudian kita ingin memberi kesan sedikit pada orang yang kita ajak bicara, maka kita bisa menggunakan kalimat pertama. Namun sebaliknya, untuk memberi kesan banyak, kita bisa gunakan kalimat yang kedua. Sebab orang tentu akan terngiang-ngiang dengan kata “juta”-nya. Tentu lebih besar “juta” disbanding “ribu”.

Sekarang, coba Anda cermati dua kalimat berikut:

“Kegagalan adalah kegagalan”

“Kegagalan adalan kesuksesan yang tertunda”.

Kira-kira, apa perbedaan rasa dari dua kalimat di atas? Kalau saya menilai, kalimat pertama ini bercita rasa pesimis. Biasanya terucap dari orang yang sudah merasa lelah dan menyerah kalah. Beda dengan kalimat yang kedua. Kalimat ini memberi rasa optimis. Dan biasanya terlontar dari mulut orang yang sedang mengalami kegagalan, namun dia merasa yakin bahwa kesuksesan kelak akan dia raih. Hanya waktunya saja yang tertunda. Ini menurut saya.

Oleh karena itu saya kurang setuju dengan orang yang berkata, “Kalo gagal bilang ajah gagal, jangan pake bilang kesuksesan yang tertunda !!!”.

Kenapa saya tidak setuju. Seperti saya sudah bilang tadi. Kata-kata itu bisa menimbulkan pengaruh. Sebuah kata bisa membuat orang terdorong maju atau malah sebaliknya hanya duduk terpaku menyesali diri.

Lihat saja para supporter pertandingan olah raga. Mereka bisa memberi pengaruh besar terhadap kondisi kejiwaan para atlit yang didukungnya. Dengan apa? Diantaranya dengan kata-kata.

 

>>> Uang Bukan Segalanya, Tapi…

Nah, sekarang saya ingin membahas tentang kata-kata yang dahulu sempat mempengaruhi saya. Kata-kata inilah yang dahulu cukup lama tergantung di dinding dada saya. Namun kata-kata itu kini sudah saya buang jauh-jauh. Kata-kata itu adalah: Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang!

Dahulu, kata-kata ini telah berhasil menyihir diri saya. Sehingga yang ada dalam bayangan selalu uang, uang, dan uang. Pikir saya, kalau saya punya banyak uang melimpah, maka saya akan bahagian karena bisa memiliki segalanya. Saya pun kemudian terdorong untuk selalu memikirkan “Bagaimana caranya supaya bisa medapatkan uang ratusan juta dalam waktu dekat”. Mulailah saya cari-cari usaha yang kira-kira bisa mewujudkan hal ini. Diantaranya dengan membuat penerbitan buku.

Barangkali tidak masalah kalau seseorang itu mencari-cari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu dekat. Selama itu halal, sah-sah saja kan? Namun yang jadi masalah adalah ketika fikirannya itu menjadikan dia sibuk dengan urusan dunia hingga lupa akan akhiratnya. Siang malam dia selalu ingat akan “uang”, namun Allah sering dia lupakan. Kalau bekerja demi mencari uang tak pernah merasa lelah meski telah menghabiskan waktu berjam-jam. Tapi kalau Sholat atau baca al-Qur’an lima menit saja sudah capek.

Coba Anda renungi lagi perkataan ini:  Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.

Meski di awal telah disebutkan “Uang bukan segalanya”, namun begitu membaca kalimat berikutnya “tapi segalanya butuh uang”, terlupakanlah kalimat sebelumnya. Yang hadir di benak justru: Uang adalah segalanya! Kalau ingin bahagia, carilah uang sebanyak-banyaknya! Kalau ingin bisa meraih segalanya, miliki uang yang melimpah!

Dahulu sering terbayang: Kalau saya punya banyak uang saya bisa haji dan umroh bersama keluarga, saya bisa beli kitab-kitab, beli rumah dengan taman yang luas, jalan-jalan kemana saja, dan segala macam kenikmatan dunia. Saya juga jadi bisa menyantuni anak yatim dan membantu orang-orang miskin. Dan yang terpenting, saya bisa membelikan mengobati ibu saya yang sering sakit-sakitan karena ginjalnya tinggal satu.

Dan memang kalimat ini realistis. Maksudnya, kenyataan yang ada memang demikian. Untuk melakukan apa yang saya bayangkan tentu saja butuh uang. Uang, uang, dan uang. Kalau kata orang “Buang air ajah bayar!”.

Namun sekali lagi saya katakan, kata-kata itu bisa menyihir. Dan saya pun tersihir untuk menjadikan uang senantiasa berada di pelupuk mata saya. Hingga akhirnya saya lelah. Saya lelah dalam mengejar “bayangan” itu. Saya pun terduduk lemah. Mulailah saya merenung dan mengoreksi diri.

Saya pun kemudian tersadar. Uang memang bukan segalanya. Namun, segalanya butuh iman. Ya, kita butuh iman di setiap hembusan nafas kita. Kita butuh iman untuk menjadikan hati kita tenteram. Kita butuh iman untuk terhindar dari lobang-lobang kemaksiatan. Dan kita butuh iman untuk masuk Surga!

Jadi, keimananlah yang segalanya itu. Keimananlah yang kita butuhkan di setiap keadaan. Meskipun kita tak punya uang, jika keimanan kita mantap dan kuat, kita akan terjaga dari berbuat hal-hal yang maksiat seperti korupsi, mencuri, dsb.

Kebalikannya, jika iman kita lemah, meski kita banyak uang, bisa jadi maksiat yang akan kita kerjakan. Mungkin uang itu akan kita gunakan untuk pergi ke tempat-tempat maksiat, untuk membeli barang-barang yang memfasilitasi untuk berbuat maksiat, untuk mendukung perkara maksiat, atau untuk perkara yang sia-sia tanpa manfaat alias tabdzir.

Maka, kata-kata itupun kini saya ganti. Kata-kata itu kini saya ubah.

Uang buka segalanya, tapi segalanya butuh iman!

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: